Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN SA’ID BIN ASHI - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Belakangan pendirian Khalid bin Sa’id ini berubah. Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di mesjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka Ia pun membai’atnya dengan tulus dan hati yang teguh ….

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria, beliau menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa’id hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara ….

Tetapi sebelum tentara itu bergerak me­ninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya beliau merubah keputusannya dalam pengangkatan ini… .

Berita itu sampailah kepada Khalid, maka tanggapannya hanyalah sebagai berikut:

“Demi Allah, tidaklah kami bergem­bira dengan pengangkatan anda, dan tidak pula akan berduka dengan pemberhentian anda .. . !”

Abu Bakar Shiddiq meringan­kan langkah ke rumah Khalid meminta ma’af padanya serta menerangkan pendiriannya yang baru, dan menanyakan kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin ‘Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah? Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjuk­kan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, ujarnya: —”Anak paman­ku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya ….!” Kemudian dipilihnya sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah ….

Sebelum pasukan bergerak maju, Abu Bakar meminta Syu­rahbil menghadap kepadanya lalu katanya:

“Perhatikanlah Khalid bin Sa’id, berikanlah apa yang menjadi haknya atas anda, sebagaimana anda ingin mendapatkan apa yang menjadi hak anda daripadanya, yakni seandainya anda di tempatnya, dan ia di tempat anda …. Tentu anda tahu kedudukannya dalam Islam …. Dan tentu anda tidak lupa bahwa sewaktu Rasulullah wafat, ia adalah salah seorang dari gubernurnya …. Dan sebenarnya aku pun telah mengangkatnya sebagai panglima, tetapi kemudian aku berubah pendirian …. Dan semoga itulah yang lebih baik baginya dalam Agamanya, karena sungguh, aku tak pernah iri hati kepada seseorang dengan kepemimpinan . . . ! ‘

Dan sesungguhnya aku telah memberi kebebasan kepadanya untuk memilih di antara pemimpin-pemimpin pasukan siapa yang disukainya untuk menjadi atasannya, maka ia lebih me­nyukai anda daripada anak pamannya sendiri ….

Maka apabila anda menghadapi suatu persoalan yang membutuhkan nasihat dan buah pikiran yang taqwa, pertama-tama hendaklah anda hubungi Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu Mu’adz bin Jabal dan hendaklah Khalid bin Sa’id sebagai orang ketiga. Dengan demi­kian pastilah anda akan beroleh nasihat dan kebaikan …. Dan jauhilah mementingkan pendapat sendiri dengan mengabaikan mereka atau menyembunyikan sesuatu dari mereka . . . “.

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, maka di antara orang-orang yang pertama yang telah pasti tersedia pahala mereka di sisi Allah, terdapat seorang syahid mulia, yang telah menempuh jalan hidupnya sejak masa remaja hatta saat ia menghadapi ajal, secara benar, beriman lagi berani ….

Kaum Muslimin yang sedang mencari-cari para syuhada sebagai qurban pertempuran, telah mendapatinya seperti sediakala: bersikap tenang, pendiam dan keras hati, lalu kata mereka: “ya Allah, berikanlah keridlaan kapada Khalid bin Sa’id . . . !”

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN SA’ID BIN ASHI - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya masuk itu kecuali empat atau lima orang, hingga dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari Agama ini, salah seorang di antaranya putera Sa’id bin ‘Ash maka bagi Sa’id, peristiwa itu akan menyebabkannya men­jadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy, dan akan menggoncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.

Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya Khalid, lalu tanya­nya: “Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan mem­biarkannya mencaci tuhan-tuhan kita . . . ?” Jawab Khalid: “Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguh­nya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya … “.

Ketika itu bertubi-tubilah pukulan ayahnya menimpa diri­nya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga . . . sedang Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci:

“Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman ke­padanya!”

Jelaslah sekarang bagi Sa’id bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Mekah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panasnya menyengat, selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan . . . , tanpa setetes air pun yang membasahi bibir­nya ….

Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumah­nya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara baik dengan membujuk atau mengancam­nya, memberi janji kesenangan atau mempertakutinya dengan siksaan . . . tetapi Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, katanya kepada ayahnya: “Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apapun, aku akan hidup dan mati bersamanya!”

Maka berteriaklah Sa’id: “Kalau begitu, nyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat . . . ! Demi Lata kau tak boleh makan di sini .’..!” Jawab Khalid: “Allah adalah sebaik-baik pemberi rizqi . . . ” Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan, berupa makanan, pakaian dan ke­senangan itu, pergi memasuki kesukaran dan halang-rintangan . . . .

Tetapi apa yang ditakutkan . . . ?
Bukankah ia didampingi oleh imannya . . . ?
Bukankah ia selalu mempertahankan kepemimpinan hati nuraninya . . . ?
Dan dengan tegas telah menentukan nasib dirinya?
Apalah artinya lapar kalau begitu, apalah artinya halangan dan rintangan . . . ?

Dan bila manusia telah menemukan dirinya berada bersama kebenaran luhur seperti kebenaran yang diserukan Muham­mad saw. ini, maka masih adakah tersisa di Seantero alam ini sesuatu yang berharga yang belum dimilikinya, padahal semuanya itu, bukankah Allah yang jadi pemilik dan pem­berinya . . . ?

Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pe­ngurbanan dan mengatasi segala halangan dan keimanan ….

Dan sewaktu Rasulullah saw. memerintahkan para shahabatnya yang telah beriman hijrah yang kedua ke Habsyi, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan …. Ia ber­diam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ketujuh. Mereka dapatkan Kaum Muslimin telah menyelesaikan rencana mereka membebaskan Khaibar.

Sekarang Khalid bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru, di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau per­tempuran ….

Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan ke­sayangan dan penghormatan …. Ia memegang teguh prinsip dan pendiriannya, tak hendak menodai atau menjadikannya sebagai barang dagangan.

Sebelum Rasul wafat, beliau mengangkatnya menjadi guber­nur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu mening­galkan jabatannya datang ke Madinah.

Ia kenal betul kelebihan Abu Bakar yang tak dapat di­tandingi oleh siapa pun …. Tetapi ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khali­fah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Pendiriannya ini dipegangnya teguh, hingga ia tidak bai’at kepada Abu Bakar …. Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat bai’at dan tidak pula membencinya karena tidak bai’at. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya ….

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN SA’ID BIN ASHI - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Khalid bin Sa’id bin ‘Ash dilahirkan dari suatu keluarga kaya dan mewah, tergolong kepala-kepala suku, dari seorang warga Quraisy, yang terkemuka dan memegang pimpinan. Dan jika hendak ditambahkan lagi sebutlah: “Bin Umaiyah bin Abdi Syamsi bin Abdi Manaf . . . !”

Ketika berkas cahaya mulai merayap di pelosok-pelosok kota Mekah secara diam-diam, membisikkan bahwa Muhammad “orang terpercaya” itu memberitakan soal wahyu yang datang kepadanya di gua Hira’, begitu pun soal Risalah yang diterimanya dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hambanya, maka hati nurani Khalid dapat menangkap bisikan-bisikan tersebut dan mengakui kebenarannya . . . !

Jiwanya rasa terbang kegembiraan, seolah-olah di antaranya dengan Pusalah itu sudah ada janji dari bermula …. Dan mulai­lah ia mengikuti berkas cahaya itu dalam segala liku-likunya. Dan setiap kali ia mendengarkan kelompok kaumnya mempercakap­kan Agama baru itu, ia pun duduk dekat mereka, mendengarkan­nya dengan baik disertai perasaan suka cita yang dipendam.

Dari waktu ke waktu ia seolah-olah dipompa dengan kata-kata atau kalimat-kalimat mengenai peristiwa itu, yang mendorongnya untuk menyebarkan beritanya, untuk mempengaruhi orang dan mengajari mereka . . . !

Orang-orang yang memandang Khalid waktu itu, melihatnya sebagai seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara, tapi yang sebenarnya pada bathinnya dan dalam lubuk hatinya bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegem­biraan. Di dalamnya menggelegar bunyi gendang yang di tabuh, kepakan bendera yang dinaikkan, bahana sangkakala yang ditiup . . . , nyanyian-nyanyian yang memanjatkan du’a, serta lagu-lagu pujaan yang mengagungkan Tuhan …. Pesta pora dengan segala keindahannya, dengan semua kemegahan, luapan semangat dan hiruk pikuknya . . . ! Pemuda ini menyimpan kegembiraan pesta-pora ini di dalam dadanya, ditutupnya rapat- rapat. Karena seandainya diketahui oleh bapaknya bahwa bathin­nya sedang bersukacita dengan da’wah Muhammad, niscaya hidupnya akan dibinasakannya dan tubuhnya akan diper­sembahkannya sebagai korban bagi tuhan-tuhan pujaan Abdu Manaf . . . !

Tetapi jiwa dan kesadaran bathin seseorang bila ia telah penuh sesak dengan suatu masalah, dan meluap sampai ke per­mukaan, maka limpahannya tak dapat dibendung lagi. . . !

Dan di suatu hari….

Tetapi bukan . . . , karena siang belum lagi muncul, sedang Khalid yang sudah bangun itu masih berada di tempat tidurnya, baru saja mengalami suatu mimpi yang sangat dahsyat, mem­punyai kesan yang mengerikan, dan ibarat yang dalam …. Kalau begitu baiklah kukatakan saja, di suatu malam, Khalid bin Sa’id bermimpi, bahwa ia berdiri di bibir nyala api yang besar, sedang ayahnya dari belakang hendak menolakkannya dengan kedua tangannya ke arah api itu, malah ia bermaksud hendak melem­parkannya ke dalamnya. Kemudian dilihatnya Rasulullah datang ke arahnya, lalu menariknya dari belakang dengan tangan kanan­nya yang penuh berkah hingga tersingkirlah ia dari bahaya jilatan api….

Ia tersadar dari mimpinya dengan beroleh bekal langkah perjuangan menghadapi masa depannya. Ia segera pergi ke rumah Abu Bakar lalu menceritakan mimpinya itu. Dan mimpi seperti itu sebetulnya tidak memerlukan ta’bir lagi . . . !

Kata Abu Bakar kepadanya: “Sesungguhnya tak ada yang kuinginkan untukmu selain dari kebaikan. Nah, dialah Rasul Allah saw. ikutilah dia, karena sesungguhnya Islam akan meng­hindarkanmu dari api neraka!”

Khalid pun pergilah mencari Rasulullah saw. sampai me­nemukan tempat beliau, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang da’wahnya. Jawab Nabi: —

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun …. Dan engkau beriman kepada Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nya …. Dan engkau tinggalkan menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudarat dan tidak pula manfaat…(al-Hadits)

Khalid lalu mengulurkan tanganya yang disambut oleh tangan kanan Rasulullah saw. dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun mengucapkan:
“Aku naik saksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah …. dan aku naik saksi bahwa Muhammad Rasul Allah ….”

Maka terlepaslah sudah senandung jiwa dan nyanyian kalbu­nya …. Terlepas bebas semua gelora yang bergolak dalam bathinnya . . . dan sampailah pula berita ini kepada bapak nya ….

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU AIYUB AL-ANSHARI - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Dan oleh karena itulah tak pernah lidahnya terlibat dalam suatu fitnah . . . dan dirinya tidak terjerembab dalam kerakusan …. Ia telah menghabiskan hidupnya dalam kerinduan ahli ibadah dan ketahanan orang yang hendak berpisah. Maka sewaktu ajalnya datang tak ada keinginannya di sepanjang dan selebar dunia kecuali cita-cita yang melambangkan kepah­lawanan dan kebesarannya selagi hidupnya: “Bawalah jasadku jauh-jauh . . . jauh masuk ke tanah Romawi, kemudian kuburkan aku di sana . . . !”

Ia yakin sepenuhnya akan kemenangan, dan dengan mata hatinya dilihatnya bahwa wilayah ini telah termasuk dalam taman impian Islam, dalam lingkungan cahaya dan sinarnya ….

Karena itulah ia menginginkannya sebagai tempat istirahat­nya yang terakhir, yakni di ibukota negara itu, di mana akan terjadi pertempuran yang menentukan, dan dari bawah tanahnya yang subur, ia akan dapat mengikuti gerakan tentara Islam, mendengar kepakan benderanya, dan bunyi telapak kudanya serta gemerincing pedang-pedangnya . . . !

Sekarang ini ia masih terkubur di sana …. Tetapi tidak lagi mendengar gemerincing pedang, atau ringkikan kuda! Keadaan telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat yang dituju, sejak waktu yang lama ….

Tetapi setiap hari, dari pagi hingga petang didengarnya suara adzan yang berkumandang dari menara-menaranya yang menjulang di angkasa, bunyinya:

“Allah Maha Besar …… ! , Allah Maha Besar …… !”.

Dan dengan rasa bangga, di dalam kampungnya yang kekal dan di mahligai kejayaannya ia menyahut:
“Inilah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya …. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya . . . !”

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU AIYUB AL-ANSHARI - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang pertamanya dengan Rasulullah …. Sebelum ini, yakni sewaktu perutusan Madinah pergi ke Mekah untuk mengangkat sumpah setia atau bai’at, yaitu bai’at yang diberkati dan terkenal dengan nama “Bai’at Aqabah kedua”, maka Abu Aiyub al-Anshari termasuk di antara tujuh puluh orang Mu’min yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.

Dan sekarang ketika Rasulullah sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat bagi Agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besarnya telah melimpah kepada Abu Aiyub, karena rumahnya telah dijadikan rumah pertama yang didiami muhajir agung, Rasul yang mulia.

Rasul telah memilih untuk menempati ruangan rumahnya tingkat pertama …. Tetapi begitu Abu Aiyub naik ke kamarnya di tingkat atas ia pun jadi menggigil, dan ia tak kuasa mem­bayangkan dirinya akan tidur atau berdiri di suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat berdiri dan tidurnya Rasulullah itu. Ia lalu mendesak Nabi dengan gigih dan mengharapkan beliau agar pindah ke tingkat atas, hingga Nabi pun memperkenan­kannya pengharapannya itu ….

Nabi akan berdiam di sana sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya …. Dan semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, meng­hasut kabilah-kabilah lain serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur Ilahi . . .

Semenjak itulah Abu Aiyub meng­alihkan aktifitasnya kepada berjihad pada jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pen­deknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengurbankan nyawa dan harta bendanya untuk Allah Rabul ‘alamin …. Bahkan sesudah Rasul wafat pun, tak pernah ia ketinggalan menyertai pertem­puran yang diwajibkan atas Muslimin sekalipun jauh jaraknya yang akan ditempuh dan berat beban yang akan dihadapi . . . ! Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang . . . dengan suara keras ataupun perlahan . . . adalah firman Allah Ta’ala:

انْفِرُوا خِفافاً وَ ثِقالاً

“Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit… “ (Q.S. 9 at-Taubat: 41)

Satu kali saja … ia absen tidak menyertai balatentara Islam, karena sebagai komandannya khalifah mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin, sedang Abu Aiyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Hanya sekali saja, tidak lebih . . . ! Sekalipun demikian, bukan main menyesalnya atas sikapnya yang selalu menggoncangkan jiwanya itu, katanya:

“Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang akan jadi atasan­ku … !” Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam pepe­rangan. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai prajurit dalam tentara Islam, berperang di bawah benderanya dan mem­bela kehormatannya . . . !

Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Mu’awiyah, ia berdiri di pihak Ali tanpa ragu-ragu, karena ialah Imam yang telah dibai’at oleh Kaum Muslimin …. Dan tatkala Ali syahid karena dibunuh, dan khilafat berpindah kepada Mu’awiyah, Abi Aiyub menyendiri dalam kezuhudan, bertawakkal lagi bertaqwa. Tak ada yang diharapkannya dari dunia hanyalah tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan para pejuang ….

Demikianlah, sewaktu diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan dan dirindukannya .. . !

Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat. Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya sedang berlomba dengan keinginannya hendak menemui Allah …. Maka ber­tanyalah panglima pasukan yang waktu itu Yazid bin Mu’awiyah:

“Apa keinginan anda, wahai Abu Aiyub?”

Aneh, adakah di antara kita yang dapat membayangkan atau mengkhayalkan apa keinginan Abu Aiyub itu … ? Tidak sama sekali! Keinginannya sewaktu nyawa hendak berpindah dari tubuhnya ialah sesuatu yang sukar atau hampir tak kuasa manusia membayangkan atau mengkhayalkannya . . . !

Sungguh, ia telah meminta kepada Yazid, bila ia telah me­ninggal, agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, hingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya dan diketahuinyalah bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan dan keuntungan yang mereka cari . . . !

Apakah anda kira ini hanya lamunan belaka . . . ? Tidak . . . dan ini bukan khayalan, tetapi kejadian nyata, kebenaran yang akan disaksikan dunia di suatu hari kelak, di mana ia menajam­kan pandangan dan memasang telinganya, hampir-hampir tak percaya terhadap apa yang didengar dan dilihatnya . . . !

Dan sungguh, wasiat Abu Aiyub itu telah dilaksanakan oleh Yazid! Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang ber­nama Istanbul, di sanalah terdapat pandam pekuburan laki-laki besar, sungguh besar itu … !

Hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang-orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Aiyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci ….
Dan anda akan tercengang jika mendapati semua ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata:

“Orang-orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami keke­ringan . . . “.

Sekalipun perang dan pertempuran sarat memenuhi ke­hidupannya, hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya adalah tenang tenteram laksana desiran bayu di kala fajar datang menjelma ….

Sebabnya ia pernah mendengar ucapan Rasulullah saw. yang terpateri dalam hatinya:

“Bila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah yang terakhir atau hendak berpisah …. Jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata yang menyebabkan engkau harus meminta ma’af . . . ! Lenyapkan harapan terhadap apa yang berada di tangan orang lain . . . “

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU AIYUB AL-ANSHARI - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Rasulullah memasuki kota Madinah, dan dengan demikian berarti beliau telah mengakhiri perjalanan hijrahnya dengan gemilang, dan memulai hari-harinya yang penuh berkah di kampung hijrah, untuk mendapatkan apa yang telah disediakan qadar Ilahi baginya, yakni sesuatu yang tidak disediakannya bagi manusia-manusia lainnya ….

Dengan mengendarai untanya Rasulullah berjalan di tengah- tengah barisan manusia yang penuh sesak, dengan luapan se­mangat dari kalbu yang penuh cinta dan rindu . . . , berdesak- desakan berebut memegang kekang untanya, karena masing- masingnya menginginkan untuk menerima Rasul sebagai tamunya ….

Rombongan Nabi itu mula-mula sampai ke perkampungan Bani Salim bin Auf; mereka mencegat jalan unta sembari berkata: “Wahai Rasul Allah tinggallah anda pada kami, bilangan kami banyak, persediaan cukup, serta keamanan terjamin . . . !”

Tawaran mereka yang telah mencegat dan memegang tali kekang unta itu, dijawab oleh Rasulullah:

“Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanakan perintah … “

Kendaraan Nabi terus melewati perumahan Bani Bayadhah, lalu ke kampung Bani Sa’idah, terus ke kampung Bani Harits ibnul Khazraj, kemudian sampai di kampung Bani ‘Adi bin Najjar ….

Setiap suku atau kabilah itu mencoba mencegat jalan unta Nabi, dan tak henti-hentinya meminta dengan gigih agar Nabi saw. sudi membahagiakan mereka dengan menetap di kampung mereka. Sedang Nabi menjawab tawaran mereka sambil tersenyum syukur di bibirnya ujarnya:

“Lapangkan jalannya, karena ia terperintah . . . “

Nabi sebenarnya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar Ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya ….

Di atas tanahnya bakal muncul suatu masjid yang akan memancarkan kalimat-kalimat Allah dan nur-Nya ke Seantero dunia …. Dan di sampingnya akan berdiri satu atau beberapa bilik dari tanah dan bata kasar . . . , tidak terdapat di sana harta kemewahan dunia selain barang-barang bersahaja dan seadanya . . . !

Tempat ini akan dihuni oleh seorang Mahaguru dan Rasul yang akan meniupkan ruh kebangkitan pada kehidupan yang sudah padam, dan yang akan memberikan kemuliaan dan ke­selamatan bagi mereka yang berkata:

“Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap di atas pendirian . . . bagi mereka yang beriman dan tidak mencampur­kan keimanan itu dengan keaniayaan . . . , bagi mereka yang mengikhlaskan Agama mereka semata-mata untuk Allah . . . dan bagi mereka yang berbuat kebaikan di muka bumi dan tidak berbuat binasa ….

Benarlah …. Rasul telah menyerahkan sepenuhnya pemilih­an ini kepada qadar Ilahi yang akan memimpin langkah per­juangannya kelak …. Oleh karena inilah ia membiarkan saja tali kekang untanya terlepas bebas, tidak ditepuknya kuduk unta itu tidak pula dihentikan langkahnya . . . hanya dihadapkan hatinya kepada Allah, serta diserahkan dirinya kepada-Nya dengan berdu’a:

“Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihkanlah untukku . . . !”

Di muka rumah Bani Malik bin Najjar unta itu bersimpuh kemudian ia bangkit dan berkeliling di tempat itu, lalu Dersn ke tempat ia bersimpuh tadi dan kembali bersimpuh lalu tetap dan tidak beranjak dari tempatnya. Maka turunlah Rasul dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan ….

Salah seorang Muslimin tampil dengan wajah berseri-seri karena sukacitanya … ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya ke rumahnya kemudian mempersilakan Rasul masuk …. Rasul pun mengikutinya dengan diliputi oleh hikmat dan berkat.

Maka tahukah anda sekalian siapa orang yang berbahagia ini, yang telah dipilih taqdir bahwa unta Nabi akan berlutut di muka rumahnya, hingga Rasul menjadi tamunya, dan semua penduduk Madinah akan sama merasa iri atas nasib mujur­nya . . . ?

Nah, ia adalah pahlawan yang jadi pembicaraan kita sekarang ini … , Abu Aiyub al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 5"

http://massandry.blogspot.com
Rasulullah amat mencintai Abbas, sampai beliau tidak dapat tidur sewaktu berakhirnya perang Badar, karena pamannya pada malam itu tidur bersama tawanan yang lain …. Nabi tidak menyembunyikan rasa sedihnya ini, sewaktu ditanyakan kepadanya, sebabnya beliau tidak dapat tidur padahal Allah telah memberikan pertolongan sebesar-besarnya, beliau men­jawab:

“Serasa terdengar olehku rintihan Abbas dalam beleng­gunya . . . !”

Salah seorang di antara Muslimin mendengar kata-kata Rasul tersebut, lalu segera pergi ke tempat para tawanan dan melepaskan belenggu Abbas. Orang ini kembali dan mengabarkan kepada Rasulullah, katanya:

“Ya Rasulallah aku telah me­longgarkan ikatan belenggu Abbas sedikit!”

Tetapi kenapa hanya Abbas saja . . . ? Ketika itu Rasul memerintahkan kepada shahabatnya itu: “Ayuh pergilah, laku­kanlah seperti itu terhadap semua tahanan . . . !”

Benar, kecintaan Nabi kepada pamannya tidak dimaksud­kannya untuk memperbedakannya dari manusia lain yang mengalami keadaan yang sama!.

Dan tatkala musyawarah menetapkan membebaskan tawanan dengan jalan menerima tebusan, berkatalah Rasul kepada paman­nya:

“Wahai Abbas . . . , tebuslah dirimu, dan anak saudaramu Uqeil bin Abi Thalib, Naufal bin Harits, dan teman karibmu ‘Utbah bin Amar saudara Bani Harits bin Fihir, sebab kamu banyak harta!”

Mulanya Abbas bermaksud hendak membebaskan dirinya tanpa membayar uang tebusan, katanya:

“Hai Rasulullah, sebenarnya aku’kan sudah masuk Islam, hanya orang-orang itu memaksaku . . . !”

Tetapi Rasul saw. terus mendesaknya agar membayarnya, dan berkenaan dengan peristiwa ini turunlah ayat al-Quranul Karim memberikan penjelasan sebagai ber­ikut: —

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada tawanan yang ada dalam tanganmu: Jika Allah mengetahui dalam hati kalian kebaikan, pasti Ia akan mengganti apa yang telah diambil daripada kalian dengan yang lebih baik dan Ia mengampuni kalian, dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang “‘ (Q.S. 8 al-Anfal: 70)

Demikianlah Abbas menebus dirinya dan orang-orang ber­samanya dan pulang kembali ke Mekah . . . dan setelah itu jalan fikiran dan keimanan Abbas tidak dapat disembunyikan lagi pada orang Quraisy. Tak lama kemudian dikumpulkannya hartanya dan dibawanya barang-barangnya lalu terus menyusul Rasul ke Khaibar, untuk ikut mengambil bagian dalam rombong­an angkatan Islam dan kafilah orang-orang beriman …. Ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh Kaum Muslimin, terutama karena melihat Rasul sendiri memuliakan serta mencintainya, begitupun mendengar ucapan Rasul terhadapnya:

“Abbas adalah saudara kandung ayahku …. Maka siapa yang menyakiti Abbas tak ubahnya menyakiti­ku!”
Abbas meninggalkan keturunannya yang diberkati; Abdullah bin Abbas mutiara ummat dengan pengertian alim, ‘abid dan shaleh, adalah salah seorang anak yang diberkati Nabi.

Pada hari Jum’at tanggal 14 bulan Rajab tahun 32 Hijrah, penduduk kampung dataran tinggi Madinah mendengar peng­umuman:

“Rahmat Allah bagi orang yang menyaksikan Abbas bin Abdul Mutthalib!”

Mereka mendapati Abbas telah meninggal …. Amat banyak sekali orang mengiringkan jenazahnya, belum pernah terjadi selama ini sebanyak itu. Jenazahnya dishalatkan oleh khalifah Muslimin pada waktu itu, yakni Utsman bin Affan r.a. Di bawah tanah Baqi’ beristirahatlah dengan tenang tubuh Abui Fadlal …. Ia tidur nyenyak dengan hati puas, di lingkungan orang baik- baik yang telah sama-sama memenuhi janji mereka kepada Allah ……. !.

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Waktu itu suara Abbas dan keteguhan hatinya merupakan tanda-tanda sakinah dan keberanian mempertaruhkan nyawa yang lebih gemilang …. Maka sewaktu orang Islam sedang berkumpul menyusun kekuatan di salah satu lembah Tihamah sambil menanti-nanti kedatangan musuh, sebenarnya orang-orang musyrik telah mendahului mereka ke lembah dan bersembunyi di parit-parit dan di tepi-tepi jalan bukit, siap dengan senjata di tangan untuk memulai serangan.

Ketika Kaum Muslimin sedang lengah itu mereka menyerbu dan melakukan sergapan secara mendadak dan membingungkan, menyebabkan Kaum Muslimin sama melarikan diri sejauh-jauhnya hingga tak sempat menoleh ke kiri dan kanan, Rasulullah menyaksikan akibat sambaran dan serangan mendadak itu ter­hadap Kaum Muslimin. Beliau naik ke atas punggung kuda begalnya yang putih, lalu berseru dengan suara keras:

“Hendak ke mana kalian . . . ? Marilah kepadaku . . . aku adalah Nabi, tidak pernah bohong . . . aku anak Abdul Mutthalib . . . !”

Di keliling Nabi waktu itu hanya tinggal Abu Bakar, Umar, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Mutthalib bersama anaknya Fadlal bin Abbas, Ja’far bin Harits, Fabi’ah bin Harits, Usamah bin Zaid, Aiman bin Ubeid dan beberapa shahabat lainnya yang tak banyak jumlahnya.

Ada lagi di sana seorang perempuan yang beroleh kedudukan tinggi di antara laki-laki dan para pahlawan …. namanya Ummu Sulaim binti Milhan ….

Perempuan ini telah melihat kebingung­an Kaum Muslimin dan keadaan mereka yang kacau balau, maka segera ia menunggangi unta suaminya Abu Thalhah r.a. dan terus meracak unta itu ke arah Rasul …. Sewaktu janin yang ada dalam perutnya bergerak, — karena waktu itu ia sedang hamil — dibukanya selendangnya lalu dibebatkannya ke perutnya dengan ikatan yang cukup kuat. Sewaktu ia sampai ke dekat Nabi saw. dengan khanjar terhunus di tangan kanannya, Rasul menyabutnya dengan tersenyum, katanya: “Ummu Sulaim . . . ? Jawabnya: “Benar . . . demi bapakku dan ibuku yang jadi tebusanmu, wahai Rasulullah . . . ! Bunuhlah semua mereka yang melarikan diri itu sebagaimana anda membunuh mereka yang memerangi anda; mereka patut mendapatkannya . . . !”

Maka semakin bercahayalah senyuman di muka Rasul yang percaya sepenuhnya akan janji Tuhannya, lalu katanya:

“Sesung­guhnya Allah telah cukup — jadi pelindung — dan jauh lebih baik, hai Ummu Sulaim . . . !”

Sewaktu Rasulullah dalam kedudukan demikian, Abbas berada di dekatnya bahkan antara kedua tumitnya memegang kekang keledainya, menghadang maut dan bahaya …. Nabi memerintahkan untuk memanggil orang banyak, karena Abbas mempunyai suara lantang, maka berserulah ia:

“Hai golongan Anshar . . . wahai pemegang bai’at . . . !”

Maka seolah-olah suaranya itu suara kadar dan jurubicaranya jua …. Karena demi mereka yang ketakutan karena serangan mendadak ini dan yang kacau balau di dalam lembah itu, mendengar suara panggilan tersebut, mereka menjawabnya serentak:

“Labbaika …. Labbaika, kami segera datang, ini kami datang . . . !”

Allah menurunkan sakinah dan mengembalikan keberanian dan semangat tempur Kaum Muslimin dengan perantaraan suara Abbas dan sikap kepahlawanannya.

Mereka berbalik kembali laksana angin kencang, sampai- sampai karena unta atau kudanya membandel, mereka melompat turun lari maju, sambil membawa baju besi, pedang dan panah­nya menuju arah suara Abbas . . . Maka pertempuran berlangsung lagi dengan garang dan kejamnya.

Rasulullah berseru: “Sekarang peperangan memuncak panas . . . !” Benar, perang menjadi panas . . . ! Dan berangsur-angsur korban di pihak Hawazin dan Tsaqif berjatuhan, pasukan berkuda Allah telah mengalahkan angkatan berkuda lata, dan Allah menurunkan sakinahnya kepada Rasul dan orang-orang Mu’min . . . !

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Berdasarkan kecerdasan dan pengalamannya terhadap orang- orang Quraisy Abbas telah dapat menyimpulkan bahwa pepe­rangan tak dapat tidak akan terjadi antara Islam dan kemusyrik­an! Orang-orang Quraisy tak hendak mundur dari agamanya, dari rasa keningratannya dan keingkarannya, sedang Islam Agama yang tetap haq itu tak akan mengalah terhadap yang bathil mengenai haq-haqnya yang telah disyari’atkan ….

Nah, apakah orang-orang Anshar — penduduk Madinah — akan tahan berperang waktu terjadi nanti . . . ? Apakah mereka dalam bidang seniyudha dapat menandingi orang-orang Quraisy yang cekatan dalam taktik dan muslihat perang? Oleh karena inilah, ia mengemukakan pertanyaannya yang lalu sebagai pan­cingan:

“Coba gambarkan kepadaku, bagaimana anda me­merangi musuh-musuh anda . . . !”

Ternyata orang-orang Anshar yang mendengarkan perkataan Abbas ini, adalah laki-laki yang teguh kukuh laksana gunung . . . ! Belum sempat Abbas menyelesaikan bicaranya, terutama per­tanyaan yang merangsang dan menggairahkan itu orang-orang itu sudah mulai angkat bicara …. Abdullah bin Amer bin Hiram mulai menjawab pertanyaan tersebut:

“Demi Allah kami adalah keluarga prajurit . . . yang telah makan asam garamnya medan laga, kami pusakai dari nenek moyang kami turun- temurun. Kami pemanah cekatan, penembus jantung setiap sasaran, pelempar lembing, memecah kepala setiap maling dan pemain pedang, penebas setiap penghalang . . . !”

Abbas menjawab dengan wajah berseri-seri:

“Kalau begitu anda sekalian ahli perang, apakah anda juga punya baju besi?” Jawab mereka “Ada . . . , kami punya cukup banyak!” Kemudian terjadilah percakapan penting dan menentukan antara Rasulullah, saw. dan orang-orang Anshar . . . , percakapan yang insya Allah akan kami paparkan nanti dalam lembaran-lembaran yang akan datang ….

Demikianlah peranan Abbas dalam Bai’atul Aqabah …. Baginya sama saja apakah ia telah masuk Islam waktu itu secara diam-diam, atau masih dalam berfikir, tapi jelas peranannya sangat penting dalam menetapkan garis pemisah antara kaum aniaya yang akan tenggelam ke dalam kegelapan malam dan kekuatan membawa cahaya terbit menuju terang benderangnya siang. Dalam peristiwa itu terlihat pula kejantanannya seorang pahlawan dan ketinggiannya seorang ilmuwan.

Pecahnya perang Hunain akan memperkuat bukti keberanian dari orang yang kelihatannya pendiam dan lemah lembut ini yang diperlihatkannya di arena pertempuran, semacam kepah­lawanan yang akan memenuhi ruang dan masa, yakni sewaktu ia sangat diperlukan dan keadaan amat memerlukan, sementara pada saat-saat lainnya ia terpendam jauh dalam dada, terlindung dari cahaya . . . !

Di tahun kedelapan hijrah, sesudah Allah membebaskan negeri Mekah bagi Rasul dan Agamanya, sebagian kabilah yang berpengaruh di jazirah Arab tidak sudi melihat kemenangan gemilang dan perkembangan yang cepat dari Agama baru ini… . Maka berhimpunlah kabilah-kabilah Hawazin, Tsaqif, Nashar, Jusyam dan lain-lain, lalu mengambil keputusan untuk melancar­kan serangan menentukan terhadap Rasulullah dan Kaum Mus­limin ….

Dan janganlah kita terpedaya mendengar kata-kata “kabilah”, sehingga terbayang pada kita corak peperangan-peperangan yang diterjuni Rasul pada masa itu, hanya semata-mata perkelahian kecil-kecilan dari orang-orang gunung, yang dilancarkan kabilah- kabilah dari tempat-tempat perlindungan mereka . . . !

Mengetahui hakikat kenyataan ini tidak saja memberikan kepada kita suatu penilaian yang teliti bagi usaha luar biasa yang dapat memberikan ukuran yang sehat dan dipercaya tentang nilai kemenangan besar yang telah dicapai oleh Islam dan orang- orang yang beriman, dan suatu gambaran yang jelas terhadap taufik Allah yang menonjol pada setiap kejayaan dan keme­nangan ini . . . !

Kabilah-kabilah tersebut telah menghimpun diri dalam barisan-barisan besar, terdiri dari para prajurit perang yang keras, ganas dan ulet …. Kaum Muslimin tampil dengan jumlah kekuatan dua belasribu orang. Tentu anda akan bertanya . . . duabelas ribu orang . . . ? Ya benar, duabelas ribu orang yang telah membebaskan Mekah dari kehidupan anarsis, kehidupan syirik dan kekejaman, kehidupan penyembahan berhala dan penguburan anak perempuan. Yang telah membebaskan Mekah dari orang-orang yang mengusir Nabi dan ummat Islam, bahkan dari kaum yang menguber-nguber Nabi dan ummat Islam sampai Madinah.

Duabelas ribu orang yang telah mengibarkan panji-panji Islam di angkasa Mekah di atas puing-puing berhala, dengan tidak setetes pun darah tertumpah . . . !

Suatu kemenangan yang membangkitkan kesombongan bagi sebagian Kaum Muslimin yang imannya masih lemah. Ya, bagai mana pun mereka adalah manusia, karenanya mereka jadi lemah berhadapan dengan kemegahan yang dibangkitkan oleh jumlah mereka yang banyak dan organisasi yang rapi serta kemenangan mereka yang besar di Mekah, hingga keluarlah ucapan mereka: “Sekarang, dengan jumlah sebanyak ini, kita tak mungkin dapat dikalahkan lagi . . . !”

Karena segala peristiwa yang dialami Kaum Muslimin pada masa hidup Rasulullah merupakan cermin sejarah, yang menjadi pendidikan bagi ummatnya yang hidup kemudian, maka peris­tiwa Hunain ini merupakan tonggak sejarah yang perlu di­perhatikan.

Suatu perjuangan suci tidak mungkin tercapai apabila di­campuri niat riya dan sikap congkak, serta hanya didasarkan pada kekuatan dan jumlah pasukan.

Dalam perang Hunain ini Allah memberikan pelajaran pada mereka walau harus ditebus dengan pengurbanan yang besar.

Pelajaran itu berupa kekalahan besar yang mendadak di awal peperangan ini, hingga setelah mereka berendah diri memohon kepada Allah, ampunan dan melepaskan diri dari alam materi serta mendekatkan diri pada inayat Ilahi, meninggalkan ketergantungan kekuatan hanya atas pasukan, lalu mengandalkan kekuatan Allah, barulah kekalahan mereka berbalik jadi kemenangan, dan turunlah ayat al-Quranul Karim memperingat­kan Kaum Muslimin:

“. . . dan di waktu perang Hunain, yakni ketika kalian merasa bangga dengan jumlah kalian yang banyak, maka ternyata itu tidak berguna sedikit pun bagi kalian hingga bumi yang lapang kalian rasakan sempit, lalu kalian ber­paling melarikan diri. . . !” Kemudian Allah menurunkan sakinah-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan diturunkannya balatentara yang tiada kalian lihat dan disiksa-Nya orang-orang kafir! Dan itulah memang balasan bagi orang kafir . . . !” (Q.S. 9 at- Taubat: 25 – 26)

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Kedua golongan itu pun bertemulah di medan perang Badar …. Pedang-pedang pun gemerincing beradu dalam kecamuk perang yang menakutkan, yang akan menentukan hidup mati dan akhir kesudahan kedua belah pihak ….

Rasulullah berseru di tengah-tengah para shahabatnya, katanya:

“Sesungguhnya ada beberapa orang dari keluarga Bani Hasyim dan yang bukan Bani Hasyim yang keluar dipaksa pergi berperang, padahal sebenarnya mereka tidak hendak memerangi kita . . . oleh sebab itu siapa di antara kamu yang menemukannya, maka janganlah ia dibunuhnya . . . ! Siapa yang bertemu dengan Abui Bakhtari bin Hisyam bin Harits bin Asad, janganlah membunuhnya . . . ! Dan siapa yang bertemu dengan Abbas bin Abdul Mutthalib, jangan membunuhnya karena orang- orang itu dipaksa untuk ikut berperang … !”

Dengan perintahnya ini tidak berarti Rasul hendak mem­berikan keistimewaan kepada pamannya Abbas, karena tidak pada tempatnya dan bukan pula pada waktunya! Dan bukanlah Muhammad saw. orangnya yang akan rela melihat kepala para shahabatnya berjatuhan dalam pertempuran menegakkan yang haq, lalu membela pamannya dengan memberinya hak-hak isti­mewa, di saat pertempuran sedang berlangsung, seandainya diketahuinya bahwa pamannya itu orang musyrik ….

Benar . . . ! Rasul yang pernah dilarang Allah memintakan ampun untuk pamannya Abu Thalib — hanya semata-mata memintakan ampun —, sekalipun Abu Thalib banyak jasa dan pemberiannya terhadap Nabi Muhammad saw. dan Islam berupa pembelaan dan pengurbanan ….

Tidaklah logis dan masuk akal jika ia akan mengatakan ke­pada orang-orang yang bertempur di perang Badar memerangi bapak-bapak dan sanak-sanak saudara mereka dari golongan musyrik:

“Kecualikan oleh kalian dan jangan bunuh pamanku “

Lain halnya kalau Rasul mengetahui pendirian pamannya yang sebenarnya, dan ia tahu bahwa pamannya itu menyembu­nyikan keislamannya dalam dadanya, sebagaimana diketahuinya pula jasa-jasanya yang tidak sedikit serta pengabdian-pengabdian- nya yang tak terlihat terhadap Islam . . . serta diketahuinya pula belakangan, bahwa ia dipaksa ikut berperang dan mengalami tekanan, maka waktu itu adalah kewajiban Nabi untuk me­lepaskan orang yang mengalami nasib seperti ini dari marabahaya, dan melindungi darahnya selama kemungkinan masih ter­buka ….

Seandainya Abu Bakhtari bin Harits (bukan sanak keluarga Nabi) yang tidak dikenal menyembunyikan keislamannya, dan tidak pernah pula membela Islam walaupun secara diam-diam sebagaimana dilakukan Abbas, paling-paling kelebihannya hanya karena ia tak pernah ikut-ikutan dengan pemimpin-pemimpin Quraisy menyakiti dan menganiaya Kaum Muslimin, dan tidak menyukai tindakan mereka yang demikian, dan ia ikut dalam peperangan karena dipaksa dan ditekan ….

Seandainya Abu Bakhtari hanya disebabkan hal-hal itu telah berhasil mendapatkan syafa’at Rasulullah untuk dilindungi darahnya serta nyawanya . . . maka apakah seorang Muslim yang terpaksa menyembunyikan keislamannya …. dan laki-laki ini pembelaannya terhadap Islam dapat dibuktikan secara nyata, sedang yang lainnya secara diam-diam dan tersembunyi . . . apakah tidak lebih berhak dan lebih pantas untuk mendapatkan syafaat tersebut . . . ? Benarlah demikian dan tidak salah! Se­benarnya Abbas adalah orang Muslim dan pembela itu! Dan marilah kita kembali ke belakang sejenak untuk meninjaunya!.

Pada Bai’atul Aqabah Kedua, di mana sebanyak tujuhpuluh tiga pria dan dua wanita perutusan Anshar datang ke Mekah di musim haji guna mengangkat sumpah setia kepada Allah dan Rasul-Nya, dan untuk merundingkan hijrah Nabi saw. ke Madinah, waktu itulah Rasul menyampaikan berita perutusan dan bai’at ini kepada pamannya karena Rasul sangat memper­cayainya dan memerlukan buah fikiran pamannya itu ….

Tatkala tiba waktu berkumpul yang dilakukan secara sem­bunyi-sembunyi dan rahasia, keluarlah Rasul bersama pamannya Abbas ke tempat orang-orang Anshar menunggu.

Abbas ingin menyelidiki dan menguji golongan ini sampai di mana kesetiaan mereka terhadap Nabi …. Marilah kita persilakan salah seorang anggota perutusan itu untuk men­ceritakan kepada kita peristiwa yang didengar dan dilihatnya sendiri. Orang itu ialah Ka’ab bin Malik r.a. demikian ceritanya:

“…. Kami telah duduk menanti kedatangan Rasul di tengah jalan menuju bukit, hingga akhirnya beliau datang dan ber­samanya Abbas bin Abdul Mutthalib. Abbas pun angkat bicara katanya: “Wahai golongan Khazraj, anda sekalian telah mengetahui kedudukan Muhammad saw. di sisi kami, kami telah membelanya dari kejahatan kaum kami, sedang ia mem­punyai kemuliaan dalam kaumnya dan kekuatan di negerinya. Tetapi ia enggan bergabung dengan mereka, bahkan ia bermaksud ikut kalian dan hidup bersama kalian …. Seandainya kalian benar-benar hendak menunaikan apa yang telah kalian janjikan kepadanya dan kalian membelanya terhadap orang yang me­musuhinya, silakan kalian memikul tanggung jawab tersebut! Tetapi seandainya kalian bermaksud akan menyerahkan dan mengecewakannya sesudah ia bergabung dengan kalian, lebih baik dari sekarang kalian meninggalkannya . . . !”

Abbas mengucapkan kata-katanya yang tajam lagi keras ini dengan sorotan matanya seperti mata elang ke wajah orang- orang Anshar . . . untuk mengikuti kesan kata-kata itu dan jawabannya yang segera ….

Dan ia tidak hanya sampai di situ saja. Kecerdasannya yang tinggi adalah kecerdasan praktis yang dapat menjangkau jauh akan hakikat sesuatu bidang kenyataan, dan menghadapi setiap perspektifnya sebagaimana layaknya seorang yang mempunyai perhitungan dan pengalaman. Ketika itu dimulainya pula per­cakapannya dengan mengemukakan pertanyaan cerdik, demi­kian:

“Coba anda lukiskan kepadaku peperangan, bagaimana caranya anda memerangi musuh-musuh anda . . . ?”

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Pada suatu musim kemarau, di waktu penduduk dan negeri ditimpa kekeringan yang sangat, keluarlah Amirul Mu’minin Umar bersama-sama Kaum Muslimin ke lapangan terbuka, melakukan shalat istisqa’ (minta hujan), dan berdu’a merendah­kan diri kepada Allah yang Penyayang agar mengirimkan awan dan menurunkan hujan kepada mereka ….

Umar berdiri sambil memegang tangan kanan Abbas dengan tangan kanannya, diangkatkannya ke arah langit sembari ber­kata:

“Ya Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan hujan perantaraan Nabi-Mu, pada masa beliau masih berada di antara kami …. Ya Allah, sekarang kami meminta hujan pula perantaraan paman Nabi-Mu, maka mohonlah kami diberi hujan . . . !”

Belum lagi sempat Kaum Muslimin meninggalkan tempat mereka, datanglah awan tebal dan hujan lebat pun turunlah, mendatangkan sukacita, menyiram bumi dan menyuburkan tanah. Para shahabat pun’ menemui Abbas, memagut dan men­ciumnya serta mengambil berkat dengannya sambil berkata:

“Selamat kami ucapkan untuk anda, wahai penyedia air minum Haramain (Mekah — Madinah). . . !”

Nah, siapakah dia penyedia air minum Haramain ini? Dan siapakah orang yang dijadikan Umar sebagai perantara baginya kepada Allah, padahal Umar sudah tak asing lagi bagi kita ketaqwaannya, kedahuluannya masuk Islam, serta kedudukannya di sisi Allah dan di sisi Rasul-Nya serta di sisi orang-orang ber­iman . . . ?

Ia adalah Abbas, paman Rasulullah saw. Rasul memulyakan- nya sebagaimana ia pun mencintainya, juga memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan budi pekertinya, sabdanya:

“Inilah orang tuaku yang masih ada ….”.

Inilah dia Abbas bin Abdul Mutthalib, orang Quraisy yang paling pemurah dan teramat ramah . .. !

Sebagaimana Hamzah adalah paman Nabi dan Shahabatnya, demikian pula halnya Abbas paman dan teman sebayanya, moga- moga Allah ridla keduanya . . . !

Perbedaan umur antara keduanya hanya terpaut dua atau tiga tahun yakni lebih tua Abbas dari Rasulullah. Demikianlah, Muhammad saw dan pamannya Abbas merupakan dua orang anak yang hampir sebaya dan dua orang pemuda dari satu ang­katan. Ikatan kekeluargaan bukanlah satu-satunya alasan yang menyebabkan keakraban dan terjalin pershabatan yang intim antara keduanya, tetapi persamaan umur tidak kurang ber­pengaruhnya.

Hal lain yang menyebabkan Nabi menempatkan Abbas di tempat pertama, ialah karena akhlaq dan budi pekertinya. Abbas adalah seorang yang pemurah, sangat pemurah, seolah-olah dialah paman atau bapak kepemurahan ….

Ia selalu menjaga dan menghubungkan tali silaturrahmi dan kekeluargaan, dan untuk itu tidak segan-segan mengeluarkan tenaga ataupun harta ….

Di samping itu semua, ia juga seorang yang cerdas, bahkan sampai ke tingkat genius …. dan dengan kecerdasannya ini yang disokong oleh kedudukannya yang tinggi di kalangan Quraisy, ia sanggup membela Rasul saw. dari bencana dan kejahatan mereka, ketika beliau melahirkan da’wahnya secara terang-terangan.

Dalam pembicaraan kita tentang Hamzah terdahulu, kita mengenal Hamzah yang selalu menentang kedurhakaan orang Quraisy dan kebiadaban Abu Jahal dengan pedangnya yang ampuh. Adapun Abbas, ia menentangnya dengan kecerdasan dan kecerdikan yang memberi manfa’at bagi Islam sebagaimana halnya senjata pedang yang bermanfa’at dalam membela haknya dan mempertahankannya .. . !

Maka Abbas tidak mengumumkan keislamannya kecuali baru pada tahun pembelaan kota Mekah, yang menyebabkan sebagian ahli sejarah memandangnya tergolong kepada orang- orang yang belakangan masuk Islam, tetapi riwayat-riwayat lain dalam sejarah memberitakannya termasuk orang-orang Islam angkatan pertama, hanya saja menyembunyikan keislam­annya itu ….

Berkatalah Abu Rafi’ khadam Rasulullah saw.:

“Aku adalah anak suruhan (pelayan) bagi Abbas bin Abdul Mutthalib, dan waktu itu Islam telah masuk kepada kami, ahli bait — ke­luarga Nabi — maka Abbas pun masuk Islam begitu pula Ummul Fadlal, dan aku pun juga masuk . . . hanya Abbas menyembunyi­kan keislamannya . . . !”

Inilah riwayat Abu Rafi’ yang men­ceritakan keadaan Abbas dan masuk Islamnya sebelum perang Badar Dan kalau begitu, waktu itu Abbas telah menganut Islam ….

Beradanya ia di Mekah sesudah Nabi dan shahabat-shahabat- nya merupakan suatu langkah perjuangan yang sudah direncana­kan dengan matang hingga membuahkan hasil yang sebaik- baiknya.

Orang-orang Quraisy pun tidak menyembunyikan keragu- raguan mereka tentang hati kecil Abbas, tetapi mereka tak punya alasan untuk memusuhinya, apalagi pada lahirnya tingkah laku dan agamanya tidaklah bertentangan dengan kemauan mereka!.

Hingga waktu datang perang Badar terbukalah kesempatan bagi orang-orang Quraisy untuk menguji rahasia hati dan pen­dirian Abbas yang sesungguhnya …. Sedang Abbas lebih cerdik dan tidak lengah terhadap gerak-gerik dan tipu muslihat busuk yang direncanakan Quraisy dalam melampiaskan kejengkelannya dan mengatur permufakatan jahat mereka ….

Sekalipun Abbas telah berhasil menyampaikan keadaan dan gerak-gerik orang-orang Quraisy kepada Nabi di Madinah, orang Quraisy pun berhasil memaksanya maju berperang, suatu perbuatan yang tidak disukai dan dikehendakinya . . . ! Namun keberhasilan Quraisy itu adalah keberhasilan sementara, karena ternyata berbalik membawa kerugian dan kehancuran mereka ….

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU HURAIRAH - PART 5"

http://massandry.blogspot.com
Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid . . . tak pernah ia ketinggalan dalam perang, dan tidak pula dari ibadat. Di zaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai amir untuk daerah Bahrain, sedang Umar sebagaimana kita ketahui adalah seorang yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya.

Apabila ia mengangkat se­seorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaian maka sewaktu meninggalkan jabatannya nanti haruslah orang itu hanya mem­punyai dua pasang pakaian juga . . . malah lebih utama kalau ia hanya memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun kekayaan itu berasal dari jalan halal yang dibolehkan syara’!

Suatu dunia lain . . . yang diisi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumkan … ! Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrain ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal.

Hal ini diketahui oleh Umar, maka ia pun dipanggilnya datang ke Madinah . . . . Dan mari kita dengar­kan Abu Hurairah memaparkan soal jawab ketus yang ber­langsung antaranya dengan Amirul Mu’n’iinin Umar; –

Kata Umar: – “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?”
Jawabku: “Aku bukan musuh Allah dan tidak pula musuh Kitab-Nya . . . hanya aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah … !”

Dari mana kau peroleh sepuluh ribu itu ? – Kuda kepunyaanku beranak-pinak dan pemberian orang berdatangan . . . – Kembalikan harta itu ke perbendaharaan negara (baitul maal) … !

Abu Hurairah menyerahkan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya ke arah langit sambil ber­du’a: “Ya Allah, ampunilah Amirul Mu’minin …….”/

Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil Abu Hurai­rah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf karena,tak dapat menerimanya.

Kata Umar kepadanya: – “Kenapa, apa sebab­nya?” Jawab Abu Hurairah: “Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul … !”

Kemudian katanya lagi: “Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih !”

Pada suatu hari sangatlah rindu Abu Hurairah hendak ber­temu dengan Allah . . . . Selagi orang-orang yang mengunjunginya mendu’akannya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang ulang memohon kepada Allah dengan berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu, Semoga Engkau pun demikian . . . !”

Dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 Hijriyah ia pun berpulang ke rahmatullah.

Di sekeliling orang-orang shaleh penghuni pandam pekuburan Baqi’, di tempat yang beroleh berkah, di sanalah jasadnya di­baringkan . . . ! Dan sementara orang-orang yang mengiringkan jenazahnya kembali dari pekuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hantinya membaca Hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasul yang mulia. . . .

Salah seorang di antara mereka yang baru masuk Islam bertanya kepada temannya: Kenapa syekh kita yang telah berpulang ini diberi gelar Abu Hurairah (bapak kucing)?

Tentu temannya yang telah mengetahui akan menjawabnya:

“Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan , digendongnya , dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang-bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar “Bapak kucing”, moga-moga Allah ridla kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah .

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU HURAIRAH - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Al-Quran adalah Kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya, dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah saw. teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya saw., saat sedang dihimpunnya al-Quran, dapat menyebabkan kesimpang siuran dan campur-baur yang tak berguna dan tak perlu terjadi … !

Oleh karena ini Umar berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan al-Quran karena dia adalah kalam Allah . . . “.
Dan katanya lagi: “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!”

Dan sewaktu beliau mengutus Abu Musa al-Asy’ari ke Irak ia berpesan kepadanya: – “Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al Quran seperti suara lebah, maka biarkanlah seperti itu, dan jangan anda bimbangkan mereka dengan Hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini …. !”

Al-Quran sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dapat dirembesi oleh hal-hal lainnya …. Adapun Hadits, maka Umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah saw. dan merugikan Agama Islam ….

Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan. “

Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pernah didengar dan ditangkap­nya tetap saja disampaikan dan dikatakannya ….

Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang me­nimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan hadits-hadits dari Rasul saw. dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka’ab al-Ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.

Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan Hadits-hadits dari Rasulullah saw.
Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding.

Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali, dan dimintanya mem­bacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis oleh sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau agak sepatah kata pun … !

la berkata tentang dirinya: – “Tak ada seorang pun dari shahabat-shahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits daripadaku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak .’ . . “.

Dan Imam Syafi’i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: – “la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits semasanya”.

Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: – Ada kira-kira delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah”.

Demikianlah Abu Hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya …. Abu Hurairah termasuk seorang ahli ibadat yang mendekat­kan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran , mula ­mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian di­lanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya . . . . “.

Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat !

Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk me­nyertai Rasul saw. ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Dan pernah ia menceritakan kepada kita bagaimana rasa lapar telah menggigit-gigit perutnya, maka diikatkannya batu dengan surbannya ke perutnya itu dan di­tekannya ulu hatinya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia di mesjid sambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian shahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan … !

Semenjak ia menganut Islam tak ada yang memberatkan dan menekan perasaan Abu Hurairah dari berbagai persoalan hidupnya ini, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah npengenai ibunya, karena waktu itu ia menolak untuk masuk Islam . . . . Bukan hanya sampai di sana saja, bahkan ia menyakitkan perasaannya dengan menjelek-jelekkan Rasulullah di depannya ….

Pada suatu hari ibunya itu kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati Abu Hurairah tentang Rasulullali saw., hingga ia tak dapat menahan tangisnya dikarenakan sedihnya, lalu ia pergi ke mesjid Rasul . . . .

Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan berita kejadian itu sebagai berikut: – “Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah, lalu kata­ku: – “Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk Islam. Ajakanku itu ditolaknya, dan hari ini aku pun baru saja me­mintanya masuk Islam. Sebagai jawaban ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri anda. Karenanya mohon anda du’akan kepada Allah kiranya ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam ….

Maka Rasulullah saw. berdu’a: “Ya Allah tunjukilah ibu Abu Hurairah!”

Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang du’a Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran bunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: “Hai Abu Hurairah, tunggulah di tempatmu itu …

Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan mem­balutkan selendangnya sambil mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasu­luh….

Aku pun segera berlari menemui Rasulullah saw. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka, dan kataku padanya: “Kusampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabulkan du’a’ anda . . . , Allah telah menunjuki ibuku ke dalam Islam . . . “. Kemu­dian kataku pula: “Ya Rasulallah, mohon anda du’akan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mu’min, baik laki-laki maupun perempuan!” Maka Rasul berdu’a:
“Ya ,Allah,mohon engkau jadikan hamba-Mu ini beserta ibunya dikasihi oleh sekalian orang-orang Mu’min, lahi-laki dan pe­rempuan . . . !”

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU HURAIRAH - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do’a Rasul saw., agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.

la menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemam­puan karunia IIahi untuk memikul tanggung jawab dan meme­lihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian ….

Abu Hurairah bukan tergolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalah seorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan . . . . Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah dengan Rasul , baik dalam perjalanan maupun di kala menetap ….

Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah saw. dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul ‘Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan Hadits ­hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya Hadits-hadits ini, kapan didengarnya dan diendapkannya dalam ingatannya ….

Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk meng­hilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari .para shahabatnya, maka katanya: “Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan Hadits dari Nabi saw. . . . Dan tuan-tuan katakan pula orang­orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan Hadits-hadits itu . . . ?

Ketahuilah, bahwa shahabat-shahabatku orarig-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk dengan tanah pertanian mereka …. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen . . . dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena ke­sibukan ….

Dan Nabi saw. pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau:

“Siapa yang membentangkan serbannya hingga selesai pembicaraanhu, kemudian ia meraihnya ke dirinya , maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarnya’ daripadaku … !”

Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya . . . ! Demi Allah, kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah: “

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa­apa yang telah Kami turunkan berupa heterangan-keterang­an dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat) … !” (Al-Baqoroh 159)

Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw.

Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk me­nyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.

Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang, kuat, yang telahdiberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi’semakin kuat …. Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan Hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidup­nya. Kalau tidak dilakukarinya bexarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya … !

Oleh sebab itulah ia harus saja memberitakan, tak suatu pun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarang­nya . . . hingga pada suatu hari Amirul Mu’minin Umar berkata kepadanya : “Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka kan kukembalikan kau ke tanah Daus … !” (yaitu tanah kaum dan keluarganya).

Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut , tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali al-Quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran ….

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU HURAIRAH - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah merupa­kan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari masa kehidupan Rasulullah saw. beserta para shahabatnya r.a. dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang mem­buktikan kehebatan Muhammad saw. beserta shahabat-shahabat­nya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan .pikiran sehat.

Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam / tentang Abu Hurairah dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut ….

la adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakan­nya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan . . Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan . ! Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa …. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata:

“Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin . .. . . Aku menerima upah sebagai pem­bantu pada Busrah binti Ghazwan. demi untuk mengisi perutku .. ! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian . . . . Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat … “

Ia datang kepada Nabi saw. di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan . . . .

Dan semenjak ia bertemu dengan Nabi saw. dan berbai’at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur . . . .

Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw. yakni sejak ia masuk Islam sampai wafatnya ,Nabi pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pen­dengaran ….
Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat ke­sempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memain­kan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

Pahlawan perang di kalangan shahabat, banyak …. ‘

Ahli fiqih, juru da’wah dan para guru juga tidak sedikit …. Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Dimasa itu golongan manusia pada umumnya, jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementing­kan tulis-menulis. Dan tulis-menulis itu belum lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.

Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajanya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf tak tahu tulis baca, padahal me­nurut ukuran masa itu, mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan besar ….

Kembali kita pada pembicaraan bermula untuk melihat Abu Hurairah, bagaimana ia,dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya.

Pada waktu itu memang ada para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul..

Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempatan atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak pula perniagaan yang akan diurus . : . .

la pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalan­nya, dengan cara mengikuti Rasul terus-menerus dan secara tetap menyertai majlisnya . . . .

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU HURAIRAH - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Memang benar, bahwa kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan peng­hargaan ….

Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka . . . . Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan . . . Abu Hurairah r.a. mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya , sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam seni meng­hafal dan menyimpan . . . .

Didengarnya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya , hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya.

Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw. mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah “hadits”, dengan menggunakan kata-kata: – “Berkata Abu Hurairah . . . “.

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw. menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di­habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.’ 1

Di sana Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundup­kan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya. . . .

Setiap anda mendengar muballigh atau penceramah atau khatib Jum’at mengatakan kalimat yang mengesankan dari Abu Hurairah r.a. berkata ia, telah bersabda Rasulullah saw.. . . .”.

Saya katakan ketika anda mendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fikih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka ketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan, sabdanya . . . . Karena itulah perbendaharaannya yang mena’jub­kan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi saw. jarang diperoleh bandingan­nya . . . .

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - AL-BARRA’ BIN MALIK - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Dan bertemulah pasukan yang datang dari Kufah dengan yang datang dari Basrah untuk menghadapi tentara Persi di suatu pertempuran yang seru dan seram. Di kalangan tentara Islam terdapat dua orang bersaudara utama yaitu Anas bin Malik dan Barra’ bin Malik . . . . Pertempuran dimulai dengan perang tanding satu lawan satu; Barra’ sendiri menjatuhkan sampai seratus penantang dari Persi . . . . Kemudian berkecamuklah perang yang baur di antara kedua pasukan dan dari kedua belah pihak berjatuhan korban yang tak sedikit.

Sebagian shahabat mendekati Barra’ sementara perang sedang berlangsung itu; mereka menghimbaunya sambil berkata; – “Masih ingatkah engkau, hai Barra’ akan sabda Rasul tentang dirimu: Berapa banyak orang yang berambut kusut masai dan berdebu dan punya hanya dua pakaian lapuk hingga tidak di­perhatikan orang sama sekali, padahal seandainya ia memohon kutukan kepada Allah bagi mereka, pastilah akan diluluskannya … ! Dan di antara orang-orang itu ialah Barra’ bin Malik … ! Wahai Barra’ bersumpahlah kamu kepada Tuhanmu, agar Ia mengalahkan musuh dan menolong kita … !”

Maka Barra’ mengangkat kedua tangannya ke arah langit dengan berendah diri lalu berdu’a: – “Ya Allah, kalahkan mereka dan tolonglah kami atas mereka . . . , dan pertemukanlah daku hari ini dengan Nabi-Mu … !”

Dilayangkannya pandangannya yang lama kepada saudaranya Anas yang berperang berdampingan dengannya, seakan-akan hendak mengucapkan selamat tinggal . . . . Dan menyerbulah Kaum Muslimin dengan keberanian yang tak takut mati, suatu keberanian yang tak dikenal dunia kecuali dari mereka . . . . Dan mereka pun beroleh kemenangan, suatu kemenangan yang nyata … !

Di tengah-tengah para syuhada yang jadi kurban pertem­puran, terdapatlah Barra’ dengan wajahnya menampilkan senyuman, senyum manis seperti cahaya fajar. Tangan kanannya sedang menggenggam segumpal tanah berlumuran darah, yaitu darahnya yang suci . . . . Dan pedangnya masih tergeletak di sampingnya : . . . kuat tak terpatahkan, rata tanpa goresan …. Musafir itu telah sampai ke kampungnya . . . . Bersama-sama temannya yang syahid ia telah mencapai perjalanan hidup yang agung lagi mulia, dan mereka menerima panggilan dari IIahi;

وَ نُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوها بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Itulah surga yang Kami wariskan untuk kalian, sebagat badasan atas amal perbuatan kalian … !

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - AL-BARRA’ BIN MALIK - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Memang tubuh pahlawan itu mendapat lebih dari delapan puluh tusukan dari pedang-pedang musyrikin menyebabkannya menderita luka lebih dari delapan puluh lubang, sehingga sebulan sesudah perang berlalu masih juga dideritanya, dan Khalid sendiri ikut merawatnya di waktu itu. tetapi semua yang menimpa dirinya ini belum lagi dapat mengantarkannya-kepada apa yang dicita-citakannya ….

Namun yang demikian itu tidak menyebabkan Barra’ ber­putus asa ….

Kafir dan musyrik masih menyerang …. Melintang menghalangi Agama Allah berkembang Seruan jihad tetap berkumandang ….

Jalan ke surga masih terbentang.

Dahulu Rasulullah meramalkan bahwa permintaan dan du’anya akan dikabulkan Allah. tinggal baginya tetap ber­du’a . . . memohon dikaruniai mati syahid, dan ia tak perlu buru-buru, karena setiap ajal sudah ada ketentuannya . !

Sekarang Barra’ telah sembuh dari luka-luka perang Yama­mah . . . . Dan kini ia maju lagi bersama pasukan tentara Islam yang pergi hendak menghalau semua kekuatan kedhaliman ke jurang kehancurannya, yakni nun di sana … di mana masih berdiri dua kerajaan raksasa dan aniaya, yaitu Romawi dan Persi, yang dengan tentaranya yang ganas menduduki negeri­ negeri Allah, memperbudak hamba-hamba-Nya dan mengintip kelengahan ummat Islam . . . . Barra’ memukulkan pedangnya dan di setiap tempat bekas pukulan itu berdiri dinding yang kukuh dalam membina alam baru yang akan tumbuh di bawah bendera Islam dengan cepat tak ubahnya bagai timbulnya mata­hari menjelang siang. . . .

Dalam salah satu peperangan di Irak, orang-orang Persi mempergunakan setiap cara yang rendah dan biadab,yang dapat mereka lakukan sebagai perlindungan. Mereka menggunakan penggaet-penggaet yang diikatkan ke ujung rantai yang dipanas­kan dengan api, mereka lempar dari dalam benteng mereka, hingga dapat menyambar Kaum Muslimin dan menggaetnya secara tiba-tiba sedang korban tidak dapat melepaskan dirinya.

Adapun Barra’ dan abangnya Anas bin Malik mendapat tugas bersama sekelompok Muslimin untuk merebut salah satu benteng-benteng itu. Tetapi tiba-tiba salah satu penggaet ini jatuh dan menyangkut ke tubuh Anas, sedang ia tidak sanggup memegang rantai untuk melepaskan dirinya, karena masih panas dan bernyala . . . . Barra’ menyaksikan peristiwa yang seram ini …. Dengan cepat ia menuju saudaranya yang sedang ditarik ke atas oleh penggaet dengan talinya yang panas menuju lantai dinding benteng …. Dengan keberanian yang luar biasa dipegangnya rantai itu dengan kedua tangannya, lalu direnggut dan disentakkannya sekuat-kuatnya, hingga akhirnya ia dapat melepaskan diri dari rantai itu, dan selamatlah Anas dari bahaya.

Bersama orang-orang sekelilingnya dilihatnya kedua telapak itu tidak ada lagi di tempatnya . . . ! Dagingnya rupa-rupanya telah meleleh karena terbakar dan yang tinggal hanyalah ke­rangkanya yang memerah coklat dan terbakar hangus ..

Sang pahlawan kembali menghabiskan waktu yang cukup lama pula untuk memulihkan luka bakarnya sampai sembuh betul .. !

Apakah belum juga datang masanya bagi si pencinta maut itu untuk mencapai maksudnya? Sudah, sekarang sudah datang masanya . . . ! Inilah dia pertempuran Tutsur akan datang, dan di sinilah balatentara Islam akan berhadapan dengan balatentara Persi, dan di sinilah pula Barra’ dapat merayakan pestanya yang terbesar ….

Penduduk Ahwaz dan Persi telah berhimpun dalam suatu pasukan tentara yang, amat besar hendak menyerang Kaum Muslimin . . . . Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab menulis surat kepada Sa’ad bin Waqqash di Kufah agar mengirimkan pasukan tentara ke Ahwaz . . . dan menulis surat pula kepada Abu Musa al Asy’ari di Basrah agar mengirimkan juga pasukan ke Ahwaz, sambil berpesan dalam surat itu: “Angkatlah sebagai komandan pasukan Suhail bin ‘Adi dan hendaklah ia dampingi oleh Barra’ bin Malik … !”

Newer Posts Older Posts Home

Bacaan Ringan "BABAD TANAH CIREBON - PART 10"

http://massandry.blogspot.com Pupuh Ketigapuluh Tiga Kinanti, 38 bait. Pupuh ini menceritakankisah sayembara memperebutkan Putri Pangur...

Blogger Template by Blogcrowds