Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - AL-BARRA’ BIN MALIK - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Dan bertemulah pasukan yang datang dari Kufah dengan yang datang dari Basrah untuk menghadapi tentara Persi di suatu pertempuran yang seru dan seram. Di kalangan tentara Islam terdapat dua orang bersaudara utama yaitu Anas bin Malik dan Barra’ bin Malik . . . . Pertempuran dimulai dengan perang tanding satu lawan satu; Barra’ sendiri menjatuhkan sampai seratus penantang dari Persi . . . . Kemudian berkecamuklah perang yang baur di antara kedua pasukan dan dari kedua belah pihak berjatuhan korban yang tak sedikit.

Sebagian shahabat mendekati Barra’ sementara perang sedang berlangsung itu; mereka menghimbaunya sambil berkata; – “Masih ingatkah engkau, hai Barra’ akan sabda Rasul tentang dirimu: Berapa banyak orang yang berambut kusut masai dan berdebu dan punya hanya dua pakaian lapuk hingga tidak di­perhatikan orang sama sekali, padahal seandainya ia memohon kutukan kepada Allah bagi mereka, pastilah akan diluluskannya … ! Dan di antara orang-orang itu ialah Barra’ bin Malik … ! Wahai Barra’ bersumpahlah kamu kepada Tuhanmu, agar Ia mengalahkan musuh dan menolong kita … !”

Maka Barra’ mengangkat kedua tangannya ke arah langit dengan berendah diri lalu berdu’a: – “Ya Allah, kalahkan mereka dan tolonglah kami atas mereka . . . , dan pertemukanlah daku hari ini dengan Nabi-Mu … !”

Dilayangkannya pandangannya yang lama kepada saudaranya Anas yang berperang berdampingan dengannya, seakan-akan hendak mengucapkan selamat tinggal . . . . Dan menyerbulah Kaum Muslimin dengan keberanian yang tak takut mati, suatu keberanian yang tak dikenal dunia kecuali dari mereka . . . . Dan mereka pun beroleh kemenangan, suatu kemenangan yang nyata … !

Di tengah-tengah para syuhada yang jadi kurban pertem­puran, terdapatlah Barra’ dengan wajahnya menampilkan senyuman, senyum manis seperti cahaya fajar. Tangan kanannya sedang menggenggam segumpal tanah berlumuran darah, yaitu darahnya yang suci . . . . Dan pedangnya masih tergeletak di sampingnya : . . . kuat tak terpatahkan, rata tanpa goresan …. Musafir itu telah sampai ke kampungnya . . . . Bersama-sama temannya yang syahid ia telah mencapai perjalanan hidup yang agung lagi mulia, dan mereka menerima panggilan dari IIahi;

وَ نُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوها بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Itulah surga yang Kami wariskan untuk kalian, sebagat badasan atas amal perbuatan kalian … !