Tuesday, June 3, 2014

Bacaan Ringan "SEJARAH BERDIRINYA GROUP MUSIK "S.A.S BAND" - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Perjalanan Album SAS Group
Dibawah naungan bendera Indra Record, album pertama SAS direkam dengan judul SAS Group Vol.1 Ada 8 (delapan) lagu yang direkam. Tiga lagu berlirik Bahasa Inggris : Baby Rock, Greensleeves dan Space Ride. Lima lagu berlirik Bahasa Indonesia : Rindu, Kenangan Badai di bulan Desember, Mawar Rimba, Bila Musim Berganti, dan Pusara Cinta. Lagu gacoan pada album perdana SAS adalah : Baby Rock, yang diciptakan Arthur Anezs dan Sunatha Tanjung. Suara gitar Sunatha Tanjung mengerang-erang tak putus mulai awal sampai akhir lagu. 

Dengan fasih pula Arthur mengartikulasikan lirik lagu Bahasa Inggrisnya, sembari menimpali erangan gitar sunatha dengan suara organ-nya. Banyak pemerhati mengatakan bahwa ini puncak karya SAS Group. Bahkan musisi-musisi muda banyak yang bingung dan tidak percaya, bahwa lagu Baby Rock diciptakan pada tahun 1976. Mengingat 30 (tigapuluh) tahun lalu tehnologi rekaman dan alat musik sangatlah sederhana, sehingga jelas dibutuhkan keahlian yang mumpuni untuk menghasilkan karya lagu tersebut. Bayang-bayang AKA masih mempengaruhi penggarapan album perdana SAS. 

Lagu Kenangan Badai di bulan Desember, mengingatkan pada Badai di bulan Desember dari AKA Group. Kedua lagu tersebut sangat mirip, maklum keduanya dinyanyikan dan diciptakan oleh orang yang sama : Syech Abidin. Lagu Kenangan Badai di bulan Desember dari SAS Group adalah “Jawaban” dari Badai di bulan Desember dari AKA Group. Bayang-bayang AKA bahkan juga kelihatan pada bagian akhir kaset, space seloide diisi dengan 2 lagu AKA yang ditambahkan pada akhir kaset, yaitu : Mira dan Jatuh Cinta.
SAS Vol II adalah judul album kedua dari SAS Group. Terdiri dari 8 Lagu, 3 berlirik Bahasa Inggris : Somewhere (Sas) Bad Shock (Sas) dan Summer Sun (Sas), 6 Lagu berlirik Bahasa Indonesia : Sedih (Syech Abidin), Kebebasan (Syech Abidin), Salah dan Dosa (Sas Group) Hangatnya Cinta (Syech Abidin) dan Kasihku Bungaku (Sunatha Tanjung). Perhatikan lagu Exodus, adalah sebuah lagu yang diciptaan Gold dan dipopulerkan oleh Matt Monro. 

Dahulu banyak musisi kita yang juga melakukan hal serupa. Mendaur ulang lagu barat untuk direkam di album mereka. Misalnya God Bless dengan Eleanor Rigby (Beatles) atau Friday on My Mind (Gary Moore), Super Kid dengan I Saw Here StandingThere (Beatles) dan The Rollies dengan Lagu Gone are The Song of Yesterday (Love Affairs) atau The Love of A Woman (Barry Gibb). Album ini bertumpu pada lagu Bad Shock sebagai gacoannya. Sedih, kebebasan, Salah dan Dosa, hangatnya Cinta dan Kasihku Bungaku adalah lagu-lagu pada album ke-2 yang dominan kesan pop-nya, sehingga album kedua ini didominasi lagu-lagu pop. Walaupun masih ada lagi 2 (dua) lagu bernuansa rock selain Bad shock yaitu : Somewhere dan Summer Sun.

Album ke 3 dari SAS adalah SAS Vol-3 terdiri dari 13 lagu yaitu : Nyata bagi Kurnia (Syech Abidin), Blue Sexy Lady (Arthur & Sunatha), Untuk Dirimu (Syech Abidin), Laki-laki Iseng (Sunatha Tanjung), Dream Stealer (Arthur & Sunatha), Sinar Harapan (Syech & Sunatha), Hanyut oleh dirimu (Syech Abidin), Exodus (SAS Group), Dewi Bulan (Sunatha Tandjung), Senyum (Syech Abidin), Dunia buram (SAS Group), Akhir Sedih (SAS Group), Karena Dia (SAS Group). Covernya bergambar personil SAS dengan seekor anjing Herder. 

Sunatha masih kelihatan energik dan belia. Sedangkan Album ke 4 dari diberi judul SAS Vol.4 - LAPAR. Hal yang menarik pada album Sas Group Vol 4 adalah lagu LAPAR itu sendiri, SAS mengajak melongok saudara kita yang masih banyak mengalami kelaparan. Album ke-4 terdiri dari 10 lagu : Tatto Girl (Arthur & Sunatha), , Lapar (Syech Abidin), Sang Maha Jaya (Sunatha Tanjung), Tragedi (Syech Abidin), Expectation (Arthur & Sunatha), Seruling duka (Syech Abidin), Risau (Syech Abidin), Semoga (Sunatha Tanjung), Hangatnya Cinta (Syech & Group), Sedih (Syech & Group), Kebebasan (Syech & Group), Salah dan dosa (Sas Group).

Album kelima SAS Group’80 mempunyai cover yang “berbeda” dengan album-album SAS yang lain. Gambarnya bersetingkan zaman purbakala. Layaknya manusia purba, SAS berpakaian sangat sederhana dilengkapi dengan : Senjata berburu, gerabah-gerabah, api unggun dan berlokasi di sebuah gua. SAS mengajak back-tracking mengusung masa lampau. Setidak-tidaknya itu yang disampaikan melalui cover dan lagu-lagu pada album ini. 

Pada lagu Jaya Katwang, SAS bercerita tentang kegagahan raja Kediri yang pernah hidup di sekitar tahun 1222. SAS juga bercerita tentang raja pertama Mojopahit, yang bergelar Kertarajasa (1293-1309) pada lagu RadenWijaya (Arthur Kaunang). Masih ada 3 (tiga) lagi karya SAS pada album ini yang bersetingkan zaman kerajaan Kediri dan Majapahit : Panglima Tar-tar menantang (Arthur Kaunang), Panglima Sihpi (Arthur Kaunang), dan Dialog Wijaya – Panglima Sihpi (Arthur Kaunang).
Selain 5 (lima) lagu yang bersetingkan zaman kerajaan tersebut, masih ada 5 (lima) lagi lagu lain yaitu : Gadis, Teror, Hujung Galuh (Surabaya), Elita dan Dupa Asmara.

Diantara album SAS, mungkin album ini yang agak jarang dijumpai. Mungkin selain promosinya saat itu kurang greget, juga pada album ini tampaknya kurang bagus bila dibandingkan dengan album-album SAS yang lain.

Sedangkan pada album SAS yang keenam yang bertajuk SAS 1981, terjadi perubahan yang cukup mencolok pada album ini. SAS kali pertama menyanyikan karya orang lain : Stambul Cha-cha dan Aurora. Aurora adalah lagu baru yang diciptakan Yahya. Sedangkan lagu Stambul Cha-cha lagu karangan Oslan Hussin (dipopulerkan oleh Alm. Bing Slamet). Album-album sebelumnya, semua lagu karya trio : Arthur, Sunatha atau Syech. Pada album ini kali pertama pula Sas dibantu orang lain, adalah Soetanto Soepiadhy dan Yahya membantu menciptakan lagu pada album ini. Soetanto Soepiadhy menggarap lirik lagu-lagu karangan Arthur Kaunang seperti : Indonesia, Di bawah kolong Jembatan, Dua dara bercanda. Sedangkan Yahya membantu menulis lirik : Jika Nanti Kau Panggil Namaku (Syech Abidin), Jangan Hanya Nostalgia (Syech Abidin), Bis Malam (Sunatha Tanjung) dan Aurora (Yahya). Pada lagu Jika Nanti Kau Panggil Namaku ada suara Evi Fakih membantu vokal latar.

Sejak merilis Episode Jingga, SAS menjadi lebih matang. Episode Jingga lebih kental nuansa rock, demikian halnya dengan album-album berikutnya. Ini bisa dimaklumi, di era tahun 1985-an musik rock mulai menggeliat. Maraknya pertunjukkan rock didaerah, dan kesempatan memasuki dapur rekaman bagi musisi rock menandai era kebangkitan musik rock di tanah air. Bak jamur, kemudian bermunculan nama-nama baru dari produk festival musik rock saat itu : Harley Angel’s, Elpamas, Rock Trickle, Adi Metal, Power Metal, Kamekaze dsb. Produser rekaman sudah mulai memahami bahwa rock adalah pangsa pasar yang juga menjanjikan, sehngga SAS dapat merealisasikan idealismenya tanpa harus bergaining dengan produser lagi.
Album Episode Jingga menjadikan nama SAS semakin berkibar. 

Berbagai tour dilakukan dalam rangka mempromosikan Episode Jingga. Di Jember, konser SAS yang diberi judul “Duel Meet SAS vs Ucok & His Gang”, mencoba mempertemukan SAS Group dengan Ucok Harahap. Ucok hadir dengan mengusung gaya lama di era tahun 70-an yang sudah usang, lengkap dengan gerakan “panas” ala James Brown dan teatrikalnya Black Sabbath. Ada accident saat itu, ketika digantung, kaki diatas kepala dibawah, mendadak tali terputus. Ucok jatuh, tidak bisa melanjutkan penampilannya. Penonton tercengang dan tegang. Di Stadion Kreongan Jember spontan terdengar koor berulang-ulang : “Ucok mati, Ucok mati !!!!!” Tapi untunglah tidak terlalu berbahaya, segera dilarikan ke luar Stadion. Panggung kembali diisi, penampilan SAS yang jauh lebih bagus, dibandingkan band saudara tuanya.

Walau tidak sesukses Episode Jingga, tahun 1988 SAS merilis album yang diberi judul Sirkuit. Album ini mengandalkan lagu slow rock “Sampai Bertemu Lagi”. Kembali Soetanto S membantu dalam pembuatan lagu yang berjudul Sirkuit. Efek suara gitar Sunatha Tanjung pada lagu Sirkuit, meraung-raung seperti mobil formula yang sedang berpacu. Suara Arthur melingking dengan cepat pada refrain, adalah salah satu kekuatan lagu ini. Dan SAS-pun akhirnya menyudahi karya mereka dengan album terakhir Metal Baja . Walaupun belum ada pernyataan resmi bubarnya SAS, tapi hingga sekarang mereka telah mati-suri di blantika musik cadas tanah air.

Sekarang masing - masing personil sudah mulai menikmati harituanya. Sunatha Tanjung mengundurkan diri dari dunia musik hingar bingar dan konon menjadi pendeta seperti yang dilakukan Alex Kembar Group atau Ade Manuhutu. Arthur sesekali muncul di pub-pub untuk mengobati kerinduannya bermusik dan punya anak artis cantik terkenal Tessa Kaunang. Syech Abidin telah mewariskan bakat ngebandnya ke anak-anaknya yang sekarang mendirikan Gift-Band, Fariz (drumer), Fahrur (vokal), Fahim (bas), dan Zakaria (gitar). Sementara dikhabarkan bahwa Ucok AKA Harahap, yang memang nomaden, pernah menetap di Jakarta. Sempat pula tinggal di Yogya selama 2 tahun, pernah juga berada di Muntilan. Sesekali muncul di CafĂ©-nnnn Lawang dengan mobil “Batman”-nya.

Mungkin masih ada “artefak” SAS yang tertinggal, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pelipur lara kerinduan, sekaligus “Pangeling-eling”. Bagaimanapun mereka adalah salah satu group band yang turut memajukan musik rock ditanah air, yang –mungkin- sekarang terlupakan….!!!! Tapi tidak dengan karya-karyanya, Rudal-rudal Negara Super Power………!!!! Oh…oh … Larantuka !!!! (elf).

Diskografi - Album SAS
1976
SAS Group - Volume 1
1977
SAS Group - Volume 2
1978
SAS Group - Volume 3
1979
SAS Group - Volume 4
1980
SAS Group ‘80
1981
SAS-1981
1985
Episode Jingga
1988
Sirkuit
1991
Metal Baja
Diskografi - Kompilasi
1990
The Best of SAS (1990 Arrangement)
1993
20 Golden Hits
*) Pengemar SAS, Karyawan Bank Mandiri Cabang Madiun
posted by elvin hendratha @ 1:30 AM