Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - USAID BIN HUDDLAIR - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Di hari Saqifah, tak lama setelah wafatnya Rasulullah saw. Segolongan orang Anshar yang dikepalai oleh Sa’ad bin Ubadah mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang khilafah, sewaktu debat dan tukar fikiran semakin panas, maka pendirian Usaid — sebagaimana kita ketahui ia adalah seorang tokoh Anshar — mempunyai pengaruh besar dalam menjernihkan suasana, dan kalimat-kalimat yang diucapkannya laksana cahaya fajar di waktu subuh dalam menentukan arah Usaid berdiri mengucapkan pidato yang ditujukan kepada kaumnya dari golongan Anshar, katanya:

“Tuan-tuan me­ngetahui bahwa Rasulullah saw. adalah dari golongan Muhajirin . . . ? Karenanya khalifah juga sewajarnyalah dari golongan Muhajirin! Dan sesungguhnya kita, adalah pembela Rasulullah i . . . maka kewajiban kita sekarang untuk membela khalifah­nya . . . !”

Ternyata kata-kata itu menjadi si tawar dan si dingin . . . !

Usaid bin Hudlair r.a. hidup sebagai seorang ahli ibadah dan yang taat, yang mengurbankan jiwa dan hartanya di jalan kebaikan dan menjadikan wasiat Rasulullah saw. terhadap orang Anshar sebagai pedoman dan sikap hidupnya:

“Shabar dan tabahlah kalian …. sampai kalian men­jumpai aku di talaga surga …. “.

Oleh karena Agama dan akhlaqnya ia dimuliakan dan dicintai Abu Bakar Shiddiq dan begitu pula ia memperoleh kedudukan yang serupa di hati Amirul Mu’minin Umar dan di hati semua shahabat yang lain.

Mendengar alunan suaranya bila ia sedang membaca al- Quran seolah-olah beroleh harta rampasan yang sangat digemari oleh para shahabat. Suaranya khusyu’ mempesona dan menerangi jiwa, hingga menurut Rasulullah saw. Malaikat pernah mendekati pembacanya di suatu malam khusus untuk mendengarkan­nya ….
Pada bulan Sya’ban tahun 20 Hijriah, berpulanglah Usaid …. Amirul Mu’minin tidak mau ketinggalan turut serta me­mikul sendiri jenazahnya di atas bahunya dalam mengantarkan ke makamnya. Di bawah tanah Baqi’, di sanalah para shahabat menyimpan tubuh seorang Mu’min besar.

Mereka kembali ke kota dengan mengenangkan jasa-jasanya sambil mengulang- ulang sabda Rasul yang mulia tentang dirinya: “Sebaik-baik laki-laki, Usaid bin Hudlair . . . !”