Wednesday, July 4, 2018

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Setibanya dikampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa Jampang telah mencuri dua ekor kerbau milik Juragan Saud. Mereka yang pernah dikalahkan jampang ternyata masih merasa dendam dan mereka ingin menjebloskan Jampang ke penjara dengan cara melaporkan Jampang ke pihak kepolisian.

Jampang tahu bahwa ini adalah sebuah Jebakan. Beliau menghadap Haji Baasyir untuk diberi petunjuk. Haji Baasyir menyarankan Jampang untuk menemui Juragan Saud dan menyadarkannya.

Akhirnya Jampang pergi ke rumah Juragan Saud. Disana ia malah mengambil kerbau dan dan barang-barang berharga milik Juragan Saud lalu membagikannya kepada masyarakat kecil yang membutuhkan.

Juragan Saud yang kesal kepada Jampang yang ia fitnah, malah telah merampoknya. Ia meminta kepolisian agar mengerahkan pasukannya untuk menangkap beliau.

Polisi pun dikerahkan dimana-mana. Mereka berhasil  menemukan Jampang. Beberapa dari mereka telah menembak Jampang hingga tewas.

Namun mithos yang telah beredar Jampang tidaklah tewas. Dengan kesaktiannya, Jampang mengelabui mereka dengan mengubah sebuah gedebong (batang pohon) pisang seolah-olah menjadi dirinya. Jadi yang bunuh mereka adalah sebuah gedebong pisang, bukan jampang sebenarnya.

Setelah keadaan aman Jampang menikahi Siti anak dari Pak Sudin, orang yang pernah ditolongnya dulu.

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Selepas dzuhur, Jampang telah berada di daerah Kebayoran dan melihat serombongan pejabat sedang mengontrol daerah kekuasaan mereka. Para penduduk yang berada di pinggir jalan menunduk seraya memberi hormat layaknya seorang raja jaman dahulu memberi hormat.

Jampang merasa kesal. Untuk apa mereka memberi hormat seperti itu. "Sekarang bukan jamannya raja-raja. Setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Jadi apa perlunya memberi hormat seperti itu. Kekesalannya membuat tekad di hati dan pikirannya untuk membela dan berjuang hak-hak rakyat kecil.

Saat Jampang sedang di dekat aliran sungai, ia mendengar suara seorang wanita menjerit meminta pertolongan. Tampak dimatanya dia melihat seorang laki laki kasar sedang hendak berbuat senonoh kepada seorang wanita yang baru selesai mandi. Laki-laki bejat ini bernama Kepeng, anak buah Si Jabrig, jawara daerah itu. dan Gadis itu bernama Siti putri Pak Sudin.

Dia pun marah dan menolong wanita tersebut. Pertarungan sengit tak bisa dielakkan. Dengan kesaktiannya Jampang berhasil mengalahkan Kepeng

Jampang  mengantar Siti ke rumahnya. Lalu Pak Sudin orang tua Siti mengantar beliau ke rumah Pak Haji Hasan untuk mengantarkan sebuah surat titipan Haji Baasyir ke Haji Hasan.

Ternyata surat itu berisi anjuran agar Haji Hasan menyuruh agar anak-anak muda asuhan beliau untuk belajar ilmu beladiri. Dengan demikian mereka mampu menjaga keamanan di daerahnya. Memang kala itu tanah-tanah di pinggir kota betawi sering tidak aman. Dan Jampang mendapat tugas untuk melatih para pemuda itu.

Jampang pun melakukan tugasnya dengan baik. Dididiknya para pemuda dengan sungguh-sunguh. Kehadiran Jampang di daerah itu membuat Jabrig dan anak buahnya merasa tidak aman dan berniat menyingkirkan beliau.

Namun, Jampang bukan pemuda sembarangan. Ia adalah jebolan perguruan silat Gunung Kepuh. Gebrakan Jabrig dancurkann anak buahnya tidak berarti apa-apa. Ia bahkan mampu menghancurkan gerombolan itu. Keadaan kampung pun menjadi aman.

Hancurnya gerombolan Si Jabrig membuat tugas Jampang selesai. Ia pun segera pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Hal ini membuat nama Jampang kembali terkenal karena kehebatannya.

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Rumah besar yang berada dipunggung sebuah bukit kecil menjulang tinggi. Bukit itu disebut Gunung Kepuh. Rumah itu merupakan sebuah perguruan bela diri yang terkenal seantero betawi. Pemimpin dari perguruan itu bernama Ki Samad (Shomad). ia seorang jawara yang terkenal dan sulit dicari tandingannya. Pak Samad atau Ki Samad mempunyai dua murid kesayangan yang bernama Jampang dan Sarba. Kedua pemuda itu kononnya selain gagah dan tampan, juga mempunyai ilmu silat yang tinggi dan tangguh.Setelah sekian lama Jampang dan sarba menuntut ilmu. Tibalah waktunya mereka untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Inti ringkasan dari nasehat Ki Samad yang selalu mereka ingat adalah "Harus berhati-hati menggunakan ilmunya. Jangan sampai di amalkan di jalan yang salah ".

Di tengah perjalanan Jampang dan Sarba mampir di sebuah warung nasi. Disana melihat Gabus dan  Subro, dua orang anak buah Juragan Saud (Gan Saud), seorang tuan tanah.  Dua orang ini suka berbuat semena-mena, selalu berbuat onar dan pada waktu itu mereka makan spesial di warung itu, tapi mereka tak mau membayarnya.

Jampang dan Sarba pun tak mau tinggal diam. Mereka menghadapi centeng-centeng yang sombong itu. Gabus dan Subro merasa terkejut melihat ada dua orang pemuda yang berani menghalangi tindakan mereka. Selama ini setiap orang selalu takut dan tunduk kepada mereka.

Mereka meremehkan Jampang dan Sarba. Saat terjadi pertarungan, mereka kena batunya ternyata Jampang dan Sarba bukanlah orang biasa. Disinilah nama Jampang dan Sarba menjadi terkenal. Kedua centeng itu dibuat kewalahan, dan mereka berhasil kabur membawa dendam yang membara.

Konon ceritanya setelah menangani kedua tokoh itu, Jampang dan Sarba berpisah menuju kampung halamannya masing-masing.
Dikampungnya, Jampang mengajarkan ilmu pengetahuan silatnya ke santri-santri Haji Baasyir. Salah satu ucapan beliau,  "Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh lemah. Kita harus kuat agar bisa membela diri dan melindungi orang yang lemah  dari para penjahat".

Haji Baasyir sangat menyukai pemuda yang bersemangat seperti Jampang. Suatu hari, ia memberi tugas kepada Jampang untuk mengantarkan sebuah surat ke adik seperguran H. Baasyir yang bernama Haji Hasan yang tinggal di Kebayoran.

Jampang seorang sayang dan patuh ke H. Baasyir dan menerima tugas itu dengan senang hati.

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Pada suatu hari, kampung Kemayoran diresahkan oleh keonaran yang ditimbulkan oleh gerombolan perampok di bawah pimpinan Warsa. Setiap malam mereka menggarong dan merampas harta benda penduduk. Kadang-kadang juga melakukan pembunuhan.

Bek Lihun kewalahan mengahadapi gerombolan ini akhirnya meminta bantuan Murtado. Murtado menyanggupi permohonan ini dan bersama dua orang temannya, Saomin dan Sarpin pergi mencari markas perampok-perampok itu di daerah Tambun dan Bekasi. Tetapi mereka tidak menemukannya. Kemudian mereka bertolak ke arak Karawang dan menjumpai gerombolan Warsa yang sudah menanti kedatangan mereka. Terjadi pertempuran sengit. Pertempuran dimenangkan pihak Murtado sedangkan Warsa sendiri mati dalam perkelahian itu.

Murtado dan kedua temannya membawa pulang hasil rampokan gerombolan itu ke Kemayoran dan mengembalikan semu hasil jarahan kepada pemiliknya.

Semua warga di daerah Kemayoran pun berutang budi kepada Murtado dan berterima kasih padanya. Demikian pula penguasa Belanda yang ingin mengangkat Murtado menjadi Bek di daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Namun, Murtado menolak tawaran itu dan lebih memilih hidup sebagai rakyat biasa dan ikut bertanggung jawab atas keamanan rakyat serta berusaha membebaskan rakyat dari belenggu penjajah dan kemiskinan.

http://baringinsakti-indo.blogspot.com

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dialah Murtado. Merasa telah dilecehkan, Mandor Bacan melancarkan serangan kearah Murtado. Berbekal ilmu bela diri yang dimilikinya, Murtado berhasil membuat Mandor Bacan kewalahan hingga dapat dikalahkan dan lari terbirit-birit.

Mandor Bacan melaporkan kejadian ini pada Bek Lihun. Bek Lihun berang dan langsung menuju ke tempat kejadian untuk mencari Murtado. Murtado sudah mengantisipasi diri bahwa Bek Lihun dan anak buahnya pasti mencarinya sehingga ia menghindar. Beberapa waktu kemudian, Bek Lihun memergokinya di sebuah warung. Pertengkaran mulut terjadi dan mereka berkelahi. Bek Lihun mengayunkan kepalan tangan namun ditangkis dengan tangan kosong oleh Murtado kemudian membalasnya dengan ayunan kaki yang tepat mengenai dada Bek Lihun hingga ia terjerembab ke tanah.

Bek Lihun bangkit dan mengeluarkan golok yang diselipkan di pinggangnya, menghunuskan ke arah Murtado. Murtado menangkis dan memberikan pukulan telak ke pinggang Bek Lihun hingga tersungkur ke dalam selokan tempat mengalirkan air ke sawah. Bek Lihun merasa posisinya terdesak kemudian ia melarikan diri.

Bek Lihun tidak terima atas kekalahannya, ia mendatangkan dua tukang pukul dari Tanjung Priok untuk membunuh Murtado. Pada suatu malam, Murtado pulang ke rumah dan tiba-tiba dicegat dua orang tak dikenal. Kedua orang itu mengancam agar tidak membela penduduk kampung dan menghalangi sepak terjang Bek Lihun. Mengetahui mereka adalah suruhan Bek Lihun, Murtado melawan mereka.

Dalam perkelahian itu salah seorang musuh mati dan satunya melarikan diri dan melaporkan kepada Bek Lihun. Bek Lihun jengkel, lalu mengatur siasat memfitnah Murtado telah membunuh orang di daerah Kwitang.

Namun, Murtado yakin bahwa perbuatannya tidak salah dan berupaya untuk tetap tenang. Murtado kemudian menggabungkan diri dengan teman-temannya untuk berlatih bernyanyi kasidah. Saat sedang bernyanyi, tiba-tiba dua orang polisi Kompeni datang mencokok Murtado dengan tuduhan telah membunuh orang di daerah Kwitang. Namun, teman-teman Murtado membelanya dan memberitahu keberadaan Murtado yang selalu ada bersama mereka. Karena tidak menemukan bukti-bukti kuat, polisi Kompeni tak berhasil meringkus Murtado.

Bek Lihun tak habis akal, dipanggilnya tiga jagoan lagi yang berwatak lebih jahat, berasal dari daerah Pondok Labu, Kebayoran Lama. Ketiga orang jagoan diberi upah dan bayaran yang tinggi untuk melenyapkan nyawa Murtado saat ia tengah terlelap di rumahnya. Ketiga orang itu bernama Boseh, Kepleng, dan Boneng.

Pada malam yang sepi, ketiga orang penjahat itu mengendap-endap dan meng-gangsir (menggali tanah untuk masuk ke dalam rumah) rumah Murtado. Murtado terjaga dan menyadari kehadiran mereka. Dengan memanjatkan doa mohon perlindungan kepada Tuhan, Murtado merancang siasat untuk membekuk ketiga penjahat ini.

Murtado ingat akan lampu tempel yang terpasang di pintu kamarnya. Ditendangnya lampu itu, sehingga seisi ruangan mendadak gelap gulita. Kepleng dan Boneng terkejut dan tersungkur sambil saling bertindihan. Mendengar kegaduhan itu, Boseh yang berada di luar kemudian masuk dan meraba-raba dalam gelap. Kepleng yang merasa tubuhnya diraba seseorang membabatkan golok karena mengira itu Murtado. Boseh berpekik kesakitan karena Kepleng salah sasaran.

Suara teriakan Boneng membangunkan warga sehingga warga berduyun-duyun menyambangi rumah Murtado. Penduduk marah dan ingin mengeroyok kedua penjahat yang tengah bertarung melawan Murtado, namun aksi itu dicegah Murtado dan menyarankan agar ketiga penjahat diringkus ke pihak berwajib. Dengan tuduhan ingin merampok, ketiga orang itu pun ditahan oleh Kompeni.

Bek Lihun tidak senang dengan kekalahannya, ia merencanakan balas dendam terhadap Murtado. Pada suatu malam, ia menyambangi rumah gadis teman baik Murtado yang dahulu bersama-sama memotong padi dengannya. Bek Lihun ingin memperkosa gadis itu, si gadis menjerit ketakutan. Kebetulan Murtado sedang akan bertandang ke rumah itu dan mendengar teriakan si gadis.

Murtado buru-buru masuk kamar dan mendapati Bek Lihun hendak memperkosa gadis itu. Amarah Murtado memuncak sehingga dihajarnya Bek Lihun sampai babak belur. Bek Lihun minta ampun dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Setelah kejadian itu, Bek Lihun benar-benar insyaf.

Bacaan Ringan "BANG MURTADO - JAWARA DARI KEMAYORAN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Di kawasan Kemayoran saat Belanda berkuasa di Batavia, tinggalah seorang pemuda bernama Murtado. Dia anak mantan Lurah di daerah tersebut, namun karena alasan usia kedudukan ayahnya digantikan orang lain.

Di mata warga setempat, Murtado dikenal ramah, hormat kepada orangtua dan bersedia menolong orang yang kesusahan. Murtado juga tekun menuntut ilmu agama, mempelajari ilmu pengetahuan umum serta bela diri.

Warga pun berharap banyak, Murtado mampu mengamankan Kemayoran. Kala itu, warga memang tengan diliputi rasa cemas dan takut, akibat gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang berwatak kasar. Gangguan juga datang dari pengacau dari luar daerah yang merampas harta benda, bahkan membawa lari anak perawan dan istri penduduk setempat kemudian memperkosanya. Para jagoan ini juga tidak segan menyiksa dan membunuh mereka yang mencoba melawan.

Penduduk di daerah Kemayoran kebanyakan adalah petani kecil, para buruh tani dan pedagang asongan (kecil-kecilan) seperti pemilik kedai kopi, dan warung lapak. Akibat gangguan keamanan itu, banyak usaha dagang mereka yang gulung tikar.

Kondisi ini diperparah dengan berbagai jenis pajak yang diberlakukan kompeni Belanda. Hasil bumi dihargai murah oleh Kompeni, belum lagi pemerasan oleh tuan tanah dan golongan China yang memungut biaya sewa tanah atau pun rumah secara semena-mena.

Tokoh yang tega mengkhianati rakyat pribumi diantaranya adalah Bek Lihun dan Mandor Bacan. Atas suruhan wakil Kompeni Belanda pada waktu itu yaitu tuan Rusendal, mereka ditugaskan untuk memeras penduduk Kemayoran dengan bermacam pajak dan pungutan liar.

Demi memikirkan keuntungan pribadi dan mencari muka terhadap Belanda, mereka berdua tak segan merampas istri-istri dan anak perawan warga untuk diperkosa. Bek Lihun dan bawahannya, Mandor Bacan leluasa menjalankan tugasnya karena Kompeni berada di belakang semua keonaran ini.

Pada suatu hari, padi sudah menguning, warga kampung Kemayoran bersiap derapan padi (panen memotong padi). Panen dapat terlaksana atas izin Mandor Bacan yang merupakan pengawas resmi yang ditunjuk tuan Rusendal dengan syarat setiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sisanya empat ikat untuk Kompeni.

Beberapa waktu setelah upacara itu berjalan, muncul seorang gadis cantik ikut memotong padi. Murtado turut hadir dan sudah lama kenal dengan gadis itu. Karena baru pertama kali ikut orang tuanya memotong padi, si gadis membuat ikatan terlalu besar. Tiba-tiba Mandor Bacan melihat ke arah gadis itu dan menegurnya dengan kasar.

“Hei, gadis cantik, kamu jangan kurang ajar dan berlaku curang ya! Coba saya lihat ikatan padimu, ini terlalu besar.” Setelah berkata demikian, Mandor Bacan menghunuskan belatinya dan mengarahkan ke tubuh si gadis. Namun, Belum sempat mengenai pipi si gadis, tiba-tiba ada seseorang yang menangkis sehingga belati itu terpental jauh. Mandor Bacan kaget dan menatap sosok orang tersebut.
http://baringinsakti-indo.blogspot.com

Bacaan Ringan "BANG SABENI - JAWARA DARI KEBON PALA TANAH ABANG"

http://massandry.blogspot.com
Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala Tanah Abang dari orang tua bernama Channam dan Piyah. Nama Sabeni melejit setelah berhasil mengalahkan salah satu Jagoan daerah kemayoran yang berjuluk Macan Kemayoran ketika hendak melamar puteri si Macan Kemayoran untuk dijadikan isteri. Selain itu Peristiwa-peristiwa lainnya antara lain pertarungan di Princen Park (saat ini disebut Lokasari) dimana Sabeni berhasil mengalahkan Jago Kuntau dari Cina yang sengaja didatangkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih maen pukulan para pemuda Betawi dan yang sangat fenomenal adalah ketika Sabeni dalam usia lebih dari 83 tahun berhasil mengalahkan jago-jago beladiri Yudo dan Karate yang sengaja didatangkan oleh penjajah Jepang untuk bertarung dengan Sabeni di Kebon Sirih Park (sekarang Gedung DKI) pada tahun 1943 atas kemenangannya Sabeni dibebaskan dan diberi hadiah satu dus kaos singlet satu dus Handuk.

Pemerintah kolonial Belanda konon dibuat kerepotan dengan ulah Sabeni. Begitu juga pemerintah Jepang ketika menduduki Batavia. Ulah Sabeni rupanya juga membuat geram
pemerintah Jepang saat pendudukan kala itu.

Sampai usia 84 tahun Sabeni masih mengajar maen pukulan (beliau mengajar hampir keseluruh penjuru jakarta bahkan untuk mendatangi tempat mengajar beliau biasanya berjalan kaki), sampai meninggal dunia dengan tenang dan didampingi oleh murid dan anak-anaknya pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 1945 atau 2 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam usia 85 Tahun, beliau dimakamkan di Jalan Kuburan Lama Tanah Abang.

Sampai saat ini aliran Sabeni dilestarikan oleh anak dan keturunan dari Sabeni dan berpusat di daerah Tanah Abang, salah satunya adalah Bapak M. Ali Sabeni yang merupakan anak ke-7 dari Sabeni yang selain sebagai penerus Silat Sabeni juga seorang tokoh seniman Sambrah Betawi. Bapak M. Ali Sabeni jugalah yang memperjuangkan agar nama Sabeni diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bacaan Ringan "BANG HAJI DARIP - JAWARA DARI KLENDER"

http://massandry.blogspot.com
Jawara asal Klender kelahiran tahun 1900. Haji Darip merupakan putra asli Betawi kelahiran tahun 1886 di Kampung Jatinegara Kaum dari pasangan Haji Kurdin dan Haji Nyai, anak ketiga dari tiga bersaudara. Hanya menempuh pendidikan nonformal belajar ngaji di kampung, di antaranya dari gurunya Haji Gayor di Klender. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat di penjara dan belajar dari temannya. Tahun 1914-1919 ia dikirim orang tuanya untuk belajar agama Islam di Mekah. Pulang dari Mekah, ia menikah dengan gadis pilihan orang tuanya dan dikaruniai seorang anak. Saat anaknya berumur 2 tahun, isterinya meninggal dan tahun 1937 Haji Darip menikah lagi dengan Hajjah Amidah dan dikaruniai 11 orang putera dan puteri.

Menurut legenda, Haji Darip memiliki jimat yang membuatnya kebal peluru dan tahan bacok. Haji Darip juga dianugerahi ‘aji pengasihan’ yang dapat dengan mudah menaklukan penjahat untuk dijadikan anak buah. Selain dikenal sebagai mubaligh, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Bagi warga Betawi dia disebut sebagai jawara sekaligus pahlawan perjuangan. Tapi bagi pemerintah kolonial waktu itu, dia dikenal sebagai bandit. Haji Darip dengan gerombolannyamengusik ketenangan pemerintahan Batavia.

Haji Darip dan gerombolannya mirip kisah Robin Hood. Mereka suka menjarah kompeni, dan kaum bangsawan congkak. Tentu saja hasil jarahan gerombolan Haji Darip akan dibagikan ke warga pribumi Betawi. Daerah kekuasaan H. Darip, dimulai dari Bekasi, Pulogadung, Klender sampai ke Jatinegara. Sepak terjang Haji Darip membuatnya sering dijebloskan ke penjara oleh kompeni.

Haji Darip meninggal 13 Juni 1981. Untuk mengenang jasanya, nama Haji Darip dijadikan nama jalan di daerah Klender menuju Bekasi. Daerah kekuasaan Haji Darip dahulu.

Bacaan Ringan "BANG MUGENI - JAWARA DARI PASAR SENEN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Bang Mugeni  pada awal tahun 1923 menyempatkan diri  bersama istri nya pulang ke kampung halaman nya di Marunda,kepulangan nya  kali ini selain untuk bertemu dengan Ibu kandung nya (tidak di jelaskan namanya) juga untuk bertemu dengan kedua orang guru nya yaitu Kyai H.juned dan H.Moch Rosyid.Setelah beberapa hari disana Bang Mugeni berpamitan untuk balik ke Betawi,saat  pamit dengan guru nya H.Moch Rosyid beliau menitip seorang pemuda yang dulu sudah di kenal nya sebagai adik perguruan yang saat itu baru menjadi murid pemula.

Pemuda tersebut bernama “Ayub” yang saat ini oleh Guru nya H.M Rosyid di anggap telah menamatkan semua pelajaran ilmu yang di turunkan kepadanya dan telah lulus dan tamat. Bang Mugeni di minta oleh gurunya agar Ayub di jadikan tangan kanan nya atau orang kepercayaan nya Bang Mugeni. Dengan takzim Bang Mugeni menerima semua perintah gurunya  dan siap menjalankan semuah amanah yang di inginkan oleh gurunya tersebut.Bertiga mereka kembali keBetawi, setelah mengantar Istrinya keBangka-Kemang. Selanjutnya  Bang  Mugeni membawa pemuda Ayub ke Pasar senen dan hidup serta  tinggal di sana sebagai tangan kanan Bang Mugeni. Dikarenakan Ayub adalah adik perguruan Bang Mugeni sudah tentu mengetahui persis kelemahan atau pengapesan dari Bang Mugeni kakak perguruan nya.

Suatu hari sekitar penghujung Tahun 1923 jadi pada tahun yang sama saat Ayub di bawa ke senen,Bang Mugeni  ada keperluan penting (tidak jelas keperluan nya apa) untuk pergi ke wilayah seberang manggarai lalu mengajak serta Ayub  untuk ikut mendampingi diri nya. Sesampai nya di tepi sungai Ciliwung harus menyeberang dengan Eretan bambu atau  rakit bambu yang di fungsikan secara tetap untuk penyebrangan dan di operasikan oleh pengemudi eretan menggunakan tali baja yang terikat kuat melintang diatas sungai. Bang Geni menaiki rakit tersebut,  Ayub ikut menaiki rakit tersebut dengan mengambil posisi berdiri persis di belakang Bang Geni,saat rakit berada di tengah sungai, secara tiba tiba dan sangat cepat Ayub mencabut Golok nya dan menebaskan golok tersebut ke leher Bang Mugeni dari arah belakang,leher Bang Geni putus, Kepala dan badan nya langsung terpisah saat itu juga dan oleh Ayub kepala dan badan nya tersebut dibuang ke sungai,sehingga  Bang Mugeni tidak ada kuburan nya, sedangkan pengemudi Eretan atau Rakit akan di bunuh pula oleh Ayub namun pengemudi tersebut sempat lebih dulu menceburkan diri kedalam sungai dan menyelam serta muncul kepermukaan sungai dengan jarak yang lumayan jauh lalu melarikan diri dan selamat.

Ayub kembali ke pasar senen memberitakan tewas nya Bang Mugeni akibat penghadangan  sekelompok orang tidak di kenal yang berjumlah banyak,  menyerang Bang Mugeni dan dirinya, dalam pengeroyokan itu dikatakan naas Bang Mugeni tewas seketika dalam pengeroyokan  dan mayat nya di buang ke sungai,dikatakan  Diri nya sendiri (Ayub) juga nyaris tewas  namun untung masih dapat melarikan diri dan lolos walau dengan beberapa luka sayatan.

Tidak percaya begitu saja Beberapa hari kemudian Bang Sadeli Gobang wakil utama Bang Mugeni sejak dulu,bersama satu orang anak buah nya  secara diam diam dan rahasia melakukan penyelidikan  ke Manggarai dan lalu ahirnya bertemu dengan pengemudi Eretan bambu yang ternyata  sebenar nya pengemudi Eretan itu mengenal wajah serta tahu siapa Bang Mugeni sesungguh nya,lalu dia  bercerita pada Bang Sadeli Gobang  bahwa beberapa hari yang lalu terjadi peristiwa berdarah seperti yang sudah di ulas di atas bahkan diri nya pun nyaris di bunuh tapi untung dapat meloloskan diri. Pengemudi itu takut dan harus melapor kepada siapa??

Sadeli Gobang tidak terima kejadian ini segera pulang ke pasar senen memberi tahu kepada semua anak buah nya dan selanjutnya menantang Ayub berduel di belakang pasar pada malam hari di saksikan oleh anak buah nya dan banyak orang lain nya.Dalam pertarungan yang sangat sengit antara hidup dan mati dan tempo pertarungan yang cukup lama,naas bagi Sadeli Gobang  ia harus kalah dalam pertarungan tersebut Melawan ayub,entah pada bacokan Golok yang ke berapa mengenai tubuh nya achir nya Golok Ayub mampu juga  menembus kulit Bang sadeli gobang dan dia tewas langsung  di tempat dengan bersimbah darah.

Anak buah Bang Mugeni  melakukan pengeroyokan kepada Ayub namun memang mereka bukan lah lawan nya Ayub,setelah 3 orang terkapar  entah tewas atau hanya terluka selanjut nya semua anak buah Bang Mugeni menyingkir dari Pasar Senen dan tidak bersedia di pimpin oleh Ayub.Pasar senen dan sekitar nya sekarang resmi di kawal oleh Jawara Ayub dan dia di panggil Bang Ayub, entah dari mana ia dapat merekrut anak buah baru, hanya semakin hari semakin banyak pendukung nya.

Menurut Habib Kadir, ternyata pengapesan dari Bang Mugeni adalah bila dia sedang tidak menginjak tanah  dimana telapak kaki  dengan tanah di batasi antaranya oleh air, dan itu arti nya pengapesan Ayub juga sama dengan Bang Mugeni karena memang mereka adalah satu perguruan.Tewas nya Bang Mugeni membuat Raidi,Imam syafi’ie  beserta 2 adik nya yaitu Sapri dan Supena menjadi anak yatim,saat itu Imam syafi’ie masih berusia 5 tahun.

Bacaan Ringan "BANG MUGENI - JAWARA DARI PASAR SENEN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Bang MUGENI  seorang pemuda santri murid utama dari Kyai H. Juned dan H.Moch Rosyid  yang berasal dari marunda , Bang Mugeni di kenal sebagai Jawara Pasar senen dan sekitar nya meliputi kebon kosong,Tanah tinggi,Bungur,Poncol,Pasar gaplok,Kramat pulo gundul,Paseban,Kwitang. (tidak jelas dan tidak ada keterangan sejak  kapan  Bang Mugeni mulai menjadi jawara senen dan sekitarnya). Masa itu Bang mugeni  sangat di kenal dan sangat di hormati oleh teman teman nya dan sangat diperhitungkan dan di takuti   oleh lawan lawan nya dari kelompok - kelompok  Golongan hitam yang selalu bergerak di malam hari untuk membuat terror perampokan yang kadang di barengi pemerkosaan dan pembakaran rumah yang  di rampok nya demi untuk menghilangkan jejak.

Dalam beberapa peristiwa gangguan keamanan, di ceritakan bahwa pernah terjadi  Bang Mugeni mendapat laporan dari seorang penduduk ada beberapa orang yang terlihat mengendap endap di kebon, Bang Mugeni bersama para anak buah nya langsung menuju lokasi dan benar saja dia  menjumpai gerombolan perampok sudah akan mulai beraksi di sebuah rumah dekat tempat mereka mengendap di kebon sesuai yang di laporkan seorang penduduk tersebut.

Singkat cerita Bang Mugeni dan anak buah merangsek maju dan pecahlah pertarungan  bebas   dengan kelompok gerombolan perampok Umar codet dari wilayah pulo gadung yang memang sedang dalam pencarian polisi belanda KNIL  karena sudah sangat membuat resah penduduk. Bang Mugeni mengenali bahwa itu Umar codet karena ada codet bekas luka yang memanjang  dari bawah alis sampai ke atas jidat dan wajah nya mirip dengan gambar yang di sebar KNIL  di Pasar Senen.

Rupanya tengah malam itu Gerombolan rampok Umar codet akan  melakukan aksi perampokan  pada sebuah rumah keluarga Orang padang di daerah Kebon kosong yang di kenal  sebagai pedagang grosir di Pasar senen yang cukup berada.Saat itu jumlah dari Bang Mugeni Cs dengan  perampok cukup berimbang. Terjadilah pertarungan satu lawan satu antara anak buah Bang Mugeni dengan anak buah  Umar codet sedangkan Bang Mugeni sendiri langsung  berhadapan dengan pemimpin rampok  Umar codet  dan satu anak buah nya. Pertarungan dengan Golok terhunus, masing masing mengeluarkan Ilmu silat kanuragan dan Ilmu kesaktian dalam,  pada saat itu pertarungan berjalan seru dan sangat sengit karena Umar codet bukan lah orang sembarangan yang kosong, dia sebagai kepala Gerombolan rampok tentu ber ilmu tinggi dan di bantu pula oleh seorang anak buah nya yang tentu bukan saja memiliki Ilmu silat tetapi sedikit banyak nya berilmu dalam juga.

Bang Mugeni dengan mengeluarkan segenap  ilmu  silat yang di lambari tenaga dalam dan ilmu Hikmah yang tinggi serta  pilih tanding,  berkat se izin Allah SWT  Pertarungan achir nya  dapat di menangkan oleh Bang Mugeni beserta beberapa anak buah nya,2 orang anak buah bang Mugeni tewas dalam pertarungan tersebut  2 orang lain nya terluka dan dari fihak perampok sebanyak 4 orang tewas, sedangkan Umar codet pimpinan perampok terluka dan sempat melarikan diri bersama  sisa  anak buah nya  menerobos kebon dan menghilang di kegelapan malam. 

Habib Abdul Kadir Alhadad, Bang Mugeni di gambarkan sebagai orang yang ramah dan low profil dan sangat santun,  dalam ke seharian nya Bang Mugeni sangat akrab dengan para pedagang di pasar senen dan akrab pula dengan masyarakat sekitar nya. Bang Mugeni memiliki sohib atau sahabat karib yaitu Habaib muhamad Abdulah kadir al hadad yang di kenal dengan Habib Kadir seorang pemuka agama  islam terkemuka   di  kebon nanas. Selain sahabat karib karena usianya sebaya,  Bang Mugeni juga belajar huruf arab gundul dan  Ilmu Tasyauf  dari ayat suci Alquran yang di bimbing langsung  oleh   Habib Kadir, selain itu antara bang Mugeni dan Habib kadir kerap bertukar Ilmu silat luar maupun ilmu dalam.

Tahun 1915, Bang Mugeni seorang Jawara berlatar belakang santri mendapat jodohnya seorang gadis bernama Aminah yang berasal asli dari Bangka dekat kemang sekarang wilayah Jakarta selatan, kemudian gadis  Aminah dinikahi nya pada tahun itu juga. Selanjutnya dari hasil perkawinan nya itu Thn.1916, lahir buah hati yang pertama seorang bayi  lelaki, anak itu di beri nama RAIDI. Kemudian 2 tahun kemudian yaitu pada Thn 1918,lahir lah buah hati nya yang 2, seorang bayi  laki-laki yang selanjut nya di beri nama IMAM SYAFI”IE.

Pada awal tahun 1921, lahir lagi anak ke 3 seorang bayi laki laki lalu di beri nama SAPRI karena lahir nya pada bulan Sapar dalam kalender arab. Selanjut nya di di penghujung tahun 1922 lahir anak yang ke 4 seorang bayi perempuan yang selanjutnya diberi  nama  SUPENAH (supene,dalam panggilan sleng betawi).

Bacaan Ringan "JAWARA JAWARA DARI TANAH JAWA - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pendekar Golongan Putih kebanyakan tumbuh dari  anak didik para kyai yang memiliki pesantren sekaligus perguruan silat maupun para Haji yang memiliki perguruan silat secara sembunyi –sembunyi yang tujuan utamanya  untuk melakukan perlawanan pada penjajah belanda dengan caranya sendiri-sendiri dan sekaligus menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat  secara di minta maupun tidak di minta,karena ini sudah menjadi naluri Para pendekar.

Jawara Putih banyak berfungsi sebagai keamanan dan pelindung para pedagang di pasar  dan juga sebagai keamanan yang handal dikampung sekitarnya diwilayah tersebut,apabila terjadi gangguan keamanan  seumpama terjadi perampokan di wilayah kekuasaan nya niscaya Jawara akan menjadi sibuk mencari dan mengejar  pelaku nya. Kita bisa  membayangkan Jawara seperti  Ranger atau Sherif  dimasa Amerika tempo dulu, zaman wild wild west dan saat itu belum terbentuk Negara Amerika serikat, di mana hukum belum ter organisasi dengan baik, jadi memang di butuhkan orang – orang yang memiliki keberanian lebih dan jago dalam menggunakan pistol mampu  menembak dengan gerakan  cepat dan  tepat mengenai sasaran.

Kembali kepada Jawara betawi dimasa lalu Jawara pun memiliki wakil dan para pembantu di sebut anak buah seperti Ranger atau sherif memiliki wakil dan para Deputy yang siap membantu. Jawara  bertugas mengamankan pasar dan kampung sekitar dari gangguan keamanan kelompok Jagoan hitam beserta gerombolan nya  yang  akan memeras ,merampok para pedagang dan penduduk masyarat sekitar. Tidak jarang terjadinya pertarungan hidup dan mati antara kelompok jawara putih dan Gerombolan.Sumber pendapatan jawara putih dan para pembantunya berasal dari iuran para pedagang pasar dan masyarakat sekitar yang merasa terlindungi, sedangkan besarnya iuran sesuai dengan kesepakatan bersama tampa paksaan dan setiap orang iuran nya berbeda beda sesuai kemampuan dan bahkan banyak yang di bebaskan dari tanggung jawab iuran karena ketidak mampuan.

Menjadi Jawara bukan lah jabatan formal namun pada masa itu menjadi jawara adalah suatu predikat yang sangat bergengsi dan membanggakan sehingga bukan saja tantangan nya dari Grombolan golongan hitam yang bertindak kriminal tetapi menjadi incaran para pendekar golongan putih yang ingin menggantikan posisi nya sebagai Jawara di wilayah tersebut,namun pengambilan alih kekuasaan nya walau tampa hukum adat tertulis harus  secara  terhormat selaku  Pendekar sejati yang mengutamakan jiwa dan sifat kesatria  yaitu melakukan tantangan dengan surat atau melalui utusan,setelah tantangan diterima dan ditentukan kesepakatan  hari dan tanggal serta  tempat  bertarung lalu pada hari H dan jam D nya. Pertarungan akan berjalan satu lawan satu antara jawara  dengan fihak  pendekar penantang,Pertarungan di saksikan oleh semua anak buah ke dua belah fihak.

Pertarungan dengan tangan kosong atau dengan golok terhunus juga di buat sesuai kesepakatan mereka bersama. Apabila pertarungan di menangkan oleh jawara dan Pendekar penantang kalah dalam keadaan hidup,  Pendekar itu harus pergi dan tidak boleh menginjak daerah itu lagi, tetapi bila kalah dan tewas,  jenasah pendekar penantang tersebut di kembalikan ke daerah asal nya atau di kembalikan sesuai pesan ke dua belah fihak sebelum pertarungan di mulai,atau di bawa pergi oleh anak buah nya.Sebalik nya bila jawara yang di tantang yang kalah akan sama nasib nya harus pergi meninggalkan daerah kekuasaan nya dan seluruh anak buah nya di serah terimakan kepada Jawara baru untuk menjadi para pembantunya menjalankan tugas keamanan rutin di pasar dan kampung sekitar. 

Bila kejadian nya pendekar penantang  adalah seorang Tokoh Jawara dari wilayah lain di Jakarta yang ingin memperluas daerah kekuasaan nya dan menantang Jawara dari wilayah lain,apabila  dia memenangkan pertarungan nya dengan jawara setempat dan jawara setempat  kalah dalam ke adaan hidup  dia akan tetap menjadi jawara di tempat  wilayah kekuasaan nya semula tetapi ada upeti wajib harus di setorkan kepada Jawara pemenang setiap bulan nya dengan jumlah sesuai kesepakatan bersama,bila jawara tersebut kalah tewas selanjutnya wakil dari jawara yang tewas tersebut otomatis menjadi penggantinya dan di bawah Kontrol jawara pemenang  dan terkena setoran upeti/pajak yang besar nya sesuai kesepakatan.

Inilah aturan tidak tertulis di masa itu namun ada pula kejadian – kejadian menggulingkan kekuasan Jawara dengan cara - cara pengecut namun kejadian ini tidak banyak dan tidak populer. Ini adalah gambaran  sosial budaya  masyarakat Jakarta tempo dulu dan mungkin sudah ada jauh sebelum legendaris Pitung berkiprah dan mungkin juga jauh sebelum zaman Jampang jago betawi terlahir kedunia.

Bacaan Ringan "JAWARA JAWARA DARI TANAH JAWA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Sebagai kata pembuka kami ulas terlebih dahulu tentang pemahamam Sosial Budaya Masyarakat Betawi Tempo Dulu, berkaitan dengan keberadaan Jawara di Zaman penjajahan Belanda yang di ceritakan oleh Lettu. Sapri Bin Mugeni kepada penulis pada Februari th.1977.

Pada masa itu kota Jakarta sepenuh nya masih dikuasai oleh Penjajah kolonial belanda,budaya masyarakat betawi  tempo dulu sangat berbeda jauh dengan masyarakat sekarang di era teknologi dan computer.Tempo dulu sebagian besar lelaki muda maupun dewasa akan terselip Golok di pinggang nya minimal pisau guna untuk membela diri dan membela keluarga nya dan sebagian besar anak lelaki betawi belajar mengaji ,belajar tulis latin yang tujuan nya mampu menulis Tafsir Ayat Suci Alquran dan sekaligus belajar  ilmu silat betawi. Pada masa itu  dan masa masa sebelumnya dikenal budaya PENDEKAR dan ini tidak terbatas di Jakarta tetapi  di seluruh tanah jawa karena masa itu keamanan masyarakat belum terjamin dan keamanan belum ter koordinasi seperti sekarang ini.

Dulu masa penjajahan belanda tentu belum ada POLRI yang ada KNIL yaitu polisi belanda  yang jumlah nya terbatas dan sudah pasti praktek di lapangan nya lebih mengutamakan kepentingan – kepentingan pemerintah kolonial Belanda ketimbang problem keamanan di tengah masyarakat, andaikata menyentuh keamanan masyarakat itu  sifat nya belum intensif seperti sekarang ini.

Masa itu persis seperti di komik komik silat ada Pendekar golongan Putih dan ada Pendekar golongan Hitam. Di Betawi (Jakarta tempo dulu) bila ada JAWARA berarti dia adalah Juara dari para Jagoan di wilayah sekitar nya dan dapat di pastikan dari Pendekar golongan putih, kalau di Banten Namanya JARO dan di Tambun,Purwakarta,Cikampek namanya BANG MANDOR. Sedangkan Pendekar dari golongan hitam tidak di sebut Jawara tetapi  Kepala gerombolan atau kepala rampok atau kepala begal atau bila kesaktian nya sudah sangat tinggi, pilih tanding mereka bergerak sendiri tampa anak buah sebagai  perampok Tunggal seperti Mat Item dari Teluk Gong,Mat Ali Item dari Tanjung barat dll.

Saturday, June 30, 2018

Bacaan Ringan "SEJARAH JUGUN IANFU PERBUDAKAN SEKS MILITER JEPANG - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Jugun Ianfu (Budak Seks) pertama adalah orang Korea dari pulau Kyushu Utara di Jepang atas permintaan salah seorang penguasa militer yang dikirimkan oleh Gubernur Prefektur Nagasaki. Dasar pemikiran dibalik pembentukan sistem formal Ianjo adalah pengembangan palayanan seksual. Oleh karena itu perlu diawasi dan dikontrol untuk mengurangi jumlah terjadinya pemerkosaan yang dilaporkan dari tempat-tempat yang menjadi basis militer Jepang.

Dalam proses perekrutan tersebut tidak hanya melibatkan militer tetapi juga Departemen Dalam Negeri yang membawahi para Gubernur dan polisi yang kemudian memainkan peranan dalam kerjasama dengan pihak militer untuk merekrut. Cabang khusus Shanghai menggunakan penghubung-penghubung di kalangan pedagang . 

Untuk memperoleh perempuan sebanyak-banyaknya untuk melayani kebutuhan seksual miter pada akhir 1937 para perempuan yang dipaksa bekerja di Ianjo-Ianjo yang terletak diantara wilayah Shanghai dan Nanking dikelola langsung oleh militer Jepang. Ianjo ini menjadi model bagi Ianjo-Ianjo selanjutnya. Oleh karena pembangunan Ianjo terus mengalami perkembangan pengelolanya tidak selalu menjadi tanggung jawab militer. Sebagian pengelola adalah orang-orang sipil yang diberi pangkat paramiliter. Namun demikian pihak militer tetap bertanggung jawab terhadap transportasi dan pengawasan umum Ianjo-Ianjo tersebut termasuk aspek kesehatan.

Sementara perang terus berlangsung dan jumlah tentara Jepang yang berpangkalan di berbagai daerah Asia Pasifik terus mengalami peningkatan. Oleh sebab itu permintaan Jugun Ianfu untuk militer juga meningkat. Sehingga cara-cara baru untuk mempekerjakan perempuan-perempuan diciptakan. Hal ini menyangkut peningkatan penggunaan cara-cara penipuan dan kekerasan di banyak tempat di kawasan Asia Timur (khususnya Korea yang telah dikolonisasi Jepang tahun 1910). 

3 Jenis rekruitmen dapat diidentifikasikan, antara lain para perempuan yang menyediakan diri mereka secara sukarela (pekerja seks komersial), Tipu daya kepada para perempuan dengan tawaran pekerjaan dengan upah tinggi di restoran sebagai tukang masak/tukang cuci dan penculikan disertai tindak kekerasan perempuan secara kejam di sejumlah negara di Asia Pasifik dibawah kekuasaan Jepang.

Dengan diperkuatnya Undang-undang Mobilisasi Umum Nasional oleh pemerintah Jepang yang dikeluarkan tahun 1932, namun belum sepenuhnya dilaksanakan sampai dengan tahun-tahun mendekati berakhirnya perang. Dengan mendesaknya kebutuhan perang atas sumber daya manusia baik perempuan dan laki-laki dipanggil untuk menyumbangkan tenaga bagi usaha perang. Sehubungan dengan hal ini sahabat anehdidunia.blogspot.com maka Korps Pelayanan Sosial Perempuan didirikan sebagai dalih mengumpulkan perempuan untuk bekerja di pabrik atau melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan perang untuk membantu militer Jepang.

Lokasi Ianjo tampaknya mengikuti arah perang berlangsung. Ianjo-Ianjo dapat ditemukan dimanapun tentara Jepang berada. Ianjo-Ianjo dikenal juga melalui berbagai sumber di Cina, Taiwan, Indonesia, Filipina, Kepulauan Pasifik, Singapura, Malaysia, Myanmar dan Indonesia. Militer Jepang dengan cermat secara detil sistem prostitusi. Peraturan dalam pengoperasian Ianjo di berbagai wilayah taklukan militer Jepang di Asia Pasifik memiliki kesamaan sistem seperti harga yang ditetapkan untuk masuk ke Ianjo, pembelian tiket masuk ke Ianjo, jam berkunjung, kontrol kesehatan yang ketat terhadap para Jugun Ianfu agar terhindar penyakit menular seksual, pemberian kondom kepada setiap pengunjung yang masuk ke Ianjo, larangan menggunakan senjata dan penggunakaan alkohol di lingkungan Ianjo.

Meski telah diberlakukan kontrol kesehatan terhadap para militer Jepang yang menggunakan fasilitas Ianjo, namun banyak dari mereka menolak menggunakan kondom. Sehingga dampak buruk kesehatan seperti terkena penyakit kelamin atau terjadi kehamilan yang tidak diinginkan menimpa para Jugun Ianfu di berbagai lokasi Ianjo di seluruh kawasan Asia Pasifik. Beberapa temuan memorabilia sebagai bukti bahwa Ianjo dikelola dengan menajemen yang rapi oleh militer.

Meski di berbagai wilayah Asia Pasifik telah musnah bangunan Ianjo, namun di Shanghai masih ditemukan utuh bangunan Ianjo pertama di dunia yang dibangun dan dikelola dibawah kontrol militer Jepang. Ianjo pertama dibangun tahun 1932. Seorang ahli sejarahwan Cina Prof. Su Zhiliang melakukan penelitian selama 15 tahun mengenai lokasi Ianjo di Cina. Sekitar 149 Ianjo di temukan menyebar di 20 provensi di Cina. Di bawah ini merupakan temuan memorabilia sangat penting. Daiich Saloon berada di Shanghai. Hingga saat ini Daiich Saloon masih ada meski dibeberapa bagian bangunan telah berubah. Tetapi usaha pelestarian dan restorasi telah dimulai di Cina terhadap Ianjo-Ianjo yang di temukan Prof. Su Zhiliang. 

Di sejumlah negara masih ditemukan bangunan Ianjo seperti di Filipina, Taiwan, Malaysia, Singapura dan Myanmar, Timor Leste. Dengan ditemukan berbagai bukti sejarah tersebut pendapat yang menyatakan bahwa praktek Jugun Ianfu Perang Asia Pasifik sebuah ketidak sengajaan dalam situasi perang dapat dihancurkan leburkan. Juga sama sekali tidak benar apa yang menimpa 400.000 perempuan (Korea Selatan, Korea utara, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia, Timor Leste dan Belanda) yang diperkosa secara sistematis selama invasi militer Jepang di kawasan Asia Pasifik adalah sebuah kemauan sukarela.

Bacaan Ringan "SEJARAH JUGUN IANFU PERBUDAKAN SEKS MILITER JEPANG - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Praktek dari perintah ini prajurit Jepang mulai membunuhi orang-orang Cina tanpa membedakan kelompok dari sipil atau militer. Pembunuhan keji yang dilakukan tanpa strategi mengakibatkan banyak prajurit Jepang rusak mentalnya dan menjadi gila. Para prajurit Jepang itu bukan hanya melakukan pembunuhan masal, mereka juga mulai melakukan perkosaan secara brutal semua perempuan Cina yang terlihat di jalan-jalan

Akibatnya sebagian besar personel militer Jepang mengalami penyakit kelamin akibat melakukan perkosaan brutal terhadap perempuan-perempuan Cina. Hal ini mengakibatkan kekuatan militer Jepang di Cina melemah. Situasi ini membuat khawatir para petinggi militer di Tokyo. Sehingga mengirim seorang dokter yang bernama Aso Tetsuo untuk menyelidiki penyebab melemahnya kekuatan militer di Cina.

Tak lama setelah penyelidikan berlangsung Aso Tetsuo mengeluarkan rekomendasi untuk markas militer Jepang segera membangun fasilitas prostitusi khusus personel militer yang dikontrol langsung pihak militer. Peristiwa bersejarah ini tertuang dalam buku yang berjudul Karyubyo no Sekkyokuteki Yobaho (Positive Precautinary Measure of Sexual Disease) tahun 1939. Aso Tetsuo mengungkapkan peristiwa tersebut dalam tulisannya yang berjudul Shanghai kara Shanghai he (Shanghai to Shanghai). 

Prototipe Ianjo Pertama di Dunia
Pembentukan Ianjo (rumah bordil militer Jepang) yang menyediakan jasa pelayanan seksual bagi tentara dan sipil Jepang dimulai sejak tahun 1932, setelah terjadi kekejaman luar biasa militer Jepang terhadap rakyat Cina di Shanghai. Hampir 1 dekade sebelum penggunaan istilah Jugun Ianfu meluas dan menjadi gejala umum di semua daerah yang dikuasai Jepang di Asia Pasifik menjelang berakhirnya Perang Dunia ke II.

Penguasa Jepang terpaksa harus mempertimbangkan kedisiplinan dan moral militer. Rencana pusat hiburan yang pertama kali diperkenalkan tahun 1932 dibawah pengawasan militer Jepang. Hal ini sahabat anehdidunia.blogspot.com dapat dibuktikan dengan adanya tulisan tangan salah satu komandan kampanye Shanghai Letnan Jenderal Okamura Yasuji, yang mengakui dalam buku hariannya bahwa ia menjadi pembuat usulan pertama kali Ianjo untuk militer

Bacaan Ringan "SEJARAH JUGUN IANFU PERBUDAKAN SEKS MILITER JEPANG - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Konflik perang mulai di Asia beberapa tahun sebelum pertikaian dimulai di Eropa, setelah Jepang menginvasi Cina tahun 1931 jauh sebelum Perang Dunia II mulai di Eropa tanggal 1 September 1939-14 Agustus 1945. Tanggal 1 Maret 1931 Jepang menunjuk Henry Pu Yi menjadi raja di Manchukuo, Negara boneka di Manchuria. Pada tahun 1937 perang telah dimulai saat Jepang mengambil paksa Cina.

Tahun 1936 militer Jepang yang telah menduduki kota Shanghai mulai melaju menuju kota Nanjing yang berjarak sekitar 360 km dari Shanghai. Balatentara Jepang yang berada disana seluruhnya berjumlah sekitar 135.000 personil militer. 

Oleh karena terus menerus melakukan peperangan prajurit Jepang mulai kehabisan persediaan makanan. Menyadari situasi ini markas besar militer Jepang membuat strategi baru dengan cara mencari makanan dari musuh. Ini artinya prajurit Jepang harus mulai menjarahi rumah-rumah penduduk untuk memperoleh makanan sebagai upaya bertahan hidup.

Tindakan militer Jepang ini sahabat anehdidunia.blogspot.com, memicu kemarahan rakyat Cina, dalam keadaan terjepit rakyat Cina mulai melawan dengan memakai cara apa saja. Tindakan orang Cina ini tentu saja menimbulkan masalah baru bagi militer Jepang yang sedang melakukan upaya kolonialisasi. Akibatnya militer Jepang mengeluarkan perintah, “Bunuh orang Cina yang terlihat di depanmu!”

Saat ini masih banyak orang berfikir bahwa dalam situasi perang segalanya dapat terjadi secara mendadak tanpa terencana. Termasuk peristiwa pahit yang menimpa ratusa ribu perempuan Asia dan Belada dalam praktek sistem perbudakan seksual dengan nama Jugun Ianfu. Benarkan praktek Jugun Ianfu sebuah peristiwa yang tidak terencana dalam situasi perang Asia Pasifik? Benarkan Jugun Ianfu sebuah profesi prostitusi yang menerima upah atas jasa layanan seksual kepada militer Jepang.

Bacaan Perang "SEJARAH PEMBANTAIAN MASSAL RAKYAT BANDA 1608 - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pada 1617 Heeren Zeventien menunjuk Jan Pieterzoon Coen sebagai Gubernur Jenderal. Setelah mendirikan markas besar VOC di Batavia, Coen ingin merealisasikan monopoli pembelian pala di Banda. Sebelumnya Belanda tak mampu melakukannya karena harga jual pala mereka lebih mahal ketimbang Inggris, bahkan penduduk lokal. Coen beranggapan monopoli pala baru bisa dilakukan hanya dengan mengusir dan melenyapkan penduduk asli Banda.

Pada 1621, Coen memimpin sendiri pendudukan Pulau Banda. Berangkatlah armada berkekuatan 13 kapal besar, sejumlah kapal pengintai, dan 40 jungku dan sekoci. Ia membawa 1.600 orang Belanda, 300 narapidana Jawa, 100 samurai Jepang, serta sejumlah bekas budak belian. Begitu sampai di Benteng Nassau, Coen dan pasukannya menyerang Pulau Lontor dan berhasil menguasai seluruh pulau. Desa Selamon dijadikan markas besar. Balai desanya jadi kantor Gubernur Banda Kapten Martin ‘t Sonck. Masjid di sebelah balai jadi penginapan pasukan, meski Orangkaya Jareng dari Selamon keberatan.

Pada suatu malam, lampu gantung dalam masjid terjatuh. Mengira akan ada serangan, t’Sonck menuduh penduduk Lontor. Malam itu juga, t’Sonck mengerahkan tentaranya untuk mengejar penduduk yang melarikan diri ke hutan dan puncak gunung. Penduduk yang ditemukan, dibunuh. Rumah dan perahu dibakar atau dihancurkan. Mereka yang berhasil lari, sekitar 300 orang, mencari perlindungan pada Inggris atau ke Pulau Kei dan Aru. Tak kurang dari 2.500 orang meninggal, karena ditembak, dianiaya, atau kelaparan. Dari 14.000 orang rakyat Banda, jumlah penduduk asli kepulauan Banda tinggal 480 orang setelah peristiwa pembantaian itu.

Mereka juga menangkap para Orangkaya dengan tuduhan sebagai pemicu kerusuhan. Delapan Orangkaya paling berpengaruh dimasukkan ke dalam kurungan bambu yang dibangun di luar Benteng Nassau. Enam algojo Jepang lalu masuk dan memotong tubuh mereka menjadi empat bagian. Setelah itu algojo memenggal kepala 36 Orangkaya lainnya dan memotong badan mereka. Potongan kepala dan badan ditancapkan pada ujung bambu untuk dipertontonkan kepada masyarakat. Pembantaian 44 Orangkaya itu terjadi pada 8 Mei 1621. 

Setelah kepulauan Banda kosong dari penduduk asli, Coen mendatangkan orang dari berbagai bangsa untuk bekerja di pulau ini. Umumnya berasal dari Makassar, Bugis, Melayu, Jawa, Cina, sebagian Portugis, Maluku dan Buton. VOC memberikan hak pakai kebun-kebun pala kepada bekas tentara dan pegawai VOC. Buruh kebun adalah budak yang didatangkan dari berbagai penjuru tanah air. Hasilnya dijual kepada VOC.

Di lokasi pembantaian itu kini berdiri Monumen Parigi Rante. Nama 40 pejuang dan Orangkaya Banda terukir di sana bersama sederet tokoh pejuang Indonesia yang pernah dibuang ke Banda seperti Tjipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, Hatta, dan Sjahrir.


Sumber : Majalah Historia, edisi Agustus.

Bacaan Perang "SEJARAH PEMBANTAIAN MASSAL RAKYAT BANDA 1608 - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
[Sejarah] Pembantaian Masal Rakyat Banda Oleh VOC
PADA 8 April 1608, Laksmana Pieterszoon Verhoeven, bersama 13 kapal ekspedisi tiba di Banda Naira. Perintah Heeren Zeventien, para direktur VOC di Amsterdam, sebagaimana ditulis Frederik W.S., Geschiedenis van Nederlandsch Indie, kepada Laksamana Pieterszoon Verhoeven: "Kami mengarahkan perhatian Anda khususnya kepada pulau-pulau di mana tumbuh cengkeh dan pala, dan kami memerintahkan Anda untuk memenangi pulau-pulau itu untuk VOC, baik dengan cara perundingan maupun kekerasan."

Sejak lama Banda dikenal sebagai penghasil utama pala (Myristica fragrans). Bunganya yang dikeringkan disebut “fuli”. Bunga ini membungkus daging buah pala. Sejak dulu pala dan fuli dimanfaatkan untuk rempah-rempah, yang mengundang bangsa Eropa untuk datang.

Sesampai di Banda, Verhoeven mendapati Inggris di bawah pimpinan Kapten William Keeling telah berdagang dengan rakyat Banda dan pedagang Belanda. Ia tak senang. Apalagi rakyat Banda tak mau berunding dengannya. Ia pun menuju ke Pulau Naira beserta sekitar 300 orang prajurit untuk membangun Benteng Nassau, di bekas benteng yang pernah dibangun Portugis. 

Melihat pembangunan benteng itu, para Orangkaya Banda–pemuka rakyat atau orang yang disegani– mau berunding tapi dengan syarat ada jaminan sandera. Verhoeven setuju, dan menunjuk dua pedagang bernama Jan de Molre dan Nicolaas de Visscher. Lalu Verhoeven berangkat ke tempat perundingan bersama dewan kapten, para pedagang, pasukan bersenjata lengkap, dan tawanan Inggris sebagai hadiah. Sesampainya di tempat perundingan, di bawah sebatang pohon di dekat pantai bagian Timur Pulau Naira, mereka tak menemukan para Orangkaya.

Verhoeven mengutus penerjemah Adriaan Ilsevier untuk mencari para Orangkaya. Di hutan kecil yang sekarang menjadi masjid Kampung Baru, Ilsevier menemukan para Orangkaya. Mereka ketakutan melihat pasukan bersenjata lengkap, sehingga meminta Verhoeven datang hanya ditemani beberapa orang. Verhoeven pun menemui para Orangkaya di tempat yang sekarang disebut Kampung Verhoeven. Ternyata ini jebakan. Verhoeven beserta saudagar tinggi Jacob van Groenwegen dan 26 orang Belanda lainnya dibunuh. Jan Pieterszoon Coen, juru tulis Verhoeven, menyaksikan kejadian tersebut. 

Sepeninggal Verhoeven, Laksamana Simon Janszoon Coen menjadi pemimpin baru. Ia menyelesaikan pembangunan Benteng Nassau.

Bacaan Perang "JALAN PANJANG KISAHPEMBANTAIAN RAWAGEDE 1947 - PART 2"

http://massandry.blogspot.com

Pengacara sekaliber Liesbeth Zegveld pun turun tangan untuk membela korban peristiwa Rawagede.

SUDAH sejak 1969, berbagai kasus kejahatan perang tentara kolonial Belanda, termasuk peristiwa Rawagede diangkat ke media, menjadi perdebatan publik bahkan berkali-kali menjadi tekanan buat pemerintah Belanda. Semuanya kandas. Tak satu pun dibawa ke meja hijau. Namun kini, 65 tahun setelah peristiwa berlangsung, penyintas (survivor) peristiwa Rawagede memenangkan gugatannya.

Pada 8 November 2010 Saih bin Sakam datang ke Belanda, ingin bertemu Ratu Beatrix, namun ditolak. Tapi kesaksian Saih dianggap hidup, segar, kuat dan sarat bukti kesaksian, termasuk bekas tembakan di kakinya. Kini Saih telah tiada. Dia wafat pada 7 Mei lalu dan tak sempat lagi mendengar kabar baik kemenangan ini.

Inilah apa yang disebut onrechtmatig handelen, suatu eksekusi sebagai kenyataan yang polos dan telanjang. Vonis majelis hakim yang diucapkan Pengadilan Sipil Den Haag Rabu (14/9) kemarin bagai petir di siang bolong setelah selama enam dekade kasus Rawagede terpendam di bawah karpet di tengah pergolakan sejarah mulai kemerdekaan, kemudian pemulihan hubungan dan persahabatan Belanda-Indonesia.

Lihat saja perjalanan kasusnya. Sebulan setelah peristiwa Rawagede 9 Desember 1947 terjadi pihak Republik Indonesia melaporkan kejadian itu kepada Komisi Jasa Baik untuk persoalan Indonesia (Committee of Good Offices on the Indonesian Question). Tak ada tindak lanjut kecuali satu pernyataan dari Dewan Keamanan PBB ke Indonesia tertanggal 12 Januari 1948 yang menyebutkan aksi brutal tentara Belanda di Rawagede sebagai “deliberate and ruthless” (dilakukan dengan sengaja dan keji). Baru pada 22 Juli 1948, Letjen. S.H. Spoor, komandan tentara Belanda di Indonesia menulis ke Kejaksaan di Jakarta tentang insiden tersebut. “Saya sangat kerepotan, secara hukum orang itu (pelaku eksekusi) dapat dituntut di Krijgsraad (Dewan Pengadilan Perang)”, tapi katanya pula “kalangan di Krijgsraad itu cenderung ‘lebih baik tidak usah mendakwanya’”. (Surat Spoor kepada Jaksa H.W. Felderhof)

Spoor mengakui terjadi eksekusi di luar hukum, tapi dia bimbang. Kalau mengajukan dakwaan kepada si pelaku, “situasinya bisa lebih gawat,” katanya. Menjawab surat Spoor, Jaksa Felderhof menganjurkan, “Deponir saja kasusnya”. Sikap mendua dan kebimbangan, dengan alasan yang tak jelas itulah yang membuat kasus kekejaman tentara Belanda diam-diam lenyap tak berbekas.

Tiga dekade berlalu, pada 1969, seorang bekas prajurit KNIL angkat suara. Kisah-kisah yang diungkap oleh teman-teman dan dirinya sendiri menjadi perdebatan publik pertama di Belanda tentang kejahatan tentara kolonial. Pemerintah sayap kiri dibawah kepemimpinan Joop Den Uyl (PvdA) bersikap defensif. Jawab Den Haag yang termasyhur dengan sebutan “Excessennota” menerima laporan Tim PBB tadi dan menyebut “150 orang Indonesia tewas, di kampung (Rawagede) itu tak ditemukan senjata dan di pihak Belanda tak ada korban luka mau pun tewas.” Jadi kejahatan perang yang terjadi dianggap tindakan yang berlebihan dari suatu tindak perang. Pantas nota pemerintah pun menyebut diri “Nota Ekses”.

Anehnya, nota pemerintah itu melanjutkan saran Spoor dan menyimpulkan “si mayor yang memimpin satuan eksekutor penduduk Rawagede tersebut diputuskan tidak didakwa”.

Pengganti Den Uyl, Perdana Menteri J.P. de Jong (Partai Katolik), melangkah lebih jauh lagi: “Sebagian terbesar kasus-kasus, kebanyakan yang tergawat, tidak mungkin lagi dipidanakan.” Silat lidahnya begini: “Bukan keseriusan delik itu yang menentukan, (tapi) delik-delik yang serius itu sendiri sudah kadaluwarsa sehingga tidak memungkinkan proses yang adil”.

Hakim rupanya mengutip data di atas dan menghimpunnya dengan teliti sebagai senjata untuk menilai gugatan para janda Rawagede yang diajukan ke meja hijau sejak 2008. Tapi sebelumnya sejumlah siaran televisi Belanda sudah mulai menayangkan dokumenter mengenai kasus Rawagede. Maka pada 1995 PM Wim Kok (PvdA) berjanji menyelidikinya. Menurut kabinet Kok dalam suratnya 5 September 1995 kepada Parlemen, “dokumenter itu tidak memberi titik terang baru atas fakta-fakta yang telah diketahui”. Dengan kata lain, kasus Rawagede tidak disangkal, namun prosesnya tetap jalan di tempat.

Hakim juga menyoroti “De Stichting” (yayasan-red), maksudnya Stichting Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), sebuah yayasan yang dipimpin Jeffry M. Pondaag, berkedudukan di Heemskerk, Belanda yang mengangkat kasus Rawagede sejak 2008. Pondaag, pemuda asal Sulawesi ini, getol berkampanye dengan berbahasa Belanda yang lincah dan ramah. Hakim mengakui KUKB memang mewakili kepentingan warga sipil Indonesia yang menjadi korban kekerasan di masa kolonial. KUKB menuntut pemerintah Belanda mengakui mereka sebagai korban yang menanggung kerugian akibat perang dan memerlukan pemulihan secara hukum.

Tak tanggung-tanggung, KUKB memilih kantor advokat Böhler yang tenar dan pengacara Prof. Dr. Liesbeth Zegveld sebagai pengacaranya. Liesbeth adalah pakar hukum spesialis korban kejahatan perang dan mengantongi cum laude untuk disertasinya. Perempuan berusia 41 tahun itu berpengalaman menangani kasus Srebrenica (1993), Kenya, Palestina dan membela kasus-kasus lingkungan hidup. Sejak Liesbeth menjadi pengacara KUKB, gugatan kepada Belanda semakin menemukan jalan terang.


Aboeprijadi Santoso, Amsterdam.

Bacaan Perang "JALAN PANJANG KISAHPEMBANTAIAN RAWAGEDE 1947 - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
KAPTEN Lukas Kustarjo alias “Begundal Karawang” kepalanya dihargai 10 ribu gulden oleh Belanda. Kustarjo dan pasukannya yang dicari-cari Belanda itu menjadikan Desa Rawagede (sekarang Desa Balongsari Kecamatan Rawamerta) sebagai basis gerilya. Seperti gaya hit and run, dari desa itu dia menyusup ke kota Karawang di malam hari untuk melakukan penyergapan pasukan Belanda dan langsung menghilang usai menjalankan aksinya. Entah berapa banyak pos Belanda yang diserang olehnya, yang pasti membuat Belanda geram dan bernafsu menangkapnya: hidup atau mati.

“Desa Rawagede sangat strategis,” tulis Her Suganda dalam Rengasdengklok, Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945. Desa Rawagede berada di tengah segi tiga konsentrasi tentara Belanda yang bermarkas di Karawang, Cikampek, dan Rengasdengklok. Sejak lama, tentara Belanda mengincar desa tersebut karena pusat pemerintahan kecamatan yang dipimpin oleh Camat Ili Wangsadidjaja itu menjadi markas gabungan pejuang Republikein seperti Satuan Pemberontakan 88 (SP 88) dan sisa-sisa Tentara Republik Indonesai (TRI) yang tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah.

“SP 88 memusatkan diri untuk perang psikologis atau perang pemikiran,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949. Intimidasi adalah modal utama psywar dan SP 88 menyebarkan poster-poster: “Barang siapa berani bekerja untuk Belanda adalah pengkhianat. Semua pengkhianat harus dibunuh. Barang siapa menjadi kakitangan NICA dan lurah-lurah serta wakil pilihan NICA harus dibunuh, demikian juga putra Indonesia yang bertugas dalam ketentaraan dan kepolisian Belanda. Macan Jakarta, Sapu Dunia, alias Halilintar.”

Lukas Kustarjo lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 1920. Dia kemudian masuk Pembela Tanah Air (Peta) pada masa pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan bergabung dengan Brigade III/Kian Santang Purwakarta pimpinan Letkol Sidik Brotoatmodjo. Brigade ini terdiri dari empat batalyon menguasai wilayah Purwakarta dan Karawang. Lukas Kustarjo menjadi komandan kompi Batalyon I Sudarsono/kompi Siliwangi –kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi– yang berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda.

Karawang jadi tempat pelarian para pejuang dari Jakarta yang terdesak oleh Operasi Sergap Sekutu yang dilancarkan sejak 27 Desember 1945. Menurut Cribb, Sekutu memasang barikade di sekeliling kota, menempati bangunan-bangunan publik yang krusial, merampas semua mobil yang dimiliki penduduk sipil, menahan kepolisian Indonesia dan orang-orang Indonesia lain yang dianggap ekstrimis. Pada akhir 1945, sebanyak 743 orang dijebloskan ke penjara dan Jakarta sepenuhnya dalam cengkeraman Sekutu.

Pagi Selasa 9 Desember 1947, tanah becek karena hujan deras semalaman tidak hanya membawa berkah karena musim tanam padi rendeng dimulai tapi juga menjadi pertanda peristiwa berdarah. Penduduk Desa Rawagede dikejutkan oleh rentetan senjata tentara Belanda dari detasemen 3-9 RI, pasukan para (1e para compagnie) dan 12 Genie veld compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan para dan DST (Depot Speciaale Troepen), dipimpin oleh Mayor Alphons J.H. Wijnen. Desa Rawagede dikepung dari arah timur, utara, dan selatan; sebelah barat berbatasan dengan kali Rawagede terlambat diblokir. Setiap rumah didatangi dan pintunya digedor. Warga desa ditanya: “Di mana Lukas Kustarjo?”

Lukas Kustarjo lolos dari maut. Sehari sebelum pembantaian terjadi, dia sempat bermalam di Desa Pasirawi, tetangga Desa Rawagede. Namun nasib malang menghampiri warga desa Rawagede. Gagal temukan Lukas, tentara Belanda mengumpulkan warga desa dalam kelompok kecil antara 10-30 orang. Di bawah todongan moncong bedil, mereka dipaksa untuk mengatakan posisi Lukas Kustarjo. Tapi tak seorang pun membuka mulut. Hilang kesabaran, tentara Belanda pun membantai habis mereka.

Salah seorang korban selamat, Saih bin Sakam menuturkan kisahnya kepada Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB). Saat kejadian, dia bersama ayah dan tetangganya, sekitar duapuluh orang laki-laki diperintahkan berdiri berjejer lalu diberondong senapan. Saih kena tembakan di tangan, menjatuhkan diri pura-pura mati. Ketika tentara Belanda pergi, dia melarikan diri.

“Kami semua dibantai,” kata Surya, seorang saksi hidup lainnya seperti dikutip Her Suganda. Surya berhasil melarikan diri dengan sebutir peluru bersarang di pinggulnya. Karena ingin selamat, dia mengabaikan rasa sakit dan terus berlari. Untuk membuktikan kebenciannya kepada Belanda, namanya ditambahi Suhanda, akronim dari Surya “musuh Belanda”.

Berapa korban pembantaian Rawagede? Beberapa sumber menyebut angka berbeda. Menurut laporan setebal 201 halaman yang dibuat sejarawan Belanda, Jan Bank di bawah supervisi komisi antardepartemen Pertahanan, Dalam Negeri, Kehakiman, Luar Negeri, Pendidikan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, berjudul De Excessennota (1995), tentara Belanda mengeksekusi sekitar 20 orang. Dan jumlah korban tewas selama operasi berlangsung 150 jiwa. Sementara pada peringatan di Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga, jumlah korban tewas sebanyak 431 jiwa.

Harm Scholtens, seorang sejarawan Belanda menemukan angka lain dari arsip het Hooggerechtshof (Pengadilan Tinggi) di Batavia, yaitu antara 100 hingga 120 jiwa. Tentara Belanda mengeksekusi sebanyak delapan atau sembilan kali dengan cara membariskan sejajar penduduk yang akan dieksekusi. Setiap jejeran terdiri dari duabelas orang. Di luar desa, mereka juga masih menembak mati sekitar tujuh atau sepuluh orang penduduk.

“Arsip dokumen tersebut juga memuat informasi bahwa komandan kompi tentara Belanda tidak lupa menekankan, agar jangan mengeksekusi orang yang tidak bersalah, semua orang yang dieksekusi berambut panjang dan telapak tangan serta kaki mereka tidak kapalan. Selain itu, mereka membawa surat-surat yang bersangkut-paut dengan Hizbullah atau organisasi semacamnya,” tulis Radio Nederland Wereldomroep, 8 September 2011.

Menurut sumber koran Berita Indonesia yang dikutip Nieuwsgier, 16 Desember 1947, menyebutkan bahwa korban operasi Belanda selama empat hari itu sebanyak 312 orang dan melukai sekitar 200 orang. Sejak lima tahun terakhir keluarga korban peristiwa Rawagede gigih menuntut Belanda. 


Credit to Hendri F Isnaeni 

Bacaan Perang "SEJARAH PEMBANTAIAN RAWAGEDE 1947 - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Kejahatan perang
Pimpinan Republik kemudian mengadukan peristiwa pembantaian ini kepada Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Jasa Baik untuk Indonesia) dari PBB. Namun tindakan Komisi ini hanya sebatas pada kritik terhadap aksi militer tersebut yang mereka sebut sebagai “deliberate and ruthless”, tanpa ada sanksi yang tegas atas pelanggaran HAM, apalagi untuk memandang pembantaian rakyat yang tak bedosa sebagai kejahatan perang (war crimes).

Tahun 1969 atas desakan Parlemen Belanda, Pemerintah Belanda membentuk tim untuk meneliti kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan oleh tentara tentara kerajaan Belanda (KL, Koninklijke Landmacht dan KNIL, Koninklijke Nederlands-Indische Leger) antara tahun 1945 – 1950. Hasil penelitian disusun dalam laporan berjudul “Nota betreffende het archievenonderzoek naar gegevens omtrent excessen in Indonesiė begaan door Nederlandse militairen in de periode 1945-1950”, disingkat menjadi De Excessennota. Laporan resmi ini disampaikan oleh Perdana Menteri de Jong pada 2 Juni 1969. Pada bulan Januari 1995 laporan tersebut diterbitkan menjadi buku dengan format besar (A-3) setebal 282 halaman. Di dalamnya terdapat sekitar 140 kasus pelanggaran/ penyimpangan yang dilakukan oleh tentara Belanda. Dalam laporan De Excessen Nota yang hampir 50 tahun setelah agresi militer mereka- tercatat bahwa yang dibantai oleh tentara Belanda di Rawagede hanya sekitar 150 jiwa. Juga dilaporkan, bahwa Mayor yang bertanggungjawab atas pembantaian tersebut, demi kepentingan yang lebih tinggi, tidak dituntut ke pengadilan militer.

Di Belanda sendiri, beberapa kalangan dengan tegas menyebutkan, bahwa yang dilakukan oleh tentara Belanda pada waktu itu adalah kejahatan perang (oorlogs-misdaden) dan hingga sekarang masih tetap menjadi bahan pembicaraan, bahkan film dokumenter mengenai pembantaian di Rawagede ditunjukkan di Australia. Anehnya, di Indonesia sendiri film dokumenter ini belum pernah ditunjukkan.

Pembantaian di Sulawesi Selatan dan di Rawagede serta berbagai pelanggaran HAM berat lain, hanya sebagian kecil bukti kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Belanda, dalam upaya Belanda untuk menjajah kembali bangsa Indonesia, setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun hingga kini, Pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui kemerdekaan RI adalah 17.8.1945. Pemerintah Belanda tetap menyatakan, bahwa pengakuan kemerdekaan RI telah diberikan pada 27 Desember 1949, dan hanya menerima 17.8.1945 secara politis dan moral –de facto- dan tidak secara yuridis –de jure- sebagaimana disampaikan oleh Menlu Belanda Ben Bot di Jakarta pada 16 Agustus 2005.

Pada 15 Desember 2005, Batara R. Hutagalung, Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda dan Laksamana Pertama TNI (Purn.) Mulyo Wibisono, Ketua Dewan Penasihat KUKB bersama aktifis KUKB di Belanda diterima oleh Bert Koenders, juru bicara Fraksi Partij van de Arbeit (PvdA) di gedung parlemen Belanda di Den Haag.

KUKB menyampaikan petisi yang ditujukan kepada Pemerintah Belanda. Selain itu, KUKB juga mewakili para janda korban pembantaian di Rawagede untuk menyampaikan tuntutan para janda dan keluarga korban pembantaian atas kompensasi dari Pemerintah Belanda. Pada 15 Agustus 2006, KUKB bersama beberapa janda dan korban yang selamat dari pembantaian di Rawagede melakukan demonstrasi di depan Kedutaan Belanda di Jakarta, dan menyampaikan lagi tuntutan kepada Pemerintah Belanda.

Parlemen Belanda cukup responsif dan cukup terbuka mengenai pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh tentara Belanda antara 1945 – 1950, walaupun kemudian belum ada sanksi atau tindakan hukum selanjutnya. Juga tidak pernah dibahas, mengenai kompensasi bagi para korban dan keluarga korban yang tewas dalam pembantaian akibat agresi militer, yang baru pada 16.8.2005 diakui oleh Menlu Belanda, bahwa agresi militer tersebut telah menempatkan Belanda pada sisi sejarah yang salah.

Pemerintah Belanda Dinyatakan Bersalah
Tujuh janda korban pembantaian, satu anak perempuan korban, dan seorang lelaki penyintas (survivor) lantas menggugat pemerintah Belanda atas kejadian di tahun 1947 itu. Jaksa pemerintah Belanda berpendapat tuntutan mereka kadaluwarsa.

Namun, pengadilan Den Haag pada 14 September 2011 menyatakan pemerintah Belanda bersalah dan harus bertanggung jawab. Pemerintah Belanda diperintahkan membayar kompensasi bagi korban dan keluarganya.

Bacaan Perang "SEJARAH PEMBANTAIAN RAWAGEDE 1947 - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian penduduk Kampung Rawagede (sekarang terletak di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang), di antara Karawang dan Bekasi, oleh tentara Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama. Sejumlah 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini.

Ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang. Pertempuran kemudian berkobar di daerah antara Karawang dan Bekasi, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dari kalangan sipil. Pada tanggal 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan pembersihan. Dalam peristiwa ini 35 orang penduduk Rawagede dibunuh tanpa alasan jelas. Peristiwa inilah yang menjadi inspirasi dari sajak terkenal Chairil Anwar berjudul Antara Karawang dan Bekasi.

Jalannya peristiwa
Di Jawa Barat, sebelum Perjanjian Renville ditandatangani, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember melancarkan pembersihan unit pasukan TNI dan laskar-laskar Indonesia yang masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Pasukan Belanda yang ikut ambil bagian dalam operasi di daerah Karawang adalah Detasemen 3-9 RI, pasukan para (1e para compagnie) dan 12 Genie veld compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan para dan DST (Depot Speciaale Troepen).

Dalam operasinya di daerah Karawang, tentara Belanda memburu Kapten Lukas Kustario, komandan kompi Siliwangi - kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi - yang berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda. Di wilayah Rawagede juga berkeliaran berbagai laskar, bukan hanya pejuang Indonesia namun juga gerombolan pengacau dan perampok.

Pada 9 Desember 1947, sehari setelah perundingan Renville dimulai, tentara Belanda di bawah pimpinan seorang mayor mengepung Dusun Rawagede dan menggeledah setiap rumah. Namun mereka tidak menemukan sepucuk senjata pun. Mereka kemudian memaksa seluruh penduduk keluar rumah masing-masing dan mengumpulkan di tempat yang lapang. Penduduk laki-laki diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik. Namun tidak satu pun rakyat yang mengatakan tempat persembunyian para pejuang tersebut.

Pemimpin tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja belasan tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan. Saih, kini berusia 83 tahun menuturkan bahwa dia bersama ayah dan para tetangganya sekitar 20 orang jumlahnya disuruh berdiri berjejer. Ketika tentara Belanda memberondong dengan senapan mesin –istilah penduduk setempat: "didredet"- ayahnya yang berdiri di sampingnya tewas kena tembakan, dia juga jatuh kena tembak di tangan, namun dia pura-pura mati. Ketika ada kesempatan, dia segera melarikan diri.

Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede. Tanpa ada pengadilan, tuntutan ataupun pembelaan. Seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede juga melakukan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties), sebuah tindakan yang jelas merupakan kejahatan perang. Diperkirakan korban pembantaian lebih dari 431 jiwa, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.

Hujan yang mengguyur mengakibatkan genangan darah membasahi desa tersebut. Yang tersisa hanya wanita dan anak-anak. Keesokan harinya, setelah tentara Belanda meninggalkan desa tersebut, para wanita menguburkan mayat-mayat dengan peralatan seadanya. Seorang ibu menguburkan suami dan dua orang putranya yang berusia 12 dan 15 tahun. Mereka tidak dapat menggali lubang terlalu dalam, hanya sekitar 50 cm saja. Untuk pemakaman secara Islam, yaitu jenazah ditutup dengan potongan kayu, mereka terpaksa menggunakan daun pintu, dan kemudian diurug tanah seadanya, sehingga bau mayat masih tercium selama berhari-hari.

Bacaan Ringan "SEJARAH KISAH PERBUDAKAN DI BATAVIA - PART 9"

http://massandry.blogspot.com
Gerakan antiperbudakan muncul, 1845, meluas pada sekelompok orang Belanda yang bermukim di Batavia. A.R. van Hoevel, yang pernah bermukim di Jawa misalnya, setibanya di negerinya menulis De Slavernij in Nederlandsch Indie, sebuah buku yang cukup jujur dalam membeberkan kebobrokan bangsanya sendiri dalam hal perbudakan.

Penulis lainnya ialah Willem van Hogendorp, seorang administratur Pulau Onrust: Kecamannya tentang perbudakan antara lain diterbitkan dalam bentuk buku setebal 43 halaman. Judulnya Kraspoekol, of de droevige gevolgen van Eene te Verregaande Strengheid jegen de Slaafen. “Kraspoekol” (yang berasal dari kata “keras” dan “pukul”) adalah akibat mengerikan dari perlakuan yang terlalu kejam terhadap budak-budak.

Seperti juga kisah Rossinna karangan Kommer, Hogendorp menerangkan, kata “kraspoekol” berasal dari kisah sungguhan tentang seorang nyonya yang kemudian dijuluki Nyonya Kraspoekol karena selalu menyiksa budak-budaknya dengan kejam. Dalam kisah Hogendorp Tjampakka, seorang budak perempuannya yang cantik mati karena dihukum bakar. Tapi karena itulah, Nyonya Kraspoekol bersama mandornya juga mati karena keris seorang budak yang lain. Anak Hogendorp, bernama Dirk, kemudian mengubah Kraspoekol dan menulis kembali dalam bentuk sandiwara.

Judulnva disederhanakan: Kraspoekul of Slavernij. Lakon Kraspoekol mendapat sambutan hangat. Para kritikus Belanda kemudian menempatkan Kraspoekol sebagai acuan ide yang mengilhami cerita perbudakan lain Uncle Tom’s Cabin – yang kemudian sangat terkenal.

Di Negeri Belanda, kabarnya, Kraspoekol sama populernya dengan buku Multatuli. Keduanya pada akhir abad ke-19 membangkitkan gerakan politik etis untuk tanah jajahan Belanda, Nederlandsche Indie. Pers cetak di Hindia Belanda pun ikut menempatkan diri sebagai pahlawan. Mereka menolak iklan pelelangan atau penjualan budak, setelah gerakan antiperbudakan mendapat angin. Komisaris jenderal Kerajaan yang menerima penyerahan pemerintahan Inggris atas Pulau Jawa pun tetap melarang perbudakan dan mengeluarkan serangkaian peraturan yang mempersulit kedudukan para pemilik budak, yang sudah diperhalus dengan sebutan lijfeheer.

Tahun 1860, tepat tanggal 1 Januari, perbudakan berakhir di Hindia Belanda, khususnya Batavia. Praktek itu dinyatakan terlarang menurut undang-undang. Bila dilihat lebih luas, tampak gerakan antiperbudakan yang kemudian membuahkan larangan terhadap praktek itu tidak datang dari kesadaran para tuan pegawai VOC. Lebih cocok ia dikatakan akibat meluasnya paham antiperbudakan yang berawal di Eropa dan Amerika.

Gerakan kemanusiaan ini dimotori kaum intelektual yang dikenal sebagai golongan liberal – yang juga membuahkan berbagai pikiran baru di bidang politik dan tata negara. Dengan terbukanya Terusan Suez pada tahun 1869, perjalanan Eropa-lndonesia menjadi lebih cepat. Melalui Tanjung Harapan perjalanan makan waktu tujuh bulan, sedangkan melalui Terusan Suez cuma tiga minggu. Singkatnya perjalanan ini membuat banyak orang Belanda berdatangan ke negeri jajahan yang dikuasai para pedagang VOC. Yang ikut berdatangan, antara lain, mereka dari kelompok liberal itulah. Juga para nyonya dan nona Belanda yang dulunya takut dilahap para pelaut beringas.

Sastrawan Indo terkenal Rob Niuewenhuijs dalam bukunya Over Europeesche Samenleving van “Tempo Doeloe” menyebutkan kedatangan orang-orang Belanda itu sebagai eksodus orang-orang yang ingin mencari keuntungan secara halal, atau ingin berspekulasi mengadu nasib, atau bertualang. Yang pasti, mereka adalah orang-orang yang lebih berpikir, terdidik, dan – katakanlah – berbudaya.

Bila dibandingkan dengan para pedagang VOC yang kemudian jadi penguasa yang datang jauh lebih dulu, umumnya orang-orang nekat – berani berkelana jauh mengarungi samudra. Kelompok nekat ini dikenal sebagai kelompok Kreol petualang yang darahnya sudah kecampuran macam-macam bangsa. Mereka umumnya tak berbudaya dan sulit diterima di kalangan “sopan” Eropa. Bisa dimaklumi kalau mereka cuma kenal “hukum rimba” – siapa kuat, dia berkuasa – dan memanifestasikan kekuasaan dengan pemilikan, termasuk manusia dalam bentuk perbudakan.

Munculnya kelompok “sopan” di Batavia tentunya mengubah total gaya hidup orang-orang Belanda di kota benteng itu. Perbudakan dengan segala manifestasinya segera jadi bahan cemoohan. Iring-iringan budak sebagai pawai kekayaan segera dijuluki rampok partijen atau rombongan garong.

Ejekan itu tak hanya tertuju pada cara pegawai VOC memperlakukan budak, tapi juga sindiran pada sikap korup mereka – semua ‘kan tahu, bagaimana mungkin seorang pegawai bisa punya budak, dan lagi bertatahkan berlian segala. Ejekan kaum liberal sampai ke telinga pemerintah Kerajaan Belanda di Den Haag. Hasilnya: pemerintah pusat itu mengeluarkan peraturan, gubernur jenderal Hindia Belanda tak boleh lagi dari kelompok Kreol yang kampungan itu. Pejabat itu, menurut peraturan yang dikeluarkan tak lama setelah Terusan Suez dibuka, harus datang dari keluarga aristokrat Belanda. Bahkan begitu juga akhirnya pejabat tinggi di bawahnya. Selain itu, gubernur jenderal yang pensiun tidak diperkenankan menetap sebagai blijvers – agar tidak menghimpun kekayaan dengan jalan tak halal.

Tapi apa yang terjadi? Sejumlah gubernur jenderal – yang aristokrat itu – tetap saja korup dan kaya raya. Dan setelah pensiun tak bersedia pulang: lebih suka menjadi “raja kecil” pemilik perkebunan maha luas. Izinnya? “Bisa diatur” – dengan berbagai cara, antara lain menyogok atau kawin dengan anak pejabat tinggi di Negeri Belanda. Sejumlah nama bekas gubernur jenderal yang tercatat sebagai blijvers: Van der Parra, Senn van Bassel, Van Riemsdijk, dan De Klerck.

Dan yang mengejutkan, para aristokrat itu, setelah menetap lama di kawasan jajahan, tiba-tiba “mengkreol” kembali. Bahkan yang mengaku penganut liberalisme masih saja mereka mempraktekkan perbudakan. Kendati mereka sudah meninggalkan kebiasaan pergi ke gereja dengan “rombongan garong”, misalnya, rumah mereka masih saja penuh jongos, babu, dan bon (tukang kebon) yang diperlakukan tak jauh dari budak.

Untuk mendapatkan “TKW” dan “TKI” itu, kendati tak melalui transaksi jual beli resmi, orang harus melibatkan diri dalam praktek calo pencari tenaga kerja yang bermotif semata-mata “untung besar dan mudah” – kendati itu berarti tipuan – dan kemudian beroleh hak memperbudak. Memang, kerakusan adalah impuls manusia yang sulit dijinakkan bila sekali “dibudayakan”.

Munculnya kelompok liberal di Batavia, yang konon antiperbudakan, nyatanya tak mengubah apa pun. Peraturan yang mereka buahkan paling jauh membuat praktek pemerasan berkelit dan makin pintar. Kelompok liberal itu pun barangkali pura-pura saja tidak tahu bukankah mereka sendiri terlibat. Bahkan para sastrawan masa penjajahan, yang mengaku humanis, mencatatnya sebagai kenyataan yang wajar.

Bacaan Ringan "SEJARAH KISAH PERBUDAKAN DI BATAVIA - PART 8"

http://massandry.blogspot.com
Pemilik budak, ternyata, bukan cuma para tuan Eropa. Dalam perkembangan-nya, terdapat pula bekas budak yang menjadi tuan, kaya, kemudian membeli pula budak-budak. Agaknya para bekas budak ini tak belajar dari pengalaman perasaannya, tapi lebih cepat larut pada kebiasaan yang berjalan tradisi perbudakan itulah. Para bekas budak VOC itu dikenal dengan nama mardijkers. Mereka umumnya berasal dari pantai India dan Sri Lanka, khususnya Benggala. Kawasan ini merupakan penyuplai budak cukup tebal, sampai VOC kehilangan kekuasaan di sana. Mardijkers ini mula-mula dibebaskan sebagai budak karena mereka memeluk agama Kristen – ada ketentuan budak-budak yang masuk Kristen memang harus dibebaskan.

Namun, sulit dipastikan apakah ini satu-satunya alasan karena, di banyak kasus perbudakan, agama Kristen sama sekali tak jadi jaminan. Tapi begitulah catatan yang dibuat klerk-klerk VOC. Para bekas budak itu tercatat dibaptis di Gereja Reformasi Buitenkerk – ketika itu terletak tak jauh dari benteng Batavia. Salah satunya adalah Sigonora Dehan atau dikenal pula sebagai Titus van Bengalen (Titus dari Benggala). Ia dibaptis dengan saksi-saksi: Pieter Michielsz dan Monica van Bengalen. Sesudah dibaptis Titus dari Benggala ini menjadi warga bebas dengan nama baru Titus Michielsz – mengadopsi nama saksinya. Titus adalah salah satu contoh munculnya masyarakat Indo yang campur aduk, yang kemudian membentuk masyarakat tersendiri – merasa bukan Belanda tapi bukan juga pribumi. Titus Michielsz kemudian kawin dengan seorang gadis Indo, Martha Pieters, dan mendapat anak laki-laki yang dengan keputusan Gubernur Jenderal disebut inlandsche borger atau warga pribumi bebas – bukan budak. Dari keturunan ini, keluarga Michielsz mulai mendapat kesempatan mencari untung dan mulai pula menumpuk kekayaan.

Keturunan Michielsz yang terakhir tercatat Agustijn Michielsz. Ia ini seorang tuan tanah yang kaya raya. Tanahnya meliputi seperempat Keresidenan Batavia. Agustijn dikenal dengan panggilan Majoor Jantje. Majoor ini dikenal mempunyai sebuah rumah besar yang megah dan mewah di Semper Idem di pinggiran Batavia. Rumah ini dibelinya dengan harga sangat mahal karena awalnya milik Raad Ordinair Jacobus Martinus Baalje.

Namun, pada kenyataannya, Majoor Jantje tak betah nangkring di rumah megah bergaya Eropa itu dan lebih sering leha-leha di pesanggrahannya di Desa Tjitrap (Citeureup) dilayani – nah – 160 budak. Di pesanggrahannya ini Jantje menjamu pembesar-pembesar pemerintah dengan acara-acara yang eksotis. Dan para pembesar yang ningrat Belanda mulai pula menyukai sajian Jantje. Acara itu, antara lain, tandakpartijen – tak lain dari ngibing – yaitu para tamu bergantian menari dengan budak-budak perempuan yang bersolek dengan dandanan sangat seksi. Kita tahu apa yang menarik dari pertunjukan unik Jantje itu. Orkes yang mengiringi tarian itu sudah tentu bukan orkes Eropa, tapi orkes budak yang terdiri dari 20 orang pemain musik yang sedikit asal-asalan. Alat musik yang digunakan tak mengikuti kamus orkestra mana pun, tapi eksperimen bunyi dengan ketentuan asal ramai.

Dari cerita-cerita Betawi, banyak yang menduga, inilah asal muasal musik Tanjidor, yang menjadi sangat populer pada awal abad ke-19. Saking pandainya bergaul dan menyervis penguasa, pergaulan Jantje makin lama makin menanjak. Belakangan, sampai komisaris jenderal VOC datang berkunjung ke pesanggrahannya di Citeureup. Satu generasi sebelumnya hal itu tak mungkin terjadi karena Mardijkers kendati sudah kaya raya tetap saja dianggap rendah oleh penguasa kolonial kulit putih. Mereka, kata para orang putih, walaupun menggunakan pakaian yang mahal-mahal – kemeja berenda dengan pantalon yang berlimpit – tetap saja norak. Umpamanya saja jarang menggunakan sepatu atau, kalau toh memakai sepatu, tanpa kaus kaki. Mereka juga biasanya menggunakan topi mahal lengkap dengan bulu burung. Tapi barangkali ia gerah, topi itu lebih banyak ditenteng. Karena itu, Mardijkers dikenal pula dengan nama ejekan hoeddragers (penenteng topi). Namun, di sisi lain, para penguasa terbilang punya juga kepentingan bersahabat dengan Majoor Jantje. Dan juga secara terencana membuat Indo Benggala ini jadi kaya raya. Soalnya, Jantje adalah komandan kompi Papangers, pasukan bela diri – setingkat pasukan komando – yang umumnya terdiri dari jago-jago berkelahi orang Pampanga, keturunan Luzon.

Papangers ini adalah bagian dari pasukan Kompeni yang disebut Schutterij, pasukan pribumi yang terdiri dari berbagai divisi yang terkelompok dalam suku: Bugis, Makassar, Jawa, dan Bali. Di antara divisi-divisi itu pasukan Majoor Jantje tampaknya yang paling top. Karena itu, ia termasuk bisa menjamin keselamatan, selain menghadapi serangan dari luar, juga bahaya konflik antarklik di antara kekuatan pegawai VOC. Dalam perang, adu kekuatan, dan pengamanan umumnya, para Schutterij inilah yang maju, sementara para opsir Belanda yang disebut Pennist ongkang-ongkang saja di garis belakang – berdalih menyusun strategi, padahal perang di masa itu yang bergaya perang ketoprak mana perlu strategi.

Pangkat yang disandang Majoor Jantje kala itu sebenarnya setingkat kolonel. Pada masa Belanda itu, dalam deskripsi disebutkan, oud-majoor setingkat di atas majoor. Dalam tingkat kepangkatan sekarang memang dikenal mayor senior, overste (letnan kolonel), baru kolonel. Namun, di masa itu, mayor senior terbilang sama dengan kolonel – tapi yang kolonel, umumnya, perwira Belanda. Jantje lebih suka menggunakan pangkat majoor, karena pengertian itu bisa juga diartikan lain: majoor (atau kapitein) der Mardijkers.

Ini bukan kepangkatan dalam militer, tapi kepangkatan dalam masyarakat, yaitu kepala masyarakat Mardijker. Mardijkersj, pengikut Jantje di Batavia, tercatat sebagai warga bebas: vrijman, gheen slaeve – bukan budak. Salah satu pembuktian paling nyata dari kebebasan itu – baik simbolis maupun status resmi – adalah mereka memiliki budak. Tapi pada kenyataannya Mardijkers ini tetap saja dianggap warga negara kelas dua. Bukan cuma dicemoohkan, tapi dalam berbagai hal juga sulit mendapat izin. Paling jauh mereka mendapat status sama dengan warga negara keturunan asing, Cina dan Arab. Pada mereka juga dikenakan peraturan pemukiman, dan harus mempunyai izin bila berkeliaran di luar permukiman.

Ketika Agustijn Michielsz, si Jantje, meninggal, 1833, ia menulis wasiat agar budak-budaknya dibebaskan. Namun, keluarganya berpendapat lain. Dalam iklan di Javasche Courant, 9 Maret 1833, terlihat keluarga Majoor Jantje menjual 75 budak, yang perinciannya: koki, pemasang lampu, jongos, penjahit, pembuat lonceng, pembuat sambal, tukang cuci, peniup suling, dan pemain harpa.

__________________
Sinarmentaripagihari.wordpress.com

Newer Posts Older Posts Home

Bacaan Ringan "BANG JAMPANG - JAWARA DARI JAMPANG / GROGOL - PART 3"

http://massandry.blogspot.com Setibanya dikampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa...

Blogger Template by Blogcrowds