Friday, February 8, 2013

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com
Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.

Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, dan begitu juga sebaliknya.

Adu-tanding sabung ayam itu juga disaksikan oleh Prabu Seda Sakti dan Jang Kangkalang dari Pakuan Pajajaran dan Agus Jong dan Agus Ju dari Pakuan Banten Girang. Sementara itu, Maulana Hasanuddin dan Raga Mulya Surya Kencana saling mengadu doa dan mantra agar ayam-ayam jalu mereka tetap gagah dan perkasa saat saling menyerang secara bersamaan dan bergantian. Anehnya, tanding sabung ayam yang telah berlangsung sejak pagi hingga sore itu belum juga menampakkan mana yang kalah. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan adu tanding sabung ayam itu keesokan harinya.

Dan begitulah selanjutnya, adu tanding sabung ayam antara ayam Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana atau Prabu Pucuk Umun itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dengan kekalahan ayam jalu milik Prabu Pucuk Umun. “Sekarang sudah terbukti ayam milikku yang menang? Lalu apa keinginanmu selanjutnya?” Ujar Maulana Hasanuddin. “Tentu saja saya tetap tidak akan takluk dengan agama yang anda bawa, dan saya akan beradu tanding di medan laga!” Jawab Ragamulya Surya Kencana. Ketika itu, Maulana Hasanuddin memberi isyarat kepada dua pengikutnya yang bernama Ki Santri untuk menghadapi dan melawan Prabu Pucuk Umun, dan ketika dua Ki Santri hendak memegang lengan Prabuk Pucuk Umun, seketika Prabu Pucuk Umun pun melompat ke atas pohon kelapa dan masuk ke dalam cumplung kelapa, sembari berteriak: “Silahkan cari di mana gerangan aku berada?”

Namun Maulana Hasanuddin pun kembali memberi isyarat kepada dua Ki Santri agar memanjat pohon kelapa tersebut, dan mereka pun segera meluruhkan dan melepaskan cumplung kelapa tempat persembunyian Prabu Pucuk Umun itu hingga jatuh ke tanah. Dan ketika itu pula Prabu Pucuk Umun kembali memekik sambil keluar dari cumplung kelapa tersebut. Melihat keadaan itu, giliran Ki Mas Jong yang melompat untuk menangkap Prabu Pucuk Umun, yang pada saat itu pun Prabu Pucuk Umun menantang Ki Mas Jong untuk dapat mencari dirinya yang memang segera menghilang dan bersembunyi itu. Ketika itulah Maulana Hasanuddin memerintahkan dua Ki Santri untuk mencarinya di setiap bunga melati yang hendak mekar, dan bantinglah bila menemukan bunga tersebut.

Betul saja. Prabu Pucuk Umun memang bersembunyi di dalam bunga melati, dan saat Ki Santri mendapatkan bunga melati tempat persembunyiannya itu, Ki Santri pun menyerahkannya kepada Maulana Hasanuddin, yang segera membanting bunga melati tersebut hingga terlontarlah kilatan-kilatan api yang diiringi pekikan suara Prabu Pucuk Umun. Saat itu, Maulana Hasanuddin cepat-cepat memberi isyarat kepada Ki Santri untuk menangkapnya, meski Ki Santri gagal melakukannya karena Prabu Pucuk Umun ketika itu melompat dan terbang ke udara, bersembunyi di balik awan putih, yang segera diikuti oleh dua Ki Santri, hingga mereka bertarung di angkasa.

Tokoh Terkenal "TUJUH PENASEHAT MAULANA HASANUDDIN"

http://massandry.blogspot.com
Penasehat Sultan Maulana Hasanudin

Cili Mandira, dimakamkan. di Kampung Panyunan Banten
Cili Glebeg, dimakamkan di seberang Karangantu Banten
Cili Kored, dimakamkan di Gunung Santri Banten
Cili Wulung, dimakamkan di Kresek Tangerang Banten

Penyiaran agama Islam di Banten yang dilaksanakan Sultan Maulana Hasanudin mendapat tantangan dari Kerajaan Sunda Pajajaran, dibawah pimpinan Pucuk Umun. penentangan Kerajaan Sunda Pajajaran, ini dikarenakan Sultan Maulana Hasanudin cukup berhasil menyebarkan agama baru ( Islam ) di Banten sampai bagian selatan Gunung Pulo Sari  ( Gunung Karang ), Pulau Panaitan Ujung Kulon. keberhasilan ini mengusik Prabu Pucuk Umun yang semakin kehilangan pengaruh, sehingga ia menantang Sultan Maulana Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago, dan sebagai taruhannya : yang kalah akan dipotong lehernya ! Tantangan Prabu Pucuk Umun disambut oleh Sultan Maulana Hasanudin, setelah ia bermusyawarah dengan pengawalnya, yakni Syeikh Muhammad Sholeh. Dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa yang aka bertarung adalah Syeikh Muhammad Sholeh sendiri, dengan cara menyerupai ayam jago seperti layaknya ayam jago biasa hal ini terjadi karena karomah atau kelebihan ilmu yang dimilikinya & atas dasar izin Allah SWT.

Pertarungan dua ayam jago tersebut berlangsung seru. Namun akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh jagonya Sultan Maulana Hasanudin. Setelah pertarungan selesai, Sultan Maulana Hasanudin membawa jagonya pulang ke banten, yang akhirnya jago itu berubah bentuk menjadi manusia, sosok Syeikh Muhammad Sholeh.

Akibat kekalahan yang dialami oleh Prabu Pucuk Umun dalam pertandingan "adu jago", ia tidak tinggal diam untuk menyerah, namun tetap ia mengambil langkah berikutnya, sehingga ia menyatakan perang. Pernyataan perang ini pun ditanggapi oleh Sultan Maulana Hasanudin. Memang Prabu Pucuk Umun dasarnya lagi naas, apapun yang ia lakukan mendapat kegagalan, kalah dalam pertempuran melawan Sultan Maulana Hasanudin, bersama Syeikh Muhammad Sholeh. Pasukan Pajajaran mundur ke arah selatan, bersembunyi di Pulo Sari Rangkasbitung Kab. lebak, dan mereka itu sekarang dikenal dengan Suku Baduy.

Kemenangan dalam pertempuran ini membuat Sultan Maulana Hasanudin lebih giat menyusun strategi & program perjuangan untuk menyebarkan agama Islam di Banten. Pusat kegiatan dakwah & politiknya ditempatkan di Istana Surosowan. sedangkan sang pengawal Syeikh Muhammad Sholeh, ia pulang ke markasnya Gunung Santri. Kedatangan Syeikh Muhammad Sholeh ke Gunung Santri ini mengemban tugas sebagai mubaligh untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam di sekitarnya. Metode yang digunakan Syeikh Muhammad Sholeh dalam berdakwah menggunakan pendekatan persuasif, sehingga setiap orang didatanginya merasa puas & bersedia mengikuti ajakan untuk memeluk ajaran Islam secara sukarela.

Tokoh Terkenal "MAULANA HASANUDDIN"

http://massandry.blogspot.com
Kedatangan Maulana Hasanuddin
Pada akhir abad ke-15 atau di awal abad ke-16 Masehi, Maulana Makhdum Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati di Cirebon, mengutus anaknya Maulana Hasanuddin agar datang ke Negeri Banten untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam, termasuk berdakwah kepada raja-raja Banten ketika itu, karena Syarif Hidayatullah telah mengetahui bahwa Maulana Hasanuddin sudah layak dan pantas untuk melakukannya. Tanpa ditemani banyak pengawal dan prajurit, Maulana Hasanuddin berangkat dari Cirebon dengan hanya ditemani oleh salah-seorang santri kenamaan yang biasa disebut Ki Santri, seorang santri yang ditunjuk langsung oleh Syarif Hidayatullah.

Ki Jong dan Ki Jo Mencari Pucuk Umun
pada suatu ketika, dua orang adjar datang ke Maulana Hasanuddin setelah Maulana Hasanuddin selesai melaksanakan sembahyang subuh. “Ya Maulana Hasanuddin,” ujar dua orang adjar itu, “kami berdua adalah Ki Jong dan Ki Jo, yang sengaja datang untuk menemui Anda.”
 
Saat itu, Maulana Hasanuddin merasa takjub dengan kedatangan dua orang adjar itu, dan Ki Jong dan Ki Jo pun kemudian melanjutkan maksud mereka. “Kami berdua adalah keturunan Prabu Siliwangi yang datang ke negeri Banten Girang untuk menemani Kakanda Prabu Pucuk Umun.” Kata Ki Jong dan Ki Jo. “Ketika kami berdua tengah bertapa di Gua Periuk Tembaga atau Dalung, telah datang suatu petunjuk tentang pertemuan dengan Maulana, yang telah membuat kami segera menyudahi tapa kami karenanya.” Begitulah Ki Jong dan Ki Jo menceritakan maksud kedatangan mereka kepada Maulana Hasanuddin, dan kemudian mereka pun melanjutkan cerita mereka. “Dan sekembalinya kami dari pertapaan menuju Pakuan Banten Girang, kami tak menemukan Kakanda Prabu Pucuk Umun (atau Ragamulya Surya Kencana), dan saat itu dari orang-orang, kami mengetahui tentang kemasyhuran Anda, hingga kami berjumpa langsung dengan Anda sekarang ini.”
 
Keesokan harinya, dengan bersama-sama, Maulana Hasanuddin, Ki Santri, Ki Jong, dan Ki Jo, menuju dan masuk ke dalam istana Pakuan Banten Girang untuk menemui keberadaan Prabu Pucuk Umun, yang ternyata istana itu telah sunyi dan Pucuk Umun pun tak ada di tempatnya, dan setelah mereka berkeliling mencari ke dalam istana Pakuan Banten Girang itu, mereka justru menemukan seorang laki-laki keturunan bangsa Jin, yang ketika bertemu dengan Maulana Hasanuddin, Ki Santri, Ki Jong dan Ki Jo, lelaki keturunan bangsa Jin itu, mengikrarkan diri memeluk agama Islam, dan kemudian lelaki keturunan bangsa Jin yang telah menganut Islam di hari itu pun diberinama Ki Santri, untuk menemani Ki Santri yang datang dari Cirebon.
 
Maulana Hasanuddin Ke Gunung Pulosari
Keesokan harinya, dengan ditemani Ki Jong, Ki Jo, dan dua Ki Santri serta sejumlah rakyat dan para penduduk Banten Girang, Maulana Hasanuddin pun berangkat dari Pakuan Banten Girang menuju ke Gunung Pulosari, hingga ketika mereka merasa lelah, mereka pun kemudian berteduh di sebuah pohon beringin yang letaknya di dekat kaki Gunung Pulosari arah sebelah timur. Di tempat itulah mereka menginap dan tinggal untuk beberapa hari, di sebuah tempat yang dikelilingi hutan belantara, yang kemudian tempat itu dinamakan Waringin Kurung.
 
Seperti telah diceritakan, di Gunung Pulosari itulah terdapat banyak tempat para Ajar dan Pandita, yang tempat-tempat itu telah diketahui Ki Jong dan Ki Jo. Selama sebulan berada di Waringin Kurung tersebut, Ki Jong dan Ki Jo sering datang ke Gunung Pulosari. Dan ketika kembali ke Waringin Kurung, selalu membawa sejumlah Ajar yang segera menganut agama Islam. Hingga dari hari ke hari semakin banyak para Ajar yang menganut agama Islam. Setelah tujuh kali Jum’at, Maulana Hasanuddin pun mengutus Ki Jong dan Ki Jo, dengan ditemani sejumlah Ajar, untuk menemui Prabu Pucuk Umun di puncak Gunung Pulosari.
 
Sesampainya di puncak Gunung Pulosari, mereka mendapati Prabu Pucuk Umun tengah berkumpul dengan para punggawanya, yang ternyata telah mengetahui keberadaan Maulana Hasanuddin di Waringin Kurung. Dengan tenang Ki Jong dan Ki Jo pun masuk dan menemui Prabu Pucuk Umun. “Kakanda Prabu Pucuk Umun,” kata salah seorang dari mereka, “sudah saatnya Maulana Hasanuddin yang akan menjadi pemimpin dan panutan di negeri ini, dan karena itu alangkah baiknya bila Kakanda Prabu Pucuk Umun menganut agama yang telah kami anut.” Mendengar hal itu, Prabu Pucuk Umun pun menjadi murka, juga para punggawanya. “Hai, Ki Jong!” Balas Prabu Pucuk Umun, “tidaklah mudah kami menukarkan agama begitu saja. Kecualia bila Panembahan barumu itu mau mengadu kesaktian. Karena itu alangkah baiknya bila kalian mempersiapkan diri saja untuk adu tanding antara aku dan panembahan barumu itu ditempat yang ditentukan.”
 
Adu-Tanding Maulana Hasanuddin dan Prabu Pucuk Umun (Ragamulya Surya Kencana)
Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
 
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, dan begitu juga sebaliknya.
 
Adu-tanding sabung ayam itu juga disaksikan oleh Prabu Seda Sakti dan Jang Kangkalang dari Pakuan Pajajaran dan Agus Jong dan Agus Ju dari Pakuan Banten Girang. Sementara itu, Maulana Hasanuddin dan Raga Mulya Surya Kencana saling mengadu doa dan mantra agar ayam-ayam jalu mereka tetap gagah dan perkasa saat saling menyerang secara bersamaan dan bergantian. Anehnya, tanding sabung ayam yang telah berlangsung sejak pagi hingga sore itu belum juga menampakkan mana yang kalah. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan adu tanding sabung ayam itu keesokan harinya.
 
Dan begitulah selanjutnya, adu tanding sabung ayam antara ayam Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana atau Prabu Pucuk Umun itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dengan kekalahan ayam jalu milik Prabu Pucuk Umun. “Sekarang sudah terbukti ayam milikku yang menang? Lalu apa keinginanmu selanjutnya?” Ujar Maulana Hasanuddin. “Tentu saja saya tetap tidak akan takluk dengan agama yang anda bawa, dan saya akan beradu tanding di medan laga!” Jawab Ragamulya Surya Kencana. Ketika itu, Maulana Hasanuddin memberi isyarat kepada dua pengikutnya yang bernama Ki Santri untuk menghadapi dan melawan Prabu Pucuk Umun, dan ketika dua Ki Santri hendak memegang lengan Prabuk Pucuk Umun, seketika Prabu Pucuk Umun pun melompat ke atas pohon kelapa dan masuk ke dalam cumplung kelapa, sembari berteriak: “Silahkan cari di mana gerangan aku berada?”
 
Namun Maulana Hasanuddin pun kembali memberi isyarat kepada dua Ki Santri agar memanjat pohon kelapa tersebut, dan mereka pun segera meluruhkan dan melepaskan cumplung kelapa tempat persembunyian Prabu Pucuk Umun itu hingga jatuh ke tanah. Dan ketika itu pula Prabu Pucuk Umun kembali memekik sambil keluar dari cumplung kelapa tersebut. Melihat keadaan itu, giliran Ki Mas Jong yang melompat untuk menangkap Prabu Pucuk Umun, yang pada saat itu pun Prabu Pucuk Umun menantang Ki Mas Jong untuk dapat mencari dirinya yang memang segera menghilang dan bersembunyi itu. Ketika itulah Maulana Hasanuddin memerintahkan dua Ki Santri untuk mencarinya di setiap bunga melati yang hendak mekar, dan bantinglah bila menemukan bunga tersebut.
 
Betul saja. Prabu Pucuk Umun memang bersembunyi di dalam bunga melati, dan saat Ki Santri mendapatkan bunga melati tempat persembunyiannya itu, Ki Santri pun menyerahkannya kepada Maulana Hasanuddin, yang segera membanting bunga melati tersebut hingga terlontarlah kilatan-kilatan api yang diiringi pekikan suara Prabu Pucuk Umun. Saat itu, Maulana Hasanuddin cepat-cepat memberi isyarat kepada Ki Santri untuk menangkapnya, meski Ki Santri gagal melakukannya karena Prabu Pucuk Umun ketika itu melompat dan terbang ke udara, bersembunyi di balik awan putih, yang segera diikuti oleh dua Ki Santri, hingga mereka bertarung di angkasa.
 
Setelah Ki Santri merasa tak punya lagi kesempatan untuk menangkap Prabu Pucuk Umun, segera pula memutuskan kembali ke Waringin Kurung. Sebagian cerita menyatakan bahwa Prabu Pucuk Umun terpukul kepalanya hingga jatuh ke bumi, dan kemudian menyelam ke dalam bumi hingga sampai ke Tamansari, Pandeglang atau pergi ke Ujung Kulon.
 
Begitulah diceritakan bahwa Maulana Hasanuddin selama bertahun-tahun ada di daerah Gunung Pulosari demi menyebarkan agama Islam.

Tokoh Terkenal "SYEIKH SITI JENAR DAN TUJUH MISTERI KEMATIANNYA"

http://massandry.blogspot.com
Mendiskusikan tentang wafatnya Syekh Siti Jenar memang cukup menarik. Sebagaimana banyaknya versi yang menjelaskan tentang asal-usul dan sosol Syekh Siti Jenar, maka demikian pula halnya tentang varian versi yang menerangkan tentang proses kematiannya. Secara umum kesamaan yang diperlihatkan oleh berbagai literatur seputar kematian Syekh Siti Jenar hanyalah yang berkaitan dengan masanya saja, yakni pada masa kerajaan Islam Demak di bawah pemerintahan Raden Fatah sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI. Tentu hal ini juga masih mengecualikan sebagian kisah versi Cirebon, yang menyebutkan bahwa wafatnya Syekh Siti Jenar terjadi pada masa Sultan Trenggono. Sedangkan yang berkaitan dengan proses kematiannya, berbagai sumber yang ada memberikan penjelasan yang berbeda-beda. Sampai saat ini, paling tidak terdapat beberapa asumsi (tujuh versi) mengenai proses meninggalnya Syekh Siti Jenar.

Versi Pertama
Bahwa Syekh Siti Jenar wafat karena dihukum mati oleh Sultan Demak, Raden Fatah atas persetujuan Dewan Wali Songo yang dipimpin oleh Sunan Bonang. Sebagai algojo pelaksana hukuman pancung adalah Sunan Kalijaga, yang dilaksanakan di alun-alun kesultanan Demak. Sebagian versi ini mengacu pada “Serat Syeikh Siti Jenar” oleh Ki Sosrowidjojo.

Versi Kedua
Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Gunung Jati. Pelaksana hukuman (algojo) adalah Sunan Gunung Jati sendiri, yang pelaksanaannya di Masjid Ciptarasa Cirebon. Mayat Syekh Siti Jenar dimandikan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Giri, kemudian dimakamkan di Graksan, yang kemudian disebut sebagai Pasarean Kemlaten. Hal ini tercantum dalam Wawacan Sunan Gunung Jati Pupuh ke-39 terbitan Emon Suryaatmana dan T.D Sudjana (alin bahasa pada tahun 1994).

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sudirman Tebba (2000: 41), Syekh Siti Jenar dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga. Pada awalnya mengucur darar berwarna merah, kemudian berubah menjadi putih. Syekh Siti Jenar kemudian berkata: “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”. Kemudian tubuh Syekh Siti Jenar naik ke surga seiring dengan kata-kata: ”Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan selain dari Allah Yang Mahakuasa, dia akan kecewa, karena dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan”.

Untuk kisah yang terdapat dalam versi pertama dan kedua masih memiliki kelanjutan yang hampir sama.

Sebagaimana dikemukakan dalam Suluk Syekh Siti Jenar, disebutkan bahwa setelah Syekh Siti Jenar meninggal di Krendhawasa tahun Nirjamna Catur Tunggal (1480 M. Tahun yang tentu saja masih terlalu dini untuk kematian Syekh Siti Jenar), jenazahnya dibawa ke Masjid Demak, karena saat itu magrib tiba, maka pemakaman dilakukan esok paginya agar bisa disaksikan oleh raja. Para ulama sepakat untuk menjaga jenazah Syekh Siti Jenar sambil melafalkan pujian-pujian kepada Tuhan. Ketika waktu shalat tiba, para santri berdatangan ke masjid. Pada saat itu tiba-tiba tercium bau yang sangat harum, seperti bau bunga Kasturi. Selesai shalat para santri diperintahkan untuk meninggalkan masjid. Tinggal para ulama saja yang tetap berada di dalamnya untuk menjaga jenazah Syekh Siti Jenar.

Bau harum terus menyengat, oleh karena itu Syekh Malaya mengajak ulama lainnya untuk membuka peti jenazah Syekh Siti Jenar. Tatkala peti itu terbuka, jenazah Syekh Siti Jenar memancarkan cahaya yang sangat indah, lalu muncul warna pelangi memenuhi ruangan masjid. Sedangkan dari bawah peti memancarkan sinar yang amat terang, bagaikan siang hari.

Dengan gugup, para ulama mendudukkan jenazah itu, lalu bersembah sujud sambil menciumi tubuh tanpa nyawa itu bergantian hingga ujung jari. Kemudian jenazah itu kembali dimasukkan ke dalam peti, Syekh Malaya terlihat tidak berkenan atas tindakan rekan-rekannya itu.

Dalam Suluk Syekh Siti Jenar dan Suluk Walisanga dikisahkan bahwa para ulama telah berbuat curang. Jenazah Syekh Siti Jenar diganti dengan bangkai anjing kudisan. Jenazah itu dimakamkan mereka di tempat yang dirahasiakan. Peti jenazah diisi dengan bangkai anjing kudisan. Bangkai itu dipertontonkan keesokan harinya kepada masyarakat untuk mengisyaratkan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar adalah sesat.

Digantinya jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing ini ternyata diketahui oleh salah seorang muridnya bernama Ki Luntang. Dia datang ke Demak untuk menuntut balas. Maka terjadilah perdebatan sengit antara Ki Luntang dengan para Wali yang berakhir dengan kematiannya. Sebelum dia mengambil kematiannya, dia menyindir kelicikan para Wali dengan mengatakan (Sofwan, 2000: 221):

“...luh ta payo totonen derengsun manthuk, yen wus mulih salinen, bangke sakarepmu dadi. Khadal, kodok, rase, luwak, kucing kuwuk kang gampang lehmu sandi, upaya sadhela entuk, wangsul sinantun gajah, sun pastheake sira nora bisa luruh reh tanah jawa tan ana...”

...nah silahkan lihat diriku yang hendak menjemput kematian. Jika nanti aku telah mati, kau boleh mengganti jasadku sekehendakmu, kadal, kodok, rase, luwak atau kucing tua yang mudah kau peroleh. Tapi, jika hendak mengganti dengan gajah, kau pasti tidak akan bisa karena di tanah Jawa tidak ada...”

Seperti halnya sang guru, Ki Luntang pun mati atas kehendaknya sendiri, berkonsentrasi untuk menutup jalan hidup menuju pintu kematian.

Versi Ketiga
Bahwa Syekh Siti Jenar meninggal karena dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Giri, dan algojo pelaksana hukuman mati tersebut adalah Sunan Gunung Jati. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa vonis yang diberikan Sunan Giri atas usulan Sunan Kalijaga (Hasyim, 1987: 47).

Dikisahkan bahwa Syekh Siti Jenar mempunyai sebuah pesantren yang banyak muridnya. Namun sayang, ajaran-ajarannya dipandang sesat dan keluar dari ajaran Islam. Ia mengajarkan tentang keselarasan antara Tuhan, manusia dan alam (Hariwijaya, 2006: 41-42).

Hubungan manusia dengan Tuhannya diungkapkan dengan “Manunggaling kawula-gusti” dan “Curiga Manjing Warangka”. Hubungan manusia dengan alam diungkapkan dengan “Mengasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi”, dan “Hamemayu Hayuning Bawana”, yang bermuara pada pembentukan “Jalma Sulaksana”, “Al-insan Al-kamil”, “Sarira Bathara”, “Manusia Paripurna”, “Adi Manusia” yang imbang lahir batin, jiwa-raga, intelektual spiritual, dan kepala dadanya.

Konsep manunggaling kawula gusti oleh Syekh Siti Jenar disebut dengan “uninong aning unong”, saat sepi senyap, hening, dan kosong. Sesungguhnya Zat Tuhan dan zat manusia adalah satu, manusia ada dalam Tuhan dan Tuhan ada dalam manusia.

Sunan Giri sebagai ketua persidangan, setelah mendengar penjelasan dari berbagai pihak dan bermusyawarah dengan para Wali, memutuskan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar itu sesat. Ajarannya bisa merusak moral masyarakat yang baru saja mengenal Islam. Karenanya Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati.

Syekh Siti Jenar masih diberi kesempatan selama setahun untuk memperbaiki kesalahannya sekaligus menanti berdirinya Negara Demak secara formal, karena yang berhak menentukan hukuman adalah pihak negara (Widji saksono, 1995: 61). Kalau sampai waktu yang ditentukan ia tidak mengubah pendiriannya, maka hukuman tersebut akan dilaksanakan.

Sejak saat itu, pesantren Syekh Siti Jenar ditutup dan murid-muridnya pun bubar, menyembunyikan diri dan sebagian masih mengajarkan ajaran wahdatul wujud meskipun secara sembunyi-sembunyi. Setelah satu tahun berlalu, Syekh Siti Jenar ternyata tidak berbubah pendiriannya. Maka dengan terpaksa Sunan Gunung Jati melaksanakan eksekusi yang telah disepakati dulu. Jenazah Syekh Siti Jenar dimakamkan di lingkungan keraton agar orang-orang tidak memujinya.

Versi Keempat
Syekh Siti Jenar wafat karena vonis hukuman mati yang dijatuhi Sunan Giri sendiri. Peristiwa kematian Syekh Siti Jenar versi ini sebagaimana yang dikisahkan dalam Babad Demak. Menurut babad ini Syekh Siti Jenar meninggal bukan karena kemauannya sendiri, dengan kesaktiannya dia dapat menemui ajalnya, tetapi dia dibunuh oleh Sunan Giri. Keris ditusukkan hingga tembus ke punggung dan mengucurkan darah berwarna kuning. Setelah mengetahui bahwa suaminya dibunuh, istri Syekh Siti Jenar menuntut bela kematian itu kepada Sunan Giri. Sunan Giri menghiburnya dengan mengatakan bahwa dia bukan yang membunuh Syekh Siti Jenar tetapi dia mati atas kemauannya sendiri. Diberitahukan juga bahwa suaminya kini berada di dalam surga. Sunan Giri meminta dia melihat ke atas dan di sana dia melihat suaminya berada di surga dikelilingi bidadari yang agung, duduk di singgasana yang berkilauan (Sofwan, 2000: 218).

Kematian Syekh Siti Jenar dalam versi ini juga dikemukakan dalam Babad Tanah Jawa yang disandur oleh S. Santoso, dengan versi yang sedikit memiliki perbedaan. Dalam babad ini disebutkan Syekh Siti Jenar terbang ke surga, tetapi badannya kembali ke masjid. Para ulama takjub karena dia dapat terbang ke surga, namun kemudian marah karena badannya kembali ke masjid. Melihat hal yang demikian, Sunan Giri kemudian mengatakan bahwa tubuhnya harum ditikam dengan sebuah pedang, kemudian dibakar. Syekh Maulana kemudian mengambil pedang dan menikamkannya ke tubuh Syekh Siti Jenar, tetapi tidak mempan. Syekh Maulana bertambah marah dan menuduh Syekh Siti Jenar berbohong atas pernyataannya yang menegaskan bahwa dia rela mati.

Syekh Siti Jenar menerima banyak tikaman dari Syekh Maulana, tetapi dia terus berdiri. Syekh Maulana kian gusar dan berkata, “Itu luka orang jahat, terluka tapi tidak berdarah”. Dari luka-luka Syekh Siti Jenar itu seketika keluar darah berwarna merah. Seketika Syekh Maulana berkata lagi, ”Itu luka orang biasa, bukan kawula gusti, karena darah yang keluar berwarna merah”. Dari merah yang mengucur itu seketika berubah berwarna putih. Syekh Maulana berkata lagi. “Ini seperti kematian pohon kayu, keluar getah dari lukanya. Kalau ‘insan kamil’ betul tentu dapat masuk surga dengan badan jasmaninya, berarti kawula gusti tidak terpisah”. Dalam sekejap mata tubuh Syekh Siti Jenar hilang dan darahnya sirna.

Syekh Maulana kemudian membuat muslihat dengan membunuh seekor anjing, membungkusnya dengan kail putih dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa mayat Syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing disebabkan ajarannya yang bertentangan dengan syariat. Anjing itu kemudian di bakar.

Beberapa waktu setelah peristiwa itu, para ulama didatangi oleh seorang penggembala kambing yang mengaku sebagai murid Syekh Siti Jenar. Dia berkata, ”Saya dengar para Wali telah membunuh guru saya, Syekh Siti Jenar. Kalau memang demikian, lebih baik saya juga Tuan-tuan bunuh. Sebab saya ini juga Allah, Allah yang menggembalakan kambing”. Mendengar penuturannya itu kemudian Syekh Maulana membunuhnya dengan pedang yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh Syekh Siti Jenar. Seketika tubuh mayat penggembala kambing itu lenyap. (Tebba, 2003: 43).

Versi Kelima
Bahwa vonis hukuman mati dijatuhkan oleh Sunan Gunung Jati, sedangkan yang menjalankan eksekusi kematian (algojo) adalah Sunan Kudus. Versi tentang proses kematian Syekh Siti Jenar ini dapat ditemukan dalam Serat Negara Kertabumi yang disunting oleh Rahman Selendraningrat. Tentu bahwa kisah eksekusi terhadap Syekh Siti jenar yang terdapat dalam versi ini berbeda dari yang lainnya. Nampaknya kisah ini bercampur aduk dengan kisah eksekusi Ki Ageng Pengging yang dilakukan oleh Sunan Kudus.

Kisah kematian Syekh Siti Jenar dalam sastra “kacirebonan” ini diawali dengan memperlihatkan posisi para pengikut Syekh Siti Jenar di Cirebon sebagai kelompok oposisi atas kekuatan Kesultanan Cirebon. Sejumlah tokoh pengkutnya pernah berusaha untuk menduduki tahta, tetapi semuanya menemui kegagalan. Tatkala Pengging dilumpuhkan, Syekh Siti Jenar yang pada saat itu menyebarkan agama di sana, kembali ke Cirebon diikuti oleh para muridnya dari Pengging. Di Cirebon, kekuatan Syekh Siti Jenar menjadi semakin kokoh, pengikutnya meluas hingga ke desa-desa. Serelah Syekh Datuk Kahfi meninggal dunia, Sultan Cirebon menunjuk Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di Padepokan Amparan Jati.

Pangeran Punjungan bersedia menjalankan tugas yang diembankan sultan kepadanya, namun dia tidak mendapatkan murid di sana karena orang-orang telah menjadi murid Syekh Siti Jenar. Bahkan panglima bala tentara Cirebon bernama Pangeran Carbon lebih memilih untuk menjadi muridnya Syekh Siti Jenar. Dijaga oleh muridnya yang banyak, Syekh Siti Jenar merasa aman tinggal di Cirebon Girang.

Keberadaan Syekh Siti Jenar di Cirebon terdengar oleh Sultan Demak. Sultan kemudian mengutus Sunan Kudus disertai 700 orang prajurit ke Cirebon. Sultan Cirebon menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkan memberi bantuan untuk tujuan itu.

Langkah pertama yang diambil Sultan Cirebon adalah mengumpulkan para murid Syekh Siti Jenar yang ternama, antara lain Pangeran Carbon, para Kyai Geng, Ki Palumba, Dipati Cangkuang dan banyak orang lain di istana Pangkuangwati. Selanjutnya bala tentara Cirebon dan Demak menuju padepokan Syekh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syekh Siti Jenar kemudian di bawa ke masjid Agung Cirebon, tempat para Wali telah berkumpul.

Dalam persidangan itu, yang bertindak sebagai hakim ketuan adalah Sunan Gunung Jati. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilan memutuskan Syekh Siti Jenar harus dihukum mati. Kemudian Sunan Kudus melaksanakan eksekusi itu menggunakan keris pusaka Sunan Gunung Jati. Peristiwa itu terjadi pada bulan Safar 923 H atau 1506 (Sofwan, 2000: 222).

Pada peristiwa selanjutnya, mulai diperlihatkan kecurangan yang dilakukan oleh para ulama di Cirebon terhadap keberadaan jenazah Syekh Siti Jenar. Dikisahkan, setelah eksekusi dilaksanakan, jenazah Syekh Siti Jenar dimakamkan di suatu tempat yang kemudian banyak diziarahi orang. Untuk mengamankan keadaan, Sunan Gunung Jati memerintahkan secara diam-diam agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke tempat yang dirahasiakan, sedangk di kuburan yang sering dikunjungi orang itu dimasukkan bangkai anjing hitam.

Ketika para perziarah menginginkan agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke Jawa Timur, kuburan di buka dan ternyata yang tergeletak di dalamnya bukan mayat Syekh Siti Jenar melainkan bangkai seekor anjing. Para peziarah terkejut dan tak bisa mengerti keadaan itu. Ketika itu Sultan Cirebon memanfaatkan situasi dengan mengeluarkan fatwa agar orang-orang tidak menziarahi bangkai anjing dan agar meninggalkan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar (Sulendraningrat, 1983: 28).

Versi Keenam
Bahwa Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh Wali Songo. Pada saatu hukuman harus dilaksanakan, para anggota Wali Songo mendatangi Syekh Siti Jenar untuk melaksanakan hukuman mati. Akan tetapi kemudian para anggota Wali Songo tidak jadi melaksanakan hukuman tersebut, karena Syekh Siti Jenar justru memilih cara kematiannya sendiri, dengan memohon kepada Allah agar diwafatkan tanpa harus dihukum oleh pihak Sultan dan para Sanan, sekaligus Syekh Siti Jenar menempuh jalan kematiannya sendiri, yang sudah ditetapkan oleh Allah. Versi ini mengacu pada Serat Seh Siti Jenar yang digubah oleh Ki Sosrowidjojo, yang kemudian disebarluaskan kembali ileh Abdul Munir Mulkan (t.t).

Sofwan (2000: 215-217) mengutip Suluk Walingsanga (sebagaimana juga yang terdapat dalam Serat Seh Siti Jenar dalam berbagai versi) yang di dalamnya terdapat cerita yang mengisahkan bahwa kematian Syekh Siti Jenar berawal dari perdebatan yang terjadi antara Syekh Siti Jenar dengan dua orang utusan Sultan Demak, yakni Syekh Domba dan Pangeran Bayat sebagai utusan Sultan Fatah dan Majelis Wali Songo. Dua orang utusan ini diperintah Sultan atas persetujuan Majelis Wali Songo untuk mengadakan tukar pikiran (lebih tepatnya menginvestigasi) dengan Syekh Siti Jenar mengenai ajaran yang dia sampaikan kepada murid-muridnya.

Disinyalir bahwa ajaran yang telah disampaikan oleh Syekh Siti Jenar menyebabkan terganggunya stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayah Demak. Hal ini disebabkan ulah para muridnya yang berbuat kegaduhan, merampok, berkelahi, bahkan membunuh. Bila ada kejahatan atau keonaran, tentu murid Syekh Siti Jenar yang menjadi pelakunya. Ketika pengawal kerajaan menangkap mereka, maka mereka bunuh diri di dalam penjara. Bila dikorek keterangan dari mereka, dengan angkuh mereka mengatakan bahwa mereka adalah murid Syekh Siti Jenar yang telah banyak mengenyam ilmu makrifat, dan selalu siap mati bertemu Tuhan.

Mereka beranggapan bahwa hidup sekedar menjalani mati, oleh karena itu mereka merasa jenuh menyaksikan bangkai bernyawa bertebaran di atasnya. Dunia ini hanya dipenuhi oleh mayat, maka mereka lebih memilih meninggalkan dunia ini. Mereka juga mengejek, mengapa orang mati diajari shalat, menyembah dan mengagungkan nama-Nya, padahal di dunia ini orang tidak pernah melihat Tuhan.

Berkenaan dengan pemahaman yang demikian ini, maka Syekh Domba dan Pangeran Bayat diutus oleh Sultan Demak untuk menemui Syekh Siti Jenar. Dalam pertemuan itu terjadi perdebatan antara utusan Sultan dengan Syekh Siti Jenar. Dalam perdebatan itu, terlihat bahwa kemahiran Syekh Siti Jenar berada di atas Syekh Domba dan Pangeran Bayat. Pada akhirnya, Syekh Domba merasa kagum atas uraian dan kedalaman ilmu Syekh Siti Jenar, bahkan dia bisa menyetujui kebenarannya. Dia ingin menjadi muridnya secara tulus, kalau saja tidak dicegah oleh Pangeran Bayat.

Selanjutnya, kedua utusan itu kembali ke Demak melaporkan apa yang telah mereka saksikan tentang ajaran Syekh Siti Jenar. Setelah berunding dengan Majelis Wali Songo, Sultan kemudian mengutus lima orang Wali untuk memanggil Syekh Siti Jenar ke istana guna mempertanggungjawabkan ajarannya. Kelima utusan itu adalah Sunan Kalijaga, Sunan Ngudung, Pangeran Modang, Sunan Geseng, dan Sunan Bonang sebagai pemimpin utusan itu. Mereka diikuti oleh empat puluh orang santri lengkap dengan persenjataannya untuk memaksa Syekh Siti Jenar datang ke istana. Sesampainya di kediaman Syekh Siti Jenar, kelima Wali tersebut terlibat perdebatan sengit. Perdebatan itu berakhir dengan ancaman Sunan Kalijaga. Sekalipun mendapatkan ancaman dari Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar tetap tidak bersedia datang ke istana karena menurutnya Wali dan raja tidak berbeda dengan dirinya, sama-sama terbalut darah dan daging yang akan menjadi bangkai. Lalu dia memilih mati. Mati bukan karena ancaman yang ada, tetapi karena kehendak diri sendiri. Syekh Siti Jenar kemudian berkonsentrasi, menutup jalan hidupnya dan kemudian meninggal dunia.

Versi Ketujuh
Bahwa terdapat dua orang tokoh utama, yang memiliki nama asli yang berdekatan dengan nama kecil Syekh Siti Jenar, San Ali. Tokoh yang satu adalah Hasan Ali, nama Islam Pangeran Anggaraksa, anak Rsi Bungsi yang semula berambisi menguasai Cirebon, namun kemudian terusir dari Keraton, karena kedurhakaan kepada Rsi Bungsi dan pemberontakannya kepada Cirebon. Ia menaruh dendang kepada Syekh Siti Jenar yang berhasil menjadi seorang guru suci utama di Giri Amparan Jati. Tokoh yang satunya lagi adalah San Ali Anshar al-Isfahani dari Persia, yang semua merupakan teman seperguruan dengan Syekh Siti Jenar di Baghdad. Namun ia menyinpan dendang pribadi kepada Syekh Siti Jenar karena kalah dalam hal ilmu dan kerohanian.
 
Ketika usia Syekh siti Jenar sudah uzur, dua tokoh ini bekerja sama untuk berkeliling ke berbagai pelosok tanah Jawa, ke tempat-tempat  yang penduduknya menyatakan diri sebagai pengikut Syekh Siti Jenar, padahal mereka belum pernah bertemu dengan Syekh Siti Jenar. Sehingga masyarakat tersebut kurang mengenal sosok asli Syekh Siti Jenar. Pada tempat-tempat seperti itulah, dua tokoh pemalsu ajaran Syekh Siti Jenar memainkan perannya, mengajarkan berbagai ajaran mistik, bahkan perdukunan yang menggeser ajaran tauhid Islam.

Hasan Ali mengaku dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, dan San Ali Anshar mengaku dirinya sebagai Syekh Siti Jenar. Hasan Ali beroperasi di Jawa bagian Barat, sementara San Ali Anshar di Jawa Bagian Timur. Kedua orang ini sebenarnya yang dihukum mati oleh anggota Wali Songo, karena sudah melancarkan berbagai fitnah keji terhadap Syekh Siti Jenar sebagai guru dan anggota Wali Songo.

Kemungkinan karena silang sengkarut kemiripan nama itulah, maka dalam berbagai Serat dan babad di daerah Jawa, cerita tentang Syekh Siti Jenar menjadi simpang siur. Namun pada aspek yang lain, ranah politik juga ikut memberikan andil pendiskreditan nama Syekh Siti Jenar. Karena naiknya Raden Fatah ke tampuk kekuasaan Kesultanan Demak, diwarnai dengan intrik perebutan tahta kekuasaan Majapahit yang sudah runtuh, sehingga segala intrik bisa terjadi dan menjadi “halal” untuk dilakukan, termasuk dengan mempolitisasi ajaran Syekh Siti Jenar yang memiliki dukungan massa banyak, namun tidak menggabungkan diri dalam ranah kekuasaan Raden Fatah.

Jadi dikaitkan dengan kekuasaan Sultan Trenggono, sebagaimana tercatat dalam berbagai fakta sejarah, naiknya Sultan Trenggono sebagai penguasa tunggal Kesultanan Demak, adalah dengan cara berbagai tipu muslihat dan pertumpahan darah. Karena sebenarnya yang berhak menjadi Sultan adalah Pangeran Suronyoto, yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda Ing Lepen, kakak laki-laki Sultan Trenggono yang seharusnya menggantikan Adipati Unus. “Seda Ing Lepen” artinya meninggal di sungai.

Sebenarnya Pangeran Suronyoto tidak meninggal di sungai, namun dibunuh oleh orang-orang suruhan Pangeran Trenggono, baru setelah terbunuh, mayatnya dibuang ke sungai (Daryanto, 2009: 215-278). Kematian kakaknya tersebut diduga atas strategi Sultan Trenggono. Sultan Trenggono sendiri, pada mulanya tidaklah begitu disukai oleh para adipati dan kebanyakan masyarakat, karena sifatnya yang ambisius, yang dibingkai dalam sikap yang lembut.

Salah satu tokoh penentang utama naiknya Trenggono sebagai Sultan adalah Pangeran Panggung di Bojong, salah satu murid utama Syekh Siti Jenar. Demikian pula masyarakat Pengging yang sejak kekuasaan Raden Fatah belum mau tunduk pada Demak. Banyak masyarakat yang sudah tercerahkan kemudian kurang menyukai Sultan Trenggono. Mungkin oleh karena faktor inilah, maka Sultan Trenggono dan para ulama yang mendekatinya kemudian memusuhi pengikut Syekh Siti Jenar. Maka kemudian dihembuskan kabar bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati oleh Dewan Wali Songo di masjid Demak, dan mayatnya berubah menjadi anjing kudisan, dan dimakamkan di bawah mihrab pengimaman masjid. Suatu hal yang sangat mustahil terjadi dalam konteks hukum Islam, namun tentu dianggap sebagai sebuah kebenaran atas nama kemukjizatan bagi masyarakat awam.

Keberadaan para ulama “penjilat” penguasa, yang untuk memenuhi ambisi duniawinya bersedia mengadakan fitnah terhadap sesama ulama, dan untuk selalu dekat dengan penguasa bahkan bersedia menyatakan bahwa suatu ajaran kebenaran sebagai sebuah kesesatan dan makar, karena menabrak kepentingan penguasa itu sebenarnya sudah digambarkan oleh para ulama. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ “Ulum al-Din menyebutkan sebagai al-‘ulama’ al-su’ (ulama yang jelek dan kotor). Sementara ketika Sunan Kalijaga melihat tingkah laku para ulama pada zaman Demak, yang terkait dengan bobroknya moral dan akhlak penguasa, disamping fitnah keji yang ditujukan kepada sesama ulama, namun beda pendapat dan kepentingan, maka Sunan Kalijaga membuatkan deskripsi secara halus. Sesuai dengan profesinya dalam budaya, utamanya sebagai dalang, Sunan Kalijaga menggambarkan kelakuan para ulama yang ambisi politik dan memiliki karakter jelek sebagai tokoh Sang Yamadipati (Dewa Pencabut Nyawa) dan Pendeta Durna (ulama yang bermuka dua, munafik).

Kedua tokoh tersebut dalam serial pewayangan model Sunan Kalijaga digambarkan sebagai ulama yang memakai pakaian kebesaran ulama; memakai surban, destar, jubah, sepatu, biji tasbih dan pedang. Pemberian karakter seperti itu adalah salah satu cara Sunan Kalijaga dalam mencatatkan sejarah bangsanya, yang terhina dan teraniaya akibat tindakan para ulama jahat yang mengkhianati citra keulamaannya, dengan menjadikan diri sebagai Sang Yamadipati, mencabut nyawa manusia yang dianggapnya berbeda pandangan dengan dirinya atau dengan penguasa di mana sang ulama mengabdikan dirinya. Hal tersebut merupakan cara Sunan Kalijaga melukiskan suasana batin bangsanya yang sudah mencitrakan pakaian keulamaan, dalil-dalil keagamaan sebagai atribut Sang Pencabut Nyawa. Atas nama agama, atas nama pembelaan terhadap Tuhan, dan karena dalil-dalil mentah, maka aliran serta pendapat yang berbeda harus dibungkus habis.

Gambaran pendeta Durna adalah wujud dari rasa muak Sunan Kalijaga terhadap para ulama yang menjilat kepada kekuasaan, bahkan aktivitasnya digunakan untuk semata-mata membela kepentingan politik dan kekuasaan, menggunakan dalil keagamaan hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi dengan mencelakakan banyak orang sebagai tumbalnya. Citra diri ulama yang ‘tukang’ hasut, penyebar fitnah, penggunjing, dan pengadu domba. Itulah yang dituangkan oleh Sunan Kalijaga dalam sosok Pendeta Durna.

Berbagai versi tentang kematian Syekh Siti Jenar menunjukkan bahwa tokoh Syekh Siti Jenar memang sangat kontroversional. Berbagai literatur yang ada tidak dapat memastikan tentang asal-usul keberadaannya hingga proses kematian yang dialaminya, disebabkan oleh banyak faktor dan kepentingan yang mengitarinya. Walaupun demikian, sejumlah besar keterangan yang mengisahkan tentang keberadaannya memerlihatkan ajarannya yang selalu dipertentangkan dengan paham para Wali, namun sekaligus tidak jarang membuat para Wali itu sendiri “kagum” dan “mengakui” kebenaran ajarannya. Tentu saja, “pengakuan” dan “kekaguman” itu tidak pernah diperlihatkan secara eksplisit karena akan mengurangi “keagungan” mereka, disamping kurang objektifnya penulisan serat dan babad Jawa, yang terkait dengan Syekh Siti Jenar.
 
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa dalam berabgai Serat dan Babad tersebut, akhir dari kisah Syekh Siti Jenar selalu dihiasi dengan usaha-usaha intrik politik para Wali. Bisa jadi hal ini memang dilakukan oleh para ulama penjilat kekuasaan, oleh murid-murid generasi penerus para ulama yang pernah memusuhi ajaran Syekh Siti Jenar, atau para penulis kisah yang juga memiliki kepentingan tersendiri terkait dengan motif politik, ideologi, keyakinan, dan ajaran keagamaan yang dianutnya.

Pada sisi lain, disamping disebabkan banyaknya referensi yang berbeda dalam menjelaskan kisah Syekh Siti Jenar, pemahaman mereka yang membaca akan memberikan pemahaman baru dari bacaan tersebut sehingga memperbanyak versi. Misalnya, tentang pemahaman salah satu versi mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar yang dalam Serat Syekh Siti Jenar, sebagaimana juga disadur dalam Falsafah Syekh Siti Jenar disebut “berasal dari caing (elur)”.
 
Sebagian penafsir mengatakan bahwa memang Syekh Siti Jenar bukanlah berasal dari manusia, namun semula ia adalah seekor cacing yang disumpah oleh Sunan Bonang menjadi manusia. Padalah, jika cara pembacaan ini dilakukan dengan cara referensi silang, kita mendapatkan penjelasan dari sumber lain, misalnya dalam Serat Seh Siti Jenar yang tersimpan di musem Radya Pustaka Surakarta, bahwa yang dimaksud “elur” (cacing) tidak lain adalah “wrejid bangsa sudra” (yang berasal dari rakyat jelata). Maksudnya Syekh Siti Jenar adalah masyarakat biasa yang berhasil menjadi Wali, atau seorang Wali yang menjelata (menempatkan dirinya berada di tengah-tengah mansyarakat jelata) (lihat misalnya Sujamto, 2000: 87).
 
Sumber : K.H. Muhammad Sholikhin. Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo. Erlangga. Boyolali: 2008.

Tokoh Terkenal "SYEIKH SITI JENAR DAN MISTERI KEMATIANNYA"

http://massandry.blogspot.com
Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.
 
Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.

Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.
 
Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….
 
Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.
 
Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.
 
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.

Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
 
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.
 
Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.
 
Nasab Syekh Siti Jenar Bersambung Sampai ke Rasulullah diakui oleh Robithoh Azmatkhan
Abdul Jalil Syeikh Siti Jenar bin
1. Datuk Shaleh bin
2. Sayyid Abdul Malik bin
3. Sayyid Syaikh Husain Jamaluddin @ Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan (Gujarat, India) bin
4. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
5. Sayyid Abdullah AzhmatKhan (India) bin
6. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir AzhmatKhan (Nasrabad) bin
7. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut, Yaman) bin
8. Muhammad Sohib Mirbath (lahir di Hadhramaut, Yaman dimakamkan di Oman) bin
9. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
10. Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
11. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
12. Sayyid Alawi Awwal bin
13. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
14. Ahmad al-Muhajir (Hadhramaut, Yaman ) bin
15. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi (Basrah, Iraq) bin
16. Sayyid Muhammad An-Naqib bin
17. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
18. Sayyidina Ja’far As-Sodiq (Madinah, Saudi Arabia) bin
19. Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
20. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin {menikah dengan (34.a) Fathimah binti (35.a) Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib, kakak Imam Hussain} bin
21. Al-Imam Sayyidina Hussain bin
(22.a) Imam Ali bin
(23.a) Abu Tholib dan (22.b) Fatimah Az-Zahro binti
(23.b) Muhammad SAW
 
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti. Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.
Konsep Dan Ajaran Syekh Siti Jenar
 
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
 
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.
 
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
 
Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
 
Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Pengertian Zadhab
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah.
 
Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.Seperti contohnya Lia Eden dll… mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seprti nabi Isa AS.Maka Nabi ISA diangkat Allah beserta jasadnya. Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi.Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah.
 
Hamamayu Hayuning Bawana
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.
 
Kontroversi
Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
 
Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.
 
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
 
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.
 
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.
 
Kisah Pada Saat Pasca Kematian
Kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar. Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain. Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.

Tokoh Terkenal "KYAI HAJI MUHAMMAD DIMYATI DARI CIDAHU PANDEGLANG"

http://massandry.blogspot.com
Tidak lengkap rasanya mengulas tentang Banten tanpa membicarakan para Ulama dan para Kyai-nya.
KH.Muhammad Dimyati yang biasa dipanggil dengan Buya Dimyati merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki karismatik, beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Sejak kecil Buya Dimyati sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pon-pes Cadasari, kadupeseng Pandeglang,ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon.

Buya Dimyati sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tapi juga menjalankan kehidupan dengan metode bertashauf, tarekat yang di anutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’,istiqomah ,zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Buya Dimyati begitupun ketika beliau di beri sumbangan oleh para pejabat beliau selalu menolak dan mengembalikan sumbangan tersebut, hal ini pernah dialami ketika Buya Dimyati di beri sumbangan Oleh Mba Tutut ( Anak Mantan presiden Soeharto) sebesar 1 milyar beliau mengembalikannya.
 
Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyaklagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.
 
Masa kecil Abuya dihabiskan di kampung kelahirannya; Kalahang. Awal menuntut ilmu, Abuya dididik langsung oleh ayahandanya, Syaikh Muhammad Amin bin Dalin. Lalu melanjutkan berkelana menuntut ilmu agama, sampai-sampai dalam usia sudah setengah baya. Di sekitar tahun 1967-1968 M, beliau berangkat mondok lagi bersama putra pertama dan beberapa santri beliau (hal. 168).
 
Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyathi, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.
 
Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).
 
Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.

Karomah.
Mahasuci Allah yang tidak membuat penanda atas wali-Nya kecuali dengan penanda atas diri-Nya. Dan Dia tidak mempertemukan dengan mereka kecuali orang yang Dia kehendaki untuk sampai kepada-Nya. (al Hikam)
 
Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal dalam buku ini, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan segala kisah perjuangan Abuya lebih diambil dari orang-orang yang menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan dituturkan apa adanya. Abuya memang sudah masyhur wira’i dan topo dunyo semenjak masih mondok diusia muda. Di waktu mondok, Abuya sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat tidur dan istimewanya adalah menu makan Abuya yang hanya sekedar. Beliau selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah menetap pun Abuya masih menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.
 
Di tahun 1999 M, dunia dibuat geger, seorang kiai membacakan kitab tafsir Ibnu Jarir yang tebalnya 30 jilid. Banyak yang tidak percaya si pengajar dapat merampungkannya, tapi berkat ketelatenan Abuya pengajian itu dapat khatam tahun 2003 M. Beliau membacakan tafsir Ibnu Jarir itu setelah Khatam 4 kali khatam membacakan Tafsir Ibnu katsir (4 jilid).
 
Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir lagi adalah, di mana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga kerana banyak kyai di Indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga maqam bertanya padanya, "darimana kamu (Bahasa Arab)". si Kyai menjawab, dari Indonesia. maka penjaganya langsung bilang, oh di sini ada setiap malam Juma'at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, sehinggalah beliau mula membaca al-Qur'an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka sendiri2. Maka Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam jumaat agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati. Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya.

Cerita-cerita lain tentang karomah Abuya, dituturkan dan membuat kita berdecak kagum. Subhanallah! Misal seperti; masa perjuangan kemerdekaan dimana Abuya di garis terdepan menentang penjajahan; kisah kereta api yang tiba-tiba berhenti sewaktu akan menabak Abuya di Surabaya; kisah angin mamiri diutus membawa surat ke KH Rukyat. Ada lagi kisah Abuya bisa membaca pikiran orang; kisah nyata beberapa orang yang melihat dan bahkan berbincang dengan Abuya di Makkah padahal Abuya telah meninggal dunia. Bahkan kisah dari timur tengah yang mengatakan bahwa Abuya tiap malam jumat ziarah di makam Syech Abdul Qodir al Jailani dan hal-hal lain yang tidak masuk akal tapi benar terjadinya dan ada (berikut saksi-saksi hidupnya).
 
Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyaklagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren
 
Tanggal 3 october 2003 tepat hari jum’at dini hari Kh.Muhammad Dimyati dipanggil oleh Alloh SWt keharibaannya.Banten telah kehilangan sosok ulama yang karismatik dan tawadhu’yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan hanya dari masyarakat Banten saja tapi juga umat islam pada umumnya.Beliau di maqomkan tak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang hingga kini maqom tersebut selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di tanah air.
 
Atas meninggalnya ulama krismatik di Desa Cidahu, Cadasari, Pandeglang-Banten, KH Abuya Muhammad Dimyati, hari Jum'at (3/10) umat Islam sangat kehilangan. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat Banten yang kehilangan, namun umat Islam umumnya.
 
Kepada ruh beliau mari kita baca fatihah.. ila hadoroti ruhi, Al-fatihah..

Tokoh Terkenal "SYEIKH ARSYAD THAWIL AL BANTANI - ULAMA JIHAD BANTEN"

http://massandry.blogspot.com
ULAMA yang berasal dari Banten, Jawa Barat, yang paling terkenal ialah Syeikh Nawawi al-Bantani, yang banyak menulis syarah kitab yang semuanya ditulis dalam bahasa Arab. Oleh kerana banyak menghasilkan karya, maka beliau digelar sebagai Imam Nawawi Tsani (Imam Nawawi Kedua).
 
Mengenai Syeikh Nawawi al-Bantani telah diperkenalkan dalam Ruangan Agama, Utusan Malaysia pada 7 Februari 2005. Artikel ini pula memperkenalkan dua orang ulama Banten yang lain. Yang pertama, Syeikh Muhammad Arsyad bin As’ad bin Mustafa bin As’ad al-Bantani al-Jawi. Nama popularnya ialah Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani.
 
Dinamakan Thawil yang bererti panjang kerana ada seorang sahabatnya bernama Syeikh Arsyad Qashir al-Bantani. Qashir bererti pendek. Syeikh Arsyad Thawil dilahirkan di Banten pada Zulkaedah 1255 Hijrah/Januari 1840 Masihi. Riwayat lain menyebut bahawa beliau lahir tahun 1263 Hijrah/1847 Masihi.
 
Pendidikan
Ayahnya tinggal di Mekah kerana ketika kecil beliau diasuh oleh beberapa orang ayah saudaranya. Kepadanya diberi pengenalan tentang bacaan al-Quran. Dalam usia 8 tahun mengikut orang tuanya ke Mekah. Beliau mendapat pendidikan asas khatam mengaji al-Quran daripada beberapa orang ayah saudara dan ayahnya sendiri. Beberapa buah matan terutama matan nahu, saraf, fikah dan tauhid juga dipelajarinya daripada ayahnya. Di Masjid al-Haram, Arsyad Thawil sentiasa mengikuti pengajian yang diberikan oleh Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Mekah, terutama mengenai nahu, fikah dan sirah. Selain belajar kepada Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani juga belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syeikh Nawawi al-Bantani yang terkenal, Sayid Abu Bakri Syatha, di bawah bimbingan dua orang anak ulama itu, iaitu Sayid Umar Syatha dan Sayid Utsman Syatha. Syeikh Arsyad Thawil mendalami ilmu hadis daripada Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi al-Makki di bawah bimbingan anak ulama itu, iaitu Mufti al-Muhaddits al-Habib Husein bin Muhammad al-Habsyi al-Makki (wafat 1330 Hijrah/1911 Masihi). Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani memperdalam ilmu fikah pula daripada Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Mengenai ilmu hadis selain belajar kepada ulama yang telah disebutkan tadi, Syeikh Arsyad Thawil sewaktu berkali-kali berulang-alik ke Madinah mempelajarinya juga daripada Syeikh Abdul Ghani bin Abi Sa’id al-Mujaddidi, di bawah bimbingan beberapa orang murid ulama itu, iaitu Sayid Ali bin Zhahir al-Watri, Syeikh Shalih bin Muhammad az-Zhahiri, dan Syeikh Abdul Jalil Barradah. Daripada semua ulama yang tersebut, Syeikh Arsyad Thawil menerima ijazah dalam ilmu hadis. Guru-guru beliau yang lain pula, yang pernah dicatatkan ialah: Syeikh Ibrahim al-Saqa asy-Syabrabakhumi (wafat 1298 Hijrah/1880 Masihi), Saiyid Ja’afar bin Idris al-Kattani, al-’Allamah Abi Jaiyidah bin Abdul Kabir al-Fasi, al-’Allamah Abdullah bin Darwisy asy-Syakri, Sayid Muhammad ibnu Muhammad Murtadha az-Zabidi al-Hanafi (wafat 1305 Hijrah/1887 Masihi, Sayid Muhammad bin Ali as-Sanusi (wafat 1276 Hijrah/1859 Masihi). Syeikh Arsyad Thawil, dalam usia 14 tahun, bersama-sama datuknya, Syeikh Mustafa al-Bantani, ketika itu berusia hampir seratus tahun, pergi ke Mesir. Di sana pernah mendapat berkat (tabarruk) daripada Syeikh Syinwani dan Syarqawi, kedua-dua ulama Mesir yang sangat terkenal ketika itu.
 
Jihad di Banten
Dalam tahun 1311 Hijrah/1893 Masihi, Syeikh Arsyad Thawil pergi ke Banten. Pada ketika itu terjadi peristiwa pertentangan antara orang-orang Islam dengan penganut agama Budha di Banten. Pemerintah Belanda mencampuri perselisihan itu dengan alasan untuk mendamaikan dua golongan yang sedang bermusuhan. Tetapi kolonial Belanda menjalankan hukuman yang tidak adil, bahawa Belanda memihak kepada golongan agama Budha. Oleh yang demikian pemimpin-pemimpin Muslimin sepakat untuk mengadakan perang total terhadap semua golongan yang bukan Islam termasuk terhadap pemerintah kolonial Belanda juga. Secara serentak kaum Muslimin mengangkat senjata ikut dalam pemberontakan jihad itu, termasuk Syeikh Arsyad Thawil. Beliau termasuk salah seorang pemimpin mereka. Jihad terhadap golongan kafir itu dipersetujui oleh Syeikh Nawawi al-Bantani di Mekah dan beberapa orang ulama lainnya. Namun Sayid Utsman Betawi tidak merestuinya, kerana beliau mempunyai pandangan siasah yang tersendiri pula. Kaum Muslimin berhasil membunuh ramai golongan kafir, pihak kolonial Belanda mengerahkan segala kekuatannya untuk mematahkan perang jihad itu, kemudian pihak kolonial Belanda berhasil menangkap pemimpin-pemimpin Islam Banten termasuklah Syeikh Arsyad Thawil sendiri lalu mereka dibuang ke Menado (Sulawesi Utara). Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani berkali-kali mencuba untuk kembali ke Mekah atau ke negerinya Banten namun tidak berhasil. Berbagai-bagai bencana dan cubaan menimpa Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani pada masa pembuangan itu, di antaranya salah seorang anak beliau yang menjadi Syeikh Haji di Mekah meninggal dunia (tahun 1328 Hijrah/1910 Masihi).
 
Mengajar dan wafat
Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani selain pernah terlibat dalam jihad yang terjadi di Banten itu, akhirnya beliau ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Menado, Sulawesi Utara. Di negeri pembuangannya Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani aktif mengajar masyarakat di Menado. Beliau mengajar dalam bidang ilmu-ilmu keislaman. Di antara ilmu-ilmu yang pernah dicurahkannya kepada murid-muridnya ialah: fikah, nahu, saraf, tasawuf, hadis dan lain-lain. Ramai alim-ulama dunia Melayu yang bersanad ilmu (musalsal) mulai daripada Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani hingga ke atas. Mereka ialah: al-’Allamah as- Sayid Ahmad bin Husein bin Salim Ba Jindan al-’Alawi dan anaknya yang terkenal sebagai Musannid Indonesia, iaitu as-Sayid Salim bin Ahmad bin Husein Ba Jindan. Selain itu ialah al-’Allamah as-Sayid `Alawi bin Abdur Rahman bin Semit. Daripada sanad ini pula akan menurunkan Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad `Isa al-Fadani (Padang) al-Makki.
 
Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani dirahmati dengan umur yang panjang, wafat di Menado (Sulawesi Utara), pada malam Isnin, 14 Zulhijjah 1353 Hijrah/19 Mac 1935 Masihi, dalam usia 98 tahun. Yang menjadi imam sembahyang jenazahnya ialah al-Habib Hasan bin Abdur Rahman Maula Khailah al-’Alawi.
Generasi penerus
Ulama Banten yang kedua ialah al-’Allamah Tubagus Bakri bin Tubagus Sid bin Tubagus Arsyad al-Syafi’ie al-Bantani al-Jawi. Lahir sekitar tahun 1268 Hijrah/1851 Masihi, di daerah Peleret, Porwokerto, Jawa Barat. Sejak kecil dipelihara oleh Raden Raji Ghanim. Sejak berumur enam tahun diberi pelajaran membaca al-Quran dan tajwid. Dalam masa itu pula beliau telah mulai menghafal matan-matan: fikah, tauhid dan mengenal lughat Arabiyah. Dalam masa pertumbuhan umur menjelang baligh beliau mulai memasuki pondok-pesantren, berpindah-pindah dari satu pondok-pesantren ke satu pondok-pesantren yang lain. Beliau belajar dengan cara demikian hingga sampai umurnya 40 tahun. Di antara ulama yang berada di Jawa yang beliau pernah belajar kepadanya ialah: Syeikh Khalil al-Bankalani al-Manduri (Madura), Kiyai Hasan Mustafa Sukabumi, dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang), iaitulah ulama yang digelar dengan Imam al-Ghazali as-Tsani (Imam Ghazali Kedua) sebagaimana Syeikh Nawawi al-Bantani digelar dengan Imam Nawawi as-Tsani. Sungguh pun sudah demikian banyak ilmu pengetahuan yang diterima daripada ulama-ulama di Jawa dan Madura yang cukup terkenal itu, namun Tubagus Bakri sentiasa terus menerus haus dan laparkan ilmu pengetahuan, sentiasa ingin menambahnya. Oleh itu beliau berangkat ke Mekah dan tinggal di sana dalam masa yang agak lama. Selama di Mekah belajar lagi kepada beberapa orang ulama yang terkenal dan ulama-ulama itu ada yang berumur lebih muda daripada beliau, mereka ialah: Syeikh Muhammad Mukhtar bin `Atharid al-Bughri (Bogor, lahir 1278 Hijrah/1861 Masihi), Sayid Abdul Hamid Kudus (lahir 1280 Hijrah/1863 Masihi), Syeikh Mahfuz at-Tarmasi (lahir Muhammad Mahfuzh bin Abdullah at-Tarmasi/ Termas (lahir 1285 Hijrah/1868 Masihi) Syeikh Abdul Haq al-Bantani (cucu Syeikh Nawawi al-Bantani), Syeikh Ahmad al-Fathani (lahir 1272 Hijrah/1856 Masihi), Mufti Syafi’iyah Mekah Syeikh Umar bin Abi Bakar Ba Junaid, Mufti Hanafiyah Mekah Syeikh Shalih bin Shiddiq Kamal al-Hanafi, Syeikh Shalih bin Muhammad Ba Fadhal al-Hadhrami, dan ramai lagi. Daripada ulama-ulama tersebut diterima ijazah dan riwayat-riwayat baik yang bercorak falsafah, pemikiran dan lain-lain, lebih-lebih lagi yang dibangsakan kepada dalil-dalil al-Quran, hadis, ijma’ ulama dan qias yang sahih.
 
Perkhidmatan sebagai ulama
Setelah demikian lama tinggal di Mekah, ilmu dan pengalaman dirasakan cukup memadai, ditambah lagi umurnya yang sudah agak lanjut, maka Tubagus Bakri pulang ke negerinya. Kemudian menetap di Kampung Sempura. Pada mulanya beliau hanya membina sebuah rumah kecil sebagai tempat tinggalnya, sungguh pun demikian beberapa orang datang belajar kepadanya. Dalam masa yang agak lama sesudah itu rumahnya penuh sesak dikunjungi pelajar yang datang daripada pelbagai jurusan, maka beliau berhasil mendirikan pondok-pesantren. Di pondok-pesantren itu Tubagus Bakri mengutamakan ilmu-ilmu Arabiyah, tafsir, hadis, fikah dan ilmu-ilmu asas yang lain. Pelajaran diberikan tanpa berhenti siang dan malam. Setiap hari, siang dan malam perjalanan hidup beliau hanyalah mengajar dan beribadat. Apabila bukan waktu mengajar beliau terus melakukan peribadatan. Secara spontan apabila berhenti pada jam pelajaran beliau langsung masuk ke tempat peribadatannya. Hampir-hampir tidak diketahui bila waktu beliau tidur. Salah satu kebiasaan peribadinya bahawa setiap malam Selasa awal setiap bulan Arabiyah beliau menghidupkannya dengan memberikan limpahan ilmu kepada murid-muridnya mulai awal malam hingga terbit fajar. Kemudian sesudah Subuh disambung lagi hingga waktu Dhuha. Bererti semalam-malaman itu beliau dan murid-muridnya yang khusus memang tidak tidur. Pada malam itu diajarkan tujuh kitab yang besar-besar pada persekitaran ilmu-ilmu: tafsir, hadis, fikah, nahu, saraf, akidah dan tasawuf. Pada malam tersebut hampir semua ulama-ulama terkenal di Jawa Barat datang mengambil barakah daripada beliau.
 
Mengasihani
Salah satu akhlak mulia yang ada pada peribadi Tubagus Bakri al-Bantani ialah bahawa beliau sangat mengasihi zuriat Rasulullah s.a.w. serta sangat hormat kepada mereka. Tradisi demikian kemungkinan merupakan fitrah semulajadinya atau pun memang dipusakai daripada datuk-neneknya dan ada kemungkinan bahawa beliau sendiri termasuk keturunan Syarif Hidayatullah @ Sunan Gunung Jati yang riwayat datuk-nenek mereka diperkenalkan dalam buku saya Tabaqat Ulama Asia Tenggara, jilid 1. Tubagus Bakri al-Bantani wafat pada malam Isnin, 27 Zulkaedah 1395 Hijrah/30 November 1975 Masihi, dalam usia 128 tahun di Kampung Sampura, Jawa Barat.

Bacaan Misteri "GOLOK CIOMAS HIKAYAT DAN KEISTIMEWAANNYA"

http://massandry.blogspot.com
Golok Ciomas selama ini sudah dikenal secara luas. Tidak saja dilingkungan Banten, melainkan juga diseantero nusantara. Bahkan ke mancanegara. Banyak yang mengenal Golok Ciomas seperti halnya Debus yang sudah identik dengan Banten. Popularitas Golok Ciomas memang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari nama Banten. Sebab, kalau merujuk pada riwayat yang berkembang dimasyarakat, menunjukan bahwa munculnya Golok Ciomas ada pakuat pakaitna (keterkaitan) dengan perkembangan Kesulatanan Banten itu sendiri. Golok adalah sejenis senjata yang banyak digunakan pada masa lalu, termasuk ketika melawan penjajah.
 
Golok, didalam kamus umum bahasa Indonesia, diartikan sebagai benda sebangsa parang, atau sebangsa pedang, yang berukuran pendek. Untuk benda semacam itu, didaerah Banten dikenal dua nama. Yakni Golok dan Bedog. Secara fisik keduanya sama dan sebangun. Namun, keduanya memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda.
 
Bedog adalah peralatan yang penting dalam keperluan sehari- hari, terutama bagi mereka yang bekerja dikebun atau disawah. Memangkas pohon, menebang bambu, keperluan dapur, semua menggunakan Bedog. Ada juga sejenis Bedog yang bentuknya agak berbeda dengan Bedog atau Golok. Bagian ujungnya melengkung kebawah. Biasa disebut congkrang. Fungsinya lebih banyak digunakan untuk menyabit rumput atau keperluan dikebun lainnya.
 
Sedangkan Golok, umumnya difungsikan sebagai senjata yang dipakai untuk membela diri atau untuk keperluan darurat saja. Golok tidak digunakan dalam menebang pohon atau keperluan dirumah. Dijaman perjuangan atau jaman penjajahan, Golok banyak digunakan sebagai senjata untuk melawan penjajah. Para pendekar- didaerah Banten dan sekitarnya juga dikenal sebagai Jawara- biasanya memiliki senjata utama berupa Golok. Dalam cerita dan komik- komik tentang pendekar, terungkap bahwa Golok adalah bagian yang tidak terpisahkan. Mereka biasanya memberi nama khusus terhadap Golok yang dimiliki para pendekar. Nama itu biasanya menunjukan keistimwaannya.
 
Ciomas, sebuah tempat yang berjarak sekitar 20 Km selatan Kota Serang, Banten, dikenal memiliki sebuah tradisi pembuatan Golok yang khusus. Produknya dikenal dengan nama Golok Ciomas, yang dikenal memiliki banyak keistimewaan. Sejak dulu Golok Ciomas dikenal memiliki “isi” yang tidak sembarangan. Dalam istilah masyarakat, ada perkataan, “lain Golok sembarang Golok, ieu mah Golok Ciomas” (bukan Golok sembarang Golok, ini Golok Ciomas).
 
Sama halnya dengan Kris di Jawa, Golok Ciomas diyakini memiliki nilai mistis. Banyak yang mempercayai bahwa Golok Ciomas sangat ampuh untuk “menaklukan” musuh. Tapi pengertian “menaklukan” tidak berarti Golok itu digunakan untuk menyakiti fisik musuh. Bahkan kadang musuh bisa “ditaklukan” tanpa harus mengeluarkan Golok dari serangka-nya.
 
Kedatangan orang yang memiliki Golok Ciomas ketempat yang tengah terjadi perselisihan, konon bisa meredakan perselisihan itu. Golok Ciomas juga bisa meredakan suasana hati yang panas, kemarahan, kejengkelan, dan amarah lainnya. Bahkan, dengan nada sedikit bergurau, ada juga yang berbisik soal keistimewaannya: “Nu rek nagih hutang ge kalah ka teu jadi” (yang mau menagih hutang saja bisa tidak jadi).
 
Ada juga keistimewaan dari segi fungsi. Konon, karena dibuat secara khusus, kulit yang terluka oleh Golok Ciomas, sedikit saja, akan sukar sekali sembuh. Bahkan kalau disayatkan ke pohon pisang muda, pohon itu akan membusuk dan mati.
 
Padahal pohon pisang, selain karena penyakit, biasanya tidak akan mati sebelum berbuah. Sehingga dikenal falsafah pisang yang menyebut pohon itu tidak mati sebelum memberi arti bagi kehidupan lainnya. Ditebang berkali- kali dengan Golok biasa, pohon pisang akan hidup dan muncul pucuk baru. Begitu seterusnya, sampai ia berbuah. Setelah berbuah pasti akan mati.
 
Lain halnya apabila terkena Golok Ciomas, jangankan ditebang, tersayat saja akan menyebabkan ia mati dan membusuk. Seolah Golok itu memiliki racun yang maha dahsyat, yang merupakan buatan mpu yang sakti yang juga seorang ahli metalurgi yang mumpuni. Tak ubahnya kisah dibuku- buku cerita masa silam. Keyakinan itu berkembang begitu luas dimasyarakat. Adapun kebenarannya, wallahualambishawab.
 
Yang pasti setiap orang yang memiliki Golok Ciomas memiliki cerita sendiri- sendiri. Ada seratus orang, ya seratus cerita. Seribu orang, seribu cerita. Kalau para pemilik Golok Ciomas berkumpul, akan banyak cerita yang bisa menjadi bahan pembicaraan dan menyebabkab satu sama lain merasa dekat. Hal demikian makin merekatkan tali silaturrahmi diantara mereka.
 
Banyak persahabatan yang muncul kemudian, menurut syariatnya karena Golok Ciomas. Seorang tokoh pemegang Golok Ciomas, menceritakan, dirinya mengantar temannya untuk dioperasi katarak di RS Cicendo Bandung. Sesampainya disana, si Dokter yang ia kenal karena sama- sama memiliki koleksi Golok Ciomas, malah selain memeriksa temannya, juga memeriksa dirinya. Gratis tentu saja.
Banyaknya kisah juga karena model Golok Ciomas tidak ada yang sama persis. Masing- masing memiliki perbedaan dan keunikan sendiri- sendiri, sesuai pesanan pemiliknya. Ada jenis kembang kacang, mamancungan, candung, dan salam nunggal. Ukurannya ada yang kecil, pas di-soren dipinggang. Ada pula yang panjang mendekati ukuran pedang. Didalam hikayatnya, Golok Ciomas bisa dilipat, bisa sangat tipis seperti seng dan aneka bentuk lainnya.
 
Salah seorang pemilik Golok Ciomas pernah menceritakan ketika ia bertandang kesebuah daerah di Jawa Tengah. Mereka-pun terlibat dalam pembicaraan yang seru soal Kris. Yang dikunjungi ternyata memiliki Kris yang “berisi”. Kris itu ternyata mampu berdiri dengan ujung runcingnya. Kalau melihat fisik Golok, mustahil Golok Ciomas mampu tampil berdiri dengan ujungnya. Sebab berbeda dengan Kris, secara vertikal, Golok pasti tidak seimbang. Namun apa yang terjadi, ternyata Golok itu bisa berdiri menyesuaikan diri dengan titik tumpunya. Persis seperti yang dilakukan terhadap Kris, Golok Ciomas-pun bisa.
 
Suatu ketika, dibulan Maulud seseorang datang ke Ciomas dengan niat mau menyerahkan sebuah Golok. Katanya, ia mendapat wangsit, salah seorang keluarganya akan sembuh dari sakitnya apabila ia menyerahkan Golok yang dimiliki keluarganya ke seseorang di Ciomas. Seorang anggota keluarganya memang telah lama mengidap penyakit yang aneh. Maka ia-pun berkeliling Ciomas.
 
Setelah ditelusuri, ternyata seseorang di Ciomas menyampaikan bahwa golok peninggalan keluarganya telah lenyap sejak lama, dan ia mengharapkan kembalinya Golok itu. Ia sampaikan lengkap dengan ciri- cirinya. Akhirnya, si pemegang Golok-pun tidak ragu menyerahkan Golok itu padanya. Tak lama kemudian keluarganya yang sakitpun sembuh.
 
Ada pula seseorang yang begitu perhatiannya terhadap Golok Ciomas. Dia pelajari betul detail- detail Golok Ciomas. Sampai- sampai dari bobotnya, ia bisa menentukan mana Golok Ciomas yang asli dan mana yang bukan. Salah satu caranya adalah dengan menimbang tengah Golok yang diangkat secara horizontal. Konon, pada titik tengahnya akan tercapai keseimbangan.
 
Masih banyak sekali cerita tentang Golok Ciomas. Ada kisah yang bersumber pada fisik Golok, Ada pula yang kental sekali unsur mistisnya. Tapi banyak alasan sehingga Golok Ciomas hingga kini banyak dimiliki oleh berbagai kalangan. Dari kalangan pengusaha hingga pejabat. Sebagian besar menyimpannya sebagai koleksi dan tanda mata dari daerah Banten. Banyak pejabat yang ketika datang ke Banten, pulang membawa cendera mata berupa Golok Ciomas. Yang memiliki kebanyakan lebih suka menyimpannyan sebagai barang koleksi yang punya nilai religius tinggi.
 
Sedangkan yang di soren dipinggang, dibawa ke kebun atau ke sawah, pastilah Bedog, bukan Golok Ciomas. Memang para sesepuh di Ciomas, yang hingga kini masih memegang kuat tradisi pembuatan Golok Ciomas, meyakini bahwa Golok Ciomas bukanlah alat untuk menyakiti orang.
 
Atas dasar kenyataan demikian, cukup alasan untuk menyebut bahwa Golok Ciomas adalah salah satu jenis senjata khas Banten, yang hingga kini prosesi pembuatannya masih dilakukan secara turun temurun. Banten dengan Golok Ciomas tidak ubahnya Aceh dengan Rencong, Dayak dengan Mandau, atau Jawa dengan Keris.
 

Bacaan Misteri "GUNUNG SANTRI BOJONEGARA"

http://massandry.blogspot.com
Gunung santri merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di Desa Bojonegara Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang Daerah ini berada di sebelah barat laut daerah pantai utara 7 Kilometer dari Kota Cilegon. Letak gunung santri berada ditengah dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede. di puncak gunung santri terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejangkungan, Lumajang, Ciranggon, Beji, Gunung Santri dan Pangsoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa itu penguasa Cirebon. Dan Syeh Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten Girang.
 
Sesuai ketelatennya akhirnya Syekh Muhammad Sholeh pun bertemu Sultan Hasanudin di Gunung Lempuyang dekat kampung Merapit Desa UkirSari Kec. Bojonegara yang terletak di sebelah barat pusat kecamatan yang sedang Bermunajat kepada Allah SWT. Setelah memaparkan maksud dan tujuannya, Sultan Hasanudin pun menolak untuk kembali ke Cirebon. Karena kedekatannya dengan ayahnya Sultan Hasanudin yaitu Syarif Hidayatullah, akhirnya Sultan Hasanudin pun mengangkat Syekh Muhammad Sholeh untuk menjadi pengawal sekaligus penasehat dengan julukan “Cili Kored” karena berhasil dengan pertanian dengan mengelola sawah untuk hidup sehari-hari dengan julukan sawah si derup yang berada di blok Beji.
 
Syiar agam Islam yang dilakukan Sultan Hasanudin mendapat tantangan dari Prabu Pucuk Umun, karena berhasil menyebarkan agama Islam di Banten sampai bagian Selatan Gunung Pulosari (Gunung Karang) dan Pulau Panaitan Ujung Kulon. Keberhasilan ini mengusik Prabu Pucuk Umun karena semakin kehilangan pengaruh, dan menantang Sultan Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago dan sebagai taruhannya akan dipotong lehernya, tantangan Prabu Pucuk umun diterima oleh sultan Hasanudin. Setelah Sultan Hasanudin bermusyawarah dengan pengawalnya Syekh Muhamad Soleh, akhirnya disepakati yang akan bertarung melawan Prabu Pucuk Umun adalah Syekh Muhamad Sholeh yang bisa menyerupai bentuk ayam jago seperti halnya ayam jago biasa. Hal ini terjadi karena kekuasaan Allah SWT.
 
Pertarungan dua ayam jago tersebut berlangsung seru namun akhirnya ayam jago milik Sultan Maulana Hasanudin yang memenangkan pertarungan dan membawa ayam jago tersebut kerumahnya. Ayam jago tersebut berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah Sultan Maulana Hasanudin. Akibat kekalahan adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin, mungkin sedang naas pasukan Prabu Pucuk Umun pun kalah dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman rangkas yang sekarang dikenal dengan suku Baduy.
 
Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada santrinya, semua itu patut di teladani oleh kita semua oleh generasi penerus untuk menegakkan amal ma’rup nahi mungkar.
 
Beliau Wafat pada usia 76 Tahun dan beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri dan di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri syekh Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani syekh dalam meyiarkan agama Islam. Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M. jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah. Jarak tempuh dari tol cilegon Timur 6 KM kearah Utara Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara disarikan dari buku “Gunung Santri Objek Wisata Religius”.

Newer Posts Older Posts Home

Bacaan Ringan "BABAD TANAH CIREBON - PART 10"

http://massandry.blogspot.com Pupuh Ketigapuluh Tiga Kinanti, 38 bait. Pupuh ini menceritakankisah sayembara memperebutkan Putri Pangur...

Blogger Template by Blogcrowds