Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Pada suatu musim kemarau, di waktu penduduk dan negeri ditimpa kekeringan yang sangat, keluarlah Amirul Mu’minin Umar bersama-sama Kaum Muslimin ke lapangan terbuka, melakukan shalat istisqa’ (minta hujan), dan berdu’a merendah­kan diri kepada Allah yang Penyayang agar mengirimkan awan dan menurunkan hujan kepada mereka ….

Umar berdiri sambil memegang tangan kanan Abbas dengan tangan kanannya, diangkatkannya ke arah langit sembari ber­kata:

“Ya Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan hujan perantaraan Nabi-Mu, pada masa beliau masih berada di antara kami …. Ya Allah, sekarang kami meminta hujan pula perantaraan paman Nabi-Mu, maka mohonlah kami diberi hujan . . . !”

Belum lagi sempat Kaum Muslimin meninggalkan tempat mereka, datanglah awan tebal dan hujan lebat pun turunlah, mendatangkan sukacita, menyiram bumi dan menyuburkan tanah. Para shahabat pun’ menemui Abbas, memagut dan men­ciumnya serta mengambil berkat dengannya sambil berkata:

“Selamat kami ucapkan untuk anda, wahai penyedia air minum Haramain (Mekah — Madinah). . . !”

Nah, siapakah dia penyedia air minum Haramain ini? Dan siapakah orang yang dijadikan Umar sebagai perantara baginya kepada Allah, padahal Umar sudah tak asing lagi bagi kita ketaqwaannya, kedahuluannya masuk Islam, serta kedudukannya di sisi Allah dan di sisi Rasul-Nya serta di sisi orang-orang ber­iman . . . ?

Ia adalah Abbas, paman Rasulullah saw. Rasul memulyakan- nya sebagaimana ia pun mencintainya, juga memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan budi pekertinya, sabdanya:

“Inilah orang tuaku yang masih ada ….”.

Inilah dia Abbas bin Abdul Mutthalib, orang Quraisy yang paling pemurah dan teramat ramah . .. !

Sebagaimana Hamzah adalah paman Nabi dan Shahabatnya, demikian pula halnya Abbas paman dan teman sebayanya, moga- moga Allah ridla keduanya . . . !

Perbedaan umur antara keduanya hanya terpaut dua atau tiga tahun yakni lebih tua Abbas dari Rasulullah. Demikianlah, Muhammad saw dan pamannya Abbas merupakan dua orang anak yang hampir sebaya dan dua orang pemuda dari satu ang­katan. Ikatan kekeluargaan bukanlah satu-satunya alasan yang menyebabkan keakraban dan terjalin pershabatan yang intim antara keduanya, tetapi persamaan umur tidak kurang ber­pengaruhnya.

Hal lain yang menyebabkan Nabi menempatkan Abbas di tempat pertama, ialah karena akhlaq dan budi pekertinya. Abbas adalah seorang yang pemurah, sangat pemurah, seolah-olah dialah paman atau bapak kepemurahan ….

Ia selalu menjaga dan menghubungkan tali silaturrahmi dan kekeluargaan, dan untuk itu tidak segan-segan mengeluarkan tenaga ataupun harta ….

Di samping itu semua, ia juga seorang yang cerdas, bahkan sampai ke tingkat genius …. dan dengan kecerdasannya ini yang disokong oleh kedudukannya yang tinggi di kalangan Quraisy, ia sanggup membela Rasul saw. dari bencana dan kejahatan mereka, ketika beliau melahirkan da’wahnya secara terang-terangan.

Dalam pembicaraan kita tentang Hamzah terdahulu, kita mengenal Hamzah yang selalu menentang kedurhakaan orang Quraisy dan kebiadaban Abu Jahal dengan pedangnya yang ampuh. Adapun Abbas, ia menentangnya dengan kecerdasan dan kecerdikan yang memberi manfa’at bagi Islam sebagaimana halnya senjata pedang yang bermanfa’at dalam membela haknya dan mempertahankannya .. . !

Maka Abbas tidak mengumumkan keislamannya kecuali baru pada tahun pembelaan kota Mekah, yang menyebabkan sebagian ahli sejarah memandangnya tergolong kepada orang- orang yang belakangan masuk Islam, tetapi riwayat-riwayat lain dalam sejarah memberitakannya termasuk orang-orang Islam angkatan pertama, hanya saja menyembunyikan keislam­annya itu ….

Berkatalah Abu Rafi’ khadam Rasulullah saw.:

“Aku adalah anak suruhan (pelayan) bagi Abbas bin Abdul Mutthalib, dan waktu itu Islam telah masuk kepada kami, ahli bait — ke­luarga Nabi — maka Abbas pun masuk Islam begitu pula Ummul Fadlal, dan aku pun juga masuk . . . hanya Abbas menyembunyi­kan keislamannya . . . !”

Inilah riwayat Abu Rafi’ yang men­ceritakan keadaan Abbas dan masuk Islamnya sebelum perang Badar Dan kalau begitu, waktu itu Abbas telah menganut Islam ….

Beradanya ia di Mekah sesudah Nabi dan shahabat-shahabat- nya merupakan suatu langkah perjuangan yang sudah direncana­kan dengan matang hingga membuahkan hasil yang sebaik- baiknya.

Orang-orang Quraisy pun tidak menyembunyikan keragu- raguan mereka tentang hati kecil Abbas, tetapi mereka tak punya alasan untuk memusuhinya, apalagi pada lahirnya tingkah laku dan agamanya tidaklah bertentangan dengan kemauan mereka!.

Hingga waktu datang perang Badar terbukalah kesempatan bagi orang-orang Quraisy untuk menguji rahasia hati dan pen­dirian Abbas yang sesungguhnya …. Sedang Abbas lebih cerdik dan tidak lengah terhadap gerak-gerik dan tipu muslihat busuk yang direncanakan Quraisy dalam melampiaskan kejengkelannya dan mengatur permufakatan jahat mereka ….

Sekalipun Abbas telah berhasil menyampaikan keadaan dan gerak-gerik orang-orang Quraisy kepada Nabi di Madinah, orang Quraisy pun berhasil memaksanya maju berperang, suatu perbuatan yang tidak disukai dan dikehendakinya . . . ! Namun keberhasilan Quraisy itu adalah keberhasilan sementara, karena ternyata berbalik membawa kerugian dan kehancuran mereka ….