Friday, April 17, 2015

Tokoh Islami "MARIYAH AL QIBTIYAH RADHIALLAHU 'AN BINTI SYAMA'UN ( - 637 M) - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Status ketika menikah: Hamba sahaya Rasulullah SAW sebagai hadiah dari Muqauqis, seorang penguasa Mesir.
Periode menikah: 3 tahun sebelum Rasulullah SAW wafat.
Anak: Ibrahim (meninggal dunia pada usia 18 bulan).
Demikianlah sekilas mengenai istri-istri Rasulullah SAW yang luar biasa. Jelaslah bahwa Rasulullah SAW memiliki alasan yang kuat dalam setiap pernikahannya. Semua dilandasi atas kecintaan pada Allah SWT dan umatnya. Semoga kita semua terbebas dari pikiran-pikiran buruk dan hasutan kaum kafir mengenai beliau.

Sayidinah Aisyah  mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, "Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu'man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali disana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi kami." Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, "Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun."

Beberapa orang dari kalangan orang-orang munafik menuduh Mariyah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan untuk Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah  Ali bin Abu Thalib  menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.

Pada usianya yang ke-19 bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malam, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi saw bersama Abdurrahman bin Auf  pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam kondisi sekarat, Rasulullah Saw bersabda, "Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim."

Tanpa ia sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal, beliau kembali bersabda, "Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan perintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim ... Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah. "

Demikianlah kondisi Nabi Saw ketika menghadapi kematian putranya. Meskipun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah Saw mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi '.

Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah  Sayyidina  Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menshalati jenazah Sayyidah Mariyah Al Qibtiyah, kemudian dimakamkan di  Baqi '.