Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - AL-BARRA’ BIN MALIK - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Dia adalah salah seorang di antara dua bersaudara yang hidup mengabdikan diri kepada Allah, dan telah mengikat janji dengan Rasulullah saw. yang tumbuh dan berkembang bersama masa. Yang pertama bernama Anas bin Malik khadam Rasulullah saw. Ibunya yang bernama Ummu Sulaim membawanya kepada Rasul, sedang umurnya pada waktu itu baru sepuluh tahun, seraya katanya: “Ya Rasulallah . . . ! Ini Anas, pelayan anda yang akan melayani anda, dua’akanlah ia kepada Allah!”

Rasulullah mencium anak itu antara kedua matanya lalu mendu’akannya, du’a mana tetap membimbing usianya yang panjang ke arah kebaikan dan keberkahan . . . . Rasul telah mendu’akannya dengan kata-kata berikut: – “Ya Allah banyak­kanlah harta dan anaknya, berkatilah ia dan masukkanlah ia ke surga …

la hidup sampai usia 99 tahun dan diberi-Nya anak dan cucu yang banyak, begitu pula Allah memberinya rizqi, berupa kebun yang luas dan subur, yang dapat menghasilkan panen buah buahan dua kali dalam setahun . . . !

Yang kedua dari dua bersaudara itu ialah Barra’ bin Malik . . . . Ia termasuk golongan terkemuka dan terhormat, menjalani kehidupannya dengan bersemboyan “Allah dan surga. . . . “. Dan barang siapa melihatnya ia sedang berperang mempertahankan Agama Allah, niscaya akan melihat hal ajaib di balik ajaib … !

Ketika ia berhadapan pedang dengan orang-orang musyrik, Barra’ bukanlah orang yang hanya mencari kemenangan, sekali­pun kemenangan termasuk tujuan . . . , tetapi tujuan akhirnya ialah mencari syahid . . . . . Seluruh cita-citanya mati syahid, menemui ajalnya di salah suatu gelanggang pertempuran dalam mempertahankan haq dan melenyapkan bathil …..

Dia tak pernah ketinggalan dalam setiap peperangan baik bersama Rasul ataupun tidak .-: . . Pada suatu hari teman-teman­nya datang mengunjunginya, ia sedang sakit, dibacanya air muka. mereka lalu katanya: – “Mungkin kalian takut aku mati di atas tempat tidurku. Tidak, demi Allah, Tuhan tidak akan menghalangiku mati syahid … !”

Allah benar-benar telah meluluskan harapannya, ia tidak mati di atas tempat tidurnya, tetapi ia gugur menemui syahid dalam salah suatu pertempuran yang terdahsyat …

Kepahlawanan Barra’ di medan perang Yamamah wajar dan cocok dengan watak serta tabiatnya. Wajar untuk seorang pahlawan yang sampai-sampai Umar mewasiatkan agar ia jangan jadi komandan pasukan, disebabkan keberaniannya yang luar biasa, keperwiraan dan ketetapan hatinya menghadang maut . . . . Semua sifatnya itu akan menyebabkan kepemimpinannya dalam pasukan membahayakan anak buahnya dan dapat membawa kebinasaan . !

Barra’ berdiri di medan perang Yamamah, ketika balatentara Islam yang berada di bawah komando Khalid, bersiap-siap untuk menyerbu: Ia berdiri dan merasakan detik-detik itu, yakni saat sebelum panglimanya memerintah-kan maju, amat lama sekali, bertahun-tahun layaknya . . . . Kedua matanya yang tajam bergerak-gerak dengan cepatnya menyelusuri seluruh medan tempur, seolah-olah sedang mencari-cari tempat bersemayam yang sebaik-baiknya untuk seorang pahlawan …. Memang tak ada yang menyibukkannya di antara segala urusan dunia, kecuali tujuan yang satu ini!

Dimulai dengan berjatuhannya korban di pihak kaum musy­rikin penyeru kedhaliman dan kebathilan akibat ketajaman dan tebasan pedangnya al-Barra’ yang ampuh . . : . Kemudian di akhir pertempuran, suatu pukulan pedang mengenai tubuhnya dari tangan seorang musyrik, menyebabkan tubuh kasarnya jatuh ke tanah, sementara tubuh halusnya menempuh jalannya membubung ke tingkat yang tertinggi ke mahligai para syuhada tempat kembalinya orang-orang yang beroleh berkah …

Itulah khayalannya ketika ia menunggu komando

Khalid mengumandangkan takbir “Allahu Akbar”, maka majulah seluruh barisan yang bersatu-padu menuju sasarannya, dan maju pula peng’asyik maut Barra bin Malik. . . .

Ia terus mengejar anak buah dan pengikut si pembohong Musailamah dengan pedangnya, hingga mereka berjatuhan lak­sana daun kering di musim rontok . . . . Tentara Musailamah bukanlah tentara yang lemah dan sedikit jumlahnya … bahkan ia adalah tentara murtad yang paling berbahaya ….

Baik bilangan maupun perlawanan serta perjuangan mati ­matian prajuritnya, merupakan bahaya di atas semua bahaya …. !

Mereka menjawab serangan Kaum Muslimin dengan per­lawanan yang mencapai puncak kekerasannya sehingga hampir­hampir mereka mengambil alih kendali pertempuran dan merubah perlawanan mereka menjadi serangan balasan . . . . Waktu itulah kegelisahan terasa merembes ke dalam barisan Kaum Muslimin: Melihat situasi ini, para komandan dan pim­pinan pasukan sambil terus bertempur berdiri di atas pelana, berseru dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat dan meneguhkan hati.