Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU AIYUB AL-ANSHARI - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang pertamanya dengan Rasulullah …. Sebelum ini, yakni sewaktu perutusan Madinah pergi ke Mekah untuk mengangkat sumpah setia atau bai’at, yaitu bai’at yang diberkati dan terkenal dengan nama “Bai’at Aqabah kedua”, maka Abu Aiyub al-Anshari termasuk di antara tujuh puluh orang Mu’min yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.

Dan sekarang ketika Rasulullah sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat bagi Agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besarnya telah melimpah kepada Abu Aiyub, karena rumahnya telah dijadikan rumah pertama yang didiami muhajir agung, Rasul yang mulia.

Rasul telah memilih untuk menempati ruangan rumahnya tingkat pertama …. Tetapi begitu Abu Aiyub naik ke kamarnya di tingkat atas ia pun jadi menggigil, dan ia tak kuasa mem­bayangkan dirinya akan tidur atau berdiri di suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat berdiri dan tidurnya Rasulullah itu. Ia lalu mendesak Nabi dengan gigih dan mengharapkan beliau agar pindah ke tingkat atas, hingga Nabi pun memperkenan­kannya pengharapannya itu ….

Nabi akan berdiam di sana sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya …. Dan semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, meng­hasut kabilah-kabilah lain serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur Ilahi . . .

Semenjak itulah Abu Aiyub meng­alihkan aktifitasnya kepada berjihad pada jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pen­deknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengurbankan nyawa dan harta bendanya untuk Allah Rabul ‘alamin …. Bahkan sesudah Rasul wafat pun, tak pernah ia ketinggalan menyertai pertem­puran yang diwajibkan atas Muslimin sekalipun jauh jaraknya yang akan ditempuh dan berat beban yang akan dihadapi . . . ! Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang . . . dengan suara keras ataupun perlahan . . . adalah firman Allah Ta’ala:

انْفِرُوا خِفافاً وَ ثِقالاً

“Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit… “ (Q.S. 9 at-Taubat: 41)

Satu kali saja … ia absen tidak menyertai balatentara Islam, karena sebagai komandannya khalifah mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin, sedang Abu Aiyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Hanya sekali saja, tidak lebih . . . ! Sekalipun demikian, bukan main menyesalnya atas sikapnya yang selalu menggoncangkan jiwanya itu, katanya:

“Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang akan jadi atasan­ku … !” Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam pepe­rangan. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai prajurit dalam tentara Islam, berperang di bawah benderanya dan mem­bela kehormatannya . . . !

Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Mu’awiyah, ia berdiri di pihak Ali tanpa ragu-ragu, karena ialah Imam yang telah dibai’at oleh Kaum Muslimin …. Dan tatkala Ali syahid karena dibunuh, dan khilafat berpindah kepada Mu’awiyah, Abi Aiyub menyendiri dalam kezuhudan, bertawakkal lagi bertaqwa. Tak ada yang diharapkannya dari dunia hanyalah tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan para pejuang ….

Demikianlah, sewaktu diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan dan dirindukannya .. . !

Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat. Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya sedang berlomba dengan keinginannya hendak menemui Allah …. Maka ber­tanyalah panglima pasukan yang waktu itu Yazid bin Mu’awiyah:

“Apa keinginan anda, wahai Abu Aiyub?”

Aneh, adakah di antara kita yang dapat membayangkan atau mengkhayalkan apa keinginan Abu Aiyub itu … ? Tidak sama sekali! Keinginannya sewaktu nyawa hendak berpindah dari tubuhnya ialah sesuatu yang sukar atau hampir tak kuasa manusia membayangkan atau mengkhayalkannya . . . !

Sungguh, ia telah meminta kepada Yazid, bila ia telah me­ninggal, agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, hingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya dan diketahuinyalah bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan dan keuntungan yang mereka cari . . . !

Apakah anda kira ini hanya lamunan belaka . . . ? Tidak . . . dan ini bukan khayalan, tetapi kejadian nyata, kebenaran yang akan disaksikan dunia di suatu hari kelak, di mana ia menajam­kan pandangan dan memasang telinganya, hampir-hampir tak percaya terhadap apa yang didengar dan dilihatnya . . . !

Dan sungguh, wasiat Abu Aiyub itu telah dilaksanakan oleh Yazid! Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang ber­nama Istanbul, di sanalah terdapat pandam pekuburan laki-laki besar, sungguh besar itu … !

Hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang-orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Aiyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci ….
Dan anda akan tercengang jika mendapati semua ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata:

“Orang-orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami keke­ringan . . . “.

Sekalipun perang dan pertempuran sarat memenuhi ke­hidupannya, hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya adalah tenang tenteram laksana desiran bayu di kala fajar datang menjelma ….

Sebabnya ia pernah mendengar ucapan Rasulullah saw. yang terpateri dalam hatinya:

“Bila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah yang terakhir atau hendak berpisah …. Jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata yang menyebabkan engkau harus meminta ma’af . . . ! Lenyapkan harapan terhadap apa yang berada di tangan orang lain . . . “