Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU HURAIRAH - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah merupa­kan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari masa kehidupan Rasulullah saw. beserta para shahabatnya r.a. dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang mem­buktikan kehebatan Muhammad saw. beserta shahabat-shahabat­nya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan .pikiran sehat.

Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam / tentang Abu Hurairah dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut ….

la adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakan­nya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan . . Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan . ! Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa …. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata:

“Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin . .. . . Aku menerima upah sebagai pem­bantu pada Busrah binti Ghazwan. demi untuk mengisi perutku .. ! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian . . . . Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat … “

Ia datang kepada Nabi saw. di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan . . . .

Dan semenjak ia bertemu dengan Nabi saw. dan berbai’at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur . . . .

Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw. yakni sejak ia masuk Islam sampai wafatnya ,Nabi pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pen­dengaran ….
Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat ke­sempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memain­kan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

Pahlawan perang di kalangan shahabat, banyak …. ‘

Ahli fiqih, juru da’wah dan para guru juga tidak sedikit …. Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Dimasa itu golongan manusia pada umumnya, jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementing­kan tulis-menulis. Dan tulis-menulis itu belum lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.

Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajanya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf tak tahu tulis baca, padahal me­nurut ukuran masa itu, mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan besar ….

Kembali kita pada pembicaraan bermula untuk melihat Abu Hurairah, bagaimana ia,dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya.

Pada waktu itu memang ada para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul..

Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempatan atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak pula perniagaan yang akan diurus . : . .

la pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalan­nya, dengan cara mengikuti Rasul terus-menerus dan secara tetap menyertai majlisnya . . . .