Monday, June 30, 2014

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 6"

http://massandry.blogspot.com
Selain proyek Ucok and His Gang, ia juga melangkahkan kaki seninya dalam suatu proyek kolaborasi. Proyek kerja sama ini muncul ketika AKA alias Apotik Kali Asin pimpinan Ucok pecah dan Achmad dengan God Bless-nya mulai sepi order manggung. Duet ini memang sangat berhasil apalagi album-album Duo Kribo meledak di pasaran sampai terjual 100.000 kaset. Angka tersebut pada dekade 1970-an sudah sangat fenomenal bagi ukuran musik rock yang memang waktu itu pasar jenis musik ini sangat kecil. Keberhasilan album-album mereka didasarkan pada rasa penasaran para pecinta musik rock. Mereka ingin tahu seperti apa sih kalau duo superstar bersatu dalam satu album rekaman. Koki musik dari album-album Duo Kribo ditangani oleh gitaris God Bless, Ian Antono, yang dibayar Rp 300 ribu – untuk satu album. Duo Kribo memiliki 4 buah album yang semuanya meraih sukses besar. Album pertamanya yang bertajuk Duo Kribo Volume 1 (Irama Tara, 1977) terdiri atas 8 lagu yaitu ‘Monalisa’, ‘Neraka Jahanam’, ‘Rahmat dan Cinta’, ‘Cukong Tua’, ‘Discotique’, ‘Wadam’, ‘Kenangan’ dan ‘Kami Datang’

Album tersebut menghasilkan hits legendaris seperti ‘Neraka Jahanam’, ‘Rahmat dan Cinta’, dan ‘Monalisa’. Lagu ‘Neraka Jahanam’ kemudian dipopulerkan kembali oleh penyanyi rock, Pungki Deaz, di era 1980-an yang termuat dalam Album 20 karya arranger, Ian Antono, (Musica Studio, 1999) serta oleh grup rock top saat ini, Boomerang dalam album Segitiga (Logis Record, 1998). Sementara itu, lagu ‘Cukong Tua’ dinyanyikan kembali oleh mantan penyanyi rock grup Dara Puspita, Titiek Hamzah, dalam album Tragedi (Jakson Record, 1982).Sukses album pertama membuat Duo Kribo merilis Volume II (Irama Tara, 1978). Album ini terdiri atas 9 buah lagu, yaitu ‘Pelacur Tua’, ‘Hidup Sederhana’, ‘Penari Jalang’, ‘Pacaran’, ‘Menunggu’, ‘Tertipu Lagi’, ‘Rumah Hantu’, ‘Fajar Menikam’, dan Hujan. Ian Antono dalam album kedua ini mengajak sesama rekannya di God Bless, Yockie Suryoprayogo, untuk mempermanis lagu-lagu slow lewat sentuhan jarinya pada piranti keyboard. Album kedua ini melahirkan hits legendaris seperti ‘Penari Jalang’ dan ‘Pelacur Tua’. Lagu ‘Fajar Menikam’ dan ‘Hujan’ kembali dinyanyikan oleh Grace Simon dalam album Grace Simon 1979 (Musica Studio, 1979). Lagu ‘Hujan’ dan ‘Tertipu Lagi’ juga kemudian di daur ulang oleh Achmad Albar, Nicky Astria, dan Ian Antono, dalam bentuk akustik yang tertuang dalam album Jangan Ada Luka (HP Record, 1996)

Dekade pun berganti, ucok AKA pada dekade 1980-an banyak mengalami pasang surut kehidupan. Pada tahun 1982 menjadi tahun yang mengejutkan bagi Ucok AKA.di tahun tersebut ayahnya yang sakit memaksa dirinya pulang ke Lawang, distrik utara kota Malang. Rumah besar yang baru saja dimiliki di bilangan Sawangan, Jakarta Pusat ditinggalkan Ucok AKA dan Farida beserta kedua anak mereka begitu saja demi bakti kepada orang tua. Namun yang paling parah adalah ketika istrinya meninggalkannya. Rumah tangga Ucok AKA dan Farida yang memang tidak pernah direstui oleh orang tua. Hubungan cintanya dengan Farida berakhir ketika seorang pesuruh dari keluarga orang tua Farida datang ke Lawang menjemput pulang Farida dan kedua anaknya. Peristiwa ini selain mengakhiri kisah romantis dari pasangan kekasih bohemian rock n’roll, disatu sisi mempengaruhi mental Ucok AKA dalam perjalanan kehidupannya kedepan.

Apabila membicarakan mengenai kehidupan ucok AKA pastilah tidak terlepas dari beberapa wanita yang kemudian pernah mendampingi statistik hidup Ucok AKA, beberapa bahkan terpaut usia belasan tahun dengan Ucok AKA. Bahkan istri ketiganya, merupakan sebuah bukti trauma pasca perceraian Ucok AKA dari perkawinan sebelumnya, di mana istri ketiganya ini secara fisikal cukup mirip dengan Farida. Ucok AKA kemudian harus menyadari sebuah kebenaran ungkapan klise yaitu cinta tidak harus saling memiliki. “Kalo boleh memilih saya ingin sukses dalam keluarga dibanding dalam musik rock, cuma Tuhan punya rencana lain, saya terus terusan dibelokin, jadinya malahan sukses di musik bukan di keluarga”, sebuah pernyataan pahit yang manusiawi bagi seorang Ucok AKA yang kemudian terbukti dalam berbagai hubungan rumah tangganya yang berantakan.

Pamornya yang mulai meredup kian terasa pasca trauma 82, di tahun taberikutnya bagi Ucok AKA ibarat sebuah kisah komedi gelap berdurasi panjang. Berbagai pekerjaan dilakoninya, agar asap dapur tetap mengepul. Bolak balik dari Malang ke Jakarta pun dijalaninya, karena Jakarta baginya adalah kota industri yang selalu mengepulkan asap dapur rumahnya di Malang. dapat dilihat, mulai dari penata ilustrasi musik untuk berbagai film, menjadi pengurus PARFI, membuka usaha batako, menjadi kutu loncat untuk berbagai band rock dari Warrock Power Band, hingga Coksvanska [yang kesemuanya kurang sukses di pasaran], bahkan hingga menjadi paranormal. seperti dikatakannya bahwa ketika teman-temannya yaitu Arthur Kaunang telah bermain musik untuk Tuhan, Sonata Tandjung menjadi pendeta, dan Sjech Abidin menjadi ustadz, maka Ucok memilih menjadi paranormal. Baginya menjadi paranormal, pendeta ataupun ustadz adalah profesi yang sama, yaitu memiliki tujuan untuk menolong orang lain. Walaupun ia tidak memungkiri bahwa niatnya menjadi paranormal juga disebabkan karena ia tidak ingin bersekolah terlebih dahulu seperti ketika hendak menjadi ustadz ataupun pendeta.(berbagai sumber)

http://katakelana.wordpress.com/category/sejarah-musik-indonesia/