Monday, June 30, 2014

Bacaan Ringan "SUPER GROUP BAND ROCK YANG PERNAH ADA DI INDONESIA"

http://massandry.blogspot.com
Di Indonesia tahun 1970an menjadi masa penting perkembangan musik pop Indonesia. Banyak solois dan band baru lahir di dekade ini. Rhoma Irama juga anak zaman yang populer pada dekade ini dengan musik dangdut yang kadang dibalut sound gitar ala Deep Purple. Nama-nama macam Koes Plus, Panbers, D’lloyd dan lain-lain begitu popular sehingga menjadi idola. Bagaimana gentre rock kala itu? Musik popular Indonesia dengan anak terlarangnya yaitu musik rock pada decade 1970-an dalam catatan sejarah cukup memberikan pengaruh yang krusial bagi perkembangan musik Indonesia di masa yang akan datang. Tak ayal lagi hal itu terbukti dari perbincangan yang tidak akan ada hentinya apabila kita mengulas kembali denyut nadi perkembangan musik rock pada dekade tersebut.

Meski tak banyak band rock Indonesia yang sukses dalam rekaman, namun sebagian besar menuai kesuksesan dalam setiap aksi panggungnya. Elu-elu, yel yel dan antusiasme penonton menjadi warna tersendiri bagi band rock meski terkadang melahirkan cemoohan apabila aksi panggung kurang prima. Akan tercatat dalam sejarah bahwa musik rock Indonesia tahun 70’an memberikan kontribusi terhadap perkembangan musik Indonesia.

1. AKA
Grup musik rock AKA (singkatan dari Apotik Kali Asin, apotek milik orang tua Ucok Harahap, tempat mereka bermarkas dan latihan) dibentuk di Surabaya pada 23 Mei 1967 dengan formasi awal: Ucok Harahap (keyboard/vokal utama), Syech Abidin (drum/vokal), Soenata Tanjung (guitar utama/vokal), Harris Sormin (guitar/vocal) dan Peter Wass (bass). Peter Wass digantikan oleh Lexy Rumagit karena cedera ketika granat yang disiapkan untuk aksi panggung grup rock Ogle Eyes di Lumajang tiba-tiba meledak dan melukainya. Sejak 1969, Lexy Rumagit digantikan oleh Arthur Kaunang. Yang patut dicatat, semua pemain bass AKA adalah pemain kidal.

Ciri khas dari grup rock ini adalah kerap membawakan lagu-lagu Led Zeppelin, Grand Funk Railroad, Deep Purple, dan Jimi Hendrix, notabene waktu itu memang digemari anak-anak muda. Karena aksi panggung yang heroic, AKA dikenal sebagai grup rock eksentrik. Tak hanya di panggung, AKA juga telah meluncurkan beberapa album. Pada album pertama mereka, Do What You Like (1970), terdapat lima lagu berbahasa Indonesia dan tiga lagu berbahasa Inggris (Do What You Like, I've Gotta Work It Out, dan Glenmore). Meski dibentuk di tahun 1967, AKA TS masukkan ke daftar band rock Indonesia tahun 70an karena mereka baru eksis di era 70an.

2. SAS
Sepeninggal Ucok yang lebih memilih jalur solo, AKA akhirnya memutuskan bubar. Tiga personil sisa, membentuk kelompok baru, SAS, yang merupakan kependekan dari nama depan mereka. SAS inilah yang kemudian melambungkan nama Sonata Tanjung, Artur Kaunang, dan Syeck Abidin sebagai senior rock. Perpaduan Artur Kaunang sebagai basis (meski tangannya kidal), Syech Abidin (dram), dan Sonata Tanjung (gitar), betul-betul mengagetkan komunitas rock di Indonesia.SAS merekam album pertamanya Baby Rock tahun 1976. Album ini menembus sampai Australia. Arthur memberi pengaruh yang kenal pada SAS sehingga grup tersebut lebih condong ke jenis musik cadas atau underground macam Led Zeppelin hingga Grand Funk.

Beberapa lagunya seperti Nirwana, Sansekerta, (1983) hingga Badai Bulan Desember, betul-betul menjadi "lagu wajib" musisi rok tahun 70-an. Padahal tahun itu, kompetitor SAS cukup banyak juga. SAS kemudian merekam beberapa album diantaranya Baby Rock (1976), Bad Shock (1976), Blue Sexy Lady (1977), Episode Jingga (1985), Sirkuit (1988) dan Metal Baja (1991). Sampai detik ini bulan ada kata bubar dari ketiga personilnya. Namun hanya Arthur Kaunang yang masih menggeluti musik. Sedangkan Syech Abidin dan Sunata Tanjung lebih memilih fokus ke dunia religious.

3. Good Bless
God Bless adalah grup musik rock yang telah menjadi legenda di Indonesia. Dasawarsa 1970-an bisa dianggap sebagai tahun-tahun kejayaan mereka. Salah satu bukti nama besar mereka adalah sewaktu God Bless dipilih sebagai pembuka konser grup musik rock legendaris dunia, Deep Purple di Jakarta (1975). Awal terbentuknya God Bless ketika kembalinya Ahmad "Iyek" Albar ke Tanah Air setelah beberapa tahun tinggal di Belanda. Iyek lalu mengajak Ludwig Lemans (gitaris Clover Leaf, band Iyek ketika masih di Belanda), alm. Fuad Hassan (drum) dan Donny Fattah (bass) untuk membentuk band. Ban dtersebut dinamakan Crazy Whells sebelum akhirnya berganti nama menjadi God Bless. 

Tahun 1970-an, boleh dibilang adalah masa kejayaan God Bless di panggung. Diantara beberapa band Rock yang timbuh saat itu, sebut saja macam Giant Step, The Rollies dan AKA, God Bless hampir tak tertandingi. Kendati kerap mengusung reportoar asing milik Deep Purple, ELP, hingga Genesis, namun aksi panggung serta skill masing-masing porsonelnya boleh dibilang di atas rata-rata. Di tambah lagi God Bless pernah mendapat kehormatan untuk mendampingi konser Suzi Quarto dan Deep Purple di Jakarta. Namun keseringan menyanyikan lagu asing berimbas pada album perdana mereka, yang banyak terpengaruh sound Genesis. 

5 tahun berselang Gob Bless merilih album kedua “Cermin”. Pada album ini, konsep musik God Bless sedikit berubah menghadirkan ramuan aransemen lagu-lagunya terkesan lebih rumit. Album Cermin pun merupakan representasi dari pemberontakan God Bless terhadap dominasi industri rekaman ketika itu yang selalu mencekokkan komersialisme atas tuntutan pasar yang ketika itu sedang didominasi musik pop yang bertemakan cinta dalam pandangan secara sempit. Album ini sering disebut-sebut sebagai album God Bless paling idealis dan terbaik dari sisi musikalitasnya. Dan menjadi barometer kwalitas sebuah band rock waktu itu, manakala mampu memainkan lagu-lagu dari album Cermin. 

Pada tahun 1988 God Bless akhirnya melahirkan album come back Semut Hitam yang meledak di pasaran waktu itu, dengan hitsnya seperti Rumah Kita, Semut Hitam, atau Kehidupan. Secara penjualan, album Semut Hitam ini adalah album God Bless paling laris. Di album ini, terjadi lagi perubahan konsep musik God Bless. Dari yang tadinya lebih bernuansa rock progresif secara drastis berubah menjadi sedikit lebih keras dengan adanya pengaruh musik hard rock dan heavy metal. Hingga kini God Bless telah merilis 6 album plus 3 album kompilasi. Tak bisa ditampik apabila God Bless merupakan grup rock terbesar di Indonesia yang masih eksis bermusik hingga sekarang.

4. Giant Step
Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya God Bless. Namun, grup era 1970-an asal Kota Bandung ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain. Dengan kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani "melawan arus" pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.

Formasi awal Giant Step terdiri dari Benny Soebardja, Deddy Stanzah, Sammy dan Yockie namun tidak bertahan lama. Kemudian Benny mengajak Adhi Haryadi (bass), Yanto Sudjono (drum), dan Deddy Dores (vokal dan kibor). Tahun 1975 Giant Step mulai masuk dapur rekaman dan memulai debut album yang diberi judul Giant Step Mark-I (1976). ). Tidak lama kemudian Albert Warnerin juga bergabung. Selama perjalanan band ini kerap berganti personil dan sempat lama vakum setelah meluncurkan album Giant Step 6. Sempat come lewat album Gregetan namun setelah itu bubar. Giant Step termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. 

5. The Gembell's
Band ini berasal dari singkatan unik 'Gemar Belajar' yang terbentuk pada Oktober 1969 di Surabaya. Formasi pertama grup ini yaitu Victor Nasution, Rudy Ananta (, Abubakar (bass), Minto Muslimin, Anan Zaman, dan Eddy Mathovani. Hampir seluruh personelnya masih berstatus mahasiswa di beberapa universitas di Surabaya. Tak heran jika formasi pertama The Gembells ini tidak bertahan lama, karena kesibukan setiap personel dengan kuliahnya.

Di tengah derasnya arus musik underground yang dibawakan grup yang sama-sama dari Surabaya, AKA, The Gembells justru berhasil mempertahankan ciri khasnya sebagai grup musik pelantun tembang-tembang dengan lirik yang mengagungkan sikap kepahlawanan dan protes sosial yang aransemen musiknya ditata secara manis. Karena hal itulah The Gembells lebih menyukai aliran dan warna musik mereka dengan sebutan 'Afro Asia Sound', yakni perpaduan antara musik Afrika dan musik Asia. Di Indonesia, nama The Gembells jarang dipublikasikan di media massa, namun justru di Singapura, band ini menjadi pembicaraan hangat anak muda di sana. 

Album perdana mereka berisikan lagu karya mereka berjudul Pahlawan yang Dilupakan. Uniknya mereka masuk dapur rekaman tanpa menjalani tes terlebih dahulu layaknya grup-grup yang lain. Sedangkan untuk lebih memasyarakatkan warna musik 'Afro Asia Sound' yang dikibarkan mereka pun sering mengisi acara dengan grup-grup musik yang sudah punya nama. Dalam kiprah di blantika music Indonesia, The Gembells total merilis 10 album.

6. Freedom of Rhapsodia
Band ini berasal dari Kota Kembang Bandung, dibentuk oleh beberapa musisi, antara lain Soleh Sugiarto Djayadihardja (drums, vokal), Deddy Dores (lead guitar, vokal), Utte M Thahir (bass), dan Alam (lead vocal). Kekuatan aransemen musik grup ini, karena mampu memadukan alat musik tiup brass section ketika memainkan nomor-nomor souls dari James Brown, dan hard rock dari Deep Purple maupun Alice Cooper yang menjadikan ciri khas mereka.

Dunia rekam mulai mereka jejaki tahun 1972 lewat debut album “Vol I” yang melambungkan lagu hit Hilangnya Seorang Gadis membuat nama Freedom Of Rhapsodia semakin dikenal di Tanah Air yang kabarnya album ini terjual hingga 50 ribu keping. Bahkan 35 tahun kemudian (2007) di aransemen ulang oleh Erwin Gutawa dalam album Rockestra dengan nuansa yang lebih ngerock.

Keberhasilan Freedom Of Rhapsodia dalam rekaman membuat mereka dipercaya mendampingi konser grup musik pop D'Lloyd yang sedang naik daun saat itu di tahun 1972. Keberadaan Freedom dalam dunia rekaman musik Indonesia sempat terhenti ketika grup ini sudah menyelesaikan album keempat, karena mundurnya Deddy Dores. Perlahan pamor band ini meredup seiring emaraknya musik pop progresif ala Badai Band pada awal 1977, membuat Freedom semakin sulit untuk memosisikan keberadaan warna musiknya. Diperparah dengan kepadatan aktivitas para pesonilnya di luar.

7. The Rollies
The Rollies adalah kelompok rock tertua Indonesia dan termasuk grup yang paling sering mengalami bongkar pasang pemain. Dalam perjalanannya, grup yang beraliran soul funk ini telah merintis ke dunia rekaman pada tahun 1967 ini sempat menjadi grup papan atas yang disegani penonton terutama di kota Bandung, Jakarta, Medan, dan Malang. Banyak yang menganggap The Rollies sebagai peletak dasar band rock Indonesia yang telah memberikan kontribusi bagi musik Indonesia masa kini. . Para personilnya antara lain terdiri dari Bangun Sugito (vokal), Uce F. Tekol (bass), Jimmy Manoppo (drum), Didit Maruto, Marwan, Delly Joko Arifin (keyboards/vokal), dan Teungku Zulian Iskandar (saksofon). Selain itu mantan personilnya antara lain adalah Deddy Stanzah, Benny Likumahuwa (trombon), Bonny Nurdaya (gitar) dan Iwan Krisnawan.

Saat pertama terbentuk The Rollies sering membawakan repertoar lagu-lagu dari grup musik luar negeri di antaranya seperti The Beatles, Bee Gees, The Rolling Stones. Sekitar awal tahun 70’an musik Indonesia tengah diguncang trend musik pop seperti Koes Plus, Panbers, The Mercy's, Favorite's Group, hingga D'Lloyd. Dengan keberaniannya, The Rollies merilis album perdana bertajuk Let's Start Again pada tahun 1971, menyusul kemudian album Bad News dan Sign Of Love dengan format musik tidak biasa. Banyak pihak label rekaman menilai The Rollies dianggap tidak komersil. Meskipun dianggap kurang komersil, namun ada beberapa lagu The Rollies yang membekas di khalayak pendengar masa itu. Seperti contoh lagu "Salam Terakhir", dan "Setangkai Bunga". The Rollies justru lebih banyak memperoleh sambutan di pentas-pentas pertunjukan.

Ketenaran The Rollies mulai runtuh. Tiga di antara personelnya terlibat penggunaan psikotropika. Kemudian Deddy Stanzah memilih mundur dari The Rollies dan Iwan Krisnawan meninggal dunia pada tahun 1974. Posisi vokalis hanya tinggal Gito sendiri. Namun, The Rollies yang sedang banyak mengalami cobaan akhirnya bisa memulihkan diri. Direkrutlah Oetje F Tekol (bass) dan Jimmie Manoppo (drum) yang menjadikan The Rollies seolah memiliki energi baru. The Rollies kembali merilis album “Tiada Kusangka tahun 1976 di bawah. Sempat pula muncul dengan nama baru “New Roliies”.

8. Super Kid
Ide pembentukan Superkid berasal dari Denny Sabri, wartawan majalah Aktuil yang sangat terobsesi untuk membentuk group band dengan citra seperti Cream hingga Grand Funk Railroad. Dia mengajak Deddy Dores yang baru saja hengkang dari Giant Step bersama Deddy Stanzah serta Jelly Tobing mantan drummer C’Blues dan Menstril’s. Atraksi yang menjadi trademark-nya Superkid adalah hampir disetiap pertunjukannya mereka memulai dengan menembakan dry ice ke drum set-nya Jelly Tobing disusul dengan tembakan lampu warna warni dari lighting system yang apik disertai dengan kepalan tangan yang disilangkan oleh Deddy Stanzah untuk menyapa penonton.

Pada kurun waktu 1976-1977 merupakan era keemasan Superkid, dimana-mana para remaja di seantero Indonesia terkena wabah Superkid apalagi di Bandung dan Jawa Barat serta Jakarta. Mereka menjadi sangat penasaran untuk menyaksikan penampilan group garapannya Denny Sabri yang penuh dengan sensasi itu. Keunggulan utama Superkid ini memang terletak pada gaya panggung Deddy Stanzah yang memikat disamping accent Inggrisnya yang nyaris seperti bule belum lagi gaya main gitar Deddy Dores yang dalam aksinya kerap menghantam gitar yang dimainkannya ke sound system hingga patah berkeping-keping. Sedangkan Jelly tidak kalah gilanya di setiap show Superkid dia selalu meng hamtamkan stick drum-nya kederetan drum yang mengelilinginya sampai stick itu patah- patah bahkan drum yang dia mainkan tidak jarang sampai jebol.

Order manggung mereka nyaris tak terkalahkan dalam sejarah konser musik cadas di Indonesia saat itu, karena dalam satu bulan Superkid lebih dari 20 kali manggung diseluruh Tanah Air!. Suatu prestasi yang sangat luar biasa yang mungkin hingga saat ini tidak pernah ada satu group band-pun di Tanah Air yang dapat menyamakannya sekalipun God Bless, Rollies, SAS.

9. C'Blues
C'Blues ternyata bukan band yang memainkan blues. C'Blues sendiri bermuasal dari bahas sunda seblu yang berarti lecek atau kumal. Lalu diplesetkan seolah berbahasa Inggeris. C'Blues telah berkali-kali bongkar pasang formasi. Namun ketika memasuki formasi yang ke 6 pada tahun 1972 yang terdiri atas alm. Adjie bandy, Achmad Luther, Idang, Nono dan Bambang, barulah nama C'Blues dikenal khalayak. Mungkin karena mereka baru saja merilis album perdana di Remaco dengan sebuah hits keroncong bertajuk "Arjati".

C'Blues lalu meluncurkan album kedua dengan sampul album yang mengingatkan kita pada gerakan psychedelic.Di album ini mencuat sebuah hit yang dinyanyikan Adjie Bandy bertajuk "Ikhlas".rasanya lagu inilah yang paling populer dalam perjalanan musik C'Blues. Sayangnya,C'Blues memang selalu mengalami gonjang ganjing.Beberapa personil masuk dan keluar silih berganti.Bubar pun tidak.Ini yang akhirnya membuat C'Blues lama kelamaan dilupakan orang.

10. Golden Wing
Tak banyak band rock di era 70’an apalagi berasal dari luar Jawa. Salah satunya Golden Wing, band asal Palembang yang diawaki oleh pemain-pemain antara Piter Kenn pada lead guitar; Kun Lung (Bass Guitar); Tarno (drums), dan Karel Simon bertugas sebagai pemain gitar pengiring dan penyanyi utama. Sekitar tahun 1972 atau 1973 personil Golden Wing mengalami perombakan, beberapa pemain diganti dan awak band ini menjadi terdiri dari : Piter Kenn; Kun Lung (ganti nama menjadi Iksan); Carel Simon; Dedi Mantra (keyboard), dan Victor Eky (drums). Pada tahun 1973, kelompok-kelompok musik mulai merekam lagu-lagu mereka sendiri. Kita tentu ingat, mulai tahun ini bermunculan band-band tenar dengan lagu-lagu mereka sendiri, seperti : Rollies; Rhapsodia; Aka; Mercy’s; Panbers; Bentoel dan lain-lain.

Pada tahun 1974, Golden Wing meluncurkan album pertama mereka yang diberi label Mutiara Palembang. sebuah lagu pop daerah Sumsel yang diracik secara apik berjudul Sebambangan. Pada album ini, awak Golden Wing sudah dengan formasi baru, yakni : Piter Kenn pada gitar utama; Areng Widodo (berasal dari Yogya) pada bass; Carel Simon/lead vocal; Dedi Mantra (keyboard), dan seorang pemain drum baru. Album pop melayu ini boleh dikatakan merupakan album terakhir Golden Wing, karena setelah itu Carel Simon bersama-sama dengan isterinya, Hera Sofyan, dan S. Tarno mendirikan kelompok musik No Wing, yang mengkhususkan diri merekam lagu-lagu pop daerah Sumbagsel.

11. The Rhytm of King's  
The Rhytm of King’s adalah band asal Medan yang berkibar dalam dekade 1970-an. Formasi awal mereka beranggotakan Mawi Purba (bas, vokal), Mawan Purba (lead guitar, vocal), Reynold Panggabean (drum) dan Muchsin (rhytm). Ditengah kesibukan berlatih Reynold mengundurkan diri (digantikan Ayun) dan selanjutnya bergabung dengan The Mercy’s. Dalam setiap aksi panggung di Sumatera Utara dan Aceh mereka sering memainkan nomor-nomor dari Deep Purple, Lead Zeppelin, Black Sabath dan Santana.

Dalam perjalanannya mereka bahkan mampu menembus Singapura dan dikontrak main di night club Flamingo selama 3 bulan. Nama The Rhytm of King’s merambah tingkat Nasional setelah menghasilkan debut album Maafkanlah Beta (1970) dilanjutkan Pujaanku (1972) dan AIga (Pop Melayu/ 1973). Band ini bisa disebut lebih eksis sebagau band panggung, namun mereka tak menyesali kurang terkenal sebagai band rekaman. 

Read more: http://esatrio.blogspot.com/2011/11/beberapa-band-rock-indonesia-era-70an.html#ixzz339pn5f00

Bacaan Ringan "KIPRAH TERNCHEM DI BLANTIKA MUSIK ROCK INDONESIA 70-AN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dalam satu pertunjukannya di gedung Gelora Pancasila Surabaya bersama AKA pada bulan Juni 1974, Ternchem yang biasanya menyuguhkan atraksi pertunjukan panggung dengan peti mati untuk kali ini tidak bisa menampilkan atraksi tersebut karena ada gangguan teknik dari alat-alat. Terchem mengatakan tentang tarif honor pertunjukannya berkisar antara Rp. 250.000,00 sampai Rp. 400.000,00 untuk setiap kali show.
Seperti halnya band AKA yang mendapat teguran dari pemerintah setempat karena gaya panggungnya yang gila-gilaan, band ini pun mendapat perlakuan yang sama pada awal dekade 1970-an. Selain dicekal aksi panggungya karena permainannya terlalu berani dan gaya yang ditampilkannya cenderung menyimpang dari gaya yang biasa ditampilkan oleh grup-grup lainnya, band ini juga mendapat cekalan karena rata-rata personilnya berambut gondrong.

Ada yang menilai tindakan ini sebagai suatu tindakan yang tidak adil karena rambut gondrong merupakan satu mode. Adapun ciri khas dari mode adalah cepat berkembang dan cepat hilang. Pelarangan serta razia pemotongan rambut dijalankan oleh petugas apapun merupakan “perkosaan” terhadap hak asasi manusia dan kurang bijaksana

Album Rekaman Terncem
Sudah merupakan suatu hal yang umum yang terjadi pada decade 1970-an bahwa kegarangan suatu band akan melunak ketika band tersebut masuk ke dapur rekaman. Hal ini bisa dilihat dari kegarangan ternchem di atas panggung ternyata tidak terlihat ketika band ini memulai album rekamannya. Ternchem dari Solo yang terkenal dengan pertunjukan ularnya di atas panggung membuat rekaman perdananya pada tahun 1973, sayangnya lagu-lagunya yang diciptakannya kurang mendapat tempat di hati pendengar musik pop di negeri ini.

Menurut salah seorang anggota terchem Bambang SP ketidakberhasilan rekaman mereka karena lagu-lagunya masih terpengaruh oleh irama hardrock yang hanya digemari oleh kalangan tertentu. Agar tidak mengulangi kegagalan, band Ternchem melakukan rekaman kedua pada pertengahan bulan April 1974, kali ini mereka akan merekam lagu yang lebih sesuai dengan selera masyarakat. Sayang kedua-duanya tidak disambut semeriah pertunjukan musiknya.

Grup ini pada tahun 1975 membuat album rekaman volume ke -3 di perusahaan rekaman Metropolitan. Dalam kesempatan yang sama mereka juga akan membuat rekaman pertama Pop Jawa. Ternchem melakukan rekaman di studio metropolitan, dan yang produksi adalah Yukawi punyanya Nomo Koeswoyo. Volume pertama band ini dibuat diatas label Remaco dengan judul zaman edan, lalu pada volume kedua dia rekaman di Dimita. Seperti yang dikatakan oleh band ini bahwa kebanyakan dari lagu-lagu rekaman mereka adalah lagu kacang goreng, lagu-lagu yang banyak menekankan segi komersial karena bagaimanapun lagu tersebut adalah lagu yang dikonsumsikan oleh masyarakat banyak. (dari berbagai sumber)

Bacaan Ringan "KIPRAH TERNCHEM DI BLANTIKA MUSIK ROCK INDONESIA 70-AN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Kota Solo dijuluki sebagai kota ketiga di Indonesia sesudah Bandung dan Jakarta yang berhasil melahirkan penyanyi dan grup-grup musik dari berbagai macam aliran musik pada dekade 1970-an. Ternchem adalah salah satu band yang lahir di kota ini pada tahun 1969. Nama Ternchem merupakan kepanjangan dari Taruna Cemerlang. Ternchem diperkuat oleh lima orang personil, diantara Dordar (Gitar Melodi), Oendamora (Bass), Onnu (Organ), Bambang SP ( Drum), dan Bernard Permadi (vokal).

Menurut kabar band ini pernah disinggahi sebentar oleh Setiawan Djodi yang menempati posisi sebagai gitaris. sebelum AKA, God Bless, dll lahir dan sekaligus kondang, Band ini telah merasakan pahit getirnya menjadi sekawanan kelompok musisi. Dalam perkembangannya walaupun band ini dilahirkan di kota yang sama dengan kota kelahiran presiden kedua RI Soeharto, akan tetapi rupanya kondisi daerah seperti Solo tak banyak mampu memberikan kehidupan lebih layak bagi band ini, sehingga membuat band ini hijrah ke kota lumpia Semarang. Alasan mereka dipindah ke Semarang karena diminta oleh managernya karena peralatan musiknya akan lebih dilengkapi.

Dalam banyak pertunjukan musiknya, band ini sering membawakan lagu-lagu dari grup musik Grand Funk Railroad, Deep purple, James Brown, dan sebaginya. Pernah dalam salah satu pertunjukannya pada tahun 1972, Ternchem membawakan lagu Grand Funk, tetapi secara tiba-tiba irama berubah menjadi sebuah lagu jawa yang berjudul Suwe Ora Jamu dengan alunan suara Permadi serta gaya yang lucu. Belum selesai dengan lagu tersebut, Ternchem kemudian mengubah irama lagu jawa tersebut menjadi lagu Sepasang Bola Mata. Mereka seakan-akan bisa mengerti selera dari penonton serta terus memikat simpati penonton

Aksi Ternchem di Panggung Pertunjukan
Bernard vokalis dari band ini berekpresi seperti orang kesurupan di atas pentas musiknya. Band Terncem dari Solo terkenal juga karena aksi panggung pertunjukannya yang mempertunjukkan ular, api, dan peti mati. Dalam satu pertunjukannya di Malang Ternchem membawakan suguhan lagu berjudul “fire” dari Deep Purple yang dibawakan dengan versi Bernard sang vokalis. Ia muncul dengan keadaan kepala terbakar. Nyala api ini terus berlangsung hingga ke akhir babak pertama yang puncak dari babak ini adalah adegan bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati dengan diiringan lagu dari Rolling Stone yang berjudul “Coming Down Again”.

Namun demikian Terncem masih menyisakan atraksi yang lebih istimewa lagi. Dalam pemunculan babak kedua yang dilalui tanpa setegang babak pertama, vokalis Bernard yang didampingi seekor ular dalam lagunya yang terakhir, sempat merogoh uang saku, dan dihamburkan lembaran-lembaran uang ratusan dan limapuluhan yang merupakan uang sisa honor mereka.

Gaya pertunjukan panggung grup Terncem dari Solo dikenal mengambil gaya panggung Alice Cooper, yang melengkapi penampilannya dengan atraksi bermain ular sanca serta masuk peti mati ditutupi bendera Amerika. Aksi teatrikal band ini juga dilakukan ketika mereka pentas di Palembang, dalam suasana lampu yang gelap samar-samar dengan sinar kemerahan-merahan. Ternchem membuka acaranya dengan irama-irama lembut dibalut alunan organ. Selanjutnya irama berganti dengan irama-irama hot dan keras, kemudian muncul vokalis Bernard, di antara lengkingan suara musik, sebagai bentuk sensasi nyala api dihidupkan di atas topi yang dipakai Bernard.

Aksi panggung tidak berhenti sampai disitu, kemudian irama keras berganti ke irama Melayu dengan diselingi irama Timur Tengah. Kemudian muncullah pemain organ Ony dengan ular mautnya, sambil meliuk-likukkan bersama ular yang digantung di lehernya mengikuti irama musik yang semakin mendayu. Acara ini diselesaikan Ony dengan iringan tepuk tangan dari penonton. Pada babak kedua, aksi adegan sama dengan yang dilakukannya ketika pentas di Malang, puncak aktraksi pertunjukan dengan melakukan adegan penusukan perut dengan pisau di tangannya atau bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati. Sebagai penutup dari atraksi Ternchem, band ini membagikan foto mereka kepada publik. Onny dari Ternchem dalam suatu pertunjukannya di Semarang bernyanyi dengan berani dan eksentrik, menggambarkan orang yang sedang masturbasi , bersenggema dengan berdiri.

Pertunjukan dengan memakai ular, api, dan peti mati masih diperlihatkan Ternchem pada pertunjukan Musical Show Penutup Tahun 1972. Pada babak pertama Ony menyuguhkan gaya seperti Ucok AKA ketika menyanyikan lagu “Sex Machine” dengan bergoyang pinggul dan menelungkupkan tubuh, seolah-olah tengah bersenggama. Pada babak kedua, dua orang pemain Ternchem melekatkan ular di leher mereka. Atraksi berikutnya ialah munculnya sebuah peti mati. Tiba-tiba Permadi (vokalis) mengeluarkan sebilah pisau dan mengarahkan pisau tersebut kebagian perutnya. Adegan selanjutnya persis seperti seorang yang melakukan bunuh diri.

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 6"

http://massandry.blogspot.com
Selain proyek Ucok and His Gang, ia juga melangkahkan kaki seninya dalam suatu proyek kolaborasi. Proyek kerja sama ini muncul ketika AKA alias Apotik Kali Asin pimpinan Ucok pecah dan Achmad dengan God Bless-nya mulai sepi order manggung. Duet ini memang sangat berhasil apalagi album-album Duo Kribo meledak di pasaran sampai terjual 100.000 kaset. Angka tersebut pada dekade 1970-an sudah sangat fenomenal bagi ukuran musik rock yang memang waktu itu pasar jenis musik ini sangat kecil. Keberhasilan album-album mereka didasarkan pada rasa penasaran para pecinta musik rock. Mereka ingin tahu seperti apa sih kalau duo superstar bersatu dalam satu album rekaman. Koki musik dari album-album Duo Kribo ditangani oleh gitaris God Bless, Ian Antono, yang dibayar Rp 300 ribu – untuk satu album. Duo Kribo memiliki 4 buah album yang semuanya meraih sukses besar. Album pertamanya yang bertajuk Duo Kribo Volume 1 (Irama Tara, 1977) terdiri atas 8 lagu yaitu ‘Monalisa’, ‘Neraka Jahanam’, ‘Rahmat dan Cinta’, ‘Cukong Tua’, ‘Discotique’, ‘Wadam’, ‘Kenangan’ dan ‘Kami Datang’

Album tersebut menghasilkan hits legendaris seperti ‘Neraka Jahanam’, ‘Rahmat dan Cinta’, dan ‘Monalisa’. Lagu ‘Neraka Jahanam’ kemudian dipopulerkan kembali oleh penyanyi rock, Pungki Deaz, di era 1980-an yang termuat dalam Album 20 karya arranger, Ian Antono, (Musica Studio, 1999) serta oleh grup rock top saat ini, Boomerang dalam album Segitiga (Logis Record, 1998). Sementara itu, lagu ‘Cukong Tua’ dinyanyikan kembali oleh mantan penyanyi rock grup Dara Puspita, Titiek Hamzah, dalam album Tragedi (Jakson Record, 1982).Sukses album pertama membuat Duo Kribo merilis Volume II (Irama Tara, 1978). Album ini terdiri atas 9 buah lagu, yaitu ‘Pelacur Tua’, ‘Hidup Sederhana’, ‘Penari Jalang’, ‘Pacaran’, ‘Menunggu’, ‘Tertipu Lagi’, ‘Rumah Hantu’, ‘Fajar Menikam’, dan Hujan. Ian Antono dalam album kedua ini mengajak sesama rekannya di God Bless, Yockie Suryoprayogo, untuk mempermanis lagu-lagu slow lewat sentuhan jarinya pada piranti keyboard. Album kedua ini melahirkan hits legendaris seperti ‘Penari Jalang’ dan ‘Pelacur Tua’. Lagu ‘Fajar Menikam’ dan ‘Hujan’ kembali dinyanyikan oleh Grace Simon dalam album Grace Simon 1979 (Musica Studio, 1979). Lagu ‘Hujan’ dan ‘Tertipu Lagi’ juga kemudian di daur ulang oleh Achmad Albar, Nicky Astria, dan Ian Antono, dalam bentuk akustik yang tertuang dalam album Jangan Ada Luka (HP Record, 1996)

Dekade pun berganti, ucok AKA pada dekade 1980-an banyak mengalami pasang surut kehidupan. Pada tahun 1982 menjadi tahun yang mengejutkan bagi Ucok AKA.di tahun tersebut ayahnya yang sakit memaksa dirinya pulang ke Lawang, distrik utara kota Malang. Rumah besar yang baru saja dimiliki di bilangan Sawangan, Jakarta Pusat ditinggalkan Ucok AKA dan Farida beserta kedua anak mereka begitu saja demi bakti kepada orang tua. Namun yang paling parah adalah ketika istrinya meninggalkannya. Rumah tangga Ucok AKA dan Farida yang memang tidak pernah direstui oleh orang tua. Hubungan cintanya dengan Farida berakhir ketika seorang pesuruh dari keluarga orang tua Farida datang ke Lawang menjemput pulang Farida dan kedua anaknya. Peristiwa ini selain mengakhiri kisah romantis dari pasangan kekasih bohemian rock n’roll, disatu sisi mempengaruhi mental Ucok AKA dalam perjalanan kehidupannya kedepan.

Apabila membicarakan mengenai kehidupan ucok AKA pastilah tidak terlepas dari beberapa wanita yang kemudian pernah mendampingi statistik hidup Ucok AKA, beberapa bahkan terpaut usia belasan tahun dengan Ucok AKA. Bahkan istri ketiganya, merupakan sebuah bukti trauma pasca perceraian Ucok AKA dari perkawinan sebelumnya, di mana istri ketiganya ini secara fisikal cukup mirip dengan Farida. Ucok AKA kemudian harus menyadari sebuah kebenaran ungkapan klise yaitu cinta tidak harus saling memiliki. “Kalo boleh memilih saya ingin sukses dalam keluarga dibanding dalam musik rock, cuma Tuhan punya rencana lain, saya terus terusan dibelokin, jadinya malahan sukses di musik bukan di keluarga”, sebuah pernyataan pahit yang manusiawi bagi seorang Ucok AKA yang kemudian terbukti dalam berbagai hubungan rumah tangganya yang berantakan.

Pamornya yang mulai meredup kian terasa pasca trauma 82, di tahun taberikutnya bagi Ucok AKA ibarat sebuah kisah komedi gelap berdurasi panjang. Berbagai pekerjaan dilakoninya, agar asap dapur tetap mengepul. Bolak balik dari Malang ke Jakarta pun dijalaninya, karena Jakarta baginya adalah kota industri yang selalu mengepulkan asap dapur rumahnya di Malang. dapat dilihat, mulai dari penata ilustrasi musik untuk berbagai film, menjadi pengurus PARFI, membuka usaha batako, menjadi kutu loncat untuk berbagai band rock dari Warrock Power Band, hingga Coksvanska [yang kesemuanya kurang sukses di pasaran], bahkan hingga menjadi paranormal. seperti dikatakannya bahwa ketika teman-temannya yaitu Arthur Kaunang telah bermain musik untuk Tuhan, Sonata Tandjung menjadi pendeta, dan Sjech Abidin menjadi ustadz, maka Ucok memilih menjadi paranormal. Baginya menjadi paranormal, pendeta ataupun ustadz adalah profesi yang sama, yaitu memiliki tujuan untuk menolong orang lain. Walaupun ia tidak memungkiri bahwa niatnya menjadi paranormal juga disebabkan karena ia tidak ingin bersekolah terlebih dahulu seperti ketika hendak menjadi ustadz ataupun pendeta.(berbagai sumber)

http://katakelana.wordpress.com/category/sejarah-musik-indonesia/

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 5"

http://massandry.blogspot.com
Dalam berbagai pertunjukan musiknya, grup AKA selain membawakan lagu-lagu heavy juga membawakan lagu-lagu pop Indonesia ataupun pop melayu. Seperti yang dikatakan oleh Ucok, bahwa musik adalah seni dan musik melayu juga ada seninya dan mereka berusaha memenuhi selera masyrakat lewat dua objek, yakni panggung dan plat atau piringan hitam. AKA mengeluarkan album pertama mereka, Do What You Like (1970), yang berisi tiga lagu bernuansa rock keras berbahasa Inggris (Do What You Like, I’ve Gotta Work It Out, dan Glennmore) dan juga lagu-lagu pop Indonesia seperti Akhir Kisah Sedih dan Di Akhir Bulan Lima yang liriknya sangat bertolak belakang dengan semangat musik yang dibawakannya waktu di panggung.

Dalam setiap albumnya, AKA selalu menyelipkan lagu-lagu pop manis selain lagu rock yang garang. Setelah Do What You Like, album-album AKA berikutnya adalah Reflections (1971), Crazy Joe (1972), Sky Rider (1973), Cruel Side Of Suez War (1974), Mr. Bulldog (1975), Pucuk Kumati (1977). AKA juga pernah membuat album pop melayu dan pop kasidah. Perubahan corak musik yang terjadi datang dari masing-masing anggota personilnya yang menyadari bahwa musik rock yang sering mereka bawakan di atas panggung ternyata tidak disambut positif ketika jenis musik ini direkam pada sebuah kaset dan diperjualbelikan, oleh karena itu mereka menciptakan musik yang dapat lebih diterima oleh masyarakat. Walaupun Ucok dan AKA telah banyak merekam lagunya di studio, tetapi studio rekaman dimata Ucok, jika dibandingkan dengan luar negeri kondisi di sini masih jauh dibawah mutu internasional. Mungkin menurutnya hal ini disebabkan karena studio di Indonesia masih telalu komersial.

Terlepas dari opini Ucok tentang studio rekaman, tidak sedikit yang merasa kecewa dengan sikap AKA yang tidak terlalu konsisten dalam bermusik. Deddy Dores mungkin segelintir orang yang tidak mau bandnya seperti AKA , yang dikatakannya sebagai band yang salah jalan. Karena sesungguhnya baginya sebagai band yang suka membawakan musik keras AKA sudah banyak penggemarnya. Tetapi sangat disayangkan sekali, mereka rekaman lagu-lagu qasidah sehingga efeknya penggemar AKA menjadi menurun. Ia berpendapat grup musik rock kurang mendapatkan jangkauan komersial dan menurutnya lebih baik mencari tempat penampung untuk rekaman dalam menyelematkan diri. Grup AKA pada Tahun 1973 mencetak Album Qasidah Modern dengan warna rock, diantara lewat lagu yang berjudul Bersyukurlah, Insyallah dan Amal Ibadah

Perjalanan Ucok dengan AKA berhenti pada tahun 1974 dan tahun ini adalah sebuah angka penting yang mengklimakskan perjalanan AKA band. AKA bubar jalan ketika mencapai puncak kejayaan, dan Grup ini kemudian dinonaktifkan pada tahun 1975 karena Ucok H sibuk membentuk kelompok musik baru yaitu, Ucok and His Gang dan kemudian ketiga personil lainnya, Syeh Abidin, Arthur Kaunang, dan Sonata tanjung membentuk kelompok baru juga yang bernama SAS tanpa diperkuat oleh Ucok Harahap trio ex-AKA.

SAS mendapat julukannya sebagai Emerson Lake Palmer-nya Indonesia tetapi memainkannya dengan aransement sendiri sesuai dengan musiknya SAS. Lalu sebenarnya apa yang membuat AKA band runtuh pada waktu itu ? Perempuan adalah kata kuncinya. Ucok AKA yang telah beristri dan beranak ini, larut dalam buaian asmara yang memabukkan bersama seorang fans wanitanya. “saya jatuh cinta dengan seorang wanita dan kemudian lari bersamanya, sialnya dia anak pejabat”, demikian kata Ucok AKA. Ucok memang jatuh cinta dan kawin lari bersama seorang perempuan cantik jago karate bernama Farida. Kenyataan inilah yang kemudian meruntuhkan kejayaan dinasti imperial AKA band.

Namun justru saat hidup bersama Farida inilah, nama Ucok AKA benar benar terasah sebagai seorang seniman kelas atas. Adalah seorang anak muda bernama Ali Shahab, seorang sutradara film yang di kemudian hari cukup disegani sebagai salah seorang maestro film Indonesia, yang menemukan Ucok bersama istrinya yang sedang hamil tua, duduk menggelandang di stasiun Gambir Jakarta. Perkenalan ini kemudian membuka jalan Ucok AKA dan istrinya kedalam dunia layar lebar dan Ratno Timoer yang kemudian menjadi dokter yang melahirkan film pertama yang dibintangi Ucok AKA pada tahun 1977 yaitu Ciuman Beracun. Semenjak itulah Ucok AKA rajin mondar mandir di layar lebar, kebanyakan film dengan judul judul butut, yaitu mulai dari film Manusia Purba, Darah Muda, Lonceng Maut, Gara Gara Gila Buntut, Tante Sun, Ratapan Anak Tiri II, dll.

Selepas dari keluarnya ucok dari AKA, lantas tidak membuat pria kribo ini menghentikan aktivitas musikalnya. Ia kemudian mendirikan semacam wadah organisasi seniman yang diberi nama Ucok and his gang. Ide membuat organisasi ini memang datangnya dari ucok sendiri dan sudah keinginannya untuk membuat sesuatu yang baru yang dapat diterima secara lebih terbuka kepada masyarakat. Ucok in his gang tidak hanya berkutat dalam masalah musik saja, melainkan juga melebarkan sayap pada usaha yang bermacam-macam jenisnya, seperti usaha butik, toko kaset, usaha recording, dan lain-lainnya walaupun itu hanya sebatas rencana. Dalam hal ini Uhisga nantinya akan memproduksi kaset sendiri, melengakapi butiknya dengan desainer sendiri di bawah pengawasan dari kekasihnya Ucok, Farida.

“Terus terang memang agak sulit bagi kami untuk memupuk Ucok and His Gang ini karena grup ini terdiri atas 15 orang yang mempunyai keinginan sendiri-sendiri dan berbeda satu sama lainnya, tetapi kita mau mencoba dengan segenap kemampuan yang ada, dengan 15 orang ini akan kita jadikan satu dalam masing-masing kegiatan yang sifatnya bisa berlainan dan kita memang sedang mencari kesesuaian yang ada dalam grup kita ini.” ungkap Ucok

Sebagai langkah awal merealisasikan usahanya organisasi ini akan terlebih dulu berkonsentrasi pada soal musik. Soal formasi susunan dari kelompok musik ini, Ucok akan didukung oleh 15 orang yang terdiri atas grup dancing (penari) sekaligus memakai band pengiring. “Untuk bandnya ada 8 orang diketuai oleh Johnny R, kemudian anggota dari grup penarinya dipimpin oleh Henny Hakim dan semuanya tergabung dalam Ucok and His Gang, seperti yang penulis kutip dari majalah Junior.

Kegiatan Uhisga ini tidak menimbulkan pantangan-pantangan bagi ucok untuk melakuakan pentas di sembarang tempat dan ia pun akan menyesuaikan di mana uhisga akan tampil, baik itu di night club, pesta pesta, panggung terbuka, maupun di tempat-tempat resepdi pernikahan. “jadi kami akan bermain menyuguhkannnya tergantung dimana tempat lingkungannya”, ujar pria berambut kribo ini

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Latar belakang penampilan AKA menyajikan segala macam gaya sensasi eksentrik menurut para anggota personilnya karena disesuaikan dengan lagu dan jiwa bandnya. Ekpresi dan kreasi seni ada bermacam-macam dan gaya underground adalah pilihan bagi AKA Ucok Harahap melakukan aksi pertunjukan sebagaimana yang dibayangkan oleh syair-syair lagu dari grup barat yang sering dibawakannya.Ucok menggolongkan penggemarnya dalam dua kategori, kategori pertama adalah golongan anak muda, mereka bagi ucok memeliki keasyikan tersendiri untuk melihat pertunjukannya, golongan kedua adalah golongan tua, golongan ini menurutnya hanya ingin mengetahui apa yang disebut sebagai musik Underground dan gaya yang eksentrik.

Selain itu gaya aksi panggung yang teatrikal wajar saja dilakukan di saat atmosfir pentas musik Indonesia dipenuhi oleh musik yang diistilahkan dengan ”sweet pop” yang diambil alih Koes Plus dan band band ”follower”nya semacam seperti The Mercys, Bimbo, Dlloy’d, The Favorites group dan Panbers. Untuk mengalihkan perhatian para musisi rock kemudian mencoba membuat atraksi yang sangat berbeda yang sifatnya teatrikal. Misalkan dengan mempertontonkan aksi penyembelihan kelinci yang dilakukan Mikey Bentoel, masuk peti mati dan digantung yang dimainkan oleh Ucok Harahap pada pertunjukan AKA, atau aksi bakar gitar

Terkadang bayang bayang sex, drugsdan rock n’ roll yang menstereotipkan kegilaan Ucok AKA memang telah melekat kuat dalam benak masyarakat. Walaupun untuk permasalahan drugs sendiri Ucok menyanggah dengan keras, ”Setiap performance saya selalu gila gilaan, butuh tenaga tinggi buat lompat lompat, jungkir balik sana sini dan digantung gantung, kalo saya pake drugs, gimana saya bisa kayak gitu” ujar dia

Walaupun lahirnya Orde Baru memberikan harapan cerah bagi para seniman musik karena seniman bisa dengan bebasnya mengekpresikan karya-karya yang menampilkan tema-tema serta gaya ungkap sesuai dengan gejolak hati nurani mereka. Akan tetapi kebebasan pada dasawarsa 1970-an masih dirasakan sebagai kebebasan yang semu karena masih terjadi aksi penyetopan acara-acara pertunjukan musik yang menampilkan aksi gaya panggung rocker yang dinilai ”ngak-ngik-ngok dan tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Bahkan sebelum dekade 1970-an, pelarangan pentas suatu kelompok musik terjadi pada akhir dekade 1960-an. The Props dari Semarang dilarang pentas oleh tentara karena aksi pertunjukannya tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Pernah juga ada yang ditahan karena seseorang yang bernama Martinus menyanyikan lagu-lagu frantik ala gitaris Jimmy Hendix sambil tidur-tiduran. Remy sylado dalam salah satu artikelnya yang termuat dalam majalah Aktuil mempertanyakan apakah itu kepribadian nasional.

Ia berpendapat semenjak kongres nasional tahun 1928, sebenarnya kita belum menemukan satu corak kepribadian yang benar-benar merupakan cakupan satu jiwa nasional dari sabang sampai merauke, selanjutnya didalam membentuk satuan yang nasional dalam musik, kita tidak usah terlalu fanatik terhadap ekses karena bagaimana pun juga kita tidak bisa menolak hukum akulturasi bahwa kebudayaan bukanlah milik satu bangsa dan kaum yang terpagar rapat-rapat. Setiap generasi mempunyai derap langkah yangberbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan berilah kebebasan kepada mereka sebab mereka hendak atas kebebasan itu.

Aksi dan gaya panggung para musisi rock sudah mampu membuat pusing kepala para aparat keamanan. Tepatnya di Surabaya pada tahun 1972 Ucok Harahap dengan AKA-nya berkali-kali berurusan dengan pihak berwenang setempat dan pertunjukannya diancam akan dibubarkan karena diangap tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Banyak terjadi bahwa kebudayaan ditentukan oleh selera siapa yang berkuasa dan memangku jabatan.

Dalam wawancara oleh majalah Midi dengan anggota grup AKA, Ucok mengungkapkan: “Dalam show saya memang sering bisa mempengaruhi anak-anak muda yang menonton dengan teknik performace saya yang tersendiri, misalnya saya sampai “ Fly” maka anak-anak muda penonton pun ikut-ikutan. Padahal sebetulnya saya hanya berusaha mewujudkan teks lagu yang justru bermaksud untuk memberi nasihat agar jangan suka mengisap ganja, dan sebagainya. Tetapi rupanya mereka meniru begitu saja tanpa melihat keseluruhan teks lagu dan menurut pihak kepolisian saya dianggap berbahaya karena bisa mempengaruhi anak-anak muda walaupun itikad saya sendiri sama sekali tidak jelek”.

AKA tidak lagi selalu menampilkan peti mati, kulit sapi, tengkorak dan lain-lainya dalam pertunjukan karena ada larangan dari pemerintah. Oleh karena itu AKA hanya mengadakan pertunjukan ala kadarnya. Memang bagi AKA sendiri hal itu sangat tidak menguntungkan, tetapi apa daya. Selain di pulau jawa, Ucok Harahap dari AKA juga masuk black list di Bali sama seperti Mickey Mickelbach dari Band bentoel Malang. Ucok mengatakan “Hampir setiap pertunjukan AKA, terutama di daerah yang masyarakatnya belum terlalu terbuka, selalu dijaga ketat dan diawasi. Sebetulnya bukan masyarakatnya yang menolak AKA, tetapi penguasa setempat”. Dalam salah satu pertunjukannya, AKA tampil di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tanpa atraksi peti mati dan keanehan lainya, mereka hendak menyuguhkan musiknya saja. Tetapi meski tanpa adanya peti mati, Ucok masih mampu menyemarakkan atraksinya, seperti terjun ke tepi kolam dan menari-nari sambil mengitari air mancur.

Berbicara mengenai lagu-lagunya AKA, di dalam grup AKA sendiri semua anggotanya dapat menciptakan lagu, tidak terkecuali Ucok. Tiap lagu yang diciptakan Ucok adalah buah dari pengalaman pribadinya yang paling berkesan. Menurutnya, pada waktu ia sedang menderita banyak ilham hinggap pada dirinya dan perasaan ini paling enak dirasakannya untuk menciptakan sebuah lagu. Pada setiap album, AKA selalu menyelipkan lagu-lagu pop manis selain nada rock yang garang. Ucok AKA mengatakan bahwa AKA membedakan antara penyajian musik dalam rekaman dan dalam show karena menurutnya kedua hal itu harus disesuaikan dengan keadaan. AKA mempunyai prinsip dalam pertunjukan harus berbeda dari waktu rekaman.

Tidak seperti dalam pertunjukannya yang sering menampilkan lagu-lagu bertema sex, dalam rekaman AKA belum berani menciptakan lagu seperti itu walaupun itu bukan lagu Indonesia, soalnya dalam mencipta lagu, AKA juga harus menjaga nama baik dan lagi masyarakat Indonesia belum bisa menerima lagu-lagu semacam itu. Ke-undergrounan AKA sejak dulu tidak ada dalam lagu-lagu ciptaannya. Di atas panggung mereka memainkan lagu yang sesuai dengan trend musik hard rock pada waktu itu. Sedangkan album rekaman mereka, selain beberapa lagu berbahasa Inggris, AKA juga menampilkan lagu-lagu pop Indonesia yang cengeng, misalnya Akhir Kisah Sedih, atau Badai Bulan Desember.

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Dalam satu pertunjukan yang dihadiri tidak kurang 5000 penonton di Gedung Gelora Olahraga 10 November Surabaya, band AKA dengan maskotnya Ucok membuka acara dengan bertingkah seakan-akan kemasukan setan, ia naik tangga, naik ke tiang gantungan dengan kaki terikat ke atas kepala menjulur ke bawah sambil terus menyanyi lalu ditusuk-tusuk hingga keluar darah seperti di dalam film-film. Pada akhir pertunjukan Ucok digotong dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Kejutan lain yang diperlihatkan oleh Ucok adalah ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora 10 Nopember pada tanggal 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba seorang muncul dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu bukan lain adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies.

Dalam salah satu pentas AKA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1972, pada akhir acara, Ucok dirajam oleh para algojo dan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti mati yang lalu dipaku. Seperti yang dituturkannya sebagai berikut : “Saat saya mau masuk peti, tiba-tiba di dalam peti seperti sudah ada orang lain. Saya masuk juga. Tubuh perempuan itu dingin sekali. Saya tendang-tendang tutup peti sampai pecah,” Ketika berhasil keluar, Ucok berlari karena dikejar “perempuan” tadi. Ia berlari tanpa takut ke atas genteng. Atraksi itu membuat penonton histeris. Bahkan, ketika Ucok jatuh setelah tersetrum listrik, para penonton masih histeris. Banyak orang menilai keeksentrikan gaya Ucok AKA yang diperlihatkan panggung sering dikaitkan dengan unsur magik, tetapi menurut Ucok AKA gaya yang dipertunjukannya itu hanya sebatas atraksi panggung.

AKA dan Freeman tampil dalam pertunjukan di Stadion Teladan Medan tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. dalam pertunjukan ini sebenarnya tidak ada yang berbeda dari yang pernah mereka berikan kepada penonton-penontonnya di kota lain yang pernah mereka kunjungi, akan tetapi dalam pertunjukannya kali ini Ucok sama sekali tidak memperlihatkan gerakan-gerakan bersenggamanya, mungkin karena ia segan karema menganggap Medan adalah kampung halamannya.Ucok di atas pentas masih menampilkan cambukan dan tikaman pisau oleh seorang pembantu AKA. Setelah digantung, tubuh Ucok dimaksukkan dalam peti mati. Peti mati itu kemudian diusung ke dalam mobil ambulance yang sudah menunggu di belakang panggung.

Tidak semua aksi panggung yang ditampilkan musisi rock mendapatkan respon positif dari penonton. Hal ini seperti yang terlihat dalam pertunjukannya di Malang, Ucok Harahap lagi-lagi mendemonstrasikan aksi adegan bersenggama. Do you know sex tanya Ucok beberapa kali kepada penonton, kemudian ia langsung mengeliatkan-geliatkan tubuhnya di lantai dan di atas orgen, seperti orang yang sedang melakukan perbuatan senggama.

Pertunjukkan yang dinilai jorok itu tidak mendatangkan heboh di kalangan penonton. Begitu juga ketika mereka tampil di kota Tasikmalaya pada Juni 1972, di kota ini gaya panggung Ucok dan kawan-kawan tidak terlalu disukai oleh pecinta musik rock. Meskipun para penonton sempat meneriaki mereka, untungnya pertunjukan tidak berakhir dengan kerusuhan karena Band Rhapsodia, yang tampil sesudah mereka, berhasil menjinakkan penonton dengan lagu-lagu ala Santana serta lagu-lagu lokal.

Peristiwa serupa kembali berulang ketika AKA tampil di Gedung Kridosono Yogyakarta pada Juni 1974 bersama grup Giant Step asal Bandung. Para penonton yang tidak suka melihat atraksi Ucok tidak dapat dibendung lagi. alhasil mereka berteriak-teriak dan merusak gitar Arthur Kaunang, Ucok pun terkena lemparan kursi, dan kening Sunatha terluka parah akibat potongan kayu dan besi yang dilempar penonton. Ketiganya dirawat di RS Panti Rapih, Yogyakarta.

Terkadang AKA tampil biasa saja dalam pertunjukan musiknya. Seperti saat tampil bareng dengan grup musik rock Ternchem, asal Solo di Gelora Pancasila, Surabaya pada Maret 1973. AKA membuat kejutan di hadapan penggemar fanatiknya dengan tidak menonjolkan aksi-aksi yang eksentrik dan gila-gilaan seperti sebelumnya. Bahkan pembawaan Ucok ketika itu terlihat kaku, berbeda dengan Arthur Kaunang (bass, vokal) dan Sunatha Tanjung (leadguitar/vokal) yang justru lincah bergaya dalam aksi panggungnya.

Namun, aksi kalem Ucok ini ada latar belakangnya. Rupanya, Ucok seringkali mendapat surat teguran dari pihak berwenang. Lama kelamaan penonton kecewa dengan sikap Ucok. Untungnya, ia tidak kehilangan akal. Dalam satu pertunjukan, Ucok mengenakan dandanan ala priyayi Jawa, sorban, dan baju blangkon. Acara tersebut dihadiri juga pejabat kepolisian setempat. AKA yang tampil biasa-biasa saja tanpa peti mati dan tiang gantungan diperlihatkan juga ketika mereka pentas di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tahun 1975.

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Istilah Underground digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional

Berbicara mengenai konteks jaman ketika kali pertama istilah musik Underground itu tercipta pada dekade 1970-an, dikatakan bahwa Underground adalah suatu gerakan seni rock yang muncul di penghujung dasawarsa 1960-an. Underground hadir sebagai jawaban untuk musik yang mempunyai dua konteks, yaitu musik yang melawan arus komersial dan musik yang berani melakukan eksperimen bunyi dengan suara gegap gempita. Konotasi Underground menjadi semacam perlawanan terhadap trend musik yang berkembang pada saat itu.

Underground merujuk pada jenis musik hingar-bingar yang dibarengi dengan berbagai atribut nonmusikal, seperti rambut gondrong, pakaian awut-awutan, serta atraksi panggung yang teatrikal dan sensasional. Tidak berbeda dengan gaya Glamour Rock (istilah yang diciptakan oleh media cetak ketika itu) yang melanda musisi-musisi rock Indonesia. Ciri-ciri yang menonjol dari mode ini bisa dilihat dari tubuh yang sengaja dibiarkan kena angin, dada di tattoo, dilukis dengan cat minyak yang berwarna-warni. Pipi dicoreng-coreng atau diberi pewarna, rambut dibiarkan terurai ke muka sampai bahu Mode ini dapat dilihat dari band Ternchem dari Solo, dalam pertunjukannya di Surabaya, seluruh pemain-pemainnya dicat dan memakai Eye Shadow, Band God Bless dalam pertunjukan musik Summer 28, seluruh pemainnya juga dicat dan berpakaian unik-unik dengan begitu dengan warna-wana aneh itulah mereka berhasil memancing penonton untuk meresapi musik yang dimainkannya

Istilah underground dalam khasanah musik populer di Indonesia diperkenalkan pertama kali oleh majalah Aktuil. Istilah ini biasanya diidentikkan dengan grup band rock. Selain karena jenis musiknya, grup band rock kerap kali menyajikan aksi-aksi dan gaya panggung yang tidak umum dalam pertunjukan musiknya.. Band-band tersebut menghususkan dirinya dalam lagu-lagu yang keras, baik dalam pengungkapan orkestrasinya maupun dalam susunan melodinya yang memang menjauhi aliran nada-nada yang manis.

Tidak cukup banyak grup mengklaim dirinya sebagai pemusik underground itu atau dikalim oleh media dan Grup AKA merupakan penganut musik aliran ini walaupun masih dalam tahap experimen. AKA mengikuti aliran underground karena aliran musik ini sesuai dengan jiwa dan corak dari masing-masing personilnya. Akan tetapi untuk menyesuaikan dengan publik atau penonton, dalam setiap pertunjukannya AKA tidak harus selalu menyajikan musik underground saja. Menurut pengertian AKA, musik underground sendiri adalah musik yang diciptakan oleh musisi yang luar biasa, sebab di dalam underground terlebur segala macam aliran musik. AKA juga sanggup memainkan aransemen mulai dari keroncong sampai musik jazz yang berat atau menampilkan orcestra symphoni. Dengan nada merendah AKA memang menganut underground atau “ngandergrond”, tetapi AKA bukan atau belum merupakan band top underground di Indonesia.

Gaya panggung musik rock di Indonesia sudah meniru grup musik Barat sejak kemunculannya pada akhir tahun 1960-an dan salah satu grup band yang sering melakukan aksi ‘gila’ dalam pertunjukan panggung musiknya adalah AKA. AKA dengan vokalisnya Ucok Harahap semejak tahun 1969 sudah mulai merintis teori kijang dengan memperlihatkan gaya-gaya sinting dan gila. AKA menampilkan satu atraksi yang waktu itu belum pernah diintrodusir oleh grup manapun seperti coitus interaptus, teatral ala kebiasaan suku Indian kuno, peti mati dan tiang gantungan Seperti yang pernah diperbuatnya, ia membawakan permainan kesurupan dalam lagu Sex Machine dan yang amat sering mendemonstrasikan atraksi-atraksi kesurupan dengan rela dicambuk badannya.

Menyanyi sambil berlari-lari, bermain organ sambil memanjat ke sana dan ke sini dan ia pun bersedia dimasukkan ke dalam peti mati sebagai pelengkap atraksi panggungnya. Konsep performance yang terkesan raw seperti ini memang telah direncanakan sebelumnya sebagai sebuah hiburan tersendiri bagi audiences yang datang dari berbagai pelosok daerah. Komposisi hiburan panggung AKA sendiri kurang lebih 60% adalah musik sementara 40% adalah performance. Walaupun performance seperti ini seringkali dimaksudkan untuk menutupi ketakutan dan demam panggung Ucok AKA sendiri

Kerancakan Ucok dengan AKA-nya dapat terlihat dalam pertunjukan musiknya selama dua malam pada tanggal 9 dan 10 November 1973, AKA untuk pertama kalinya tampil dalam konser di TIM. Walaupun belum bisa disebut sebagai penampil musik bawah tanah yang sebenarnya, mereka memang sudah sepatutnya ditempatkan pada urutan pertama dalam deretan pemusik heavy rock and sound. Ucok AKA dalam pertunjukan diatas panggung menyambut para penonton cukup dengan sikap lengan keatas, tanpa ada secercah senyuman. Komunikasinya dengan penonton tidak begitu harmonis. Ucok hanya memperlihatkan kebolehannya saja, di samping raut mukanya yang keras dan jarang sekali tersenyum dan baginya tidak perlu berbasa-basi dan itu merupakan prinsip Ucok yang konon untuk mendapatkan predikat musisi yang disegani.

Dalam salah satu aksi pertunjukan musiknya, Ucok beraksi sambil membawa lagu yang berjudul Sex Machine, ia seakan-akan kesurupan dan memeragakan adegan bersenggama dengan salah satu alat musiknya. Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung buka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, ia dimasukkan ke dalam peti mati.

Di panggung ia mengenakan kostum semi ketat dan memang tidak padat disangkal bahwa tingkahnya di atas panggung Ucok Harahap tercatat sebagai yang paling gila diantaa musisi rock yang berkiprah di masanya. Ia sering kali muncul dengan goyangan-goyangan seperti seseorang yang sedang bersenggema. Adegan menggantung diri atau masuk ke dalam peti mati. AKA band memang gemar menampilkan aksi-aksi Ucok Harahap yang sensasional seperti Alice Cooper. Alice Cooper adalah musisi yang berasal dari Amerika yang setiap kali dalam pementasan musiknya selalu menghadirkan atraksi teatrikal di atas panggung, misalnya masuk dalam peti mati atau diikat di tiang gantungan, selain itu Alice Cooper dalam pertunjukannya juga menggunakan ular sebagai pelengkap aksi teatrikalnnya.

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 1"

http://massandry.blogspot.com

Berdiri-berdiri di atas awan
Melayang-melayang setinggi bintang
itulah tujuan cita-citaku
diri ku haruslah menggapai bulan
(Mencarter Roket, Duo Kribo)

Bagi yang mereka yang pernah muda pada dekade 1970-an pasti tidak asing lagi dengan potongan lirik lagu di atas. Sepenggal lirik yang diambil dari Album Duo Kribo (duet Ucok bersama Ahmad Albar) dengan judul Mencarter Roket. Lagu ini merupakan salah satu dari banyak lagu keras yang diciptakan oleh Ucok Harahap selepas ia hengkang dari grup musik rock AKA yang membesarkan namanya. Ia merupakan sesosok roker fenomenal yang sarat dengan sensasi pada masanya.

Kehadirannya menyemarakkan dekade di mana ketika itu gema musik rock terdengar begitu menggelora walaupun terlintas hanya sebatas gejala musiman. Dengan rambut kribo dan dandanan eksentrik yang menjadi trademark-nya, ditambah dengan aksinya yang selalu mengundang kontroversi di dalam maupun di luar panggung pertunjukan, kisah cinta dan kehidupannya, Ucok menderapkan langkah gegap gempita hidupnya sebagai seorang rocker gaek yang tidak pernah mengenal kata usia.

Ucok Harahap lahir di dunia pada tanggal 25 Mei 1944, banyak orang mengira bahwa darah yang mengalir di tubuh Ucok Harahap adalah darah arek Suroboyo murni, tetapi sebenarnya ia merupakan keturunan dari Tapanuli. Perjalanan hidupnya sebagai seorang musisi telah dijalani semenjak kecil. Pada umur 6 tahun ia sudah mendirikan sebuah grup band cilik dengan nama Kancil dan ia pun dididik keluarganya untuk mengenal tuts-tuts piano Ayahnya pak Harahap bukanlah seorang musisi, melainkan seorang pengusaha yang mengharapkan agar anak laki-lakinya ini bisa menggantikan kedudukannya kelak sebagai pemilik dan pengusaha apotik di Jl Kali Asin Surabaya.

Ucok ketika remaja mempunyai hobbi yaitu mendaki gunung dan menyepi sewaktu bersekolah. Hobby ini ia lakukan karena putus cinta gara-gara seorang wanita. Berawal dari cita-citanya yang ingin menjadi musikus yang mempunyai nama dalam blantika musik populer di Indonesia. Keinginan sang ayah untuk menjadikan Ucok sebagai penggantinya sirna sudah karena pembawaan darah Ucok lebih kuat pada bidang seni . Ketika usia beranjak dewasa dia melepaskan sisi kebocahannya dalam sebuah kelompok band dewasa.

Sebelum bergabung dengan AKA, Ucok telah keluar masuk sebanyak sembilan kali dalam band-band yang ada di Surabaya. Band-band yang pernah Ucok singgahi antara lain, band Safari, Varianada, Blue Jeans Box, Black Shadows, Bie Bos, dan lain-lainnya. Diantara banyak band yang pernah ia singgahi, ia kemudian merasa berada pada satu titik jenuh untuk terus ikutan-ikutan dalam sebuah band. Ia pun kemudian berinisiatif untuk membentuk bandnya sendiri, yang kemudisan diberi nama AKA. Nama AKA sendiri merupakan kepanjangan dari nama usaha ayahnya Apotik Kali Asin. AKA ketika terbentuk pada tanggal 23 Mei 1967 mendapat dukungan penuh dari orang tua Ucok, oleh karena itulah usaha keluarga berupa sebuah apotek di Surabaya menjadi sponsor utama dari AKA.

Namun demikian sampai dua tahun grup ini masih mencari-cari warna musiknya dan belum mendapatkan pemain yang tetap serta mutu yang meyakinkan. Baru kemudian setelah tahun 1970 tersaringlah empat orang anggota tetap, Ucok sebagai organis dan vokalis, Arthur Kaunang sebagai bassis, Soneta Tanjung sebagai gitaris, dan Syech Abidin sebagai drummer. Antara tahun 1969-1971, AKA sempat bermain beberapa kali di West Point Garden, Singapura.

Lagu dalam album pertama AKA berhasil menduduki tangga lagu pertama lagu-lagu Barat di radio Australia. Ucok mengakui, AKA banyak berkiblat kepada grup-grup musik dunia seperti Beatles, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, Grand Funk, dan Bee Gees. Tidak jarang AKA dalam pementasan panggungnya sering membawakan lagu-lagu yang digemari ketika itu oleh para pencinta musik rock tanah air, seperti lagu-lagu dari grup musik Blind Faith, Led Zeppelin, Deep Purple, James Brown dan Black Sabbath.

AKA perlu memainkan lagu-lagu dari kelompok musik luar negeri karena grup-grup besar itu sangat digemari di Indonesia. Ucok mendapatkan inspirasi musikal dari grup musik dan vokalis yang ia sukai yaitu, Deep Purple, alice Cooper, dan James Brown. Tetapi terdapat suatu keunikan bagi grup musik ini, karena diantara hingar bingar musik rock yang dinyanyikannya AKA dapat pula membawakan lagu-lagu Indonesia populer, tidak terkecuali lagu-lagu yang berlangggam Jawa.

Mengutip artikel yang berjudul Sejarah Musik Rock Indonesia yang ditulis oleh Wendi Putranto (Editor Majalah Rolling Stones Indonesia) yang menjelaskan bahwa Embrio kelahiran musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 1970-an sebagai pendahulunya. misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka adalah generasi pertama rocker Indonesia.

Bacaan Ringan "RESPON PEMERINTAH TERHADAP AKSI MUSISI ROCK TAHUN 70-an - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
AKA tidak lagi selalu menampilkan peti mati, kulit sapi, tengkorak, dan lain-lainnya dalam pertunjukan karena ada larangan dari pemerintah. Oleh karena itu AKA hanya mengadakan pertunjukan ala kadarnya. Memang bagi AKA sendiri hal itu sangat tidak menguntungkan. Selain di pulau Jawa, Ucok Harahap dari AKA juga masuk black list di Bali sama halnya seperti Mickey. Ia mengungkapkan:“Hampir setiap pertunjukan musik AKA, terutama di daerah yang masyarakatnya belum terlalu terbuka, selalu dijaga ketat dan diawasi. Sebetulnya bukan masyarakatnya yang menolak AKA, tetapi penguasa setempat”.

Dalam salah satu pertunjukannya, AKA tampil di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tanpa atraksi peti mati dan keanehan lainnya, mereka hendak menyuguhkan pertunjukan musiknya saja. Meski tanpa peti mati, Ucok masih mampu menyemarakkan atraksinya, seperti terjun ke tepi kolam dan menari-nari sambil mengitari air mancur. Selain grup musik diatas yang mendapat teguran dari pihak keamanan, Guntur Simatupang dari grup musik Destroyer pada aksi panggungnya di Medan dilarang tampil oleh pihak keamanan. Pelarangan ini dilakukan karena pihak keamanan takut gaya panggungnya akan dicontoh oleh kalangan kaum muda di Medan dan ular yang dipakai oleh Guntur Simatupang dalam atraksinya dianggap membahayakan keamanan para penonton khususnya penonton di bagian depan. Sama halnya dengan pertunjukan grup musik Gemas dari kota Banjarmasin yang mendapat teguran dari pihak kepolisian setempat, walaupun dengan alasan yang berbeda. Grup musik ini ditegur karena aksi vokalis melepaskan celana levis yang dipakainya di depan penonton.

Peneguran tidak hanya ditujukan kepada musisi rock pria, musisi rock wanita juga mendapatkan perlakukan yang sama. Pihak panitia yang menyelenggarakan konser musik rocker perempuan Euis Darliah pun mendapat teguran dari pihak kepolisian kota Medan karena gaya yang dipertunjukkan Euis Darliah dalam pertunjukannya dinilai tidak sopan. Euis Darliah ketika bersama grup Antique Clique juga memperlihatkan gaya yang tidak sopan dalam pertunjukan musik di Gedung Olah Raga Medan. Banyak yang berpendapat gaya Euis Darliah dalam pertunjukan ini seperti gaya seorang penari striptease di klab malam.

Berbeda dari musik pop, musik rock jarang tampil di TVRI karena beberapa alasan. Apabila musisinya tampil, maka lagu yang dinyanyikannya bukan lagu rock. Hambatan pertama dari musisi itu untuk tampil di TVRI adalah adanya larangan yang mendeskreditkan mereka, misalnya larangan musisi pria yang berambut gondrong tampil di TVRI, padahal sebagian besar musisi rock di Indonesia berambut panjang atau gondrong. Hal itu dinyatakan pada tanggal 18 April 1972 dalam Acara Kamera Ria. Untuk tampil di TVRI musik rock harus dinasionalisasikan, artinya jangan menampilkan wajah asing secara utuh, musisi itu harus mencoba untuk merangkul seluruh masyarakat dengan lirik-lirik Indonesia dan berpenampilan yang rapi.

Musik rock tidak ditampilkan di TVRI karena alasan narkotika. Sebenarnya alasan itu hanya bercermin dari penyanyi rock Dedy Stanzah yang akan ditampilkan di salah satu acara TVRI ternyata beberapa waktu kemudian sebelum tampil ditahan oleh pihak berwajib. Menurut Djuha Irawadi dan Sofyan, keduanya merupakan pengarah acara di TVRI, sebenarnya TVRI tidak anti-musik rock. Hanya saja menurutnya, musisi rock perlu memperhatikan perihal tata krama yang berlaku. Pakaian tidak boleh sembarangan atau rambut tidak boleh acak-acakan.

Hamid Gruno, pemandu bakat dari TVRI pernah diskors oleh atasannya karena pemain The Rollies yang ditampilkannya di TVRI tahun 1974 berambut panjang. Di TVRI Benny dari The Rollies membuka topi dan mengibaskan rambut panjangnya saat diwawancarai Remy Sylado dari majalah Aktuil. Sejak saat itu The Rollies selama beberapa tahun tidak pernah ditampilkan lagi di TVRI.

Sebagai seorang musisi, Benny Rollies merasa ruang geraknya kurang begitu leluasa akibat pembatasan-pembatasan formal yang ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya tentang rambut, musisi harus menyisir rapi rambut menurut ukuran sepihak untuk bisa muncul di layar TVRI. Benny Rollies juga mengatakan dia tahu semua itu dilakukan pemerintah untuk mewujudkan apa yang disebut itu sebagai musik yang berkepribadian nasional, tetapi dengan terus terang dia mengatakan bahwa musik semacam itu tidak mungkin terkenal di seluruh dunia. Ia pun mempertanyakan seperti apa sebenarnya musik yang berkepribadian nasional. Musisi harus mengorbankan kebebasannya dalam berdandan, atau ia tidak memiliki peluang untuk bisa dikenal publik lewat satu-satunya siaran televisi nasional di Indonesia.

Nada keberatan terhadap ketetapan pemerintah juga dirasakan oleh anggota grup musik AKA, Ucok AKA menyatakan pendapatnya: ”Sebetulnya kami pernah diminta untuk pentas dengan membawakan lagu-lagu dari rekama volume II AKA, tetapi kami menolak karena harus menjepit dan mengikat rambut kami. Kami maunya apa adanya saja. Kalau memang rambutnya gondrong ya biarkan saja seperti itu dan tidak usah ditutup-tutupi”

Baru pada tahun 1977, musik rock masuk TVRI lewat siaran iklan ”Mana Suka Siaran Niaga”. Album Duo Kribo (Ahmad Albar dan Ucok Harahap) muncul di televisi lewat album, “Neraka Jahanam” (1977) setelah itu banyak produser kaset rock yang memanfaatkan TVRI sebagai medium promosi. ( berbagai sumber)

Bacaan Ringan "RESPON PEMERINTAH TERHADAP AKSI MUSISI ROCK TAHUN 70-an - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Walaupun lahirnya Orde Baru memberikan secercah harapan baru bagi para seniman musik karena seniman bisa dengan bebas mengekpresikan karya-karya yang menampilkan tema-tema serta gaya ungkap sesuai dengan gejolak hati nurani mereka, namun kebebasan pada dekade 1970-an masih dirasakan sebagai kebebasan yang semu karena masih terjadi aksi penyetopan acara-acara pertunjukan musik yang menampilkan aksi gaya panggung rocker yang dinilai ngak-ngik-ngok dan tidak sesuai dengan kepribadian nasional.

Bahkan sebelum memasuki dekade 1970-an, pelarangan pentas suatu grup musik terjadi pada akhir dekade 1960-an. The Props dari Semarang dilarang pentas oleh pihak berwajib karena penampilannya tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Pernah juga ada yang ditahan karena seseorang yang bernama Martinus menyanyikan lagu-lagu ala Jimmy Hendrix sambil tidur-tiduran.

Memasuki dekade 1970-an, aksi dan gaya panggung para musisi rock ternyata sudah mampu membuat pusing kepala para aparat keamanan. Beberapa di antaranya bahkan sudah dinyatakan terlalu sadis dan mampu menggerakkan agretivitas penonton, seperti yang dilakukan oleh Ucok Harahap dari grup musik AKA dan Mickey Mickelbach dari grup musik Bentoel dari Malang. Untuk mengantisipasi agar para musisi itu tidak mengulangi perbuatannya, maka diambil langkah oleh pihak aparat keamanan, yaitu berupa sanksi terhadap musisi tersebut.
Untuk waktu jangka tertentu mereka beserta grup musiknya tidak diperkenankan menginjakkan kaki di atas panggung pertunjukan. Mickey yang melakukan aksi penyembelihan kelinci di Surabaya tidak diperkenankan melakukan pertunjukan di panggung umum untuk sementara waktu. Ia sejak melakukan aksi penyembelihan kelinci sudah masuk black list di Surabaya.

Dampak aksinya tersebut terasa ketika dia ingin pentas di Bali, dengan tiba-tiba ia dilarang untuk tampil. Pemerintah setempat berpikir dalam pertunjukannya nanti ia akan menyembelih burung hantu di depan umum, seperti halnya peristiwa penyembelihan kelinci di Surabaya. Ia tidak menyalahkan pemerintah setempat yang melarang ia untuk tampil, tetapi ia lebih menyalahkan pihak dari panitia. Selain AKA dan Bentoel, grup musik yang mengalami nasib yang sama adalah Ternchem. Grup musik ini pernah mengalami masa pelarangan pentas pada dekade 1970-an oleh pemerintah setempat karena permainannya terlalu berani dan gaya yang ditampilkannya cenderung menyimpang dari gaya yang biasa ditampilkan oleh grup-grup musik lainnya.

Di Surabaya pada tahun 1972 Ucok Harahap dengan AKA-nya berkali-kali berurusan dengan pihak penguasa. Pertunjukannya diancam dibubarkan karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Banyak terjadi bahwa kebudayaan ditentukan oleh selera siapa yang berkuasa. Dalam wawancara oleh majalah Midi Ucok AKA mengungkapkan: “Dalam melakukan pertunjukan saya memang sering bisa mempengaruhi anak-anak muda yang menonton dengan teknik performace saya yang tersendiri, misalnya saya sampai “Fly” maka anak-anak muda penonton pun ikut-ikutan. Padahal sebetulnya saya hanya mewujudkan teks lagu yang justru bermaksud untuk memberi nasihat agar jangan suka mengisap ganja, dan sebagainya. Tetapi rupanya mereka meniru begitu saja tanpa melihat keseluruhan teks lagu dan menurut pihak kepolisian saya dianggap berbahaya karena bisa mempengaruhi anak-anak muda walaupun maksud saya sendiri sama sekali tidak jelek”.

Bacaan Ringan "PENETRASI RADIO BARAT BAGI PERKEMBANGAN MUSISI ROCK INDONESIA"

http://massandry.blogspot.com
Abad ke-20 ditandai oleh revolusi teknologi komunikasi dan segala produknya yang bersifat massal dan beragam. Radio sebagaimana produk alat modernisasi lainnya, hanyalah gejala awal dari generasi alat-alat teknologi baru musik yang membongkar semua pintu-pintu penyekat seni bunyi dan melahirkan anak pertama dari peradaban budaya musik massa di dunia modern.

Radio telah menghapus jarak antara bunyi dengan orang, musik dengan pendengarnya, dan “membuka” telinga manusia selebar-lebarnya. Radio dianggap memiliki kekuasaan karena tiga faktor, yakni radio siaran yang bersifat langsung, radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan, dan radio siaran mempunyai daya tarik yang kuat.

Daya tarik ini disebabkan oleh sifatnya yang serba hidup, berikut tiga unsur yang ada padanya, yakni musik, kata-kata, dan efek suara. Pesawat radio yang kecil dan harganya relatif murah ini dapat memberikan hiburan, penerangan, dan pendidikan. Pendengar dapat memilih berpuluh-puluh frekuensi stasiun radio, baik di dalam maupun di luar negeri yang disukainya di antara berbagai macam hiburan kesenian nasional atau daerah, musik populer dan klasik.

Ketiga faktor inilah, yang menyebabkan radio diberi julukan “The Fifth Estate” atau kekuasaan kelima, setelah pers (surat kabar) yang dianggap sebagai kekuasaan keempat “The Fourth Estate”. Radio mempunyai tiga faktor daya tarik bagi para pendengarnya, yaitu musik, kata-kata, dan efek suara. Salah satu unsur hidup yang menjadi tulang punggung dari radio siaran adalah musik. Orang menyetel radio terutama untuk mendengarkan musik karena musik merupakan suatu hiburan.

Pada dekade 1950-an selain siaran radio RRI, radio-radio pemancar asing seperti Radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne, Radio VOA Washington, Radio Moscow, Radio Peking-China, mulai bisa ditangkap di wilayah Indonesia. Sejak saat itu orang Indonesia secara ekstensif terserap ke dalam rebutan propaganda seni melalui musik radio dari Jakarta, Melborne, London, Washington. Musik menjadi lebih bersifat umum, langsung, terbuka. Musik yang semula hanya bisa didengar di kalangan terbatas, kemudian bisa dinikmati oleh siapa, kapan, dan di mana saja melalui radio.

Mengudaranya radio pemancar asing seperti yang disebutkan di atas memberikan referensi musical teranyar bagi para musisi Indonesia ketika itu kerena keterbatasan dari stasiun radio-radio lokal dalam memberikan suguhan musik mancanegara Terkait dengan kondisi politik tahun 60-an yang mengharamkan masuknya pengaruh musik Barat ke Indonesia karena dianggap sebagai sesuatu yang dekaden atau merusak, terlebih lagi apabila banyak remaja yang akan terbawa oleh pengaruhnya seperti yang dituduhkan oleh kalangan pemerintah ketika itu Info tentang The Beatles kemudian menjadi barang mewah yang hanya didapat oleh kalangan tertentu.

Musisi Abadi Soesman seperti yang penulis kutip dari majalah Musik Mumu mengatakan ia mengenal lagu-lagu The Beatles lewat siaran radio Australia. Sama halnya dengan Harry Roesly dalam sebuah artikel di koran Pikiran Rakyat yang mengatakan pada masa itu, tidak seperti sekarang ada MTV dan untuk mendapatkan piringan hitam saja sulit. Untuk mencari dan menghafalkan lagu-lagu terbaru dari The Rolling Stones atau Deep Purple, tak jarang harus mencarinya lewat Radio Australia dan Itu dilakukan dengan susah-payah.

Begitu juga Tony Koeswoyo dari grup musik Koes Bersaudara sedemikian seriusnya belajar memainkan gitar, ukulele, piano. Lagu-lagu Barat juga berusaha didengarnya dari corong radio ABC (Australia Broadcasting Corporation) maupun BBC (British Broadcasting Corporation) untuk menambah wawasan musiknya. Sama halnya dengan The Rollies, grup musik jazz rock yang terlahir di era ketika kran untuk musik rock telah terbuka. Seiring bergantinya situasi politik Indonesia pada pertengahan tahun 60-an. Mereka tumbuh ketika televisi belum menguasai blantika musik negeri ini. Referensi musikal masih terbatas pada piringan hitam (PH) dan harus rajin menyimak perkembangan musik Barat lewat radio Australia atau Voice of America (VOA).

Kenapa radio australia mungkin karena negara itu bertetangga dengan indonesia jadinya frekuensi nya dapat ditangkap di nusantara. selain itu juga timbul kebutuhan Setelah Indonesia merdeka untuk saling mengenal dan bekerjasama antara Australia dan Indonesia sebagai negara bertetangga. Untuk mewujudkannya, digunakan sarana radio yang dapat secara langsung digunakan sebagai salah satu media penerangan mengenai hal-hal yang terjadi di Australia, baik tentang kehidupan rakyat Australia maupun perkembangan negara ini di berbagai bidang, termasuk juga musik-musik populer. Radio Australia ini sendiri kali pertamanya mengudara dari studio Australian Broadcasting Commission (ABC), Sydney pada tanggal 20 Desember 1939, dengan pidato peresmian oleh Perdana Menteri Robert Menzies. Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) pertama kali mengudara pada tanggal 10 Agustus 1942.

http://katakelana.wordpress.com/category/sejarah-musik-indonesia/

Bacaan Ringan "PERANAN MEDIA MASA BAGI PERKEMBANGAN MUSIK ROCK TAHUN 70 AN - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Majalah
Tumbuh dan berkembangnya musik rock di Indonesia pada dekade 1970-an tidak terlepas dari adanya media cetak sebagai penyebar informasi, khususnya majalah musik. Majalah musik adalah media informasi mengenai (1) berita kegiatan, (2) sorotan, esai, kritik, dan timbangan, (3) pembahasan menyeluruh mengenai seluk-beluk musikologi. Majalah yang sering menulis mengenai dunia permusikan di Indonesia yang terbit antara tahun 1950-1980 adalah Musika, Selecta, Monalisa, Diskorna, Monitor TVRI, Midi, Top, Junior, Aktuil, Varianada, Sonata dan Violett. Majalah tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi bagi para pencinta musik dan penyanyi serta musiknya.

Beberapa majalah menempati posisi sentral sebagai majalah musik yang digemari oleh banyak anak muda, seperti majalah Aktuil dari Bandung, serta TOP dan Junior dari Jakarta. Isi berita musik masih meniru mentah-mentah majalah musik luar negeri seperti Pop Foto dan Muziek Ekspress. Majalah-majalah itu muncul dengan atribut-atribut bonusnya, seperti poster, stiker atau pun gambar setrika yang isinya adalah gambar para bintang, nama grup musik mereka, maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan musik. Dalam hal ini majalah Aktuil menjadi penting karena selalu muncul dengan ide-ide baru, seperti gambar setrika dan poster dua muka yang kemudian menjadi fenomenal dalam mengulas mengenai perkembangan musik di Indonesia. Majalah ini banyak menulis peristiwa yang terjadi dalam percaturan musik Indonesia serta berupaya untuk membentuk opini masyarakat pencinta musik.

Pembentukan opini dalam majalah Aktuil diarahkan pada kehebatan musik rock, karena musik pop sering dianggap musik yang berkualitas rendah.Perkembangan musik rock mendapat dukungan yang hebat dari majalah musik Aktuil. Hampir dalam setiap terbitan, majalah Aktuil membicarakan aktifitas musik rock di negeri ini Selain membentuk opini, majalah ini juga membentuk beberapa istilah dalam musik, contohnya istilah underground dan blantika.

Aktuil merupakan nama majalah hiburan umum beralamat di Bandung, Majalah Aktuil beredar kali pertama sejak akhir dekade 1960-an. Awal terbitnya majalah ini berupa majalah musik remaja dengan susunan pengelola pemimpin umum: Toto Rahardjo: pemimpin redaksi: Asbari Nurpatria Krisna; dan pemimpin perusahaan: Noor S.A. Majalah khusus musik yang terbit di Bandung ini menjadi legenda karena semasa hidupnya dikenal sebagai pelopor pembawa informasi perkembangan musik kepada publik Indonesia, tidak hanya yang berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Pada dekade 1970-an, majalah ini tercatat membuka jaringan kantor perwakilan dan korespondennya di luar negeri (Hamburg, Munich, Berlin, Swedia, Stockholm, Ottawa, Tokyo, Hongkong, Kowloon, dan New York).

Pada tahun 1973-1974 majalah ini sempat berhasil menembus tiras sekitar 126 ribu eksemplar, dan menjadi trend setter anak muda yang penting pada masa itu. Pada tahun 1975, Aktuil juga mengejutkan publik Indonesia dengan mengundang grup musik Deep Purple untuk berpentas di Indonesia. Saat itu, pentas-pentas musik apalagi dengan mendatangkan pemain musik dari luar negeri masih jarang terjadi. Di kota kelahirannya, majalah Aktuil memberikan pengaruh besar pada semangat kreatif para musisi-musisinya. Seperti dikatakan oleh Harry Roesli bahwa majalah Aktuil banyak memberi pengaruh besar pada semangat kreatif para musisi Bandung. Selain itu majalah ini juga menyuguhkan informasi-informas terbaru tentang perkembangan musik. Penerbitan majalah ini bermula dari ide Denny Sabri Gandanegara (Denny Sabri merupakan putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat periode 1966 – 1974), kontributor majalah Discorina, Yogyakarta. Ia kemudian bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman. Berawal dari obrolan ringan, akhirnya mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.

Avianto menemui Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Gayung bersambut, di rumah Syamsudin mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. Asal kata Aktuil diambil dari nama majalah luar negeri yaitu Actueel yang merupakan majalah musik yang terbit di Belanda. Tahun 1970-1975 merupakan masa keemasannya saat Aktuil menjadi bacaan wajib bagi anak-anak muda di Indonesia. Lebih-lebih setelah seniman Remy Sylado menyuntikkan eksperimen sastra mbeling dalam bentuk cerita bersambung Orexas.

Cerita ini sekaligus menegaskan Aktuil sebagai majalah anak muda. Orexas sendiri bukan dewa atau ksatria dari mitos Yunani, melainkan kependekan dari “organisasi seks bebas. ” Pameo yang mengatakan “belum jadi anak muda kalau belum membaca Aktuil”, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Dalam sebuah catatan Remy Sylado dikatakan bahwa majalah Aktuil menyuarakan budaya tandingan (counter culture) terhadap struktur budaya yang mapan pada masa itu. Bahkan, majalah ini masih dianggap sebagai “kitab suci”, khususnya oleh para rock mania yang besar di dekade 1970-an.

Meskipun majalah ini lebih tertarik untuk menulis berita musik rock, namun untuk urusan informasi musik dan aktualitas berita musiknya majalah ini menempati urutan pertama. Kesuksesannya kemudian menjadikan majalah ini sering dianggap sebagai majalah musik pertama di Indonesia. Padahal, kenyataannya sepuluh tahun sebelum kelahiran Aktuil, majalah musik Musika terbit di Jakarta. Mulai tahun 1976, pamor majalah Aktuil mulai merosot-setidaknya kalau dilihat dari segi penjualan. Ketika majalah ini dipindah ke Jakarta pada tahun 1979, nasibnya pun tidak menjadi lebih baik.

Majalah ini sempat menjadi majalah umum sebelum akhirnya benar-benar “mati” pada tahun 1986. Kritik musik yang disiarkan majalah Aktuil yang khusus memberitakan kegiatan-kegiatan musik itu pun tidak mewakili pengertian yang asasi tentang kritik musik. Hal ini mungkin karena pembaca hanya mengerti soal selera, dan kritik musik yang hadir di majalah tersebut terpaksa menyesuaikan diri. Sementara itu tidak dapat diingkari bahwa peta musik dunia sedang dicandui oleh lagu-lagu niaga atau pop yang dilemparkan dari negeri dolar dan musik ini rupanya menempatkan selera berada di atas segala-galanya. Selain itu keluarnya Remy Sylado disinyalir sebagai pemicu merosotnya pamor Aktuil. Pihak perusahaan dinilai Sylado tidak terbuka kepada redaksi untuk persoalan keuangan. Selain itu, konser Deep Purple juga dituding sebagai pemicu. Konser pertama memang sukses, akan tetapi di hari kedua, pintu stadiun jebol dan banyak penonton yang masuk tanpa karcis.

Banyak penyanyi dan musisi mengakui bahwa keberhasilannya didukung oleh media massa cetak. Pemberitaan media massa cetak baik positif dan negatif, keduanya dianggap menguntungkan, sebab pada hari-hari berikutnya terjadi opini yang terus berkembang. Penggemar musik rock di Indonesia adalah bentukan dari majalah. Mereka yang menjadi penggemar suatu grup musik, sebagian besar sebenarnya tidak pernah menyaksikan secara langsung pertunjukan musisi idolanya. Majalah musik juga menjadi media promosi musik rock yang penting. Sementara grup-grup musik pop sudah menggunakan televisi sebagai media promosi bagi album mereka. Album pertama God bless hanya dipromosikan lewat majalah Aktuil dan Top. Publikasi grup Superkid didukung secara terang-terangan oleh majalah Aktuil. Di setiap terbitannya, sejak Superkid diperkenalkan kepada pencinta musik rock, majalah itu selalu memuat berita-berita tentang mereka. (dari berbagai sumber)

Bacaan Ringan "PERANAN MEDIA MASA BAGI PERKEMBANGAN MUSIK ROCK TAHUN 70 AN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Perusahaan rekaman banyak yang menginginkan kaset dari produser rekaman untuk promosi. Radio kedua adalah Radio Monalisa yang mengutamakan pemutaran lagu-lagu pop Barat. Akan tetapi, studio radio ini juga mempunyai koleksi lagu-lagu berbahasa Indonesia. Menurut pengasuh acara di Monalisa, radio swasta yang dianggap top oleh perusahaan rekaman akan mendapat kiriman lagu-lagu dari perusahaan rekaman.

Radio ketiga adalah radio Prambors di Jakarta yang mulai beroperasi pada tahun 1967. Pemancar radio seperti ini dioperasikan oleh anak-anak muda yang menjadikannya sebagai penyalur hobby. Selain Radio Prambors, di Jakarta juga banyak bermunculan pemancar radio seperti TU 47, Mr Pleasant, dan beberapa nama unik lainnya yang rata-rata belum memiliki izin resmi. Prambors yang berada di sekitar Menteng baru memiliki izin resmi sebagai radio swasta niaga pada tahun 1971. Radio yang dibentuk oleh anak-anak muda di seputar Jalan Prambanan, Mendut, dan Borobudur bisa dianggap membentuk selera musik anak muda saat itu. Mereka menyiarkan lagu-lagu yang mereka gemari, yakni lagu Barat.

Radio yang menyapa pendengarnya dengan sebutan kawula muda ini menjalin hubungan akrab di antara anak muda karena memutar lagu-lagu dari grup musik The Rolling Stone, Pink Floyd, Black Sabbath, Led Zeppelin, dan sebagainya. Radio ini melayani selera anak-anak muda, diibaratkan apabila telinga kita jika sehari saja terus-menerus mendengar radio tersebut, yang didengar adalah suara teriakan-teriakan keras dari kelompok musik keras, ciri ini yang menandai Radio Prambors. Radio Elshinta dengan Riel sebagai pembawa acaranya mengisi acara yang sedang didengar oleh anak-anak muda yang gemar pada musik hiburan. Cara pengungkapan Riel dengan acaranya “dari artis untuk artis” banyak didengar oleh anak-anak muda yang gemar bermain musik dalam band pop.

Seperti halnya dengan kota-kota lainnya di tanah air, di Bandung pun berdiri pemancar radio amatir dan di antaranya yang banyak dikenal adalah YG, Mara 27, Mercy 73, Falcon, Sableng, Bongkeng, Blue Angel, dan sebagainya. Satu di antaranya yang cukup populer khususnya di kalangan para muda-mudi kota kembang adalah Young Generation – Studio Pusat atau disingkat YG Siaran radio Young Generation dapat ditangkap di seluruh daerah kabupaten Bandung, Garut, Sukabumi, dan Bogor. Selain nama-nama itu, di kota Bandung juga ada pemancar radio amatir yang cukup banyak mendapat penggemar, yaitu radio Flippies Psychedelic. Radio ini ketika kali pertama mengudara hampir semua lagu-lagu yang diputarnya adalah lagu-lagu berirama psyhedelic. Siaran radio ini dapat ditangkap tidak hanya oleh masyarakat Bandung saja, tetapi sampai Tanjung Karang, Makassar, dan kota lainnya di luar pulau Jawa. Radio Siaran di Kota Malang yang menjadi corong musik rock antara lain adalah Radio TT 77 dengan penyiar Djoni Mamisa, Radio Senaputra dengan Ovan Tobing, serta Radio KDS 8, dengan penyiarnya yang bernama Husni.

Bacaan Ringan "PERANAN MEDIA MASA BAGI PERKEMBANGAN MUSIK ROCK TAHUN 70 AN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dalam perkembangan waktu, radio sebagai media elektronika yang pertama dikenal di Indonesia mengalami momentum perkembangan baru setelah Orde Baru. Memasuki Orde Baru dunia musik Indonesia memasuki babak baru karena musik Barat lebih bebas dari tekanan pemerintah. Masa Orde Baru, kedua komponen sistem komunikasi nasional yaitu radio dan televisi menduduki tempat yang cukup penting dalam masyarakat dan berkembang dengan pesat. Berbagai stasiun radio terus dikembangkan di banyak kota-kota besar di tanah air. Perkembangan radio ini semakin menarik dengan kemunculan radio-radio siaran swasta niaga di hampir semua kota-kota besar di Indonesia.

Pada tahun 1966-1967 banyak perubahan yang terjadi dalam masyarakat akibat perubahan politik. Situasi peralihan itu merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang mempunyai hobi di bidang penyiaran radio, khususnya radio amatir untuk mengadakan siaran radio. Pemerintah pun mengeluarkan PP No. 21/Th. 1967 tentang kegiatan Amatir Radio Indonesia. Keluarnya peraturan ini dilatarbelakangi oleh mengudaranya Radio Ampera yang merupakan radio sarana perjuangan kesatuan aksi dalam perjuangan Orde Baru.

Kemunculan radio ini diikuti pula oleh munculnya stasiun radio lainnya di beberapa kota besar di Indonesia. Radio amatir adalah seperangkat radio yang dipergunakan oleh seorang penggemar untuk berhubungan dengan penggemar lainnya. Sifatnya “two way traffic communication” dalam bentuk percakapan. Mulai pertengahan dekade 1960-an, para mahasiswa memprakarsai pendirian radio swasta dengan format acara yang disesuaikan dengan selera mereka sendiri.

Kehadiran siaran radio ini berpengaruh terhadap perkembangan pendengarnya yang umumnya adalah kalangan remaja. Siaran radio yang memiliki khalayak pendengar yang paling luas menimbulkan pengaruh terhadap kelompok-kelompok musik yang baru berdiri. Setelah 1967, banyak bermunculan grup-grup musik baru, grup-grup itu memulai dengan memainkan lagu-lagu yang tengah populer pada waktu itu yang didominasi oleh lagu-lagu dari The Beatles dan sebagainya.

Berdasarkan UU No.5/Th.1964 dalam rangka usaha penertiban dan pengarahan kepada hal-hal yang positif pada tahun 1970, Pemerintah mengeluarkan PP No. 55/Th.1970 tentang Radio Siaran Non-pemerintahan. Dalam peraturan ini ditentukan bahwa radio siaran non-pemerintah harus berfungsi sosial, yaitu sebagai alat didik, alat penerangan, alat hiburan, dan bukan alat untuk kegiatan politik.

Radio dianggap memiliki kekuasaan karena tiga faktor, yakni radio siaran yang bersifat langsung, radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan, dan radio siaran mempunyai daya tarik yang kuat. Daya tarik ini disebabkan oleh sifatnya yang serba hidup, berikut tiga unsur yang ada padanya, yakni musik, kata-kata, dan efek suara. Pesawat radio yang kecil dan harganya relatif murah ini dapat memberikan hiburan, penerangan, dan pendidikan. Pendengar dapat memilih berpuluh-puluh frekuensi stasiun radio, baik di dalam maupun di luar negeri yang disukainya di antara berbagai macam hiburan kesenian nasional atau daerah, musik populer dan klasik. Ketiga faktor inilah, yang menyebabkan radio diberi julukan “The Fifth Estate” atau kekuasaan kelima, setelah pers (surat kabar) yang dianggap sebagai kekuasaan keempat “The Fourth Estate”.

Radio mempunyai tiga faktor daya tarik bagi para pendengarnya, yaitu musik, kata-kata, dan efek suara. Salah satu unsur hidup yang menjadi tulang punggung dari radio siaran adalah musik. Orang menyetel radio terutama untuk mendengarkan musik karena musik merupakan suatu hiburan. Radio adalah sarana komunikasi yang paling banyak dipergunakan untuk hiburan. Dari penelitian pelajar sembilan SLA yang dianggap mewakili kelompok masyarakat tingkat ekonomi rendah, menengah, dan tinggi, didapatkan hasil 77,02% menyatakan mendengarkan radio dan menyukai siaran hiburan, terutama musik untuk mengisi waktu senggang. Radio siaran yang tergolong sebagai radio siaran non-pemerintah ini memberikan alternatif lebih banyak dan jam siaran yang lebih lama serta acara penyajian yang lebih cocok untuk selera kaum muda.

Maraknya pemancar radio dengan antena bambu menandai kehidupan anak muda dekade 1970-an. Kehadiran radio-radio amatir yang umumnya dikelola oleh anak-anak muda banyak memutarkan lagu-lagu yang sedang trend yang mereka sukai. Pengaruh radio swasta dalam membentuk selera musik pendengarnya dapat dilihat dari tiga kegiatan radio swasta yang ditulis oleh majalah Aktuil pada pertengahan dekade 1970-an, yaitu Radio Trijaya Sakti, Monalisa, dan Prambors.

Studio–studio ini dapat langgeng berdiri selain karena adanya iklan-iklan yang bisa membiayai karyawannya, juga karena program-programnya akrab di hati para kaum muda. Radio Trijaya Sakti ini mempunyai program yang memilih lagu-lagu populer. Pemilihan lagu-lagu populer dilakukan berdasarkan atas naluri penyiar dan tidak berdasarkan permintaan pendengar. Lagu-lagu yang diputar biasanya diperoleh dari perusahaan rekaman yang mengirimkan piringan hitamnya. Penyiar Trijaya Sakti, mengakui bahwa apabila suatu lagu sering diputar, maka masyarakat pendengar akan terbiasa.

Newer Posts Older Posts Home

Bacaan Ringan "BABAD TANAH CIREBON - PART 10"

http://massandry.blogspot.com Pupuh Ketigapuluh Tiga Kinanti, 38 bait. Pupuh ini menceritakankisah sayembara memperebutkan Putri Pangur...

Blogger Template by Blogcrowds