Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - TSABIT BIN QEIS - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Hassan adalah penyair Rasulullah dan penyair Islam …. Dan Tsabit adalah juru-bicara Rasulullah dan jurubicara Islam …. Kalimat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kuat, padat, keras, tegas dan mempesonakan ….

Pada tahun datangnya utusan-utusan dari berbagai penjuru semenanjung Arabia, datanglah ke Madinah perutusan Bani Tamim yang mengatakan kepada Rasulullah saw.:

“Kami datang akan berbangga diri kepada anda, maka idzinkanlah kepada penyair dan juru bicara kami menyampaikannya . . . !”

Maka Rasulullah saw. tersenyum, lalu katanya; “Telah ku- idzinkan bagi juru bicara kalian, silakanlah . . . !”

Juru bicara mereka Utharid bin Hajib pun berdirilah dan mulai membanggakan kelebihan-kelebihan kaumnya ….

Dan sewaktu menyatakannya telah selesai, Nabi pun berkata kepada Tsabit bin Qeis: “Berdirilah dan jawablah!”

Tsabit bangkit menjawabnya:

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Langit dan bumi adalah ciptaan-Nya, dan titah-Nya telah berlaku padanya. Ilmu-Nya meliputi kerajaan-Nya, tidak satu pun yang ada, kecuali dengan karunia-Nya ….
Kemudian dengan qodrat-Nya juga, dijadikan-Nya kita golongan dan bangsa-bangsa.
Dan Ia telah memilih dari makhluk-Nya yang terbaik seorang Rasul-Nya ….
Berketurunan, berwibawa dan jujur kata tutur­nya ….
Dibekalinya al-Quran, dibebaninya amanat …. Membimbing ke jalan persatuan ummat ….
Dialah pilihan Allah dari yang ada di alam semesta ….
Kemudian ia menyeru manu­sia agar beriman kepadanya, maka berimanlah orang-orang muhajirin dari kaum dan karib kerabatnya . . . yakni orang-orang yang termulia keturunannya, dan yang paling baik amal perbuat­annya. Dan setelah itu, kami orang-orang Anshar, adalah yang pertama pula memperkenankan seruannya. Kami adalah pembela- pembela Agama Allah dan penyokong-penyokong Rasul- Nya.. . .”

Tsabit telah menyaksikan perang Uhud bersama Rasulullah saw. dan peperangan-peperangan penting sesudah itu. Corak pengurbanannya menakjubkan, sangat menakjubkan . . . ! Dalam peperangan-peperangan menumpas orang-orang murtad, ia selalu berada di barisan terdepan, membawa bendera Anshar, dan menebaskan pedangnya yang tak pernah menumpul dan tak pernah berhenti….

Di perang Yamamah yang telah beberapa kali kita bicarakan, Tsabit melihat terjadinya serangan mendadak yang dilancarkan oleh tentara Musailamatul Kaddzab terhadap Muslimin di awal pertempuran, maka berserulah ia dengan suaranya yang keras memberi peringatan: “Demi Allah, bukan begini caranya kami berperang bersama Rasulullah saw. . . . !”

Kemudian ia pergi tak seberapa jauh, dan tiada lama kembali sesudah membalut badan­nya dengan balutan jenazah dan memakai kain kafan, lalu berseru lagi: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa mereka … — yakni tentara Musailamah — . . . dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang diper­buat mereka … — yakni Kaum Muslimin yang kendor semangat dalam peperangan — …!”

Maka segeralah bergabung kepadanya Salim bekas sahaya Rasulullah saw. sedang ia adalah pembawa bendera muhajirin …. Keduanya menggali lobang yang dalam untuk mereka berdua. Kemudian mereka masuk dengan berdiri di dalamnya, lalu mereka timbunkan pasir ke badan mereka sampai menutupi setengah badan ….

Demikianlah mereka berdiri tak ubah bagai dua tonggak yang kokoh, setengah badan mereka ter­benam ke dalam pasir dan terpaku ke dasar lobang …. semen­tara setengah bagian atas dadanya, kening dan kedua lengan mereka siap menghadapi tentara penyembah berhala dan orang- orang pembohong …. Tak henti-hentinya mereka memukulkan pedang terhadap setiap tentara Musailamah yang mendekat, sampai akhirnya kedua mereka mati syahid di tempat itu, dan reduplah sudah sinar sang surya mereka . . . !

Peristiwa syahidnya kedua pahlawan r.a. ini bagaikan pekikan dahsyat yang menghimbau Kaum Muslimin agar segera kembali kepada kedudukan mereka hingga akhirnya mereka berhasil menghancurkan tentara Musailamah, mereka tersungkur me­nutupi tanah bekas mereka berpijak ….