Thursday, April 16, 2015

Tokoh Islami "RAMLAH RADHIALLAHU 'AN BINTI ABU SUFYAN BIN HARB BIN UMAYYAH BIN ABDU SYAMS BIN ABDU MANAF BIN QUSHAY BIN KILAB BIN MURRAH BIN KA'AB BIN LU`AY BIN GHALIB BIN FIHR BIN MALIK BIN AN-NADHAR (QURAISY) BIN KINANAH BIN KHUZAIMAH BIN MUDRIKAH BIN ILYAS BIN MUDHAR BIN NIZAR BIN MA'AD BIN ADNAN (591-665 M) - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Sikap tersebut menjadi teladan baik bagi kaum beriman untuk senantiasa membela Rasulullah, dan  berlepas diri dari orang-orang kafir, meski mereka adalah orangtua dan saudara. Ramlah menyadari bahwa ayahnya masih kafir, sehingga dia tidak membolehkannya duduk di tempat Rasulullah.

Abu Sufyan merasa bahwa usahanya untuk menggagalkan serangan kaum muslimin ke Mekah telah gagal. Ramlah telah menyadari apa yang akan terjadi. Dia yakin akan tiba saatnya pasukan muslim menyerbu Mekkah yang di dalamnya terdapat keluarganya, namun yang dia ingat hanya Rasulullah. Dia mendoakan kaum muslimin agar memperoleh kemenangan.

Allah mengizinkan kaum muslimin untuk membebaskan Mekah. Rasulullah bersama ribuan tentara Islam memasuki Mekah. Abu Sufyan merasa dirinya sudah terkepung puluhan ribu tentara. Dia merasa bahwa telah tiba saatnya kaum muslimin membalas sikapnya yang selama ini menganiaya dan menindas mereka. Rasulullah sangat kasihan dan mengajaknya memeluk Islam. Abu Sufyan menerima ajakan tersebut dan menyatakan keislamannya dengan kerendahan diri.  Abbas, paman Rasulullah, meminta beliau menghormati Abu Sufyan agar dirinya merasa tersanjung atas kebesarannya. Abbas berkata, "Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang yang sangat suka disanjung." Di sini tampaklah kepandaian dan kebijakan Rasulullah. Beliau menjawab, "Barang siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, dia akan selamat. Barang siapa yang menutup pintu rumahnya, dia pun akan selamat. Dan barang siapa yang memasuki Masjidil Haram, dia akan selamat."

Begitulah Rasulullah menghormati kebesaran seseorang, dan Allah telah memberi jalan keluar yang baik untuk menghilangkan kesedihan Ramlah dengan keislaman ayahnya.Sikap Ramlah menghadapi cobaan yang menimpanya bisa dijadikan contoh baik bagi setiap muslim dan muslimah. Kedalaman keimanan kepada Allah membuatnya mampu bersabar dalam keadaan susah dan tetap berpegang teguh kepada prinsip.

Setelah Rasulullah Saw wafat, Ramlah hidup menyendiri di rumahnya hanya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam kejadian fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, dia tidak berpihak kepada siapa pun. Bahkan ketika saudaranya, Mu'awiyah bin Abu Sufyan, berkuasa, sedikit pun dia tidak berusaha mengambil kesempatan untuk menduduki posisi tertentu. Dia juga tidak pernah menyindir Ali bin Abi Thalib lewat sepatah kata pun ketika bermusuhan dengan saudaranya itu. Dia pun banyak meriwayatkan hadits Nabi yang kemudian diriwayatkan kembali oleh para sahabat. 

Di antara hadits yang diriwayatkannya adalah: "Aku mendengar Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang shalat sebanyak dua belas rakaat sehari semalam, niscaya Allah akan membangun baginya rumah di surga." Ramlah berkata, "Sungguh aku tidak pernah meninggalkannya setelah aku mendengar dari Rasulullah Saw." (HR. Muslim)

Ramlah wafat pada tahun ke-44 hijrah dalam usia 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Baqi ' bersama istri-istri Rasulullah yang lain. Semoga Allah memberinya kehormatan di sisi-Nya dan menempatkannya di tempat yang layak penuh berkah.