Sunday, September 15, 2013

Bacaan Perang "SEJARAH PERTEMPURAN TARAKAN 1945"

http://massandry.blogspot.com
Pertempuran Tarakan adalah panggung pertama dalam kampanye Borneo 1945. Pertempuran ini bermula dengan pendaratan amfibi oleh pasukan Australia pada tanggal 1 Mei, dengan nama sandi Operasi Obo Satu. Walaupun pertempuran ini berakhir dengan kemenangan pasukan Sekutu atas Jepang, kemenangan ini umumnya dianggap tak setimpal dengan harga yang mesti dibayar Sekutu. Tarakan ialah sebuah pulau lepas pantai Borneo. Luas pulau ini 303 kilometer persegi (117 mi²), sebagian besar diliputi oleh rawa atau bukit yang tertutup hutan lebat di masa pertempuran itu. Tarakan adalah salah satu bagian Hindia Belanda dan penting sebagai pusat produksi minyak, karena 2 ladang minyak di pulau ini memproduksi 80.000 barel minyak tiap bulan pada tahun 1941.

Latar Belakang
Pendudukan Jepang
Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan garnisun Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari di mana separuh pasukan Belanda gugur. Saat ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944. Menyusul penyerahan Belanda, 5.000 penduduk Tarakan amat menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan dan sebagai akibatnya banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai "jugun ianfu" (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.

Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat di tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu. Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia. Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, garnisun Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.

Rencana Sekutu
Tujuan utama serangan Sekutu di Tarakan (nama sandi "Obo Satu") adalah mendapatkan dan mengembangkan lapangan udara di pulau itu agar bisa digunakan untuk mempersiapkan perlindungan udara untuk pendaratan berikutnya di Brunei, Labuan, dan Balikpapan. Tujuan sekunder operasi itu adalah merebut ladang minyak Tarakan dan dibawa ke dalam operasi itu sebagai sumber minyak untuk pasukan Sekutu di panggung ini. Di bawah perencanaan pra-serangan, diharapkan bahwa sayap pesawat tempur akan bermarkas di Tarakan 6 hari setelah pendaratan dan angkatan ini akan dikembangkan untuk juga menyerang sayap 9 hari kemudian dan mempersiapkan fasilitas untuk 4 skuadron berikutnya dalam 21 hari pendaratan. Penggagas rencana Sekutu memiliki intelijen di Tarakan dan pembelanya. Intelijen ini telah didapat dari sejumlah sumber seperti intelijen penghubung, penerbang pengintai dan pemotret serta pejabat kolonial Belanda. Tarakan adalah prioritas pertama Services Reconnaissance Department (SRD) Australia dari bulan November 1944. Namun, kesulitan operasi penyusupan ke pulau kecil seperti itu dan perebutan kuasa dalam SRD menyebabkan organisasi hanya bisa memberi bantuan terbatas pada para penerbang.

Pasukan yang Berhadapan Sekutu
Pasukan Sekutu yang bertanggung jawab untuk pendudukan Tarakan dipusatkan sekitar hampir 12.000 prajurit dari Grup Brigade ke-26 Australia. Brigade ke-26 dibentuk pada tahun 1940 dan menyusun 3 batalion infantri veteran yang telah menyaksikan gerakan di Afrika Utara dan Papua. Grup Brigade juga termasuk resimen artileri, skuadron tank dari Resimen Lapis Baja ke-2/9, skuadron komando, satuan perintis dan zeni. Satuan tempur itu didukung oleh banyaknya satuan logistik dan medis. Sementara Grup Brigade ke-26 amat melebihi kekuatan pembela Jepang di Tarakan yang diketahui, Sekutu menjalankan angkatan yang besar ini karena pengalaman mereka sebelumnya menunjukkan akan sulit mengalahkan angkatan Jepang jika mundur ke pedalaman Tarakan yang keras.

Grup Brigade ke-26 didukung oleh satuan udara dan laut Sekutu. Satuan udara didatangkan dari Australian First Tactical Air Force (1 TAF) dan United States Thirteenth Air Force dan termasuk skuadron tempur dan pengebom. Angkatan Laut didatangkan dari United States Seventh Fleet dan termasuk beberapa kapal perang dan pengangkut Royal Australian Navy. Karena tujuan utama menyerang Tarakan adalah untuk menggunakan lapangan terbang pulau itu, angkatan penyerang itu juga termasuk sejumlah besar satuan darat Royal Australian Air Force, termasuk Sayap Konstrukti Lapangan Udara No. 61. Angkatan yang mendarat di Tarakan termasuk hampir 1000 pasukan AS dan Belanda. Pasukan AS termasuk zeni U.S. Army yang mengawaki kapal pendaratan pasukan penyerang dan LVT serta detasemen Seabee United States Navy di atas Landing Ship Tank. Angkatan Belanda diatur ke dalam 1 kompi dari infantri Ambon yang dikomandoi oleh perwiraBelanda dan satuan urusan sipil.

Jepang
Pada saat pendaratan Sekutu, angkatan Jepang di Tarakan berjumlah 2.200 orang yang didatangkan dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Satuan terbesar adalah Batalion Infantri Independen ke-455 yang berkekuatan 740 orang yang dikomandoi oleh Mayor Tadai Tokoi. 150 pasukan pendukung AD juga ada di Tarakan. Sumbangan AL kepada garnisun Tarakan tersusun atas 980 pelaut yang dikomandoi oleh Komandan Kaoru Kaharu. Satuan laut utama adalah Angkatan Garnisun Laut ke-2 yang berkekuatan 600 orang. Satuan laut ini dilatih bertempur sebagai infantri dan mengoperasikan beberapa senapan pertahanan pesisir. 350 pekerja minyak sipil Jepang juga diharapkan bertempur pada saat serangan Sekutu. Angkatan Jepang termasuk sekitar 50 orang Indonesia yang berdinas di satuan pengawal pusat. Mayor Tokoi mengarahkan keseluruhan pertahanan Tarakan, meskipun hubungan antara AL dan AD buruk. Angkatan Jepang dipusatkan di sekitar Lingkas, pelabuhan utama Tarakan dan tempat satu-satunya pantai yang cocok untuk pendaratan pasukan. Pembela itu telah menghabiskan waktu beberapa bulan sebelum serangan yang menyusun posisi bertahan dan menanam ranjau. Pertahanan yang diatur itu banyak dipakai selama pertempuran, dengan taktik Jepang yang difokuskan pada posisi bertahan pra-persiapan yang kuat. Jepang tak melakukan kontra-serangan besar apapun, dan kebanyakan gerakan menyerang terbatas pada beberapa pihak penyerang yang mencoba menyelusup garis Australia.

Operasi persiapan
Sebelum tibanya angkatan penyerang, garnisun Jepang di Tarakan dipusatkan pada serangan udara dan laut intensif antara tanggal 12-29 April. Pengeboman udara atas Tarakan dipusatkan pada daerah yang berdampingan dengan pantai pendaratan yang direncanakan di Lingkas dan bertujuan menihilkan pertahanan Jepang di daerah itu. Tank penyimpanan minyak di Lingkas adalah sasaran utama karena ditakutkan minyak di tank-tank itu bisa meledak dan digunakan melawan pasukan Sekutu. Pengeboman itu memaksa sebagian besar penduduk sipil Tarakan untuk lari ke pedalaman. Karena perlu membersihkan banyaknya ranjau laut di seputar pulau itu dan rintangan pantai yang meluas di Lingkas, Sekutu tidak mencoba-coba pendaratan mendadak. Unsur pertama dari armada serangan tiba di lepas pantai pada tanggal 27 April, 4 hari sebelum tanggal pendaratan utama yang direncanakan. Operasi pembersihan ranjau diselesaikan pada tanggal 1 Mei yang akibatnya 2 kapal penyapu ranjau kecil rusak.


Pada tanggal 30 April, Skuadron Komando Kavaleri ke-2/4 dan Deretan ke-57 dari Resimen Medan ke-2/7 mendarat di Pulau Sadau yang berdekatan untuk mendukung zeni yang ditugasi membersihkan rintangan lepas pantai basis penyerangan. Dengan cepat angkatan ini mengamankan pulau yang tak dipertahankan itu. Pendaratan di Pulau Sadau adalah pendaratan pertama pasukan Australia di wilayah bukan Australia di Pasifik sejak akhir 1941 (keikutsertaan Australia dalam Kampanye Papua dari tahun 1942 dibatasi oleh porsi Australia di Papua). Satu-satunya kehilangan Sekutu dalam operasi ini adalah USS Jenkins yang rusak saat menabrak ranjau selama membantu pendaratan. Tugas membersihkan rintangan pantai di Lingkas dibebankan kepada Kompi Medan ke-2/13. Pertahanan itu menyusun sederetan kawat berduri, pos kayu dan rel baja sepanjang 125 yar dari pantai. Pada pukul 11:00 pada tanggal 30 April, 8 pihak zeni maju di LVT dan mendaratkan kapal untuk membersihkan rintangan itu. Zeni-zeni itu didukung oleh senapan di Pulau Sadau serta kapal perang dan pesawat Sekutu. Beroperasi di tengah-tengah tembakan Jepang, zeni-zeni itu membersihkan semua rintangan yang menghalangi pendaratan ke pantai. Sementara korban parah telah diperkirakan, Kompi Medan ke-2/13 menyelesaikan tugasnya tanpa kerugian.

Pertempuran
Pendaratan
Angkatan penyerang utama tiba di pesisir lepas Tarakan di pagi hari tanggal 1 Mei. Didukung oleh pengeboman udara dan laut yang deras, Batalion ke-2/23 dan Batalion ke-2/48 melakukan pendaratan amfibi di sekitar pukul 08:00. Tiada perlawanan yang dihadapi di pantai, dan 2 batalion hanya mendapat sedikit korban yang membersihkan pertahanan pesisir. Pada dini hari, pendarat Australia di muka pantai meluas sampai 2.800 yar sepanjang pesisir dan lebih dari 2.000 yar ke pulau. Sebagian satuan tempur Grup Brigade ke-26 yang tersisa, termasuk skuadron tank Matilda II, kemudian mendarat pada tanggal 1 Mei. Korban Sekutu lebih kecil daripada yang diperkirakan, dengan terbunuhnya 11 orang dan terlukanya 35 orang. Perlawanan Jepang yang lemah terjadi karena pengeboman yang deras sebelum pendaratan yang memaksa pembela Tarakan meninggalkan pertahanan kuat di Lingkas.

Sementara infantri itu berhasil mengamankan muka pantai, pendaratan itu terhambat oleh keadaan pantai yang buruk. Banyak kendaraan Australia terjebak di lumpur Pantai Lingkas yang lunak, dan 7 LST kandas setelah komandannya salah menilai penarikan kapal itu ke pantai. Sedikitnya tanah padat di muka pantai menyebabkan kemacetan yang parah dan berakibat tak satupun dari senapan Resimen Medan ke-2/7 yang dipergunakan bertempur hingga siang pendaratan. Kemacetan itu diperparah oleh banyaknya angkatan darat RAAF yang mendarat pada tanggal 1 Mei dengan kapal yang banyak. 7 LST tak diapungkan lagi hingga tanggal 13 Mei.

Setelah mengamankan muka pantai, Grup Brigade ke-26 maju ke timur masuk Kota Tarakan dan ke utara ke arah lapangan udara. Australia menghadapi perlawanan Jepang yang bertambah hebat karena mereka bergerak ke dalam pulau. Tugas menduduki lapangan terbang Tarakan dibebankan kepada Batalion ke-2/24. Serangan awal batalion ke lapangan udara pada malam 2 Mei itu tertunda saat Jepang memasang muatan peledak, dan lapangan itu tak dapat direbut hingga tanggal 5 Mei. Saat pendudukan lapangan udara itu mencapai tugas utama Grup Brigade ke-26, Jepang masih mempertahankan pedalaman Tarakan yang keras. Selama minggu pertama penyerangan, 7.000 pengungsi Indonesia melewati barisan Australia yang sedang maju. Jumlah ini lebih banyak dari yang diperkirakan, dan pengungsi itu, yang kesehatannya banyak memburuk, membanjiti satuan urusan sipil Belanda. Meskipun terjadi kerusakan di mana-mana akibat pengeboman dan serangan Sekutu, sebagian besar penduduk sipil menyambut pasukan Australia sebagai pembebas. Ratusan penduduk sipil Indonesia kemudian bekerja sebagai buruh dan kerani untuk angkatan Sekutu.

Menjamin Keamanan dalam Kota
Untuk mengamankan pulau itu dan melindungi lapangan udara dari serangan, Grup Brigade ke-26 dipaksa membersihkan Jepang dari perbukitan di Tarakan yang diselimuti hutan. Sekitar 1.700 pasukan Jepang menggali parit pertahanan di utara dan tengah pulau. Posisi itu dilindungi oleh ranjau. Saat menyerang posisi yang memina banyak pertempuran infantri, pasukan Australia banyak menggunakan artileri dan pasokan udara mereka untuk meminimalisasi korban. Hal ini sejalan dengan perintah Jenderal Thomas Blamey untuk Grup Brigade ke-26 untuk maju secara hati-hati setelah lapangan udara direbut. Tank-tank Australia hanya bisa menyediakan dukungan terbatas kepada infantri tersebut karena lebatnya hutan, rawa-rawa, dan bukit yang curam di Tarakan sering mengurung gerakan mereka ke jalanan. Sebagai akibatnya, umumnya tank tak dapat digunakan untuk membuka jalan bagi penyerangan, dan peranannya terbatas menyediakan tembakan untuk serangan infantri, dengan artileri yang menjadi sumber pilihan bagi dukungan langsung. Deretan pasukan Jepang di Tanjung Djoeata di pesisir utara Tarakan dikalahkan oleh USS Douglas A. Munro pada tanggal 23 Mei.

Batalion Perintis ke-2/3 dan kompi Hindia-Belanda dibebani tanggung jawab mengamankan bagian tenggara Tarakan. Perintis itu mulai maju ke timur Kota Tarakan pada tanggal 7 Mei namun menghadapi perlawanan kuat Jepang yang tak terduga. Dari tanggal 10 Mei, batalion itu tertahan di 'Helen', yang dipertahankan oleh 200 pasukan Jepang. Pada tanggal 12 Mei, Kopral John Mackey terbunuh setelah menduduki 3 pos senapan mesin Jepang sendirian. Secara anumerta Mackey dianugerahi Victoria Cross untuk tindakan kepahlawanan ini. Selama pertempuran di Helen, pengebom berat B-24 Liberator digunakan untuk pasokan udara dekat untuk pertama kalinya, dengan penempur P-38 Lightning menjatuhkan bensin kental segera setelah pengeboman. Gabungan ini sebagian terbukti efektif dan menjadi bentuk standar pasukan udara yang diminta oleh Australia. Angkatan Jepang menarik diri dari Helen pada tanggal 14 Mei setelah mendapat 100 korban, dan Batalion Perintis ke-2/3 mencapai pesisir timur Tarakan pada tanggal 16 Mei. Batalion itu menderita20 korban terbunuh dan 46 terluka dalam gerak maju ini. Selama masa ini, kompi Hindia-Belanda menjamin Tarakan selatan sisanya, dan menghadapi perlawanan kecil selama gerak majunya. Secara bertahap, garnisun Jepang dihancurkan, dan yang selamat meninggalkan posisi terakhir mereka di bukit dan mundur ke utara pulau pada tanggal 14 Juni. Pada hari tersebut, 112 buruh Tiong Hoa dan Indonesia meninggalkan daerah yang dikuasi Jepang dengan catatan dari perwira senior Jepang yang meminta bahwa mereka akan diperlakukan dengan baik. Saat Radio Tokyo mengumumkan bahwa Tarakan telah jatuh pada tanggal 15 Juni, perlawanan Jepang terorganisir terakhir dihadapi pada tanggal 19 Juni dan Whitehead tak menyatakan pulau itu aman hingga tanggal 21 Juni.

Masalah Pembangunan
Saat infantri Grup Brigade ke-26 memerangi Jepang di perbukitan, zeni RAAF dari Sayap Konstruksi Lapangan Udara No. 61 ikut dalam usaha nekat untuk memasukkan lapangan udara Tarakan ke daftar operasi. Karena lapangan udara itu rusak berat akibat pengeboman sebelum serangan dan letaknya di dataran berawa, terbukti akan lebih sulit memperbaiki daripada yang diharapkan, dan memakan waktu 8 minggu dan bukan 1 minggu untuk memperbaiki lapangan udara itu agar bisa dipakai. Digunakanlah secara meluas bahan dari plat baja bersambungan yang diletakkan seperti tikar. Sisa plat itu masih ada di parkir mobil di Bandara Tarakan. Saat dibuka pada tanggal 28 Juni, lapangan itu terlambat untuk bisa berperan dalam mendukung pendaratan di Brunei atau Labuan (10 Juni), maupun pendaratan di Balikpapan. Namun RAAF Sayap No. 78 bermarkas di Tarakan dari tanggal 28 Juni dan terbang untuk mendukung dalam operasi di Balikpapan hingga akhir perang. Serangan ke Tarakan juga membebaskan penduduk sipil dari pasukan pendudukan Jepang yang kejam.

Pembersihan
Menyusul akhir perlawanan terorganisir, orang Jepang yang tersisa di Tarakan terpecah ke berbagai kelompok kecil yang menuju ke utara dan timur pulau. Satuan tempur Grup Brigade ke-26 dipindahkan ke bagian Tarakan di mana mereka menyapu orang Jepang. Banyak orang Jepang yang mencoba melintasi selat yang memisahkan Tarakan dari Kalimantan namun tertangkap oleh patroli AL Sekutu. Dari minggu pertama bulan Juli, orang Jepang yang selamat kekurangan makanan dan mencoba kembali ke kedudukan lama mereka di tengah pulau dan menyerang posisi Australia untuk mencari makanan. Karena lapar banyak orang Jepang yang menyerah. Satuan Australia melanjutkan patroli untuk mencari orang Jepang hingga akhir perang, dengan beberapa orang Jepang terbunuh ataupun menyerah tiap hari. Patroli itu memakan 36 korban lagi antara tanggal 21 Juni-15 Agustus. 300 orang Jepang lari dari penangkapan dan menyerah setelah akhir perang.

Kejadian Sesudahnya
Grup Brigade ke-26 tetap di Tarakan sebagai tentara pendudukan hingga tanggal 27 Desember 1945, meskipun sebagian besar kesatuannya dibubarkan di bulan Oktober. Markas brigade itu dikembalikan ke Australia di awal tahun 1946 dan secara resmi dibubarkan di Brisbane pada bulan Januari 1946. Ladang minyak Tarakan dengan cepat diperbaiki dan kembali berproduksi. Para insinyur dan teknisi tiba segera setelah pendaratan Sekutu dan pompa minyak pertama diperbaiki pada tanggal 27 Juni. Dari bulan Oktober, ladang minyak pulau itu memproduksi 8.000 barel tiap hari dan menyediakan lapangan kerja bagi banyak penduduk sipil Tarakan. Satuan Sekutu yang ikut bertempur menyelesaikan tugasnya dengan "kecakapan dan profesionalisme". Dalam menyimpulkan operasi itu, Samuel Eliot Morison menulis bahwa "sama sekali hal ini merupakan operasi amfibi yang dilakukan dengan amat baik yang mencapai tujuannya dengan kerugian minimal". Pertempuran Tarakan menekankan pentingnya peperangan pasukan gabungan, dan khususnya keperluan infantri untuk beroperasi dengan dan didukung oleh tank, artileri dan zeni selama peperangan di hutan.

Lepas dari penilaian Morison, korban Grup Brigade ke-26 amat tinggi dibandingkan dengan pendaratan lain dalam kampanye Borneo. Brigade itu menderita korban lebih dari 2 kali dari Divisi ke-9 selama operasinya di Borneo Utara dan lebih dari 23 kematian daripada Divisi ke-7 yang datang di Balikpapan. Korban Grup Brigade ke-26 yang lebih tinggi bisa diakibatkan oleh tidak bisanya garnisun Tarakan mundur seperti garnisun di Borneo Utara dan Balikpapan. Pencapaian angkatan pendaratan itu terhapus oleh fakta bahwa lapangan udara di pulau itu tidak bisa membantu aksi. Penilaian intelijen yang salah yang menyebabkan penerbang RAAF percaya bahwa lapangan udara itu bisa diperbaiki menggambarkan kegagalan utama. Apalagi, prestasi RAAF di Tarakan sering buruk. Prestasi ini mungkin diakibatkan dari moral rendah yang lazim di sejumlah unit dan 'Pemberontakan Morotai' yang mengganggu 1 kepemimpinan TAF. Seperti kampanye Borneo lainnya, operasi Australia di Tarakan masih kontroversial. Debat terus berlanjut atas apakah kampanye itu merupakan "pertunjukan tambahan" yang berarti, atau apakah dibenarkan dalam konteks operasi terencana untuk menyerang Jepang dan membebaskan Hindia-Belanda lainnya, yang dijadwalkan bermula pada tahun 1946. Penilaian sejarawan resmi Australia Gavin Long bahwa "hasil yang dicapai tak membenarkan kerugian operasi Tarakan" sesuai dengan pandangan yang umum dianut atas pertempuran itu.

Bacaan Perang "SEJARAH PERTEMPURAN SUKABUMI 1945"

http://massandry.blogspot.com
Sukabumi merupakan daerah perkebunan yang menguntungkan dan dapat dijadikan sebagai benteng pertahanan yang baik bagi Belanda/NICA. Oleh karena itu, para pejuang Sukabumi berusaha mempertahankan Sukabumi dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Komandan Resimen III, Letkol Edi Sukardi memberikan instruksi untuk berdislokasi pasukan, yaitu batalyon yang berkedudukan di kota Sukabumi dipindahkan ke luar kota atas dasar strategis dan teknis pertempuran.

Pertempuran pertama antara tentara Sekutu dengan para pejuang Sukabumiterjadi di daerah Gekbrong. Pertempuran terjadi karena adanya serangan parapejuang Sukabumi terhadap konvoi Sekutu/NICA yang menuju Bandung. Akibatserangan itu, tentara Sekutu dan NICA kembali datang ke Sukabumi dengankonvoi besar sebanyak kurang lebih 100 truk(Badan Pengelola Monumen Pa-laganPerjuangan 1945, 1986: 15).

TKR dan laskar rakyat yang mengetahui akan kedatangan tentara Sekutu,berkumpul di daerah Gekbrong sekitar 10.000 orang. Pada pukul satu siang didaerah Pancuran Luhur (tidak jauh dari Gekbrong) terjadi pertempuran sengitantara pejuang Sukabumi melawan tentara Sekutu. Pertempuran berlangsungsampai pukul 17.00 sore. Akibat perbedaan senjata menyebabkan para pejuangSukabumi tidak dapat menahan serangan Sekutu. Untuk meng-hindari korban yanglebih banyak, TRI dan laskar rakyat mundur dan membiarkan tentara Sekutume-lanjutkan perjalanan ke arah Bogor(wawancara dengan Mohtar K, tanggal 12Juni 1997).

Pertempuran terus merembet ke daerah lain. Pada tanggal 2 Desember 1945mulai terjadi pertempuran di daerah Bojong Kokosan. Pada tanggal 9 Desember1945, para pejuang Sukabumi melakukan penghadangan terhadap konvoi tentara Sekutu sehingga terjadi pertempuran yang dasyat. Pertempuran ini dikenal
sebagai Peristiwa Bojong Kokosan, yang menimbulkan korban yang banyak dikedua belah pihak.

Peristiwa di atas terjadi, berawal dari adanya berita yang diterima parapejuang Sukabumi di Pos Cigombong, bahwa tentara Sekutu sedang menuju Sukabumi. Mendengar berita tersebut, Kompi III yang dipimpin Kapten Muraddan kepala seksi I dan seksi II serta laskar rakyat Sukabumi berusaha menduduki tempat pertahanan di pinggir (tebing) utara dan selatan Jalan Bojong Kokosan.

Barisan TKR yang ikut terlibat dalam peristiwa Bojong Kokosan diperkuat 165 orang yang bersenjata senapan Ediston/ Hamburg, Bou-man/Double Loap, Pistol Parabelm, granat tangan, dan senjata tajam (golok, tombak, dan bambu run-cing) serta senjata buatan sendiri berupa botol berisi bensin yang di-sumbat karet mentah yang disebut "krembing" (granat pembakar). Sedangkan laskar rakyat didukung oleh Barisan Banteng pimpinan Haji Toha, Hisbullah pimpinan Haji Akbar, dan Pesindo. Barisan laskar rakyat bersenjatakan Kara-ben Jepang, pistol, dan bom molotov(Badan Pengelola Monumen: 20).

Sekitar pukul 15.00, konvoi tentara Sekutu datang. Konvoi di-dahului dengan tank, panser wagon, 100 truk berisi pasukan Gurkha dan pembekalan, serta dilindungi 3 pesawat terbang pemburu. Pada saat mendekati Bojong Kokosan konvoi berhenti karena terhalang barikade yang dibuat para pejuang Sukabumi.

Adanya barikade ter-sebut membuat tentara Sekutu terlihat panik dan bersiaga. Pada saat itulah, Kapten Murad, komandan kompi III memberi isyarat dengan tembakan dua kali, sebagai tanda mulai penyerangan. Terjadilah pertempuran sengit. Para pejuang segera melemparkan granat tangan, granat krembing, dan tembakan. Serangan ini mengakibatkan korban jatuh di pihak tentara Sekutu(wawancara dengan M. Sholeh Shafei, tanggal 12 Juni 1997).

Dalam situasi kacau, koman-dan tentara Sekutu berhasil meng-konsolidasi pasukannya dan mengetahui lakasi pertahanan para pejuang Sukabumi. Tentara Sekutu segera menembaki kubu-kubu pertahanan para pejuang dengan senjata berat dari tank dan panser. Tanah tebing yang dijadikan kubu pertahanan jebol dan longsor sehingga beberapa pejuang yang berada di kubu pertahanan terjatuh ke jalan raya yang berada di bawahnya. Para pejuang yang jatuh tersebut menjadi sasaran empuk senjata tentara Sekutu.

Dalam situasi yang tegang, tiba-tiba sebuah panser kecil berhenti di depan salah satu kubub pertahanan. Panser tersebut berpenumpang dua orang. Salah seorang memakai baret hitam dan seorang lagi memakai ubel-ubel yang diperkirakan sebagai pim-pinan pasukan. Salah seorang penumpang keluar dari kendaraan dan melihat sekelilingnya. Dia mengira situasi telah aman dan dengan santai mengisap rokok cangklong sambil tertawa-tawa.

Tentara TRI yang berada di tebing mendapat perintah dari komandan seksi II
agar menembak tentara Sekutu yang memakai baret hitam. Tembakan mengenai
sasaran dengan tepat. Melihat temannya tertembak, tentara Sekutu yang berada
di dalam mobil berusaha menolong. Pada saat mereka turun dari mobil
diberondong oleh tembakan tentara TKR dan laskar rakyat.

Adanya kejadian tersebut, tentara Sekutu meningkatkan ke-waspadaan. Mereka melakukan gerakan melambung dari samping dan belakang untuk mengurung dan menyergap tentara TKR. Dengan demikian, kedudukan TKR menjadi terjepit dan panik karena kehabisan peluru. Pada saat yang kritis, tiba-tiba turun hujan lebat disertai kabut. Suasana menjadi gelap sehingga para pejuang berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Sekutu. TKR seksi II yang dipimpin Letnan Muda D. Kusnadi mundur ke arah Parungkuda. TKR seksi I yang dipimpin Letda Mustar mundur ke arah perkampungan Bojong Kokosan atau sebelah utara (sekitar 300 meter) dari medan pertempuran(Badan Pengelola Monumen: 22).

TKR yang bergerak mundur secara diam-diam diikuti oleh ten-tara Sekutu. Tentara Sekutu naik ke atas bukit dan menembakkan mortir ke bekas pertahanan TKR. Tembakan tersebut salah sasaran, bukannya mengenai para pejuang melainkan mengenai tentara Sekutu sendiri. Korban pun jatuh di pihak tentara Sekutu.

Pada saat hujan reda dan cuaca kembali cerah, terdengar bunyi peluit dari tentara Sekutut sebagai tanda pertempuran telah selesai. Pada saat itu, sisa tentara Sekutu yang ada segera naik ke kendaraan sambil membawa rekan-rekannya yang telah menjadi korban. Tentara Sekutu meninggalkan Bojong-kokosan menuju Sukabumi dan sepanjang perjalanan mereka me-nembakkan senjata secara membabi buta(wawancara dengan M. Mohtar, tanggal 12 Juni 1997).

Setelah pertempuran di Bojong Kokosan berakhir, maka satu regu TKR memeriksa bekas pertempuran. Setelah diperiksa ternyata TKR telah kehilangan 73 orang, yaitu 28 orang gugur (pasukan yang menempati tebing bagian bawah pinggir jalan seperti Suban dan Aceng), dan 45 orang gugur di sepanjang jalan Bojong
Kokosan. Tentara Sekutu yang gugur diperkirakan sebanyak 50 orang(Sumber: Museum Bojong Kokosan).

Adanya tembakan tentara Sekutu yang dilakukan dalam gerakan menuju Sukabumi dibalas oleh para pejuang Indonesia. Pertempuran terus berkobar sepanjang jalur Bojong Kokosan sampai perbatasan Cianjur, seperti di Ungkrak, Selakopi, Cikukulu, Situawi, Ciseureuh sampai Degung; dan Ngaweng, Cimahpar di Pasekon Sukaraja sampai Gekbrong. Serangan terhadap tentara Sekutu mendapat bantuan rakyat yang ada di sekitar daerah tersebut(Rusman Wijaya,1996: 67).

Pada saat tentara Sekutu tiba di Sukabumi, Komandan tentara Sekutu segera mengajak berunding para pemimpin TKR dan pe-merintah setempat, yaitu Letkol Edi Sukardi (Komandan Resimen III), Bupati dan Walikota Sukabumi, dan Dr Abu Hanifah. Tentara Sekutu minta dilakukan gencatan senjata. TKR dan pemerintah setempat menyetujui usul tersebut dan menginstruksikan penghentian tembak menembak. Pada kenyataannya, tentara Sekutu sendiri yang bertindak cu-rang dengan tidak mentaati ke-sepakatan gencatan senjata. Pada tanggal 10 Desember 1945, tentara Sekutu membombandir kota Cibadak sebagai balas dendam. Mereka dendam atas kekalahan pada pertempuran di Bojong Kokosan.

Pertempuran terjadi lagi di Cikukulu. TKR dan laskar rakyat pimpinan Kapten Juhanda dari kelompok Komando Batalyon I yang terdiri atas Mayor Yahya Bahran Rangkuti, Kapten Muktar Kosasih dan Letnan Yusuf Juharsa, yang akan mengadakan pengecekan ke Bojong Kokosan tertahan di Cikukulu. Pertempuran pun me-letus lagi. Pertempuran terus merembet ke daerah Situawi Ciseureu Karangtengah. TKR dipimpin Letnan Gowi Brata dengan senjata yang digunakan adalah granat (buatan pabrik mesiu Braat) dan senjata krembing. Dalam per-tempuran ini, TKR berhasil merebut sebuah truk berisi senjata dan perbekalan. Pertempuran berlanjut sampai di Gedung Cipelang (sekitar Talang).

Bacaan Perang "SEJARAH AGRESI MILITER BELANDA II"

http://massandry.blogspot.com
Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta. Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.

Tanggal 18 Desember 1948 pukul 23.30, siaran radio dari Jakarta menyebutkan, bahwa besok paginya Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Dr. Beel, akan mengucapkan pidato yang penting. Sementara itu Jenderal Spoor yang telah berbulan-bulan mempersiapkan rencana pemusnahan TNI memberikan instruksi kepada seluruh tentara Belanda di Jawa dan Sumatera untuk memulai penyerangan terhadap kubu Republik. Operasi tersebut dinamakan "Operasi Kraai."

Pukul 2.00 pagi 1e para-compgnie (pasukan para I) KST di Andir memperoleh parasut mereka dan memulai memuat keenambelas pesawat transportasi, dan pukul 3.30 dilakukan briefing terakhir. Pukul 3.45 Mayor Jenderal Engles tiba di bandar udara Andir, diikuti oleh Jenderal Spoor 15 menit kemudian. Dia melakukan inspeksi dan mengucapkan pidato singkat. Pukul 4.20 pasukan elit KST di bawah pimpinan Kapten Eekhout naik ke pesawat dan pukul 4.30 pesawat Dakota pertama tinggal landas. Rute penerbangan ke arah timur menuju Maguwo diambil melalui Lautan Hindia. Pukul 6.25 mereka menerima berita dari para pilot pesawat pemburu, bahwa zona penerjunan telah dapat dipergunakan. Pukul 6.45 pasukan para mulai diterjunkan di Maguwo.

Seiring dengan penyerangan terhadap bandar udara Maguwo, pagi hari tanggal 19 Desember 1948, WTM Beel berpidato di radio dan menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Renville. Penyerbuan terhadap semua wilayah Republik di Jawa dan Sumatera, termasuk serangan terhadap Ibukota RI, Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II telah dimulai. Belanda konsisten dengan menamakan agresi militer ini sebagai "Aksi Polisional".

Penyerangan terhadap Ibukota Republik, diawali dengan pemboman atas lapangan terbang Maguwo, di pagi hari. Pukul 05.45 lapangan terbang Maguwo dihujani bom dan tembakan mitraliur oleh 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk. Pertahanan TNI di Maguwo hanya terdiri dari 150 orang pasukan pertahanan pangkalan udara dengan persenjataan yang sangat minim, yaitu beberapa senapan dan satu senapan anti pesawat 12,7. Senjata berat sedang dalam keadaan rusak. Pertahanan pangkalan hanya diperkuat dengan satu kompi TNI bersenjata lengkap. Pukul 06.45, 15 pesawat Dakota menerjunkan pasukan KST Belanda di atas Maguwo. Pertempuran merebut Maguwo hanya berlangsung sekitar 25 menit. Pukul 7.10 bandara Maguwo telah jatuh ke tangan pasukan Kapten Eekhout. Di pihak Republik tercatat 128 tentara tewas, sedangkan di pihak penyerang, tak satu pun jatuh korban.

Sekitar pukul 9.00, seluruh 432 anggota pasukan KST telah mendarat di Maguwo, dan pukul 11.00, seluruh kekuatan Grup Tempur M sebanyak 2.600 orang –termasuk dua batalyon, 1.900 orang, dari Brigade T- beserta persenjataan beratnya di bawah pimpinan Kolonel D.R.A. van Langen telah terkumpul di Maguwo dan mulai bergerak ke Yogyakarta.

Serangan terhadap kota Yogyakarta juga dimulai dengan pemboman serta menerjunkan pasukan payung di kota. Di daerah-daerah lain di Jawa antara lain di Jawa Timur, dilaporkan bahwa penyerangan bahkan telah dilakukan sejak tanggal 18 Desember malam hari. Segera setelah mendengar berita bahwa tentara Belanda telah memulai serangannya, Panglima Besar Soedirman mengeluarkan perintah kilat yang dibacakan di radio tanggal 19 Desember 1948 pukul 08.00.

Soedirman dalam keadaan sakit melaporkan diri kepada Presiden. Soedirman didampingi oleh Kolonel Simatupang, Komodor Suriadarma serta dr. Suwondo, dokter pribadinya. Kabinet mengadakan sidang dari pagi sampai siang hari. Karena merasa tidak diundang, Jenderal Soedirman dan para perwira TNI lainnya menunggu di luar ruang sidang. Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi, akhirnya Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak meninggalkan Ibukota. Mengenai hal-hal yang dibahas serta keputusan yang diambil adalam sidang kabinet tanggal 19 Desember 1948. Berhubung Soedirman masih sakit, Presiden berusaha membujuk supaya tinggal dalam kota, tetapi Sudirman menolak. Simatupang mengatakan sebaiknya Presiden dan Wakil Presiden ikut bergerilya. Menteri Laoh mengatakan bahwa sekarang ternyata pasukan yang akan mengawal tidak ada. Jadi Presiden dan Wakil Presiden terpaksa tinggal dalam kota agar selalu dapat berhubungan dengan KTN sebagai wakil PBB. Setelah dipungut suara, hampir seluruh Menteri yang hadir mengatakan, Presiden dan Wakil Presiden tetap dalam kota.

Sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan oleh Dewan Siasat, yaitu basis pemerintahan sipil akan dibentuk di Sumatera, maka Presiden dan Wakil Presiden membuat surat kuasa yang ditujukan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran yang sedang berada di Bukittinggi. Presiden dan Wakil Presiden mengirim kawat kepada Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi, bahwa ia diangkat sementara membentuk satu kabinet dan mengambil alih Pemerintah Pusat. Pemerintahan Syafruddin ini kemudian dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Selain itu, untuk menjaga kemungkinan bahwa Syafruddin tidak berhasil membentuk pemerintahan di Sumatera, juga dibuat surat untuk Duta Besar RI untuk India, dr. Sudarsono, serta staf Kedutaan RI, L.N. Palar dan Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis yang sedang berada di New Delhi.

Empat Menteri yang ada di Jawa namun sedang berada di luar Yogyakarta sehingga tidak ikut tertangkap adalah Menteri Dalam Negeri, dr. Sukiman, Menteri Persediaan Makanan,Mr. I.J. Kasimo, Menteri Pembangunan dan Pemuda, Supeno, dan Menteri Kehakiman, Mr. Susanto. Mereka belum mengetahui mengenai Sidang Kabinet pada 19 Desember 1948, yang memutuskan pemberian mandat kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat di Bukittinggi, dan apabila ini tidak dapat dilaksanakan, agar dr. Sudarsono, Mr. Maramis dan L.N. Palar membentuk Exile Government of Republic Indonesia di New Delhi, India.

Pada 21 Desember 1948, keempat Menteri tersebut mengadakan rapat dan hasilnya disampaikan kepada seluruh Gubernur Militer I, II dan III, seluruh Gubernur sipil dan Residen di Jawa, bahwa Pemerintah Pusat diserahkan kepada 3 orang Menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehakiman, Menteri Perhubungan.

Setelah itu Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya dari luar kota. Perjalanan bergerilya selama delapan bulan ditempuh kurang lebih 1000 km di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak jarang Soedirman harus ditandu atau digendong karena dalam keadaan sakit keras. Setelah berpindah-pindah dari beberapa desa rombongan Soedirman kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 Salah satu pokok isinya ialah : Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas.
Salah satu pasukan yang harus melakukan wingate adalah pasukan Siliwangi. Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Perjalanan yang jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa lapar dan letih dibayangi bahaya serangan musuh. Sesampainya di Jawa Barat mereka terpaksa pula menghadapi gerombolan DI/TII.

Bacaan Perang "SEJARAH AGRESI MILITER BELANDA I"

http://massandry.blogspot.com
Agresi Militer Belanda I atau Operasi Produk adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Agresi yang merupakan pelanggaran dari Persetujuan Linggajati ini menggunakan kode "Operatie Product".

Tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum agar supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini.

Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggajati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan persenjataan yang modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia.

Serangan di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, bahkan telah dilancarkan tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli malam, sehingga dalam bukunya, J. A. Moor menulis agresi militer Belanda I dimulai tanggal 20 Juli 1947. Belanda berhasil menerobos ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula.

Pada agresi militer pertama ini, Belanda juga mengerahkan kedua pasukan khusus, yaitu Korps Speciaale Troepen (KST) di bawah Westerling yang kini berpangkat Kapten, dan Pasukan Para I (1e para compagnie) di bawah Kapten C. Sisselaar. Pasukan KST (pengembangan dari DST) yang sejak kembali dari pembantaian di Sulawesi Selatan belum pernah beraksi lagi, kini ditugaskan tidak hanya di Jawa, melainkan dikirim juga ke Sumatera.

Agresi tentara Belanda berhasil merebut daerah-daerah di wilayah Republik Indonesia yang sangat penting dan kaya seperti kota pelabuhan, perkebunan dan pertambangan.

Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura, sumbangan Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh Belanda dan mengakibatkan tewasnya Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara dr. Abdulrahman Saleh dan Perwira Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo.

Pada 9 Desember 1947, terjadi Pembantaian Rawagede dimana tentara Belanda membantai 431 penduduk desa Rawagede, yang terletak di antara Karawang dan Bekasi, Jawa Barat.
Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi militer Belanda ke PBB, karena agresi militer tersebut dinilai telah melanggar suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggajati.

Belanda ternyata tidak memperhitungkan reaksi keras dari dunia internasional, termasuk Inggris, yang tidak lagi menyetujui penyelesaian secara militer. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda Dewan Keamanan PBB, yang kemudian mengeluarkan Resolusi No. 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan.

Dewan Keamanan PBB de facto mengakui eksistensi Republik Indonesia. Hal ini terbukti dalam semua resolusi PBB sejak tahun 1947, Dewan Keamanan PBB secara resmi menggunakan nama INDONESIA, dan bukan Netherlands Indies. Sejak resolusi pertama, yaitu resolusi No. 27 tanggal 1 Augustus 1947, kemudian resolusi No. 30 dan 31 tanggal 25 August 1947, resolusi No. 36 tanggal 1 November 1947, serta resolusi No. 67 tanggal 28 Januari 1949, Dewan Keamanan PBB selalu menyebutkan konflik antara Republik Indonesia dengan Belanda sebagai The Indonesian Question.

Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947 Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran.

Pada 17 Agustus 1947 Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan senjata, dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda. Komite ini awalnya hanyalah sebagai Committee of Good Offices for Indonesia (Komite Jasa Baik Untuk Indonesia), dan lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara (KTN), karena beranggotakan tiga negara, yaitu Australia yang dipilih oleh Indonesia, Belgia yang dipilih oleh Belanda dan Amerika Serikat sebagai pihak yang netral. Australia diwakili oleh Richard C. Kirby, Belgia diwakili oleh Paul van Zeeland dan Amerika Serikat menunjuk Dr. Frank 

Bacaan Perang "BUKU ITINERARIO - BUKU PENYEBAB INDONESIA DI JAJAH BELANDA 350 TAHUN"

http://massandry.blogspot.com
Tahukah Anda bahwa karena sebuah bukulah maka bangsa Belanda bisa sampai di Nusantara dan melakukan penjajahan atas bumi yang kaya raya ini selama berabad-abad? Buku tersebut berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, yang ditulis Jan Huygen van Linshoten di tahun 1595. Inilah kisahnya:

Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.

Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah. 

Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya. 

Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru—kini disebut Benua Amerika—kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda. 

Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Spanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.

Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. 

Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.

Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya. 

Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.

Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.

Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945. 

Bacaan Perang "KESALAHAN BESAR ADOLF HITLER SELAMA PERANG DUNIA II DI FRONT TIMUR DAN FRONT BARAT"

http://massandry.blogspot.com
Letak beberapa kesalahan utama Hitler yang menyebabkan kekalahan German berdasarkan buku perang Eropa karya PK.Ojong dan buku-buku juga artikel tentang Perang Dunia II yang lain, yaitu :

A. Penyebab kekalahan di front barat & Afrika utara:
1. Membiarkan kabur lebih dari 300 ribu pasukan Inggris & Prancis yg sudah terdesak di Dunkirk dan hampir kalah. Ada beberapa dugaan kenapa Hitler membiarkan itu, yaitu seperti Hitler tidak ingin mempermalukan Inggris karena dia menganggap Inggris masih satu ras dengan Jerman dan dia berharap Inggris mau berdamai sehingga Hitler bisa fokus menghantam Soviet. Ternyata prediksi itu salah! Justru Inggris tidak mau berdamai karena doktrin pemerintah Inggris adalah tidak ingin ada satu negara di Eropa yang dominan dan menguasai Eropa. Selain itu AU German (Luftwaffe) juga tidak mampu menghalangi kaburnya pasukan Sekutu itu sendirian tanpa didukung AD (Heer) dan AL (Kriegsmarine).

2. Gagalnya operasi seelöwe, yakni operasi pendaratan pasukan Jerman di tanah Inggris. kegagalan itu disebabkan beberapa faktor yaitu armada German terlalu lemah untuk menantang Inggris secara langsung. hanya armada kapal selam U-boot yang dapat membahayakan Sekutu sedangkan kapal perang permukaan tidak cukup banyak dan kuat. Apalagi setelah invasi Jerman ke Norwegia dimana banyak kapal-kapal perang Jerman yang tenggelam dan rusak sehingga tak dapat dikerahkan dalam operasi seelöwe. faktor lain adalah luftwaffe gagal menguasai wilayah udara Inggris dan menghancurkan sasaran militer & industri militer musuh.

Padahal kekuatan Luftwaffe 3x lipat dr AU Inggris (RAF), tapi taktik tempur luftwaffe tidak tepat. Pada awalnya luftwaffe fokus menyerang bandara, pesawat tempur musuh, dan industri militer. Tapi suatu ketika rombongan pembom German salah dalam membom sasaran yang diperkirakan lokasi militer padahal wilayah sipil yang padat, hal itu membuat Inggris membalas dengan membom wilayah sipil Berlin. Akibatnya Hitler murka dan KASAU German, Goering, kalap dan memerintahkan balas dendam membom wilayah sipil Inggris.

Berubahnya taktik tempur itu membuat pilot-pilot tempur Inggris yang cuma sedikit atau sekitar 800 pilot kurang terganggu dari pesawat tempur Jerman yang lebih mengutamakan mengawal bomber mengebom wilayah sipil Inggris. Selain itu industri militer cuma mengalami kerusakan kecil sehingga dapat memproduksi senjata dan pesawat secara besar-besaran. Akibatnya lama kelamaan pesawat tempur Inggris makin banyak dan artileri anti serangan udara juga meningkat sehingga kerugian pesawat Jerman makin besar. Sedang disisi lain Hitler tidak menambah armada pesawatnya karena mulai fokus untuk invasi ke Soviet serta masih harus mempertahankan Afrika Utara. Selain itu harga diri Hitler yang meski tidak mampu sendirian menaklukkan Inggris tapi malah menolak tawaran Mussolini untuk membantu dengan mengerahkan pesawat-pesawat tempur Italia.

3. Lemahnya Italia yang merupakan Sekutu Jerman, selain itu tidak adanya koordinasi antara Hitler dan Mussolini. Tanpa sepengetahuan Hitler, Italia menyerang Yunani dan Sekutu di Afrika Utara, apalagi kemudian Italia tidak mampu memenangkan pertempuran dikedua front itu sehingga membuat Hitler ikut campur, padahal pasukan Jerman sendiri sedang sibuk berperang di Eropa Barat malah bertambah luas front peperangan yang mesti dilakoni. Akibat perang dikedua front ini maka rencana Hitler untuk menyerang Soviet di pertengahan bulan mei 1941 menjadi molor 5 minggu hingga akhir juni 1941. Hal ini membuat dampak yang sangat besar nantinya dalam peperangan dengan Rusia.

4. Perang Eropa menjalar kemana-mana terutama serbuan Jerman ke Yugoslavia akibat Hitler kuatir pemerintah Yugoslavia bekerjasama dengan Inggris. Dampak dari perang dengan Yugoslavia ini membuat sekitar 33 divisi pasukan Jerman dan Sekutunya Bulgaria tertahan di sana dan tak dapat dikirim ke front peperangan yang lain.

5. Ikut sertanya Amerika Serikat dalam Perang Dunia II akibat diserang Jepang. Ekonomi, industri dan militer Amerika adalah yang terbesar didunia. Dengan ikut sertanya Amerika pada Perang akbar tersebut mengakibatkan kekuatan Jerman, Jepang dan Sekutu-Sekutunya semakin terkikis.

6. Hitler gagal mengajak Spanyol untuk berperang melawan Sekutu. Meski Spanyol bersikap netral dan diam-diam condong ke Jerman, tapi tanpa bantuan Spanyol secara militer, maka German gagal mengontrol wilayah laut tengah, selat Gibraltar dan pasifik selatan, apalagi armada Italia juga tidak mampu membantu Jerman untak rencana tersebut.

7. Menurunnya ancaman U-boot terhadap lalu lintas laut Sekutu diakibatkan jumlah armada Sekutu yang semakin besar serta meningkatnya teknologi anti kapal selam serta efektifnya strategi anti kapal selam Sekutu. Pada tahun-tahun awal perang, ancaman U-Boot sangat nyata, tidak kurang dari 5 juta ton total bobot kapal perang dan kapal dagang Sekutu ditenggelamkan U-Boot pada tahun pertama perang. Total selama Perang Dunia II sejumlah 20 juta ton kapal-kapal Sekutu menjadi mangsa U-Boot!

8. Lemahnya armada kapal perang permukaan German sehingga U-Boot harus bertempur sendirian. Apalagi German tidak punya kapal induk yang dapat mengangkut puluhan pesawat untuk menghadang armada Sekutu terutama di Atlantik dan samudera Hindia sehingga suplai logistik, senjata dan pasukan dari Amerika, Kanada, Australia, New Zealand dan India ke Inggris dan Rusia semakin pesat. Hanya sedikit pesawat Jerman yang dikerahkan menghadang armada Sekutu di Atlantik dan Hindia karena keterbatasan jangkauan yang mesti beroperasi dari wilayah Prancis untuk Atlantik tengah dan selatan dan Norwegia untuk Atlantik utara. Sedang di samudera Hindia sama sekali tak ada pesawat Jerman dan Sekutunya, membuat kapal-kapal Sekutu dapat mendarat di Afrika Utara melalui Laut Merah dan Terusan Suez dengan leluasa.

9. Pemboman besar-besaran oleh bomber-bomber Sekutu di wilayah Jerman membuat industri militer Jerman merosot drastis. Apalagi kekuatan Luftwaffe juga menurun karena sebagian besar pesawat Jerman dikerahkan di front timur. Selain itu, jumlah pesawat dan pilot-pilot berpengalaman semakin minim. Akibat pembomanan Sekutu dan kekalahan U-boot ini juga berdampak di front timur sehingga Rusia dapat leluasa menyerang balik Jerman yang telah kehabisan tenaga, terlebih dengan hancurnya sumber minyak terbesar German di Ploesti Rumania akibat pemboman Sekutu membuat suplai BBM Jerman hilang hingga 70%.

10. Kekalahan di Afrika Utara akibat Jerman tidak mempunyai jumlah yang cukup untuk pasukan serta pesawat dan kapal perang untuk menghadapi kekuatan Sekutu yang semakin hari bertambah banyak, terlebih dengan mulai ikut sertanya Amerika Serikat dalam perang ini. Jerman tidak mempunyai kekuatan yang cukup karena sebagian besar kekuatan Jerman diboyong untuk berperang dengan Soviet.

11. Menyerahnya Italia kepada Sekutu membuat Jerman harus mempertahankan Italia sendirian ditambah jumlah pasukan dan persenjataannya tidak cukup banyak untuk mengusir Sekutu dari Italia.

12. Gagalnya proyek bom atom Jerman akibat sabotase di Norwegia. Padahal pada tahun ‘44 Jerman sudah hampir melakukan uji coba bom atom pertamanya. Tapi akibat sabotase maka rencana itu gagal total dan persediaan bahan baku bom atom Jerman musnah. Tapi ada sebagian kecil dari bahan baku bom atom itu yang berhasil selamat dan dikirim oleh U-Boot menuju Jepang, namun ditengah jalan Jerman telah menyerah sehingga U-Boot itu diperintahkan oleh komandan Jerman untuk menyerah pada Amerika. Ada dugaan hasil rampasan bahan baku bom atom Jerman di U-Boot itu oleh Amerika berhasil dikembangkan dan diproduksi dan digunakan di Hiroshima & Nagasaki pd th’45. Karena sebelum mendapat bom atom rampasan itu, proyek bom atom Manhattan Amerika belum sampai mendapat kemajuan yang cukup pesat untuk mampu memproduksi bom atom sendiri. Tak dapat dibayangkan jika Jerman berhasil lebih dulu membuat bom atom, dapat dipastikan mereka sebagai pemenang WW2.

13. Puncaknya adalah pendaratan Sekutu di Normandia Prancis Barat. Akibat kegagalan intelijen Jerman memprediksi dimana Sekutu akan mendarat, sehingga pasukan Jerman terlambat menghentikan pendaratan itu. Ditambah lagi kesalahan strategi Jerman dalam mengerahkan divisi-divisi Panzernya karena dipegang oleh beberapa komandan yang tidak sejalan strateginya termasuk Hitler sendiri. Apalagi pasukan Jerman yang mempertahankan front barat tidak cukup banyak dan berkualitas karena sebagian besar berperang di front timur.

B. Penyebab kekalahan di front timur:
Meski di front timur Jerman hanya menghadapi musuh utama yaitu Soviet/Rusia selain memang juga ada perlawanan dari daerah-daerah jajahannya seperti Polandia, Yugoslavia,dan Yunani di timur dan Prancis, Belanda juga Norwegia di barat. Tapi lawan terberat di timur adalah Soviet. Bahkan para pengamat Perang Dunia memprediksi sekalipun tanpa bantuan Sekutu barat maka Soviet masih mampu untuk mengalahkan Jerman sendirian karena kekuatan militer Soviet jauh lebih besar hingga 5-10x lipat dari Jerman. Tapi banyak pengamat lainnya justru memprediksi Jerman mampu mengalahkah Soviet meski kekuatan Soviet jauh lebih besar dan masih dibantu Sekutu barat. Para pengamat mengatakan faktor utama kekalahan Jerman di front timur justru adalah kebijakan Hitler sendiri terutama sebagai berikut :

1. Hitler menyerang Rusia ketika perang di front barat belum selesai dimenangkan. Hitler terlalu percaya diri bahwa militer Soviet meskipun besar tapi tidak tangguh terutama bila diserang mendadak. Dia berpendapat jika Soviet dapat segera ditaklukkan maka tidak lama kemudian Inggris yang sendirian akan juga menyerah, dan Amerika juga tidak akan ikut berperang di Eropa jika seluruh Eropa telah ditaklukkan German. Hitler optimis dapat dengan cepat menang karena serangan dilakukan dengan mendadak saat militer Soviet lengah dan masih tersebar di wilayah yang luasnya 1/3 bumi. Selain itu dia melihat bahwa militer Soviet membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengalahkan Finlandia yang kekuatan militernya tidak sampai 5% dari kekuatan German.

2. Rencana serangan yang dilakukan pada 15 Mei’41 molor 5 minggu menjadi 22 Juni’41 berdampak besar, karena German hanya merencanakan perang cepat dengan perbekalan hanya cukup untuk 8 minggu, hingga terbukti rencana itu gagal dengan molornya waktu perang hingga memasuki musim dingin. Pasukan German yang tidak dilengkapi perbekalan untuk musim dingin menjadi tersendat pergerakannya bahkan banyak yang tewas & sakit karena musim dingin itu jumlahnya hingga ¼ pasukan German. Selain itu pada musim gugur sebelum musim dingin banyak jalanan di Soviet yang berubah menjadi kubangan lumpur sehingga gerak transportasi German banyak yang lumpuh, hanya tank yang dapat melaju itu pun dengan tersendat-sendat dan meninggalkan infantry dan logistic dibelakang. Akibat musim gugur & musim dingin ini membuat pasukan Soviet yang sebelumnya terdesak dan tercerai berai dapat menyusun kekuatan kembali dan melakukan serangan balik yang membuat German kewalahan.

3. Perubahan strategi perang yang sebelumnya langsung menuju Moskow tapi Hitler berubah pikiran dengan menginginkan penguasaan total terhadap wilayah Ukraina yang kaya hasil bumi. Akibatnya army selatan yang merupakan 1/3 kekuatan German tertahan di Ukraina dan rencana yang seharusnya bergerak terus menuju Kaukakus dan kemudian menjepit Moskow dari arah timur bersamaan dengan army utara dari arah barat dan army tengah dari arah selatan menjadi gagal.

4. Tragedi Stalingrad terjadi akibat Hitler membagi 2 kekuatan army selatan menjadi army selatan A berusaha menguasai Ukraina dan army selatan B terus menuju sungai Volga dan menguasai kota Stalingrad yang merupakan kota industri padat yang strategis bagi militer Rusia. Pengepungan terhadap Stalingrad yang sudah hancur lebur dibom yang dilakukan oleh army selatan B ditambah pasukan Sekutu German dari Bulgaria dan Italy tidak mendapat suplai yang cukup sehingga pasukan Rusia dapat mengepung pasukan German dan Sekutunya yang terjebak didalam kota dan tidak dapat meloloskan diri karena perintah Hitler untuk terus bertahan. Akhirnya setelah pengepungan hampir 6 bulan seluruh pasukan German menyerah dengan sepertiganya tewas.

5. Akibat molornya serangan terhadap Moskow membuat Rusia berhasil mengumpulkan kekuatan dan merubah Moskow menjadi benteng pertahanan dengan ratusan ribu pasukan serta ribuan meriam dan tank. Ditambah kegagalan army utara menguasai penuh Leningrad dan mengepung Moskow bersama army tengah. Pasukan German bahkan yang hanya tinggal berjarak 20 km dara Moskow dan dapat melihat gedung-gedung Moskow dari kejauhan akhirnya terpukul mundur oleh serangan balik pasukan Rusia yang didatangkan dari Siberia.

6. Kegagalan German mengajak Jepang menyerbu Rusia, bahkan Jepang malah mengalihkan rencana dengan menyerang Sekutu di Asia Tenggara. Hal sebaliknya justru suksesnya intelijen Rusia yang mengetahui bahwa Jepang tidak berniat menyerang Rusia, dengan demikian Stalin dengan tenang memindahkan pasukannya yang berada di Siberia untuk bertempur di front barat menghadapi German.

7. Pertempuran Kursk menjadi titik balik perang di front timur. Bocornya rencana serangan German ditambah molornya rencana menyerang wilayah Kursk di tahun ’43 dari April hingga Juli membuat Rusia siap dengan memasang 15 juta ranjau dan belasan ribu meriam, 1,5 juta tentara , 3500 tank dan 1500 pesawat menghadapi 800 ribu pasukan German dengan 400 pesawat dan 1200 panzer. German membagi kekuatan menjadi 2 dengan tujuan menjepit pasukan Rusia ditengah, tapi pasukan Rusia yang lebih besar dan siap karena bocornya rencana German justru membuat pasukan German mundur dari Kursk hanya kurang dari 2 minggu dari serangan awal. Dan seterusnya German terus mundur dari wilayah Soviet, sedangkan tentara merah bak serigala haus darah terus maju menekan German hingga ke negerinya sendiri.

Sikap otoriter Hitler yang terburu-buru dan tidak percaya kepada strategi para Jenderalnya menjadi penyebab utama kekalahan German dalam WW2. Ditambah lagi sebenarnya German tidak siap untuk menghadapi perang besar di dua front terlebih karena militer German sendiri baru bangkit ketika Hitler berkuasa tahun 1933. Hitler sendiri membangun militernya dengan sembunyi-sembunyi karena terikat dengan perjanjian Versailes yang membatasi militer German, bahkan AU-nya dibubarkan setelah kekalahan German pada WW1. Jenderal-jendral German sudah menyarankan bahwa German baru siap perang melawan Sekutu paling cepat tahun 1945, tapi Hitler yang tidak sabaran tetap tidak peduli bahkan dia berkata bahwa jika menunggu sampai tahun 1945 maka dia sudah terlalu tua untuk mengenakan jubah kemenangan Napoleon.

Bacaan Perang "TRICK AND TRAP DINAS INTELIGEN PERANG DUNIA II"

http://massandry.blogspot.com
Mesin Enigma yang menjadi andalan Jerman dalam melakukan komunikasi rahasia antar unit. Pada akhirnya, kode mesin ini berhasil terbongkar oleh Sekutu gara-gara salah satu kapal selam Jerman tertangkap utuh.

Mesin Enigma 
Tatkala Inggris mengumumkan perang terhadap Jerman tanggal 3 September 1939, mereka tidak tahu bahwa di dalam sistem pertahanan dan dinas rahasianya bercokol lima orang agen rahasia Soviet yang paling gemilang. Sebaliknya, masih cukup agen rahasia Sekutu yang juga cemerlang selain dari kelima bunglon tersebut, sehingga Sekutu dapat mencuri informasi tentang Hitler dan Nazi yang paling dirahasiakan sehingga pada akhirnya Sekutu dapat mengalahkan mereka.

Dinas rahasia kerajaan Inggris untuk pengamatan di luar negaranya disebut dengan M16. bagian itu bekerja di bawah M15. Pada bulan-bulan pertama perang, baik kementerian luar negeri Inggris maupun Jerman saling berdiam diri. Whitehall, Departemen Luar Negeri Inggris, memerlukan waktu untuk menyusun tenaga ke medan perang Eropa. Sebaliknya, Hitler berharap Inggris masih sudi berdamai. Ia ingin agar serangan hebatnya ke Eropa daratan, termasuk ke Uni Soviet yang menjadi incaran utamanya, tidak dihalang-halangi oleh Inggris.

Hitler selalu mencurigai bahwa ada orang yang tidak suka kepadanya dan bermaksud menggulingkannya. Ia mengirimkan dua orang agen yang paling dipercayainya ke Inggris. Mereka menyamar sebagai Hauptmann (Kapten) Schämmel dan Hausmann. Tujuan misinya adalah menyelidiki apakah ada orang Jerman yang berkomplot dengan Inggris melawan Hitler. Kalau memang ada, apakah Inggris sudah mengetahuinya dan seberapa jauh komplotan itu telah bertindak.

Tidak ada yang tahu bahwa salah seorang dari dua orang kapten samaran itu ialah Walther Schellenberg yang pernah hampir berhasil menculik Duke dan Duchess of Windsor dari villa mereka di Portugal. Orang itu pulalah yang mengelola rumah bordil kelas atas yang diperuntukkan bagi para perwira di Berlin seraya memasang kamar-kamar khusus dengan alat perekam suara.

Keduanya telah berperan sedemikian rupa sampai cukup dipercaya oleh pimpinan M16 di Eropa dan diberi sebuah pemancar radio lengkap dengan kode khusus untuk menghubungi Inggris dalam menghadapi keadaan darurat.

Pimpinan M16 saat itu, Sir Stewart Menzies, tetap waspada. Dalam sebuah perundingan tentang orang-orang yang merencanakan kejatuhan Hitler, tutur kata kedua perwira itu berbeda dengan isi rapat di Vatikan. Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba sebuah bom meledak di bar bawah tanah di Münich. Bom tersebut menewaskan 6 orang dan melukai 60 lainnya. Sedianya bom itu untuk melenyapkan Hitler, yang pulang beberapa menit sebelum ledakan!

Hitler jadi gusar. Ia memerintahkan Schellenberg untuk menghentikan operasi sandiwara itu dan menangkap serta membawa agen-agen Inggris yang bersalah ke Berlin untuk diperiksa. Upaya itu berhasil, dan Schellenberg serta pasukan SS menangkap dua orang agen Inggris dan seorang Belanda. Atas prestasinya tersebut, Schellenberg pun dianugerahi Salib Baja (Iron Cross).

Akibatnya, Belanda dan Prancis kehilangan perpanjangan tangan mereka di pusat Third Reich, dan tak lama kemudian negara mereka diobrak-abrik oleh pasukan Jerman. Inggris pun sama saja, mereka kini tak punya orang yang dapat diandalkan untuk mencuri rahasia intelijen Jerman. Orang Jerman yang bersimpati dengan Inggris terpaksa menyusup ke bawah tanah. Selama setahun berikutnya, Inggris bekerja keras mendidik agen-agen rahasia yang baru untuk ganti agennya yang tertangkap di Belanda.

Jerman pun sebenarnya punya kaki tangan di Inggris, George Owens, yang diberi modal sebuah pemancar dan radionya. Tugasnya adalah menyiapkan kedatangan agen-agen Jerman lewat udara. Owens kemudian ketahuan dan tertangkap. Tapi Inggris tidak menyebarkan berita penangkapan ini, dan Owens dipaksa agar meneruskan pengiriman berita-berita palsu ke Berlin.

Tiap kali Berlin mengirimkan kode kepadanya tentang kedatangan agen baru melalui payung udara, tiap kali pula agen itu berhasil ditangkap. Jika ditawarkan kepada mereka apakah mau dihukum gantung atau bekerja sama dengan Inggris, mereka selalu memilih alternatif yang kedua!

Setelah perang selesai, tercatat ada 39 agen Jerman yang mengalami nasib seperti itu. Seorang di antaranya bahkan berhasil membodohi Berlin sedemikian rupa sampai mereka mengirimkan uang banyak sekali sebagai “imbalan” baginya, tidak lupa dengan anugerah Salib Baja sebagai penghargaan atas jasa-jasanya!

Di buku “A History of British Secret Service” (Sejarah Dinas Rahasia Inggris) karya Richard Deacon, dibeberkan bahwa Ian Fleming sangat besar perannya dan jasanya dalam “menggoda” deputi Hitler, Rudolf Hess, untuk datang terbang seorang diri ke Skotlandia di bulan Mei tahun 1941.

Ian Fleming, untuk orang awam, dikenal sebagai pencipta tokoh fiksi James Bond, sedangkan Rudolf Hess merupakan orang terakhir yang ditahan di penjara Spandau, di Berlin, sebelum dibongkar tahun 1987. Ia tewas tercekik sebuah kabel listrik dalam usia yang amat lanjut. Sekutu dan pihak lain di seluruh dunia sudah lama menyerukan agar Hess diberi ampun saja dan dilepaskan mengingat usianya, namun pihak Uni Soviet yang memenjarakannya bersikeras untuk menghukumnya sampai hari kematiannya. Kekerasan pendirian itu rupanya mempunyai latar belakang tersendiri.

Rudolf Hess, seperti juga atasan yang sangat dipujanya, Adolf Hitler, tergila-gila dan amat percaya kepada astrologi, ramalan nasib berdasarkan perhitungan bintang-bintang di langit. Hitler punya segerobak ahli nujum perbintangan dan hampir setiap waktu ia berkonsultasi dengan mereka. Dinas rahasia Inggris membentuk kelompok yang kerjanya menyusun “ramalan bintang” yang disiarkan secara luas di Eropa, antara lain dalam majalah Jerman yang palsu. Majalah-majalah tersebut sebenarnya dibuat di Inggris, tetapi kemudian diselundupkan ke Jerman.

Ramalan bintang buatan Inggris selalu mengemukakan hal-hal kurang enak bagi Hitler, kebalikan dari ramalan yang dihasilkan oleh ahli nujum sewaan Hitler. Inggris memperoleh “keahlian” meramalkan nasib Hitler dari Louis de Wohl, seorang buronan Nazi yang pernah mengetahui cara-cara ‘membaca bintang’ dari orang sewaan Hitler langsung. Ia menyeberang ke pihak Sekutu.

Hess pun punya ahli nujum tertentu yang tidak sama dengan kelompok Hitler. Dengan bantuan sumber di Swiss, Fleming dapat menempatkan orangnya di antara ahli nujum sewaan Hess . Agen itu kemudian mempermainkan Hitler dan Hess melalui ramalan perbintangan.

Terpilihlah seorang bangsawan dan tuan tanah, Duke of Hamilton, untuk tameng menggoda Hess agar datang ke Inggris. Bangsawan itu adalah juga pegawai di istana kerajaan Inggris dan selama Perang Dunia II berkecamuk ia bekerja di sebuah lapangan terbang militer di Skotlandia, tak jauh dari puri nenek moyangnya.
Ia harus berperan sebagai seorang Inggris yang pro Jerman dan ingin mengusahakan perdamaian antara kedua negara. Sudah diperhitungkan oleh Fleming dan kawan-kawannya bahwa Hess sangat ingin berdamai dengan Inggris supaya serbuan Jerman ke negara Eropa, terutama Uni Soviet, dapat berlangsung tanpa campur tangan Inggris. Untuk tujuan ini Hess berani mengambil resiko terbang seorang diri ke Inggris demi menunjukkan itikad baiknya, walaupun ia harus menghindari ibukotanya yaitu London karena dikhawatirkan kedatangannya akan menimbulkan skandal besar.

Demikian pula Duke of Hamilton, dalam peran palsunya harus dijaga jangan sampai ada orang Inggris yang mendengar pendiriannya . kalau terdengar, mereka dapat mengira bahwa hal itu adalah benar dan bangsawan tersebut dapat beresiko babak belur diamuk massa!

Dengan cara yang amat lihai, Fleming menyuruh agennya membuat kampanye astrologi. Kepada Hess dikatakan bahwa menurut perhitungan bintang, pada akhir April dan awal Mei 1941 akan terjadi susunan benda angkasa sedemikian rupa sehingga sangat menguntungkan baginya untuk bepergian. Seorang astrolog sejati (bukan agen Fleming) mengatakan bahwa benda-benda langit saat itu akan memberi pengaruh baik kepada usaha perdamaian.

Setelah mendengar ramalan itu berulang-ulang, Hess akhirnya percaya. Diam-diam ia terbang sendirian ke Skotlandia untuk menemui Duke of Hamilton. Polisi yang menghampirinya di lapangan terbang diperintahkannya untuk membawanya kepada bangsawan tersebut, tetapi ia justru ditangkap.

Jika Fleming mengharapkan bahwa pemerintah Inggris akan turut bergembira lalu berterimakasih atas ditangkapnya orang nomor dua di Jerman ini, maka sebaliknya Winston Churchill yang menggantikan Perdana Menteri Neville Chamberlain (yang ingin berdamai dengan Hitler) merasa sangat malu! Ia tak ingin pihak Jerman mendapat dalih yang baik untuk propaganda bahwa ada orang Inggris kelas atas yang pro Hitler. Duke of Hamilton tidak pro Hitler, ia hanya bersandiwara.

Churchill, seperti halnya Hitler, dengan cepat mengatakan bahwa Rudolf Hess sebenarnya adalah orang gila. Ekor peristiwa itu, Hitler memerintahkan semua ahli nujum, peramal bintang, dan ahli perbintangan di Jerman termasuk yang di sekitar dirinya, diperiksa dengan teliti. Sejak saat itu, meramal nasib, membaca perbintangan, telepati dan yang sejenisnya dilarang dengan undang-undang untuk dipraktekkan di muka umum.

Orang Rusia tidak dapat memaafkan Rudolf Hess untuk niatnya berdamai dengan Inggris, hanya supaya dapat menyerang Rusia lebih sempurna. Oleh karena itu, Uni Soviet menjadi satu-satunya negara Sekutu yang tetap bersikeras tak mau memberi ampun kepada Hess yang sudah tua renta di penjara. Akhirnya Hess ditemukan mati tercekik, dengan keterangan bahwa ia membunuh dirinya sendiri.

Bintang-bintang film di Inggris dan Amerika Serikat pun tak mau ketinggalan membela negara mereka dengan caranya sendiri. Biasanya mereka bertugas untuk menghibur para prajurit yang berada di medan perang tanpa mendapatkan bayaran sepeser pun.

Namun, ada pula di antara mereka yang “berani” berperan menjadi mata-mata sungguhan, bukan demi uang atau kemasyhuran. Di antaranya yang dapat disebutkan adalah David Niven, Leslie Howard, dan si jelita Greta Garbo.

David Niven amat fasih berbahasa Jerman. Ia ditempatkan di skuadron F dalam pelayanan udara secara khusus yang amat dirahasiakan. Apabila kelompoknya terbang ke Jerman untuk misi pengeboman, maka sementara para awak pesawat sibuk dengan urusan terbang dan menjatuhkan bom, David sibuk berbicara di radio dalam bahasa Jerman dengan percakapan yang enak dan melenakan, yang tujuannya adalah untuk membuai dan membuyarkan konsentrasi para perwira di pangkalan Jerman yang seharusnya mempertahankan diri dari serangan udara Sekutu. Kementerian Pertahanan Inggris membenarkan bahwa Niven bekerja sebagai komandan yang menyamar dalam skuadron Resimen Hantu Pengintai Inggris.

Greta Garbo, yang amat terkenal dari zaman sebelum perang, menjadi agen rahasia yang dipimpin oleh William Stephenson, tokoh film terkenal di Inggris. Garbo punya beberapa nara sumber di tanah kelahirannya, Swedia, dan ia sering memantau berita yang datang dari sana. Biasanya berita itu untuk mengecek tingkah agen-agen rahasia Jerman yang banyak berkeliaran di ibukota Stockholm.

Stephenson menjalin “jalan rahasia” untuk para pelarian Sekutu dalam melintasi negara-negara netral, antara lain Swedia. Peralatan perang yang dirahasiakan pun diangkut lewat jalan rahasia tersebut, yang keamanannya dipantau langsung oleh Garbo.

Tatkala Perdana Menteri Winston Churchill resah membayangkan kalau-kalau ada anggota keluarga raja Swedia yang pro-Nazi, Garbo yang yang telah mengetahui keadaan sebenarnya menenangkan Churchill dan meyakinkannya bahwa hal itu tidak perlu diresahkan. Bahkan, Garbo dapat memberi jaminan bahwa raja yang berkuasa waktu itu, Carl Gustav Bernadotte, juga merupakan agen rahasia yang penting bagi pihak Sekutu, walaupun negaranya secara resmi netral.

Penyelam kenamaan asal Prancis, Jacques Cousteau, mempergunakan kemahirannya bermain di bawah air untuk melemahkan Nazi. Ia berenang dengan santai, berpura-pura sebagai orang tolol, sementara memperhatikan gerak-gerak Angkatan Laut Nazi (Kriegsmarine) di tepi-tepi pantai Laut Tengah.
Jasanya yang terbesar adalah memotret berbagai dokumen penting yang tersimpan di markas besar militer Italia. Doumen tersebut sangat penting artinya waktu penyerbuan Sekutu ke Afrika Utara. Cousteau mendapat penghargaan ‘Legion of Honour’ dan ‘Croix do Guerre’ dari pemerintahannya sendiri, Prancis, seusai perang.

Para penulis pun banyak yang bekerja di bidang intelijen, seperti misalnya wartawan termasyhur Malcolm Muggerioge, Graham Greene, John Lee Carre dan Dennis Wheatley. Wheatley terlibat dalam pengaturan penipuan pasukan Jerman, tentang rencana pendaratan besar-besaran Sekutu di benua Eropa. Nazi ditipu mentah-mentah dengan jalan mengapungkan mayat palsu (bukan tentara sejati, melainkan orang sakit dari rumah sakit) dengan surat-surat seolah-olah Sekutu akan mendarat di Italia, padahal pendaratan yang sesungguhnya adalah di Normandia. Jerman terkecoh, dan memusatkan tentaranya di Italia, sementara pantai Normandia dibiarkan kosong. Pendaratan Sekutu pun mencapai sukses besar.

Peristiwa penipuan itu telah dibukukan dan difilmkan dengan judul yang sama, “The Man Who Never Was”. Penulisnya, Dennis Wheatley, yang dulu mengarang surat-surat cinta palsu yang diselipkan pada tubuh mayat yang diapungkan!

Sejarawan Arnold Toynbee pun selama perang bertanggung jawab menyusun laporan intelijen untuk dibacakan di kabinet perang, sedangkan Muggerioge dan Greene mengumpulkan data intelijen di bawah pimpinan Kim Philby (yang nantinya terkenal ke seluruh dunia setelah ketahuan berprofesi ganda sebagai mata-mata pihak Soviet).

Amy Elizabeth Thorpe, seorang wanita Amerika yang cantik, langsing, cerdas, suka bertualang dan doyan seks. Tahun 1930-an dia menikah dengan seorang diplomat Inggris, Arthur Pack, yang punya sifat sangat bertolak belakang dengannya.

Rumah tangga mereka tidak serasi, tetapi Amy tetap mendampingi suaminya ke Chili, Spanyol, dan Polandia. Pada tahun 1937 dinas rahasia Inggris menawarinya menjadi agen mereka, dan Amy menerima tawaran tersebut.

Nama samarannya adalah Cynthia. Dalam waktu singkat, ia sudah menjadi gundik seorang pembesar kementerian luar negeri Polandia. Pembesar itu banyak bercerita tentang gerakan-gerakan pasukan Jerman di Cekoslowakia dan Jerman sendiri.

Tetapi yang terpenting adalah kabar bahwa sejumlah insinyur Polandia terlibat dalam pengembangan mesin pembuka kode Jerman yang bernama Enigma. Kabar itu mendorong Inggris mengembangkan sistem yang dapat membocorkan kode-kode komunikasi rahasia pihak Jerman.

Cynthia sendiri punya banyak pengagum, pemuja, dan kekasih. Suksesnya di Polandia menyebabkan ia dan suaminya ditempatkan di Washington tahun 1941. Inggris memerlukan seseorang untuk mencuri rahasia dari kedutaan besar Italia dan Prancis di Washington.

Cynthia lah yang terpilih untuk tugas tersebut. Ia memacari kawan lamanya, Laksamana Alberto Lais, yang diangkat sebagai atase Angkatan Laut Italia di Washington. Lais merupakan tokoh yang cukup penting dan berpengaruh di negaranya.

Tak berapa lama Cynthia sudah mendapatkan berbagai kode dan tanda-tanda rahasia yang dipakai oleh kedutaan besar Italia. Penemuan itu sangat penting dan berguna sebagai pedoman Sekutu dalam penyerbuannya di Afrika Utara. Setelah Lais tak diperlukan lagi, Cynthia mengadu kepada FBI bahwa diplomat itu adalah seorang mata-mata. Akhirnya Lais pun diusir dari Amerika Serikat.

Kerja Cynthia yang berikutnya adalah bercinta dengan Kapten Charles Brousse, petugas pers duta besar Prancis di Washington. Ia dulunya adalah pro Sekutu namun berbalik pendirian waktu Sekutu mengebom sejumlah kapal Prancis untuk mencegahnya jatuh ke tangan Jerman.

Bruisse tergila-gila pada Cynthia. Dalam mabuk asmaranya ia menceritakan tentang tumpukan emas milik Prancis yang disembunyikan di pulau Martinique (Karibia). Stephenson, orang film di Inggris yang menjadi intelijen, segera mengirim agen ke pulau tersebut dan menguasai timbunan emas Prancis. Emas tersebut dipergunakan sebagai “sandera” dalam merundingkan pinjaman untuk biaya perang dari Amerika Serikat!
Cynthia juga memancing keterangan tentang rencana Nazi terhadap perkapalan Sekutu, juga tentang agen-agen Jerman di Utara dan Selatan yang dibiayai oleh perwakilan Prancis yang diperintah oleh pemerintahan bonek Vichy pimpinan Henry Philippe Petain yang pro Jerman.

Tugas berikutnya teramat sulit. Cynthia harus mendapatkan kode-kode Angkatan Laut Prancis yang baru. Kode-kode tersebut disimpan di kamar yang terkunci di gedung kedutaan di Washington DC. Brousse sendiri tidak mempunyai jalur masuk ke ruang penyimpanan tersebut.

Cynthia dan Brousse kemudian mencari akal. Mereka datang ke gedung kedutaan pada malam hari, dan bercerita kepada penjaga sebagai pasangan miskin yang tak punya rumah. Apakah mereka boleh sekedar bercinta-cintaan di dalam demi menghindari udara dingin di luar?

Cerita yang mengiba-iba itu mempan! Mereka mendapat izin masuk dan bercintaan di dalam. Sedikitnya begitulah, pikir penjaga malam. Saat lain mereka datang lagi, mengiba-iba lagi, seraya menghadiahkan sampanye. Penjaga malam kemudian mabuk dan tak peduli lagi pada tingkah tamu miskinnya.

Upah yang besar juga menggembirakan penjaga malam. Selagi penjaga malam menikmati minuman hadiahnya, dua orang yang asyik masyuk itu sebenarnya bukan bercinta, melainkan sibuk membuat copy dari kode-kode rahasia yang mereka perlukan.

Pada suatu saat penjaga malam tersebut penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di ruangan yang asing itu. Ia mengintip dari lubang kunci, dan apakah yang dilihatnya? Tubuh Cynthia yang mulus dan langsing, menggairahkan untuk dipandang, sedang telanjang bulat dan terbaring begitu saja. Penjaga malam itu terpesona oleh pemandangan yang dilihatnya dan ia terus asyik mengintip. Ia tidak tahu bahwa Cynthia dan Brousse telah memasukkan orang lain, ahli membongkar tempat berkunci, pada saat penjaga malam itu sedang lemah. Orang tersebut sibuk bekerja di tempat lain yang tak terlihat oleh si penjaga malam.

“Penemuan” Cynthia berupa kode-kode rahasia Prancis turut membantu mengubah jalannya Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1945, dalam dokumen resmi yang dikeluarkan oleh BSC (British Security Coordination), menuliskan bahwa cinta dan daya tarik kecantikan Cynthia telah memungkinkan Sekutu dalam menyerbu Prancis dan Jerman!

Beberapa tahun setelah perang usai, Cynthia ditanya oleh seorang penulis, apakah ia merasa malu oleh perbuatannya yang berurusan dengan sekian banyak pria? Jawabnya, “mengapa saya harus merasa malu, atasan saya justru mengatakan bahwa karena jasa sayalah, ribuan nyawa prajurit Inggris dan Amerika Serikat terselamatkan!”

Ia pernah menawarkan diri dijatuhkan dari payung udara di belakang garis pertahanan Jerman untuk menjadi pembunuh rahasia. Atasannya berpendapat bahwa tugas itu terlalu berat. Setelah perang, suami Cynthia, Arthur Pack, tewas terbunuh di Argentina. Brousse menceraikan istrinya, dan akhirnya Cynthia menikah dengan Brousse. Mereka hidup tenang di sebuah puri di Prancis Selatan sampai tahun 1963. Amy Elizabeth Thorpe meninggal pada tahun itu karena penyakit kanker. Brousse sendiri meninggal tahun 1973.

Tahun 1941 sebuah kapal perang Inggris menghancurkan kapal selam Jerman dan berhasil menyita mesin pembuat kode rahasia, Enigma, buatan para insinyur dari Polandia. Inggris sangat gembira dan membuat mesin tandingannya, Ultra.

Mesin Ultra menolong Inggris menghancurkan kapal-kapal selam Jerman karena kode mereka sudah bocor. Jumlah kapal selam yang hancur lebih banyak dari jumlah kapal selam yang diluncurkan. Kode pasukan Deutsche Afrikakorps milik Erwin Rommel di Afrika Utara pun bocor sehingga jenderal Montgomery dapat melakukan upaya penyelamatan pasukannya yang terdesak.

Inggris terpaksa merahasiakan “penemuan” tentang kebocoran Enigma, supaya Hitler tidak curiga dan mengganti sistem perkodean di badan intelijennya. Misalnya, Inggris tahu bahwa Jerman akan menghancurkan pesawat yang membawa bintang film Leslie Howard (Gone With The Wind), tetapi tidak berani untuk mencegahnya karena takut Jerman akan keheranan. Mereka diam saja dan akhirnya Howard pun tewas!
Kemudian ada kelompok yang menyebut dirinya sebagai “The Lucy Ring”. Seorang Jerman yang anti-Nazi, seorang Inggris dan seorang Hongaria bergabung dalam kelompok itu. Mereka menyediakan data akurat tentang penyerbuan Hitler ke Uni Soviet kepada pemimpin Soviet Joseph Stalin.

Stalin sebenarnya sudah diberi tahu setiap langkah yang akan diambil Jerman. Namun karena semua informasi yang diterimanya begitu sempurna sehingga ia mengambil keputusan untuk tidak mau mempercayainya sedikitpun. Ia khawatir bahwa agen-agen rahasia Jerman telah memberikan informasi-informasi palsu dalam sebuah kampanye untuk mengelabuinya!

Tempat semua informasi itu sebenarnya adalah Stasiun X di Inggris. Sekutu sangat berkepentingan agar Hitler terus disibukkan di medan perang Timur, di Soviet, supaya ia tidak dapat berperang di medan perang Barat yang sebentar lagi akan dihajar Sekutu.

Apabila Stalin diberi tahu tentang mesin Enigma yang bocor, Sekutu takut bahwa ia akan membocorkan hal itu pula kepada Hitler, misalnya adalam sebuah pakta perdamaian terpisah. Supaya semua informasi hasil sadapan Enigma yang hendak dijejalkan kepada Stalin dapat diterima, maka secara pura-pura disodorkan lewat kelompok “The Lucy Ring”. Inggris belum tahu bahwa dalam tubuh intelijennya sendiri ada empat mata-mata Soviet (Kim Philby, McLean, dan sebagainya)!

“The Lucy Ring” hanya beroperasi sampai tahun 1943. Swiss yang netral dan menutup mata terhadap kegiatan kelompok itu, tiba-tiba harus menunjukkan sikap netral yang sejati karena Jerman mulai mencium adanya jaringan mata-mata anti Nazi.

Bahkan, pemancar radio gelap milik Lucy Ring dapat ditemukan tentara Jerman. Pemerintah Swiss dipaksa untuk mengambil tindakan terhadap ketiga mata-mata Sekutu. Mereka kemudian dihukum penjara beberapa bulan, kemudian dibebaskan dan diusir dari Swiss.

Rado, yang berasal dari Hungaria, harus pulang ke Soviet. Ia langsung dibuang ke Siberia tanpa mengindahkan jasa-jasanya mencuri informasi dari Jerman di Swiss sampai Uni Soviet bisa menang melawan Jerman dalam pertempuran Stalingrad (1942-1943) dan Kursk (1943).

Seorang rekannya yang tahu jalan hidupnya bertahun-tahun kemudian menceritakan bahwa sebetulnya Rado enggan pulang ke Rusia. Ia tahu nasib apa yang menunggunya disana. Diam-diam ia mengirim surat kepada pemerintah Inggris untuk meminta suaka politik dan diperbolehkan untuk tinggal di Inggris dan menjadi warga negaranya.

Sayang seribu sayang. Surat itu jatuh ke bagian yang mengurus persoalan suaka politik Inggris yang dikepalai oleh… Kim Philby, si agen Soviet yang menyamar! Akibatnya, bukan suaka yang diperolehnya, melainkan pemulangan dan pengiriman ke Moskow.

Cicero merupakan nama kode bagi seorang Turki yang mata duitan dan menjual rahasia perolehannya demi uang. Namanya yang asli adalah Elyeza Bazna. Ia bekerja sebagai pelayan di kediaman duta besar Inggris untuk Turki di Ankara. Dari pelayan ia meningkat menjadi pengatur pakaian bagi sang duta besar.

Di kamar majikannya ia sering melihat berbagai dokumen berharga terletak sembarangan dan dapat dibaca olehnya dengan jelas. Timbullah gagasan untuk mencari uang. Ia juga punya daftar semua mata-mata Sekutu yang bekerja di Turki, kode-kode diplomatik Sekutu dan rencana penyerbuan mereka ke Eropa. Ia menghubungi seorang agen Jerman. Perolehannya dikirim ke Jerman dan ia mendapat nama samaran Cicero. Anehnya, tidak ada satupun di antara informasi, yang betul dan tepat, yang dipercayai di Jerman! Mereka tertawa tergelak-gelak mengatakan ketidakpercayaannya bahwa seorang pelayan rumah tangga bisa membaca kode rahasia seorang diplomat. Pasti agen Cicero itu suka berkhayal dan punya bakat sastra, pikir mereka!

Bulan Agustus 1943, seseorang di kementerian luar negeri Jerman yang kecewa terhadap Hitler membelot ke pihak Sekutu. bersamanya dibawa lari 3000 dokumen tentang Sekutu, yang diperoleh dari Cicero. Inggris kemudian menyadari pengkhianatan di kediaman duta besarnya. Cicero mendapat pemberitahuan dari rekannya orang Jerman dan diperintahkan untuk lari. Sebelum kabur, ia mengambil uang 300.000 pound dari bawah karpet ranjangnya. Itulah hasil jerih payahnya selama ini. Kelak ia tahu bahwa semua uang itu ternyata adalah palsu semua, hasil buatan Nazi!

Mayor Martin yang tidak pernah hidup di dunia ternyata “manusia” yang amat besar jasanya dalam mensukseskan pendaratan pasukan Sekutu di Sardinia dan Normandia. Ia “bekerja” di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Di suatu subuh tanggal 30 April 1943 seorang nelayan Spanyol menemukan sesosok mayat yang mengapung. Mayat tersebut diserahkannya kepada pihak yang berwenang.

Spanyol bersikap netral selama perang. Mayat temuan itu ternyata bernama mayor Martin, yang bersiap akan menikah dengan tunangannya, tetapi agaknya tewas dalam kecelakaan penerbangan di dekat Spanyol. Surat-surat di tubuhnya diperiksa. Tampaknya ia bukan sembarang “mayat” karena di antara kertas-kertas miliknya terdapat surat khusus yang ditujukan kepada panglima Sekutu di Eropa. Isinya kira-kira rencana penyerbuan Sekutu ke Eropa, dengan mendaratkan pasukan di pulau Sardinia. Mayat itu kemudian dikuburkan dengan upacara militer di Spanyol, dihadiri oleh pihak kedutaan besar Inggris dan “keluarga”-nya. Beberapa hari kemudian, Inggris sengaja membuat ribut diplomatik dengan mengatakan bahwa ada sebuah tas khusus milik mayor Martin yang hilang dan minta dicarikan oleh pihak pemerintah Spanyol.

Pemerintah Spanyol merasa tidak enak hati kepada pemerintah Inggris dan memutuskan untuk segera mencarinya. Tas itu kemudian berhasil ditemukan kembali. Namun sewaktu diperiksakan kepada seorang ahli, diketahui bahwa surat-surat penting tentang rencana penyerbuan Sekutu telah lebih dulu dibuka dan dibaca orang. Pihak Inggris sengaja membuat ribut besar.

Agen-agen Jerman sudah lebih dulu waspada. Begitu mendengar ada mayat seorang perwira Inggris terdampar di pantai Spanyol, langsung saja mereka mengirimkan regu penyelidik ke rumah sakit. Mereka telah berhasil mengambil foto-foto dari surat-surat pentingnya, dan mengambil berbagai tanda dari baju atau tubuhnya.

Semua bukti kemudian dibawa ke Jerman untuk mendapat pengujian, apakah benar ada orang bernama mayor Martin di angkatan laut kerajaan Inggris yang diutus untuk menghubungi pimpinan Sekutu di Eropa? Agen-agen Jerman yang dikirimkan ke Inggris melacak sampai ke tunangan “mayor Martin”, ke perusahaan asuransi Lloyd dan sebagainya.

Mereka yang sudah dipersiapkan untuk “diuji” agen Jerman bertindak tepat dan lulus ujian sehingga dapat meyakinkan pihak Jerman. Jerman sekarang percaya bahwa Sekutu akan mendaratkan pasukannya di pulau Sardinia. Jerman segera mengirimkan pasukan inti dan dipusatkan disana sebagai antisipasi untuk “menyambut” kedatangan Sekutu.

Pasukan Sekutu ternyata kemudian mendarat di pulau Sisilia, padahal “sambutan” yang telah disediakan Jerman ada di pulau Sardinia. Jerman kalah besar dalam pendaratan tersebut. Mereka benar-benar kecele karena telah ditipu mentah-mentah oleh pihak Sekutu.

Sekalipun menang, pihak Sekutu terpaksa berdiam diri untuk menenggang perasaan kedua orangtua (yang sebenarnya) dari pria Inggris yang berumur 30 tahun, yang meninggal karena radang paru-paru di sebuah rumah sakit di Inggris.

Dengan berat hati mereka memberi izin kepada pemerintah Inggris untuk mempergunakan jenazah putera mereka dengan tujuan “membela negara”. Identitas pria tersebut tak pernah diketahui sampai sekarang karena tidak pernah diumumkan!

Tipu-menipu lazim digunakan oleh kedua belah pihak yang berperang dalam Perang Dunia II. Masing-masing berharap bahwa tipuannya akan mengecoh pihak musuh dan membawa kemenangan pada pihaknya. Singkatnya, siapa yang lebih pintar menipu maka kemungkinannya untuk menang akan lebih besar dari saingannya!

Newer Posts Older Posts Home

Bacaan Ringan "BABAD TANAH CIREBON - PART 10"

http://massandry.blogspot.com Pupuh Ketigapuluh Tiga Kinanti, 38 bait. Pupuh ini menceritakankisah sayembara memperebutkan Putri Pangur...

Blogger Template by Blogcrowds