Wednesday, July 4, 2018

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Setibanya dikampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa Jampang telah mencuri dua ekor kerbau milik Juragan Saud. Mereka yang pernah dikalahkan jampang ternyata masih merasa dendam dan mereka ingin menjebloskan Jampang ke penjara dengan cara melaporkan Jampang ke pihak kepolisian.

Jampang tahu bahwa ini adalah sebuah Jebakan. Beliau menghadap Haji Baasyir untuk diberi petunjuk. Haji Baasyir menyarankan Jampang untuk menemui Juragan Saud dan menyadarkannya.

Akhirnya Jampang pergi ke rumah Juragan Saud. Disana ia malah mengambil kerbau dan dan barang-barang berharga milik Juragan Saud lalu membagikannya kepada masyarakat kecil yang membutuhkan.

Juragan Saud yang kesal kepada Jampang yang ia fitnah, malah telah merampoknya. Ia meminta kepolisian agar mengerahkan pasukannya untuk menangkap beliau.

Polisi pun dikerahkan dimana-mana. Mereka berhasil  menemukan Jampang. Beberapa dari mereka telah menembak Jampang hingga tewas.

Namun mithos yang telah beredar Jampang tidaklah tewas. Dengan kesaktiannya, Jampang mengelabui mereka dengan mengubah sebuah gedebong (batang pohon) pisang seolah-olah menjadi dirinya. Jadi yang bunuh mereka adalah sebuah gedebong pisang, bukan jampang sebenarnya.

Setelah keadaan aman Jampang menikahi Siti anak dari Pak Sudin, orang yang pernah ditolongnya dulu.

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Selepas dzuhur, Jampang telah berada di daerah Kebayoran dan melihat serombongan pejabat sedang mengontrol daerah kekuasaan mereka. Para penduduk yang berada di pinggir jalan menunduk seraya memberi hormat layaknya seorang raja jaman dahulu memberi hormat.

Jampang merasa kesal. Untuk apa mereka memberi hormat seperti itu. "Sekarang bukan jamannya raja-raja. Setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Jadi apa perlunya memberi hormat seperti itu. Kekesalannya membuat tekad di hati dan pikirannya untuk membela dan berjuang hak-hak rakyat kecil.

Saat Jampang sedang di dekat aliran sungai, ia mendengar suara seorang wanita menjerit meminta pertolongan. Tampak dimatanya dia melihat seorang laki laki kasar sedang hendak berbuat senonoh kepada seorang wanita yang baru selesai mandi. Laki-laki bejat ini bernama Kepeng, anak buah Si Jabrig, jawara daerah itu. dan Gadis itu bernama Siti putri Pak Sudin.

Dia pun marah dan menolong wanita tersebut. Pertarungan sengit tak bisa dielakkan. Dengan kesaktiannya Jampang berhasil mengalahkan Kepeng

Jampang  mengantar Siti ke rumahnya. Lalu Pak Sudin orang tua Siti mengantar beliau ke rumah Pak Haji Hasan untuk mengantarkan sebuah surat titipan Haji Baasyir ke Haji Hasan.

Ternyata surat itu berisi anjuran agar Haji Hasan menyuruh agar anak-anak muda asuhan beliau untuk belajar ilmu beladiri. Dengan demikian mereka mampu menjaga keamanan di daerahnya. Memang kala itu tanah-tanah di pinggir kota betawi sering tidak aman. Dan Jampang mendapat tugas untuk melatih para pemuda itu.

Jampang pun melakukan tugasnya dengan baik. Dididiknya para pemuda dengan sungguh-sunguh. Kehadiran Jampang di daerah itu membuat Jabrig dan anak buahnya merasa tidak aman dan berniat menyingkirkan beliau.

Namun, Jampang bukan pemuda sembarangan. Ia adalah jebolan perguruan silat Gunung Kepuh. Gebrakan Jabrig dancurkann anak buahnya tidak berarti apa-apa. Ia bahkan mampu menghancurkan gerombolan itu. Keadaan kampung pun menjadi aman.

Hancurnya gerombolan Si Jabrig membuat tugas Jampang selesai. Ia pun segera pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Hal ini membuat nama Jampang kembali terkenal karena kehebatannya.

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Rumah besar yang berada dipunggung sebuah bukit kecil menjulang tinggi. Bukit itu disebut Gunung Kepuh. Rumah itu merupakan sebuah perguruan bela diri yang terkenal seantero betawi. Pemimpin dari perguruan itu bernama Ki Samad (Shomad). ia seorang jawara yang terkenal dan sulit dicari tandingannya. Pak Samad atau Ki Samad mempunyai dua murid kesayangan yang bernama Jampang dan Sarba. Kedua pemuda itu kononnya selain gagah dan tampan, juga mempunyai ilmu silat yang tinggi dan tangguh.Setelah sekian lama Jampang dan sarba menuntut ilmu. Tibalah waktunya mereka untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Inti ringkasan dari nasehat Ki Samad yang selalu mereka ingat adalah "Harus berhati-hati menggunakan ilmunya. Jangan sampai di amalkan di jalan yang salah ".

Di tengah perjalanan Jampang dan Sarba mampir di sebuah warung nasi. Disana melihat Gabus dan  Subro, dua orang anak buah Juragan Saud (Gan Saud), seorang tuan tanah.  Dua orang ini suka berbuat semena-mena, selalu berbuat onar dan pada waktu itu mereka makan spesial di warung itu, tapi mereka tak mau membayarnya.

Jampang dan Sarba pun tak mau tinggal diam. Mereka menghadapi centeng-centeng yang sombong itu. Gabus dan Subro merasa terkejut melihat ada dua orang pemuda yang berani menghalangi tindakan mereka. Selama ini setiap orang selalu takut dan tunduk kepada mereka.

Mereka meremehkan Jampang dan Sarba. Saat terjadi pertarungan, mereka kena batunya ternyata Jampang dan Sarba bukanlah orang biasa. Disinilah nama Jampang dan Sarba menjadi terkenal. Kedua centeng itu dibuat kewalahan, dan mereka berhasil kabur membawa dendam yang membara.

Konon ceritanya setelah menangani kedua tokoh itu, Jampang dan Sarba berpisah menuju kampung halamannya masing-masing.
Dikampungnya, Jampang mengajarkan ilmu pengetahuan silatnya ke santri-santri Haji Baasyir. Salah satu ucapan beliau,  "Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh lemah. Kita harus kuat agar bisa membela diri dan melindungi orang yang lemah  dari para penjahat".

Haji Baasyir sangat menyukai pemuda yang bersemangat seperti Jampang. Suatu hari, ia memberi tugas kepada Jampang untuk mengantarkan sebuah surat ke adik seperguran H. Baasyir yang bernama Haji Hasan yang tinggal di Kebayoran.

Jampang seorang sayang dan patuh ke H. Baasyir dan menerima tugas itu dengan senang hati.

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Pada suatu hari, kampung Kemayoran diresahkan oleh keonaran yang ditimbulkan oleh gerombolan perampok di bawah pimpinan Warsa. Setiap malam mereka menggarong dan merampas harta benda penduduk. Kadang-kadang juga melakukan pembunuhan.

Bek Lihun kewalahan mengahadapi gerombolan ini akhirnya meminta bantuan Murtado. Murtado menyanggupi permohonan ini dan bersama dua orang temannya, Saomin dan Sarpin pergi mencari markas perampok-perampok itu di daerah Tambun dan Bekasi. Tetapi mereka tidak menemukannya. Kemudian mereka bertolak ke arak Karawang dan menjumpai gerombolan Warsa yang sudah menanti kedatangan mereka. Terjadi pertempuran sengit. Pertempuran dimenangkan pihak Murtado sedangkan Warsa sendiri mati dalam perkelahian itu.

Murtado dan kedua temannya membawa pulang hasil rampokan gerombolan itu ke Kemayoran dan mengembalikan semu hasil jarahan kepada pemiliknya.

Semua warga di daerah Kemayoran pun berutang budi kepada Murtado dan berterima kasih padanya. Demikian pula penguasa Belanda yang ingin mengangkat Murtado menjadi Bek di daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Namun, Murtado menolak tawaran itu dan lebih memilih hidup sebagai rakyat biasa dan ikut bertanggung jawab atas keamanan rakyat serta berusaha membebaskan rakyat dari belenggu penjajah dan kemiskinan.

http://baringinsakti-indo.blogspot.com

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dialah Murtado. Merasa telah dilecehkan, Mandor Bacan melancarkan serangan kearah Murtado. Berbekal ilmu bela diri yang dimilikinya, Murtado berhasil membuat Mandor Bacan kewalahan hingga dapat dikalahkan dan lari terbirit-birit.

Mandor Bacan melaporkan kejadian ini pada Bek Lihun. Bek Lihun berang dan langsung menuju ke tempat kejadian untuk mencari Murtado. Murtado sudah mengantisipasi diri bahwa Bek Lihun dan anak buahnya pasti mencarinya sehingga ia menghindar. Beberapa waktu kemudian, Bek Lihun memergokinya di sebuah warung. Pertengkaran mulut terjadi dan mereka berkelahi. Bek Lihun mengayunkan kepalan tangan namun ditangkis dengan tangan kosong oleh Murtado kemudian membalasnya dengan ayunan kaki yang tepat mengenai dada Bek Lihun hingga ia terjerembab ke tanah.

Bek Lihun bangkit dan mengeluarkan golok yang diselipkan di pinggangnya, menghunuskan ke arah Murtado. Murtado menangkis dan memberikan pukulan telak ke pinggang Bek Lihun hingga tersungkur ke dalam selokan tempat mengalirkan air ke sawah. Bek Lihun merasa posisinya terdesak kemudian ia melarikan diri.

Bek Lihun tidak terima atas kekalahannya, ia mendatangkan dua tukang pukul dari Tanjung Priok untuk membunuh Murtado. Pada suatu malam, Murtado pulang ke rumah dan tiba-tiba dicegat dua orang tak dikenal. Kedua orang itu mengancam agar tidak membela penduduk kampung dan menghalangi sepak terjang Bek Lihun. Mengetahui mereka adalah suruhan Bek Lihun, Murtado melawan mereka.

Dalam perkelahian itu salah seorang musuh mati dan satunya melarikan diri dan melaporkan kepada Bek Lihun. Bek Lihun jengkel, lalu mengatur siasat memfitnah Murtado telah membunuh orang di daerah Kwitang.

Namun, Murtado yakin bahwa perbuatannya tidak salah dan berupaya untuk tetap tenang. Murtado kemudian menggabungkan diri dengan teman-temannya untuk berlatih bernyanyi kasidah. Saat sedang bernyanyi, tiba-tiba dua orang polisi Kompeni datang mencokok Murtado dengan tuduhan telah membunuh orang di daerah Kwitang. Namun, teman-teman Murtado membelanya dan memberitahu keberadaan Murtado yang selalu ada bersama mereka. Karena tidak menemukan bukti-bukti kuat, polisi Kompeni tak berhasil meringkus Murtado.

Bek Lihun tak habis akal, dipanggilnya tiga jagoan lagi yang berwatak lebih jahat, berasal dari daerah Pondok Labu, Kebayoran Lama. Ketiga orang jagoan diberi upah dan bayaran yang tinggi untuk melenyapkan nyawa Murtado saat ia tengah terlelap di rumahnya. Ketiga orang itu bernama Boseh, Kepleng, dan Boneng.

Pada malam yang sepi, ketiga orang penjahat itu mengendap-endap dan meng-gangsir (menggali tanah untuk masuk ke dalam rumah) rumah Murtado. Murtado terjaga dan menyadari kehadiran mereka. Dengan memanjatkan doa mohon perlindungan kepada Tuhan, Murtado merancang siasat untuk membekuk ketiga penjahat ini.

Murtado ingat akan lampu tempel yang terpasang di pintu kamarnya. Ditendangnya lampu itu, sehingga seisi ruangan mendadak gelap gulita. Kepleng dan Boneng terkejut dan tersungkur sambil saling bertindihan. Mendengar kegaduhan itu, Boseh yang berada di luar kemudian masuk dan meraba-raba dalam gelap. Kepleng yang merasa tubuhnya diraba seseorang membabatkan golok karena mengira itu Murtado. Boseh berpekik kesakitan karena Kepleng salah sasaran.

Suara teriakan Boneng membangunkan warga sehingga warga berduyun-duyun menyambangi rumah Murtado. Penduduk marah dan ingin mengeroyok kedua penjahat yang tengah bertarung melawan Murtado, namun aksi itu dicegah Murtado dan menyarankan agar ketiga penjahat diringkus ke pihak berwajib. Dengan tuduhan ingin merampok, ketiga orang itu pun ditahan oleh Kompeni.

Bek Lihun tidak senang dengan kekalahannya, ia merencanakan balas dendam terhadap Murtado. Pada suatu malam, ia menyambangi rumah gadis teman baik Murtado yang dahulu bersama-sama memotong padi dengannya. Bek Lihun ingin memperkosa gadis itu, si gadis menjerit ketakutan. Kebetulan Murtado sedang akan bertandang ke rumah itu dan mendengar teriakan si gadis.

Murtado buru-buru masuk kamar dan mendapati Bek Lihun hendak memperkosa gadis itu. Amarah Murtado memuncak sehingga dihajarnya Bek Lihun sampai babak belur. Bek Lihun minta ampun dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Setelah kejadian itu, Bek Lihun benar-benar insyaf.

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Di kawasan Kemayoran saat Belanda berkuasa di Batavia, tinggalah seorang pemuda bernama Murtado. Dia anak mantan Lurah di daerah tersebut, namun karena alasan usia kedudukan ayahnya digantikan orang lain.

Di mata warga setempat, Murtado dikenal ramah, hormat kepada orangtua dan bersedia menolong orang yang kesusahan. Murtado juga tekun menuntut ilmu agama, mempelajari ilmu pengetahuan umum serta bela diri.

Warga pun berharap banyak, Murtado mampu mengamankan Kemayoran. Kala itu, warga memang tengan diliputi rasa cemas dan takut, akibat gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang berwatak kasar. Gangguan juga datang dari pengacau dari luar daerah yang merampas harta benda, bahkan membawa lari anak perawan dan istri penduduk setempat kemudian memperkosanya. Para jagoan ini juga tidak segan menyiksa dan membunuh mereka yang mencoba melawan.

Penduduk di daerah Kemayoran kebanyakan adalah petani kecil, para buruh tani dan pedagang asongan (kecil-kecilan) seperti pemilik kedai kopi, dan warung lapak. Akibat gangguan keamanan itu, banyak usaha dagang mereka yang gulung tikar.

Kondisi ini diperparah dengan berbagai jenis pajak yang diberlakukan kompeni Belanda. Hasil bumi dihargai murah oleh Kompeni, belum lagi pemerasan oleh tuan tanah dan golongan China yang memungut biaya sewa tanah atau pun rumah secara semena-mena.

Tokoh yang tega mengkhianati rakyat pribumi diantaranya adalah Bek Lihun dan Mandor Bacan. Atas suruhan wakil Kompeni Belanda pada waktu itu yaitu tuan Rusendal, mereka ditugaskan untuk memeras penduduk Kemayoran dengan bermacam pajak dan pungutan liar.

Demi memikirkan keuntungan pribadi dan mencari muka terhadap Belanda, mereka berdua tak segan merampas istri-istri dan anak perawan warga untuk diperkosa. Bek Lihun dan bawahannya, Mandor Bacan leluasa menjalankan tugasnya karena Kompeni berada di belakang semua keonaran ini.

Pada suatu hari, padi sudah menguning, warga kampung Kemayoran bersiap derapan padi (panen memotong padi). Panen dapat terlaksana atas izin Mandor Bacan yang merupakan pengawas resmi yang ditunjuk tuan Rusendal dengan syarat setiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sisanya empat ikat untuk Kompeni.

Beberapa waktu setelah upacara itu berjalan, muncul seorang gadis cantik ikut memotong padi. Murtado turut hadir dan sudah lama kenal dengan gadis itu. Karena baru pertama kali ikut orang tuanya memotong padi, si gadis membuat ikatan terlalu besar. Tiba-tiba Mandor Bacan melihat ke arah gadis itu dan menegurnya dengan kasar.

“Hei, gadis cantik, kamu jangan kurang ajar dan berlaku curang ya! Coba saya lihat ikatan padimu, ini terlalu besar.” Setelah berkata demikian, Mandor Bacan menghunuskan belatinya dan mengarahkan ke tubuh si gadis. Namun, Belum sempat mengenai pipi si gadis, tiba-tiba ada seseorang yang menangkis sehingga belati itu terpental jauh. Mandor Bacan kaget dan menatap sosok orang tersebut.
http://baringinsakti-indo.blogspot.com

Bacaan Ringan "BANG SABENI - JAWARA DARI KEBON PALA TANAH ABANG"

http://massandry.blogspot.com
Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala Tanah Abang dari orang tua bernama Channam dan Piyah. Nama Sabeni melejit setelah berhasil mengalahkan salah satu Jagoan daerah kemayoran yang berjuluk Macan Kemayoran ketika hendak melamar puteri si Macan Kemayoran untuk dijadikan isteri. Selain itu Peristiwa-peristiwa lainnya antara lain pertarungan di Princen Park (saat ini disebut Lokasari) dimana Sabeni berhasil mengalahkan Jago Kuntau dari Cina yang sengaja didatangkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih maen pukulan para pemuda Betawi dan yang sangat fenomenal adalah ketika Sabeni dalam usia lebih dari 83 tahun berhasil mengalahkan jago-jago beladiri Yudo dan Karate yang sengaja didatangkan oleh penjajah Jepang untuk bertarung dengan Sabeni di Kebon Sirih Park (sekarang Gedung DKI) pada tahun 1943 atas kemenangannya Sabeni dibebaskan dan diberi hadiah satu dus kaos singlet satu dus Handuk.

Pemerintah kolonial Belanda konon dibuat kerepotan dengan ulah Sabeni. Begitu juga pemerintah Jepang ketika menduduki Batavia. Ulah Sabeni rupanya juga membuat geram
pemerintah Jepang saat pendudukan kala itu.

Sampai usia 84 tahun Sabeni masih mengajar maen pukulan (beliau mengajar hampir keseluruh penjuru jakarta bahkan untuk mendatangi tempat mengajar beliau biasanya berjalan kaki), sampai meninggal dunia dengan tenang dan didampingi oleh murid dan anak-anaknya pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 1945 atau 2 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam usia 85 Tahun, beliau dimakamkan di Jalan Kuburan Lama Tanah Abang.

Sampai saat ini aliran Sabeni dilestarikan oleh anak dan keturunan dari Sabeni dan berpusat di daerah Tanah Abang, salah satunya adalah Bapak M. Ali Sabeni yang merupakan anak ke-7 dari Sabeni yang selain sebagai penerus Silat Sabeni juga seorang tokoh seniman Sambrah Betawi. Bapak M. Ali Sabeni jugalah yang memperjuangkan agar nama Sabeni diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bacaan Ringan "BANG HAJI DARIP - JAWARA DARI KLENDER"

http://massandry.blogspot.com
Jawara asal Klender kelahiran tahun 1900. Haji Darip merupakan putra asli Betawi kelahiran tahun 1886 di Kampung Jatinegara Kaum dari pasangan Haji Kurdin dan Haji Nyai, anak ketiga dari tiga bersaudara. Hanya menempuh pendidikan nonformal belajar ngaji di kampung, di antaranya dari gurunya Haji Gayor di Klender. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat di penjara dan belajar dari temannya. Tahun 1914-1919 ia dikirim orang tuanya untuk belajar agama Islam di Mekah. Pulang dari Mekah, ia menikah dengan gadis pilihan orang tuanya dan dikaruniai seorang anak. Saat anaknya berumur 2 tahun, isterinya meninggal dan tahun 1937 Haji Darip menikah lagi dengan Hajjah Amidah dan dikaruniai 11 orang putera dan puteri.

Menurut legenda, Haji Darip memiliki jimat yang membuatnya kebal peluru dan tahan bacok. Haji Darip juga dianugerahi ‘aji pengasihan’ yang dapat dengan mudah menaklukan penjahat untuk dijadikan anak buah. Selain dikenal sebagai mubaligh, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Bagi warga Betawi dia disebut sebagai jawara sekaligus pahlawan perjuangan. Tapi bagi pemerintah kolonial waktu itu, dia dikenal sebagai bandit. Haji Darip dengan gerombolannyamengusik ketenangan pemerintahan Batavia.

Haji Darip dan gerombolannya mirip kisah Robin Hood. Mereka suka menjarah kompeni, dan kaum bangsawan congkak. Tentu saja hasil jarahan gerombolan Haji Darip akan dibagikan ke warga pribumi Betawi. Daerah kekuasaan H. Darip, dimulai dari Bekasi, Pulogadung, Klender sampai ke Jatinegara. Sepak terjang Haji Darip membuatnya sering dijebloskan ke penjara oleh kompeni.

Haji Darip meninggal 13 Juni 1981. Untuk mengenang jasanya, nama Haji Darip dijadikan nama jalan di daerah Klender menuju Bekasi. Daerah kekuasaan Haji Darip dahulu.

Bacaan Ringan "BANG MUGENI - JAWARA DARI PASAR SENEN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Bang Mugeni  pada awal tahun 1923 menyempatkan diri  bersama istri nya pulang ke kampung halaman nya di Marunda,kepulangan nya  kali ini selain untuk bertemu dengan Ibu kandung nya (tidak di jelaskan namanya) juga untuk bertemu dengan kedua orang guru nya yaitu Kyai H.juned dan H.Moch Rosyid.Setelah beberapa hari disana Bang Mugeni berpamitan untuk balik ke Betawi,saat  pamit dengan guru nya H.Moch Rosyid beliau menitip seorang pemuda yang dulu sudah di kenal nya sebagai adik perguruan yang saat itu baru menjadi murid pemula.

Pemuda tersebut bernama “Ayub” yang saat ini oleh Guru nya H.M Rosyid di anggap telah menamatkan semua pelajaran ilmu yang di turunkan kepadanya dan telah lulus dan tamat. Bang Mugeni di minta oleh gurunya agar Ayub di jadikan tangan kanan nya atau orang kepercayaan nya Bang Mugeni. Dengan takzim Bang Mugeni menerima semua perintah gurunya  dan siap menjalankan semuah amanah yang di inginkan oleh gurunya tersebut.Bertiga mereka kembali keBetawi, setelah mengantar Istrinya keBangka-Kemang. Selanjutnya  Bang  Mugeni membawa pemuda Ayub ke Pasar senen dan hidup serta  tinggal di sana sebagai tangan kanan Bang Mugeni. Dikarenakan Ayub adalah adik perguruan Bang Mugeni sudah tentu mengetahui persis kelemahan atau pengapesan dari Bang Mugeni kakak perguruan nya.

Suatu hari sekitar penghujung Tahun 1923 jadi pada tahun yang sama saat Ayub di bawa ke senen,Bang Mugeni  ada keperluan penting (tidak jelas keperluan nya apa) untuk pergi ke wilayah seberang manggarai lalu mengajak serta Ayub  untuk ikut mendampingi diri nya. Sesampai nya di tepi sungai Ciliwung harus menyeberang dengan Eretan bambu atau  rakit bambu yang di fungsikan secara tetap untuk penyebrangan dan di operasikan oleh pengemudi eretan menggunakan tali baja yang terikat kuat melintang diatas sungai. Bang Geni menaiki rakit tersebut,  Ayub ikut menaiki rakit tersebut dengan mengambil posisi berdiri persis di belakang Bang Geni,saat rakit berada di tengah sungai, secara tiba tiba dan sangat cepat Ayub mencabut Golok nya dan menebaskan golok tersebut ke leher Bang Mugeni dari arah belakang,leher Bang Geni putus, Kepala dan badan nya langsung terpisah saat itu juga dan oleh Ayub kepala dan badan nya tersebut dibuang ke sungai,sehingga  Bang Mugeni tidak ada kuburan nya, sedangkan pengemudi Eretan atau Rakit akan di bunuh pula oleh Ayub namun pengemudi tersebut sempat lebih dulu menceburkan diri kedalam sungai dan menyelam serta muncul kepermukaan sungai dengan jarak yang lumayan jauh lalu melarikan diri dan selamat.

Ayub kembali ke pasar senen memberitakan tewas nya Bang Mugeni akibat penghadangan  sekelompok orang tidak di kenal yang berjumlah banyak,  menyerang Bang Mugeni dan dirinya, dalam pengeroyokan itu dikatakan naas Bang Mugeni tewas seketika dalam pengeroyokan  dan mayat nya di buang ke sungai,dikatakan  Diri nya sendiri (Ayub) juga nyaris tewas  namun untung masih dapat melarikan diri dan lolos walau dengan beberapa luka sayatan.

Tidak percaya begitu saja Beberapa hari kemudian Bang Sadeli Gobang wakil utama Bang Mugeni sejak dulu,bersama satu orang anak buah nya  secara diam diam dan rahasia melakukan penyelidikan  ke Manggarai dan lalu ahirnya bertemu dengan pengemudi Eretan bambu yang ternyata  sebenar nya pengemudi Eretan itu mengenal wajah serta tahu siapa Bang Mugeni sesungguh nya,lalu dia  bercerita pada Bang Sadeli Gobang  bahwa beberapa hari yang lalu terjadi peristiwa berdarah seperti yang sudah di ulas di atas bahkan diri nya pun nyaris di bunuh tapi untung dapat meloloskan diri. Pengemudi itu takut dan harus melapor kepada siapa??

Sadeli Gobang tidak terima kejadian ini segera pulang ke pasar senen memberi tahu kepada semua anak buah nya dan selanjutnya menantang Ayub berduel di belakang pasar pada malam hari di saksikan oleh anak buah nya dan banyak orang lain nya.Dalam pertarungan yang sangat sengit antara hidup dan mati dan tempo pertarungan yang cukup lama,naas bagi Sadeli Gobang  ia harus kalah dalam pertarungan tersebut Melawan ayub,entah pada bacokan Golok yang ke berapa mengenai tubuh nya achir nya Golok Ayub mampu juga  menembus kulit Bang sadeli gobang dan dia tewas langsung  di tempat dengan bersimbah darah.

Anak buah Bang Mugeni  melakukan pengeroyokan kepada Ayub namun memang mereka bukan lah lawan nya Ayub,setelah 3 orang terkapar  entah tewas atau hanya terluka selanjut nya semua anak buah Bang Mugeni menyingkir dari Pasar Senen dan tidak bersedia di pimpin oleh Ayub.Pasar senen dan sekitar nya sekarang resmi di kawal oleh Jawara Ayub dan dia di panggil Bang Ayub, entah dari mana ia dapat merekrut anak buah baru, hanya semakin hari semakin banyak pendukung nya.

Menurut Habib Kadir, ternyata pengapesan dari Bang Mugeni adalah bila dia sedang tidak menginjak tanah  dimana telapak kaki  dengan tanah di batasi antaranya oleh air, dan itu arti nya pengapesan Ayub juga sama dengan Bang Mugeni karena memang mereka adalah satu perguruan.Tewas nya Bang Mugeni membuat Raidi,Imam syafi’ie  beserta 2 adik nya yaitu Sapri dan Supena menjadi anak yatim,saat itu Imam syafi’ie masih berusia 5 tahun.

Bacaan Ringan "BANG MUGENI - JAWARA DARI PASAR SENEN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Bang MUGENI  seorang pemuda santri murid utama dari Kyai H. Juned dan H.Moch Rosyid  yang berasal dari marunda , Bang Mugeni di kenal sebagai Jawara Pasar senen dan sekitar nya meliputi kebon kosong,Tanah tinggi,Bungur,Poncol,Pasar gaplok,Kramat pulo gundul,Paseban,Kwitang. (tidak jelas dan tidak ada keterangan sejak  kapan  Bang Mugeni mulai menjadi jawara senen dan sekitarnya). Masa itu Bang mugeni  sangat di kenal dan sangat di hormati oleh teman teman nya dan sangat diperhitungkan dan di takuti   oleh lawan lawan nya dari kelompok - kelompok  Golongan hitam yang selalu bergerak di malam hari untuk membuat terror perampokan yang kadang di barengi pemerkosaan dan pembakaran rumah yang  di rampok nya demi untuk menghilangkan jejak.

Dalam beberapa peristiwa gangguan keamanan, di ceritakan bahwa pernah terjadi  Bang Mugeni mendapat laporan dari seorang penduduk ada beberapa orang yang terlihat mengendap endap di kebon, Bang Mugeni bersama para anak buah nya langsung menuju lokasi dan benar saja dia  menjumpai gerombolan perampok sudah akan mulai beraksi di sebuah rumah dekat tempat mereka mengendap di kebon sesuai yang di laporkan seorang penduduk tersebut.

Singkat cerita Bang Mugeni dan anak buah merangsek maju dan pecahlah pertarungan  bebas   dengan kelompok gerombolan perampok Umar codet dari wilayah pulo gadung yang memang sedang dalam pencarian polisi belanda KNIL  karena sudah sangat membuat resah penduduk. Bang Mugeni mengenali bahwa itu Umar codet karena ada codet bekas luka yang memanjang  dari bawah alis sampai ke atas jidat dan wajah nya mirip dengan gambar yang di sebar KNIL  di Pasar Senen.

Rupanya tengah malam itu Gerombolan rampok Umar codet akan  melakukan aksi perampokan  pada sebuah rumah keluarga Orang padang di daerah Kebon kosong yang di kenal  sebagai pedagang grosir di Pasar senen yang cukup berada.Saat itu jumlah dari Bang Mugeni Cs dengan  perampok cukup berimbang. Terjadilah pertarungan satu lawan satu antara anak buah Bang Mugeni dengan anak buah  Umar codet sedangkan Bang Mugeni sendiri langsung  berhadapan dengan pemimpin rampok  Umar codet  dan satu anak buah nya. Pertarungan dengan Golok terhunus, masing masing mengeluarkan Ilmu silat kanuragan dan Ilmu kesaktian dalam,  pada saat itu pertarungan berjalan seru dan sangat sengit karena Umar codet bukan lah orang sembarangan yang kosong, dia sebagai kepala Gerombolan rampok tentu ber ilmu tinggi dan di bantu pula oleh seorang anak buah nya yang tentu bukan saja memiliki Ilmu silat tetapi sedikit banyak nya berilmu dalam juga.

Bang Mugeni dengan mengeluarkan segenap  ilmu  silat yang di lambari tenaga dalam dan ilmu Hikmah yang tinggi serta  pilih tanding,  berkat se izin Allah SWT  Pertarungan achir nya  dapat di menangkan oleh Bang Mugeni beserta beberapa anak buah nya,2 orang anak buah bang Mugeni tewas dalam pertarungan tersebut  2 orang lain nya terluka dan dari fihak perampok sebanyak 4 orang tewas, sedangkan Umar codet pimpinan perampok terluka dan sempat melarikan diri bersama  sisa  anak buah nya  menerobos kebon dan menghilang di kegelapan malam. 

Habib Abdul Kadir Alhadad, Bang Mugeni di gambarkan sebagai orang yang ramah dan low profil dan sangat santun,  dalam ke seharian nya Bang Mugeni sangat akrab dengan para pedagang di pasar senen dan akrab pula dengan masyarakat sekitar nya. Bang Mugeni memiliki sohib atau sahabat karib yaitu Habaib muhamad Abdulah kadir al hadad yang di kenal dengan Habib Kadir seorang pemuka agama  islam terkemuka   di  kebon nanas. Selain sahabat karib karena usianya sebaya,  Bang Mugeni juga belajar huruf arab gundul dan  Ilmu Tasyauf  dari ayat suci Alquran yang di bimbing langsung  oleh   Habib Kadir, selain itu antara bang Mugeni dan Habib kadir kerap bertukar Ilmu silat luar maupun ilmu dalam.

Tahun 1915, Bang Mugeni seorang Jawara berlatar belakang santri mendapat jodohnya seorang gadis bernama Aminah yang berasal asli dari Bangka dekat kemang sekarang wilayah Jakarta selatan, kemudian gadis  Aminah dinikahi nya pada tahun itu juga. Selanjutnya dari hasil perkawinan nya itu Thn.1916, lahir buah hati yang pertama seorang bayi  lelaki, anak itu di beri nama RAIDI. Kemudian 2 tahun kemudian yaitu pada Thn 1918,lahir lah buah hati nya yang 2, seorang bayi  laki-laki yang selanjut nya di beri nama IMAM SYAFI”IE.

Pada awal tahun 1921, lahir lagi anak ke 3 seorang bayi laki laki lalu di beri nama SAPRI karena lahir nya pada bulan Sapar dalam kalender arab. Selanjut nya di di penghujung tahun 1922 lahir anak yang ke 4 seorang bayi perempuan yang selanjutnya diberi  nama  SUPENAH (supene,dalam panggilan sleng betawi).

Bacaan Ringan "JAWARA JAWARA DARI TANAH JAWA - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pendekar Golongan Putih kebanyakan tumbuh dari  anak didik para kyai yang memiliki pesantren sekaligus perguruan silat maupun para Haji yang memiliki perguruan silat secara sembunyi –sembunyi yang tujuan utamanya  untuk melakukan perlawanan pada penjajah belanda dengan caranya sendiri-sendiri dan sekaligus menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat  secara di minta maupun tidak di minta,karena ini sudah menjadi naluri Para pendekar.

Jawara Putih banyak berfungsi sebagai keamanan dan pelindung para pedagang di pasar  dan juga sebagai keamanan yang handal dikampung sekitarnya diwilayah tersebut,apabila terjadi gangguan keamanan  seumpama terjadi perampokan di wilayah kekuasaan nya niscaya Jawara akan menjadi sibuk mencari dan mengejar  pelaku nya. Kita bisa  membayangkan Jawara seperti  Ranger atau Sherif  dimasa Amerika tempo dulu, zaman wild wild west dan saat itu belum terbentuk Negara Amerika serikat, di mana hukum belum ter organisasi dengan baik, jadi memang di butuhkan orang – orang yang memiliki keberanian lebih dan jago dalam menggunakan pistol mampu  menembak dengan gerakan  cepat dan  tepat mengenai sasaran.

Kembali kepada Jawara betawi dimasa lalu Jawara pun memiliki wakil dan para pembantu di sebut anak buah seperti Ranger atau sherif memiliki wakil dan para Deputy yang siap membantu. Jawara  bertugas mengamankan pasar dan kampung sekitar dari gangguan keamanan kelompok Jagoan hitam beserta gerombolan nya  yang  akan memeras ,merampok para pedagang dan penduduk masyarat sekitar. Tidak jarang terjadinya pertarungan hidup dan mati antara kelompok jawara putih dan Gerombolan.Sumber pendapatan jawara putih dan para pembantunya berasal dari iuran para pedagang pasar dan masyarakat sekitar yang merasa terlindungi, sedangkan besarnya iuran sesuai dengan kesepakatan bersama tampa paksaan dan setiap orang iuran nya berbeda beda sesuai kemampuan dan bahkan banyak yang di bebaskan dari tanggung jawab iuran karena ketidak mampuan.

Menjadi Jawara bukan lah jabatan formal namun pada masa itu menjadi jawara adalah suatu predikat yang sangat bergengsi dan membanggakan sehingga bukan saja tantangan nya dari Grombolan golongan hitam yang bertindak kriminal tetapi menjadi incaran para pendekar golongan putih yang ingin menggantikan posisi nya sebagai Jawara di wilayah tersebut,namun pengambilan alih kekuasaan nya walau tampa hukum adat tertulis harus  secara  terhormat selaku  Pendekar sejati yang mengutamakan jiwa dan sifat kesatria  yaitu melakukan tantangan dengan surat atau melalui utusan,setelah tantangan diterima dan ditentukan kesepakatan  hari dan tanggal serta  tempat  bertarung lalu pada hari H dan jam D nya. Pertarungan akan berjalan satu lawan satu antara jawara  dengan fihak  pendekar penantang,Pertarungan di saksikan oleh semua anak buah ke dua belah fihak.

Pertarungan dengan tangan kosong atau dengan golok terhunus juga di buat sesuai kesepakatan mereka bersama. Apabila pertarungan di menangkan oleh jawara dan Pendekar penantang kalah dalam keadaan hidup,  Pendekar itu harus pergi dan tidak boleh menginjak daerah itu lagi, tetapi bila kalah dan tewas,  jenasah pendekar penantang tersebut di kembalikan ke daerah asal nya atau di kembalikan sesuai pesan ke dua belah fihak sebelum pertarungan di mulai,atau di bawa pergi oleh anak buah nya.Sebalik nya bila jawara yang di tantang yang kalah akan sama nasib nya harus pergi meninggalkan daerah kekuasaan nya dan seluruh anak buah nya di serah terimakan kepada Jawara baru untuk menjadi para pembantunya menjalankan tugas keamanan rutin di pasar dan kampung sekitar. 

Bila kejadian nya pendekar penantang  adalah seorang Tokoh Jawara dari wilayah lain di Jakarta yang ingin memperluas daerah kekuasaan nya dan menantang Jawara dari wilayah lain,apabila  dia memenangkan pertarungan nya dengan jawara setempat dan jawara setempat  kalah dalam ke adaan hidup  dia akan tetap menjadi jawara di tempat  wilayah kekuasaan nya semula tetapi ada upeti wajib harus di setorkan kepada Jawara pemenang setiap bulan nya dengan jumlah sesuai kesepakatan bersama,bila jawara tersebut kalah tewas selanjutnya wakil dari jawara yang tewas tersebut otomatis menjadi penggantinya dan di bawah Kontrol jawara pemenang  dan terkena setoran upeti/pajak yang besar nya sesuai kesepakatan.

Inilah aturan tidak tertulis di masa itu namun ada pula kejadian – kejadian menggulingkan kekuasan Jawara dengan cara - cara pengecut namun kejadian ini tidak banyak dan tidak populer. Ini adalah gambaran  sosial budaya  masyarakat Jakarta tempo dulu dan mungkin sudah ada jauh sebelum legendaris Pitung berkiprah dan mungkin juga jauh sebelum zaman Jampang jago betawi terlahir kedunia.

Bacaan Ringan "JAWARA JAWARA DARI TANAH JAWA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Sebagai kata pembuka kami ulas terlebih dahulu tentang pemahamam Sosial Budaya Masyarakat Betawi Tempo Dulu, berkaitan dengan keberadaan Jawara di Zaman penjajahan Belanda yang di ceritakan oleh Lettu. Sapri Bin Mugeni kepada penulis pada Februari th.1977.

Pada masa itu kota Jakarta sepenuh nya masih dikuasai oleh Penjajah kolonial belanda,budaya masyarakat betawi  tempo dulu sangat berbeda jauh dengan masyarakat sekarang di era teknologi dan computer.Tempo dulu sebagian besar lelaki muda maupun dewasa akan terselip Golok di pinggang nya minimal pisau guna untuk membela diri dan membela keluarga nya dan sebagian besar anak lelaki betawi belajar mengaji ,belajar tulis latin yang tujuan nya mampu menulis Tafsir Ayat Suci Alquran dan sekaligus belajar  ilmu silat betawi. Pada masa itu  dan masa masa sebelumnya dikenal budaya PENDEKAR dan ini tidak terbatas di Jakarta tetapi  di seluruh tanah jawa karena masa itu keamanan masyarakat belum terjamin dan keamanan belum ter koordinasi seperti sekarang ini.

Dulu masa penjajahan belanda tentu belum ada POLRI yang ada KNIL yaitu polisi belanda  yang jumlah nya terbatas dan sudah pasti praktek di lapangan nya lebih mengutamakan kepentingan – kepentingan pemerintah kolonial Belanda ketimbang problem keamanan di tengah masyarakat, andaikata menyentuh keamanan masyarakat itu  sifat nya belum intensif seperti sekarang ini.

Masa itu persis seperti di komik komik silat ada Pendekar golongan Putih dan ada Pendekar golongan Hitam. Di Betawi (Jakarta tempo dulu) bila ada JAWARA berarti dia adalah Juara dari para Jagoan di wilayah sekitar nya dan dapat di pastikan dari Pendekar golongan putih, kalau di Banten Namanya JARO dan di Tambun,Purwakarta,Cikampek namanya BANG MANDOR. Sedangkan Pendekar dari golongan hitam tidak di sebut Jawara tetapi  Kepala gerombolan atau kepala rampok atau kepala begal atau bila kesaktian nya sudah sangat tinggi, pilih tanding mereka bergerak sendiri tampa anak buah sebagai  perampok Tunggal seperti Mat Item dari Teluk Gong,Mat Ali Item dari Tanjung barat dll.

Newer Posts Older Posts Home

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 3"

http://massandry.blogspot.com Setibanya dikampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa...

Blogger Template by Blogcrowds