Wednesday, July 4, 2018

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Setibanya dikampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa Jampang telah mencuri dua ekor kerbau milik Juragan Saud. Mereka yang pernah dikalahkan jampang ternyata masih merasa dendam dan mereka ingin menjebloskan Jampang ke penjara dengan cara melaporkan Jampang ke pihak kepolisian.

Jampang tahu bahwa ini adalah sebuah Jebakan. Beliau menghadap Haji Baasyir untuk diberi petunjuk. Haji Baasyir menyarankan Jampang untuk menemui Juragan Saud dan menyadarkannya.

Akhirnya Jampang pergi ke rumah Juragan Saud. Disana ia malah mengambil kerbau dan dan barang-barang berharga milik Juragan Saud lalu membagikannya kepada masyarakat kecil yang membutuhkan.

Juragan Saud yang kesal kepada Jampang yang ia fitnah, malah telah merampoknya. Ia meminta kepolisian agar mengerahkan pasukannya untuk menangkap beliau.

Polisi pun dikerahkan dimana-mana. Mereka berhasil  menemukan Jampang. Beberapa dari mereka telah menembak Jampang hingga tewas.

Namun mithos yang telah beredar Jampang tidaklah tewas. Dengan kesaktiannya, Jampang mengelabui mereka dengan mengubah sebuah gedebong (batang pohon) pisang seolah-olah menjadi dirinya. Jadi yang bunuh mereka adalah sebuah gedebong pisang, bukan jampang sebenarnya.

Setelah keadaan aman Jampang menikahi Siti anak dari Pak Sudin, orang yang pernah ditolongnya dulu.

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Selepas dzuhur, Jampang telah berada di daerah Kebayoran dan melihat serombongan pejabat sedang mengontrol daerah kekuasaan mereka. Para penduduk yang berada di pinggir jalan menunduk seraya memberi hormat layaknya seorang raja jaman dahulu memberi hormat.

Jampang merasa kesal. Untuk apa mereka memberi hormat seperti itu. "Sekarang bukan jamannya raja-raja. Setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Jadi apa perlunya memberi hormat seperti itu. Kekesalannya membuat tekad di hati dan pikirannya untuk membela dan berjuang hak-hak rakyat kecil.

Saat Jampang sedang di dekat aliran sungai, ia mendengar suara seorang wanita menjerit meminta pertolongan. Tampak dimatanya dia melihat seorang laki laki kasar sedang hendak berbuat senonoh kepada seorang wanita yang baru selesai mandi. Laki-laki bejat ini bernama Kepeng, anak buah Si Jabrig, jawara daerah itu. dan Gadis itu bernama Siti putri Pak Sudin.

Dia pun marah dan menolong wanita tersebut. Pertarungan sengit tak bisa dielakkan. Dengan kesaktiannya Jampang berhasil mengalahkan Kepeng

Jampang  mengantar Siti ke rumahnya. Lalu Pak Sudin orang tua Siti mengantar beliau ke rumah Pak Haji Hasan untuk mengantarkan sebuah surat titipan Haji Baasyir ke Haji Hasan.

Ternyata surat itu berisi anjuran agar Haji Hasan menyuruh agar anak-anak muda asuhan beliau untuk belajar ilmu beladiri. Dengan demikian mereka mampu menjaga keamanan di daerahnya. Memang kala itu tanah-tanah di pinggir kota betawi sering tidak aman. Dan Jampang mendapat tugas untuk melatih para pemuda itu.

Jampang pun melakukan tugasnya dengan baik. Dididiknya para pemuda dengan sungguh-sunguh. Kehadiran Jampang di daerah itu membuat Jabrig dan anak buahnya merasa tidak aman dan berniat menyingkirkan beliau.

Namun, Jampang bukan pemuda sembarangan. Ia adalah jebolan perguruan silat Gunung Kepuh. Gebrakan Jabrig dancurkann anak buahnya tidak berarti apa-apa. Ia bahkan mampu menghancurkan gerombolan itu. Keadaan kampung pun menjadi aman.

Hancurnya gerombolan Si Jabrig membuat tugas Jampang selesai. Ia pun segera pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Hal ini membuat nama Jampang kembali terkenal karena kehebatannya.

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Rumah besar yang berada dipunggung sebuah bukit kecil menjulang tinggi. Bukit itu disebut Gunung Kepuh. Rumah itu merupakan sebuah perguruan bela diri yang terkenal seantero betawi. Pemimpin dari perguruan itu bernama Ki Samad (Shomad). ia seorang jawara yang terkenal dan sulit dicari tandingannya. Pak Samad atau Ki Samad mempunyai dua murid kesayangan yang bernama Jampang dan Sarba. Kedua pemuda itu kononnya selain gagah dan tampan, juga mempunyai ilmu silat yang tinggi dan tangguh.Setelah sekian lama Jampang dan sarba menuntut ilmu. Tibalah waktunya mereka untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Inti ringkasan dari nasehat Ki Samad yang selalu mereka ingat adalah "Harus berhati-hati menggunakan ilmunya. Jangan sampai di amalkan di jalan yang salah ".

Di tengah perjalanan Jampang dan Sarba mampir di sebuah warung nasi. Disana melihat Gabus dan  Subro, dua orang anak buah Juragan Saud (Gan Saud), seorang tuan tanah.  Dua orang ini suka berbuat semena-mena, selalu berbuat onar dan pada waktu itu mereka makan spesial di warung itu, tapi mereka tak mau membayarnya.

Jampang dan Sarba pun tak mau tinggal diam. Mereka menghadapi centeng-centeng yang sombong itu. Gabus dan Subro merasa terkejut melihat ada dua orang pemuda yang berani menghalangi tindakan mereka. Selama ini setiap orang selalu takut dan tunduk kepada mereka.

Mereka meremehkan Jampang dan Sarba. Saat terjadi pertarungan, mereka kena batunya ternyata Jampang dan Sarba bukanlah orang biasa. Disinilah nama Jampang dan Sarba menjadi terkenal. Kedua centeng itu dibuat kewalahan, dan mereka berhasil kabur membawa dendam yang membara.

Konon ceritanya setelah menangani kedua tokoh itu, Jampang dan Sarba berpisah menuju kampung halamannya masing-masing.
Dikampungnya, Jampang mengajarkan ilmu pengetahuan silatnya ke santri-santri Haji Baasyir. Salah satu ucapan beliau,  "Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh lemah. Kita harus kuat agar bisa membela diri dan melindungi orang yang lemah  dari para penjahat".

Haji Baasyir sangat menyukai pemuda yang bersemangat seperti Jampang. Suatu hari, ia memberi tugas kepada Jampang untuk mengantarkan sebuah surat ke adik seperguran H. Baasyir yang bernama Haji Hasan yang tinggal di Kebayoran.

Jampang seorang sayang dan patuh ke H. Baasyir dan menerima tugas itu dengan senang hati.

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Pada suatu hari, kampung Kemayoran diresahkan oleh keonaran yang ditimbulkan oleh gerombolan perampok di bawah pimpinan Warsa. Setiap malam mereka menggarong dan merampas harta benda penduduk. Kadang-kadang juga melakukan pembunuhan.

Bek Lihun kewalahan mengahadapi gerombolan ini akhirnya meminta bantuan Murtado. Murtado menyanggupi permohonan ini dan bersama dua orang temannya, Saomin dan Sarpin pergi mencari markas perampok-perampok itu di daerah Tambun dan Bekasi. Tetapi mereka tidak menemukannya. Kemudian mereka bertolak ke arak Karawang dan menjumpai gerombolan Warsa yang sudah menanti kedatangan mereka. Terjadi pertempuran sengit. Pertempuran dimenangkan pihak Murtado sedangkan Warsa sendiri mati dalam perkelahian itu.

Murtado dan kedua temannya membawa pulang hasil rampokan gerombolan itu ke Kemayoran dan mengembalikan semu hasil jarahan kepada pemiliknya.

Semua warga di daerah Kemayoran pun berutang budi kepada Murtado dan berterima kasih padanya. Demikian pula penguasa Belanda yang ingin mengangkat Murtado menjadi Bek di daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Namun, Murtado menolak tawaran itu dan lebih memilih hidup sebagai rakyat biasa dan ikut bertanggung jawab atas keamanan rakyat serta berusaha membebaskan rakyat dari belenggu penjajah dan kemiskinan.

http://baringinsakti-indo.blogspot.com

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dialah Murtado. Merasa telah dilecehkan, Mandor Bacan melancarkan serangan kearah Murtado. Berbekal ilmu bela diri yang dimilikinya, Murtado berhasil membuat Mandor Bacan kewalahan hingga dapat dikalahkan dan lari terbirit-birit.

Mandor Bacan melaporkan kejadian ini pada Bek Lihun. Bek Lihun berang dan langsung menuju ke tempat kejadian untuk mencari Murtado. Murtado sudah mengantisipasi diri bahwa Bek Lihun dan anak buahnya pasti mencarinya sehingga ia menghindar. Beberapa waktu kemudian, Bek Lihun memergokinya di sebuah warung. Pertengkaran mulut terjadi dan mereka berkelahi. Bek Lihun mengayunkan kepalan tangan namun ditangkis dengan tangan kosong oleh Murtado kemudian membalasnya dengan ayunan kaki yang tepat mengenai dada Bek Lihun hingga ia terjerembab ke tanah.

Bek Lihun bangkit dan mengeluarkan golok yang diselipkan di pinggangnya, menghunuskan ke arah Murtado. Murtado menangkis dan memberikan pukulan telak ke pinggang Bek Lihun hingga tersungkur ke dalam selokan tempat mengalirkan air ke sawah. Bek Lihun merasa posisinya terdesak kemudian ia melarikan diri.

Bek Lihun tidak terima atas kekalahannya, ia mendatangkan dua tukang pukul dari Tanjung Priok untuk membunuh Murtado. Pada suatu malam, Murtado pulang ke rumah dan tiba-tiba dicegat dua orang tak dikenal. Kedua orang itu mengancam agar tidak membela penduduk kampung dan menghalangi sepak terjang Bek Lihun. Mengetahui mereka adalah suruhan Bek Lihun, Murtado melawan mereka.

Dalam perkelahian itu salah seorang musuh mati dan satunya melarikan diri dan melaporkan kepada Bek Lihun. Bek Lihun jengkel, lalu mengatur siasat memfitnah Murtado telah membunuh orang di daerah Kwitang.

Namun, Murtado yakin bahwa perbuatannya tidak salah dan berupaya untuk tetap tenang. Murtado kemudian menggabungkan diri dengan teman-temannya untuk berlatih bernyanyi kasidah. Saat sedang bernyanyi, tiba-tiba dua orang polisi Kompeni datang mencokok Murtado dengan tuduhan telah membunuh orang di daerah Kwitang. Namun, teman-teman Murtado membelanya dan memberitahu keberadaan Murtado yang selalu ada bersama mereka. Karena tidak menemukan bukti-bukti kuat, polisi Kompeni tak berhasil meringkus Murtado.

Bek Lihun tak habis akal, dipanggilnya tiga jagoan lagi yang berwatak lebih jahat, berasal dari daerah Pondok Labu, Kebayoran Lama. Ketiga orang jagoan diberi upah dan bayaran yang tinggi untuk melenyapkan nyawa Murtado saat ia tengah terlelap di rumahnya. Ketiga orang itu bernama Boseh, Kepleng, dan Boneng.

Pada malam yang sepi, ketiga orang penjahat itu mengendap-endap dan meng-gangsir (menggali tanah untuk masuk ke dalam rumah) rumah Murtado. Murtado terjaga dan menyadari kehadiran mereka. Dengan memanjatkan doa mohon perlindungan kepada Tuhan, Murtado merancang siasat untuk membekuk ketiga penjahat ini.

Murtado ingat akan lampu tempel yang terpasang di pintu kamarnya. Ditendangnya lampu itu, sehingga seisi ruangan mendadak gelap gulita. Kepleng dan Boneng terkejut dan tersungkur sambil saling bertindihan. Mendengar kegaduhan itu, Boseh yang berada di luar kemudian masuk dan meraba-raba dalam gelap. Kepleng yang merasa tubuhnya diraba seseorang membabatkan golok karena mengira itu Murtado. Boseh berpekik kesakitan karena Kepleng salah sasaran.

Suara teriakan Boneng membangunkan warga sehingga warga berduyun-duyun menyambangi rumah Murtado. Penduduk marah dan ingin mengeroyok kedua penjahat yang tengah bertarung melawan Murtado, namun aksi itu dicegah Murtado dan menyarankan agar ketiga penjahat diringkus ke pihak berwajib. Dengan tuduhan ingin merampok, ketiga orang itu pun ditahan oleh Kompeni.

Bek Lihun tidak senang dengan kekalahannya, ia merencanakan balas dendam terhadap Murtado. Pada suatu malam, ia menyambangi rumah gadis teman baik Murtado yang dahulu bersama-sama memotong padi dengannya. Bek Lihun ingin memperkosa gadis itu, si gadis menjerit ketakutan. Kebetulan Murtado sedang akan bertandang ke rumah itu dan mendengar teriakan si gadis.

Murtado buru-buru masuk kamar dan mendapati Bek Lihun hendak memperkosa gadis itu. Amarah Murtado memuncak sehingga dihajarnya Bek Lihun sampai babak belur. Bek Lihun minta ampun dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Setelah kejadian itu, Bek Lihun benar-benar insyaf.

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Di kawasan Kemayoran saat Belanda berkuasa di Batavia, tinggalah seorang pemuda bernama Murtado. Dia anak mantan Lurah di daerah tersebut, namun karena alasan usia kedudukan ayahnya digantikan orang lain.

Di mata warga setempat, Murtado dikenal ramah, hormat kepada orangtua dan bersedia menolong orang yang kesusahan. Murtado juga tekun menuntut ilmu agama, mempelajari ilmu pengetahuan umum serta bela diri.

Warga pun berharap banyak, Murtado mampu mengamankan Kemayoran. Kala itu, warga memang tengan diliputi rasa cemas dan takut, akibat gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang berwatak kasar. Gangguan juga datang dari pengacau dari luar daerah yang merampas harta benda, bahkan membawa lari anak perawan dan istri penduduk setempat kemudian memperkosanya. Para jagoan ini juga tidak segan menyiksa dan membunuh mereka yang mencoba melawan.

Penduduk di daerah Kemayoran kebanyakan adalah petani kecil, para buruh tani dan pedagang asongan (kecil-kecilan) seperti pemilik kedai kopi, dan warung lapak. Akibat gangguan keamanan itu, banyak usaha dagang mereka yang gulung tikar.

Kondisi ini diperparah dengan berbagai jenis pajak yang diberlakukan kompeni Belanda. Hasil bumi dihargai murah oleh Kompeni, belum lagi pemerasan oleh tuan tanah dan golongan China yang memungut biaya sewa tanah atau pun rumah secara semena-mena.

Tokoh yang tega mengkhianati rakyat pribumi diantaranya adalah Bek Lihun dan Mandor Bacan. Atas suruhan wakil Kompeni Belanda pada waktu itu yaitu tuan Rusendal, mereka ditugaskan untuk memeras penduduk Kemayoran dengan bermacam pajak dan pungutan liar.

Demi memikirkan keuntungan pribadi dan mencari muka terhadap Belanda, mereka berdua tak segan merampas istri-istri dan anak perawan warga untuk diperkosa. Bek Lihun dan bawahannya, Mandor Bacan leluasa menjalankan tugasnya karena Kompeni berada di belakang semua keonaran ini.

Pada suatu hari, padi sudah menguning, warga kampung Kemayoran bersiap derapan padi (panen memotong padi). Panen dapat terlaksana atas izin Mandor Bacan yang merupakan pengawas resmi yang ditunjuk tuan Rusendal dengan syarat setiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sisanya empat ikat untuk Kompeni.

Beberapa waktu setelah upacara itu berjalan, muncul seorang gadis cantik ikut memotong padi. Murtado turut hadir dan sudah lama kenal dengan gadis itu. Karena baru pertama kali ikut orang tuanya memotong padi, si gadis membuat ikatan terlalu besar. Tiba-tiba Mandor Bacan melihat ke arah gadis itu dan menegurnya dengan kasar.

“Hei, gadis cantik, kamu jangan kurang ajar dan berlaku curang ya! Coba saya lihat ikatan padimu, ini terlalu besar.” Setelah berkata demikian, Mandor Bacan menghunuskan belatinya dan mengarahkan ke tubuh si gadis. Namun, Belum sempat mengenai pipi si gadis, tiba-tiba ada seseorang yang menangkis sehingga belati itu terpental jauh. Mandor Bacan kaget dan menatap sosok orang tersebut.
http://baringinsakti-indo.blogspot.com

Bacaan Ringan "BANG SABENI - JAWARA DARI KEBON PALA TANAH ABANG"

http://massandry.blogspot.com
Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala Tanah Abang dari orang tua bernama Channam dan Piyah. Nama Sabeni melejit setelah berhasil mengalahkan salah satu Jagoan daerah kemayoran yang berjuluk Macan Kemayoran ketika hendak melamar puteri si Macan Kemayoran untuk dijadikan isteri. Selain itu Peristiwa-peristiwa lainnya antara lain pertarungan di Princen Park (saat ini disebut Lokasari) dimana Sabeni berhasil mengalahkan Jago Kuntau dari Cina yang sengaja didatangkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih maen pukulan para pemuda Betawi dan yang sangat fenomenal adalah ketika Sabeni dalam usia lebih dari 83 tahun berhasil mengalahkan jago-jago beladiri Yudo dan Karate yang sengaja didatangkan oleh penjajah Jepang untuk bertarung dengan Sabeni di Kebon Sirih Park (sekarang Gedung DKI) pada tahun 1943 atas kemenangannya Sabeni dibebaskan dan diberi hadiah satu dus kaos singlet satu dus Handuk.

Pemerintah kolonial Belanda konon dibuat kerepotan dengan ulah Sabeni. Begitu juga pemerintah Jepang ketika menduduki Batavia. Ulah Sabeni rupanya juga membuat geram
pemerintah Jepang saat pendudukan kala itu.

Sampai usia 84 tahun Sabeni masih mengajar maen pukulan (beliau mengajar hampir keseluruh penjuru jakarta bahkan untuk mendatangi tempat mengajar beliau biasanya berjalan kaki), sampai meninggal dunia dengan tenang dan didampingi oleh murid dan anak-anaknya pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 1945 atau 2 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam usia 85 Tahun, beliau dimakamkan di Jalan Kuburan Lama Tanah Abang.

Sampai saat ini aliran Sabeni dilestarikan oleh anak dan keturunan dari Sabeni dan berpusat di daerah Tanah Abang, salah satunya adalah Bapak M. Ali Sabeni yang merupakan anak ke-7 dari Sabeni yang selain sebagai penerus Silat Sabeni juga seorang tokoh seniman Sambrah Betawi. Bapak M. Ali Sabeni jugalah yang memperjuangkan agar nama Sabeni diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Older Posts

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 3"

http://massandry.blogspot.com Setibanya dikampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa...

Blogger Template by Blogcrowds