Sunday, May 8, 2016

Tokoh Terkenal "ELIAS DANIEL MOGOT AKA DAAN MOGOT - PAHLAWAN MUDA DARI MANADO - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Indonesia kemudian mengangkat Daan Mogot sebagai pahlawan nasional. Namanya juga diabadikan menjadi nama Jalan yang menghubungkan Jakarta dengan Tangerang. Jalan Ini memiliki sahabat setia yaitu Kali Mookervaat.

Daan Mogot tutup usia pada tanggal 25 Januari tahun 1946. Hanya sempat merasakan sebulan hidup di usia 17 tahun atau dikenal sebagai saat sweet seventeen saat ini. Mungkin bagi anak muda akan diperingati sebagai masa yang indah, namun bagi Hadjari Singgih, pacar Mayor Daan Mogot, adalah sebuah pengorbanan yang sangat berarti bagi negeri ini. Kado yang terindah darinya adalah dengan memotong rambutnya yang panjang mencapai pinggang dan menanam rambut itu bersama jenasah Daan Mogot.

Kini di antara kemewahan kawasan Serpong, Tangerang Selatan, “terselip” sebuah sejarah bernilai tinggi bagi Republik Indonesia. Sebuah rumah tua, bekas markas serdadu Jepang di Desa Lengkong, menjadi saksi “Pertempuran Lengkong.” Di sebelah kanan rumah itu berdiri sebuah monument yang dibangun sejak tahun 1993. Terukir sejumlah nama taruna dan perwira yang gugur dalam peristiwa heroik yang itu. Namun yang patut disayangkan adanya perbedaan antara museum Lengkong dengan obyek-obyek sejarah lainnya di Tanah Air ini.

Markas tentara Jepang di Desa Lengkong
Museum dan Monumen Lengkong bukanlah salah satu sarana obyek wisata yang bisa dikunjungi oleh masyarakat luas. Pemanfaatannya hingga saat ini hanya sekedar tempat peringatan peristiwa pertempuran. Sehingga banyak dari masyarakat sekitar yang tidak tahu akan keberadaan bangunan historis tersebut. Apalagi seharusnya di museum terpampang foto-foto perjuangan para taruna militer di Indonesia beserta akademinya, namun sayang sekali foto-foto bersejarah tersebut kini berada di Akademi Militer Tangerang dan akan dipasang kembali tiap tanggal 25 Januari dalam upacara peringatan peristiwa Pertempuran Lengkong.

Kisah kepahlawanan Daan Mogot menjadi tamparan bagi kita, saat usia muda ia telah berbakti untuk negerinya. Seharusnya kita terus kabarkan, agar para pemuda tahu bahwa sejarah negeri ini bermula dari kaum pemuda. Agar para orang pemimpin negeri ini tak memandang remeh pada jeritan kaum muda. Simak dan renungkan, apa yang terukir di pintu gerbang Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang.

Tokoh Terkenal "ELIAS DANIEL MOGOT AKA DAAN MOGOT - PAHLAWAN MUDA DARI MANADO - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Namun entah mengapa, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang tidak diketahui dari mana asalnya. Disusul tembakan dari tiga pos penjagaan bersenjatakan mitraliur yang diarahkan kepada pasukan taruna yang terjebak. Tentara Jepang yang berbaris di lapangan ikut pula memberikan perlawanan dengan merebut kembali sebagian senjata mereka yang belum sempat dimuat ke dalam truk milik TKR.

Terjadilah pertempuran yang tak seimbang, apalagi pengalaman tempur dan persenjataan para Taruna tak sebanding dsengan pihak Jepang. Taruna MAT menjadi sasaran empuk, diterjang oleh senapan mesin, lemparan granat serta perkelahian sangkur seorang lawan seorang.

Ketika mendengar pecahnya pertempuran, Mayor Daan Mogot segera berlari keluar meninggalkan meja perundingan dan berupaya menghentikan pertempuran namun upaya itu tidak berhasil. Mayor Daan Mogot bersama beberapa pasukannya menyingkir meninggalkan asrama tentara Jepang, memasuki hutan karet yang dikenal sebagai hutan Lengkong.

Namun Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Sering peluru yang dimasukkan ke kamar-kamarnya tidak pas karena ukuran berbeda atau sering macet. Pertempuran ini tidak berlangsung lama, karena pasukan itu bertempur di dalam perbentengan Jepang dengan persenjataan dan persediaan peluru yang amat terbatas.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Monumen Lengkong
Dari pertempuran di hutan Lengkong, 33 taruna dan 3 perwira gugur serta 10 taruna luka berat. Mayor Wibowo bersama 20 taruna ditawan, hanya 3 taruna, yaitu Soedarno, Menod, Oesman Sjarief berhasil meloloskan diri dan tiba di Markas Komando Resimen TKR Tangerang pada pagi hari.

Pasukan Jepang selanjutnya bertindak penuh kebuasan. Mereka yang telah luka terkena peluru dan masih hidup dihabisi dengan tusukan bayonet. Ada yang tertangkap sesudah keluar dari tempat perlindungan, lalu diserahkan kepada Kempetai Bogor. Beberapa orang yang masih hidup (walau mereka dalam keadaan terluka) dipaksa untuk menggali kubur bagi teman-temannya.

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenasah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Mereka dikuburkan di dekat penjara anak-anak Tangerang. Hadir pula pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir, Wakil Menlu RI Haji Agoes Salim yang puteranya bernama Sjewket Salim ikut gugur dalam peristiwa tersebut beserta para anggota keluarga taruna yang gugur. Dan bagi R.Margono Djojohadikusumo, pendiri BNI 1946, ia kehilangan dua putra terbaiknya yaitu Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna R.M. Soejono Djojohadikoesoemo (keduanya paman dari Prabowo Subianto).

Tokoh Terkenal "ELIAS DANIEL MOGOT AKA DAAN MOGOT - PAHLAWAN MUDA DARI MANADO - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Hutan Lengkong – Serpong Tangerang
Pada tanggal 30 November 1945 dilakukan perundingan antara Indonesia dengan delegasi Sekutu. Indonesia diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri Agoes Salim yang didampingi oleh dua dua perwira TKR yaitu Mayor Wibowo dan Mayor Oetarjo. Sedangkan pihak Sekutu (Inggris), Brigadir ICA Lauder didampingi oleh Letkol Vanderpost (Afrika Selatan) dan Mayor West.

Pertemuan yang merupakan Meeting of Minds, menghasilkan ketetapan tentang pengambil-alihan primary objectives tentara Sekutu oleh TKR yang meliputi perlucutan senjata dan pemulangan 35 ribu tentara Jepang yang masih di Indonesia, pembebasan dan pemulangan Allied Prisoners of War and Internees (APWI) yang kebanyakan terdiri dari lelaki tua, wanita, dan anak-anak berkebangsaan Belanda dan Inggris sebanyak 36 ribu.

Berdasarkan kesepakatan 30 November 1945, tentara Sekutu tidak lagi memiliki alasan untuk memasuki wilayah kekuasaan Indonesia maupun menggunakan tentara Jepang untuk memerangi Indonesia dengan dalih mempertahankan status quo pra- Proklamasi. Perintah itu disampaikan oleh pihak Sekutu kepada Panglima Tentara Jepang Letjen Nagano.

Sekitar tanggal 5 Desember 1945 ditegaskan oleh Kolonel Yashimoto dari pimpinan tentara Jepang kepada pimpinan Kantor Penghubung TKR di Jakarta cq Mayor Oetarjo bahwa para komandan tentara Jepang setempat sesuai dengan keputusan pimpinan tentara Sekutu, telah diperintahkan tunduk kepada para komandan TKR setempat yang bertanggung jawab atas pemulangan mereka.

Namun pada tanggal 24 Januari 1946, Daan Mogot mendengar pasukan NICA Belanda sudah menduduki Parung. Dan bisa dipastikan mereka akan melakukan gerakan merebut senjata tentara Jepang di depot Lengkong.

Ini sangat berbahaya karena akan mengancam kedudukan Resimen IV Tangerang. Untuk mendahului jangan sampai senjata Jepang jatuh ke tangan sekutu, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna Militer Akademi Tangerang (MAT) dan delapan tentara Gurkha pada tanggal 25 Januari 1946 lewat tengah hari sekitar pukul 14.00. Ikut pula bersamanya beberapa orang perwira seperti Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo.

Dengan mengendarai tiga truk dan satu jip militer hasil rampasan dari Inggris, para prajurit berangkat dan sampai di markas Jepang Lengkong pukul 16.00 WIB. Di depan pintu gerbang, truk diberhentikan dan pasukan TKR turun. Mereka memasuki markas tentara Jepang dengan Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan taruna Alex Sajoeti (fasih bahasa Jepang) berjalan di depan. Pasukan taruna diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo untuk menunggu di luar.

Kapten Abe, dari pihak Jepang, menerima ketiganya di dalam markas. Mendengar penjelasan maksud kedatangan mereka, Kapten Abe meminta waktu untuk menghubungi atasannya di Jakarta. Ia beralasan bahwa ia belum mendapat perintah atasannya tentang perlucutan senjata. Saat perundingan berjalan, ternyata Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo sudah mengerahkan para taruna memasuki sejumlah barak dan melucuti senjata yang ada di sana dengan kerelaan dari anak buah Kapten Abe. 40 orang Jepang telah terkumpulkan di lapangan.

Tokoh Terkenal "ELIAS DANIEL MOGOT AKA DAAN MOGOT - PAHLAWAN MUDA DARI MANADO - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Penduduk Jakarta pasti sudah pernah mendengar nama sebuah jalan bernama Daan Mogot. Jalan yang terbentang dari perempatan Grogol hingga Tangerang. Tapi apakah banyak yang sadar bahwa nama jalan Daan Mogot itu berasal dari sebuah nama seorang pemuda?

Pemuda belia itu bernama Elias Daniel Mogot. Daan Mogot adalah nama populer Elias Daniel Mogot. Pemuda ini cukup mengagumkan. Bayangkan ketika anak-anak saat ini yang berumur 14 tahun masih doyan main playstation ataupun ber-FB ria, ternyata saat umur 14 tahun Daan Mogot sudah ikut berperang.

Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928, ini dibawa oleh orang tuanya ke Batavia (Jakarta) saat berumur 11 tahun. Daan Mogot adalah anak dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut). Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang.

Di umur 14 tahun (tahun 1942) Daan Mogot masuk PETA (Pembela Tanah Air) yaitu organisasi militer pribumi bentukan Jepang di Jawa, walaupaun sebenarnya ia tak memenuhi syarat karena usianya belum genap 18 tahun. Oleh prestasinya yang luar biasa ia diangkat menjadi pelatih PETA di Bali. Kemudian dipindahkan ke Batavia.

Saat kejatuhan Jepang dan selepas Proklamasi 1945, Daan Mogot bergabung dengan pemuda lainnya mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor. Uniknya saat itu Daan Mogot baru berusia 16 tahun namun sudah berpangkat Mayor.

Malang tak dapat ditolak, saat ia berjuang membela negeri ini, ayahnya tewas dibunuh oleh para perampok yang menganggap “orang Manado” (orang Minahasa) sebagai londoh-londoh (antek-antek) Belanda. Kesedihannya itu ia sampaikan pada sepupunya Alex Kawilarang.

“Banyak benar anarki terjadi di sini,” kata Alex Kawilarang.

“Memang, itu yang mesti torang bereskan. Oleh karena itu, senjata harus berada di torang pe tangan” kata Daan Mogot. “Torang, orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas, hati-hati! Torang musti benar-benar menunjukkan, di pihak mana kita berada.”

Daan Mogot berkeinginan mencurahkan pengetahuannya, apa yang dulu didapatkannya saat masih dibawah PETA. Ia ingin mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara. Dan keinginan besarnya itu akhirnya terwujud dengan berdirinya Akademi Milter di Tangerang 18 November 1945 bersama Kemal Idris, Daan Yahya dan Taswin. Dan Daan Mogot diangkat menjadi Direktur Militer Akademi Tangerang (MAT) saat ia berusia 17 tahun dengan calon Taruna pertama yang dilatih berjumlah ada 180 orang.

Bacaan Ringan "TRADISI NYEKEP - LAMBANG KEJANTANAN PRIA MADURA - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Pada umumnya, sekep diperoleh dari turun temurun nenek moyang mereka merupakan benda (harta) sangkol (waris) yang tidak dapat dipindah tangankan kepada orang lain. Baik sebagai wujud pemberian maupun penjualan. Bila hal ini dilangkahi, sebagaimana keyakinan mereka maka akan berakibat buruk bagi pemiliknya.

Fungsi lain, sekep dapat memberikan kekebalan bagi si pemakai. Sekep semacam ini biasanya banyak digunakan orang-orang Madura ketika berhadapan dengan musuh pada jaman pra kemerdekaan. Sekep semcam ini, biasanya banyak diperoleh dari seorang kyai sebagai senjata terselubung antara lain disebut ” jasa’ “. Pada jaman Hisbullah dan terakhir saat terjadi pemberontakan G 30 S PKI, banyak orang Madura menggunakan ” jasa’ “. Jadi apabila seseorang telah di-jasa’, maka mereka akan bebas menyerang musuh meski dengan menggunakan senjata apapun.

Pada tahun terakhir ini, sekep banyak dicari orang karena sekep yang ampuh tentu memiliki nilai tinggi, dan mereka berani membeli dengan harga jutaan rupiah, khususnya bagi orang-orang yang gemar menyimpan senjata tajam. Puluhan tahun yang silam, memang tidak begitu sulit untuk mendapatkannya, karena sementara orang masih ada yang “nglakoni” untuk mendapat wangsit dalam bentuk sekep yang benar-benar mapan dan ampuh. Namun, mungkin kesadaran masyarakat semakin tinggi, atau sesepuh-sesepuh pengolah sekep semakin berkurang, maka sekarang jarang ditemui di Pulau Madura.

Cara memperoleh sekep ada beberapa cara. Ada yang secara langsung memesan kepada empu (pande) bila dalam bentuk senjata, ada pula yang secara langsung “nyepi” dan bersemedi ditempat (kuburan) leluhur yang dianggap keramat. Cara pertama, memang lebih gampang, yaitu setelah benda yang dipesan jadi, maka untuk selanjutnya diisi (jasa’) yaitu diisi kekuatan magis yang hanya orang-orang tertentu bisa melakukannya. Untuk yang satu ini, saratnya harus memiliki kekuatan yang sama. Artinya disamping sekep sebagai pendamping hidupnya kelak, sang pemilik harus membekali “ilmu” yang melebihi dari sekep itu sendiri. Sebab apabila lebih kuat sekepnya, maka tak heran akan berakibat fatal bagi pemiliknya bahkan mungkin berpengaruh besar terhadap ketenangan dan ketentraman kehidupan rumah tangganya. Yaitu besar kemungkinan akan selalu ditimpa musibah, penyakit yang tidak mungkin disembuhkan melalui medis atau mungkin selama memiliki sekep itu selalu dililiti kekurangan dalam penghidupan sehari-hari, bahkan harta bendanya bisa ludes karena sekep itu. Hal yang demikian, orang Madura menyebut “karas” atau “taras”.

Mungkin begitulah mengapa hingga kini kalangan orang Madura tradisional tidak lepas dari sekep, yang menjadi lambang kejantanan

Bacaan Ringan "TRADISI NYEKEP - LAMBANG KEJANTANAN PRIA MADURA - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Senjata tajam sebangsa celurit sebenarnya terdiri banyak jenis dan bentuknya, antara lain are’ lancor, takabuwan, bulu ajem, bulu pete’, daun perrengan, karangkengan dan sejenisnya. Sedang bentuk senjata tajam konvensional lainnya, juga banyak macamnya, yakni ; taji, gobang, cakkong, bireng, pangabisan, todi’, golok, tombag, dan lainnya sesuai dengan fungsi dan keperluannya.

Sekep bukan hanya dalam wujud benda saja. Justru dibalik benda yang disekep itu, tersimpan suatu kekuatan yang mungkin tak terduga sebelumnya, yaitu bila saat digunakan (katakanlah untuk membunuh orang) mempunyai akibat yang lebih fatal bagi korbannya. Sebab benda (tajam) tersebut telah “diisi” suatu kekuatan yang melebihi senjata tajam yang disekep.

Di lain hal, sekep-sekep tertentu mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai alat penangkal bila berhadapan dengan lawan (musuh). Sekep semacam itu, merupakan senjata yang cukup ampuh untuk menipu lawan. Sebab lawan yang dihadapi tidak tampak pada dirinya, sedang yang ber-sikep akan lebih leluasa melakukan serangan. Hal ini tentu berlaku bagi lawan yang “kosong” tenaga dan ilmunya.

Ada juga jenis sekep yang cukup diletakkan dibagian pintu rumah. Sekep ini berfungsi untuk menghalangi bila suatu saat ada orang yang bermaksud jahat, misalnya pencuri. Apabila sebuah rumah telah dilengkapi dengan sekep semacam ini, maka rumah itu akan selalu aman dari tangan-tangan jahil. Karena siapa yang bermaksud jahat memasuki rumah itu, seakan mereka dihadapkan oleh berbagai keganjilan.

Peristiwa semacam ini pernah terjadi di sebuah desa, di kecamatan Dungkek Sumenep. Seorang pencuri berhasil masuk dan menggaet perabot rumah tangga. Namun beberapa saat kemudian terdengar suara ombak yang mendebur diluar rumah. Mendengar suara itu tentu sang pencuri kalang kabut, maka secepat kilat ia keluar rumah. Namun apa yang terjadi, ternyata disekitar rumah itu telah berubah menjadi laut yang menggenangi disekitar rumah. Melihat kenyataan itu, sang pencuri tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuggu air surut. Hingga pagi hari, ia baru tersadar bahwa ia telah terjebak oleh tipuan kekuatan magis yang dipasang pemilik rumah. Dan akibatnya, masyarakat setempat tidak sulit menagkap pencuri tersebut lengkap dengan bukti barang curiannya.

Dan banyak lagi tipuan-tipuan fatamorgana semacam ini dengan berbagai macam bentuk dan akibatnya, bahkan menurut cerita jebakan-jebakan semacam itu seakan pencuri terdampar ditengah hutan belantara lengkap dengan binatang buasnya

Bacaan Ringan "TRADISI NYEKEP - LAMBANG KEJANTANAN PRIA MADURA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Salah satu kebanggaan yang kerap menjadi teman hidup bagi orang Madura ialah “sekep”. Sekep dalam pengertian umum ialah bentuk senjata yang biasa diselipkan dipinggang sebagai jaminan keselamatan hidup bagi pemakainya. Dan sekep ini bukan hanya menjadi jaminan di perjalanan. Saat tidur atau saat-saat tertentu sekep juga tidak lepas dari sisi (bagian) pemiliknya.

Senjata yang disekep, ada beberapa macam bentuk, biasanya bentuk senjata tajam yang mudah diselipkan dipinggang. Baik berupa pisau, clurit, golok, keris dan atau sejenisnya. Maka tak heran bila suatu ketika berpapasan dengan seseorang Madura, khususnya orang-orang Madura yang hidup di pedesaan, akan tampak tonjolan kecil dibalik baju bagian pinggang.

Pada dasarnya orang yang bersekep atau “nyekep”, hanyalah semata-mata menjaga kemungkinan untuk lebih waspada bila suatu ketika harus berhadapan dengan lawan maupun pada saat suasana genting menghadapi ancaman disekitarnya.

Dan sekep itu sendiri pada umumnya dimiliki oleh kaum pria. Tapi tidak menutup kemungkinan, kaum wanitapun tak lepas dari yang namanya sekep itu. Cuma bedanya, sekep bagi kaum wanita Madura kerap disebut “patterm”, yaitu berupa konde yang diisi racun yang disusukkan disanggul. Fungsinyapun sama, sebagaimana yang digunakan oleh kaum laki-laki, yaitu untuk menjagadiri bila suatu ketika diserang oleh lawan atau penjahat yang mengganggunya. Atau juga untuk berjaga-jaga dirumah bila suatu ketika sang suami harus berlama-lama meninggalkan rumah.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa suatu bentuk kebiasaan para orang Madura lama, wanita merupakan bagian yang sangat penting bagi kaum pria. Maksud disini, kaum wanita merupakan lambing kehormatan dan prestise bagi kaum pria. Maka tak heran, bila akhirnya sampai terjadi keributan pada awalnya kebanyakan ditimbulkan oleh masalah wanita.

Terlepas dari fungsi senjata tajam bagi orang Madura yang tradisional dijadikan alat pengaman bagi dirinya, juga mempunyai nilai tradisi turun temurun, bahwa lambing kejantanan bagi orang Madura terletak bagaimana kemantapan dan ketegaran dirinya tatkala mereka bersekep dipinggangnya. Untuk itu dalam masyarakat Madura lalu timbul pemeo, bila seorang laki-laki tidak “nyekep”, tak lebih dari seorang banci.

Namun kenyataan yang terjadi pada peristiwa-peristiwa pembunuhan, senjata yang banyak bicara ternyata senjata tajam yang berbentuk celurit (Caloret, Mdr), yang kerap dijadikan identitas senjata tajam orang Madura.

Celurit sebenarnya tak lebih dari “are’(arit)”, mungkin karena bentuknya lebih besar dan lekukan panjang, maka celurit sangat beda bila dibandingkan dengan senjata tajam lainnya. Sedang are’ yang memiliki bentuk hamper sama dengan celurit, kerap digunakan sebagai penyabit rumput atau kebutuhan lainnya yang sifatnya sebagai alat pemangkas.

Older Posts

Tokoh Terkenal "ELIAS DANIEL MOGOT AKA DAAN MOGOT - PAHLAWAN MUDA DARI MANADO - PART 4"

http://massandry.blogspot.com Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Indonesia kemudian mengangkat Daan Mogot sebagai pahlawan nasional...

Blogger Template by Blogcrowds