Monday, June 30, 2014

Bacaan Ringan "PERANAN MEDIA MASA BAGI PERKEMBANGAN MUSIK ROCK TAHUN 70 AN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Era globalisasi telah memungkinkan bangsa Indonesia menikmati berbagai bentuk seni pertunjukan, baik yang disajikan secara langsung maupun tidak langsung lewat media massa. Sebagai media massa yang saling melengkapi, keberadaan majalah dan radio pada dekade 1970-an sangat menopang perkembangan musik popular, tidak terkecuali musik rock. Radio dan majalah disini berperan sebagai sumber informasi bagi musik dalam maupun luar negeri.

Pada masa itu grup musik yang diberitakan di majalah, lagunya juga diperdengarkan oleh radio. Majalah musik menjadi sarana yang menghubungkan penggemar musik di Indonesia dengan para bintang di luar negeri. Para musisi dan penggemar musik di Indonesia mengenal musisi rock Barat dari majalah baik dalam maupun luar negeri. Kolom-kolom dalam majalah ini juga bertindak sebagai semacam iklan dari rekaman baru musisi dunia. Selain itu majalah berperan sebagai penghubung antara pengemar musik rock, musisi rock lokal, dan musisi rock dunia.

Radio
Abad ke-20 ditandai oleh revolusi teknologi komunikasi dan segala produknya yang bersifat massal dan beragam. Radio sebagaimana produk alat modernisasi lainnya, hanyalah gejala awal dari generasi alat-alat teknologi baru musik yang membongkar semua pintu-pintu penyekat seni bunyi dan melahirkan anak pertama dari peradaban budaya musik massa di dunia modern. Radio telah menghapus jarak antara bunyi dengan orang, musik dengan pendengarnya, dan “membuka” telinga manusia selebar-lebarnya.

Melalui radio, musik Barat diperkenalkan secara efektif dan meluas kepada masyarakat umum ke seluruh Indonesia. Siaran radio yang sah di Indonesia dimulai pada tahun 1925 pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ketika Bataviaasche Radio Vereneging (BRV), lembaga Radio Batavia yang dikelola oleh sekelompok penggemar radio ini banyak menyiarkan acara-acara musik Barat. Perkumpulan-perkumpulan radio juga bermunculan di berbagai kota di Pulau Jawa. Solo memiliki Solosche Radio Vereeniging (SRV), Yogyakarta menjadi basis Mataramche Vereeniging voor Radio Omroep (MAVRO), Surabaya mempunyai beberapa stasiun radio, salah satunya adalah Algemene Radio Vereeniging Oost Java. Bandung memiliki Vereeniging van Oorstersche Radio Luisreraars (VORL), dan lain-lain. Pada perkembangannya sekelompok pengusaha Belanda mendirikan stasiun radio Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) di Batavia. Siaran perdana radio ini dipancarkan pada 31 Maret 1934 dan direlai cabang-cabangnya di sejumlah kota.

Secara keseluruhan, NIROM membagi siaran dalam dua kelompok, yaitu untuk pendengar bangsa Eropa dan pendengar bagian “ketimuran”. Selain NIROM yang mempunyai hak memungut uang penarik dari semua pemilik radio, stasiun radio swasta juga bisa ditemukan di gelanggang media di wilayah Hindia Belanda. Organisasi radio swasta yang dikelola oleh penduduk pribumi dikenal sebagai stasiun radio ketimuran. Pada tahun 1937, stasiun radio ini bergabung bersama dalam satu perhimpunan badan-badan penyiaran, yaitu Perikatan Perhimpunan Radio Ketimuran (PPRK). Baik stasiun radio Eropa maupun pribumi memberikan sebagian besar waktu siaran mereka untuk acara seni dan hiburan.

Jika stasiun radio Eropa umumnya menyajikan musik Barat dari piringan hitam, maka stasiun radio pribumi mengkhususkan pada penyajian musik daerah. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Hindia Belanda dan membangun suatu sistem siaran yang terpusat. Sesudah Indonesia merdeka, monopoli siaran radio ini diambil alih oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dan berhasil memonopoli penyiaran berita-berita nasional, sementara itu cabang-cabangnya di daerah memberikan sebagian waktu siarannya untuk acara-acara setempat.

Memasuki dekade 1950-an selain siaran radio RRI, radio-radio pemancar asing seperti Radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne, Radio VOA Washington, Radio Moscow, Radio Peking-China, mulai bisa ditangkap di wilayah Indonesia. Sejak saat itu orang Indonesia secara ekstensif terserap ke dalam rebutan propaganda seni melalui musik radio dari Jakarta, Melborne, London, Washington. Musik menjadi lebih bersifat umum, langsung, terbuka. Musik yang semula hanya bisa didengar di kalangan terbatas, kemudian bisa dinikmati oleh siapa, kapan, dan di mana saja melalui radio.

Peranan RRI dalam penciptaan bidang kreasi musik populer di Indonesia cukup krusial, karena penyelenggaraan sayembara untuk memenangkan “Bintang Radio” menyebabkan timbulnya komposisi-komposisi baru dalam bidang vokal, baik dalam jenis sariosa, hiburan maupun keroncong. Bintang Radio tingkat daerah, provinsi, dan pusat, serta dibukanya perusahaan studio rekaman milik pemerintah Lokananta, dan beberapa perusahaan swasta di Jakarta (Irama, Musika) di awal dekade 1950-an, yang hasilnya produksinya disiarkan melalui berbagai stasiun radio pemerintah RRI pusat maupun daerah, adalah koridor penyebarluasan musik massa yang pertama di Indonesia. Bersamaan dengan itu musik juga mulai “dijual” kepada publik secara umum dalam bentuk pertunjukan langsung di tempat-tempat terbuka. Radio telah menjadi penyambung lidah dunia.

Nama-nama penyanyi seperti: Bing Slamet, Norma Sanger, Prana Djaya, Samsaimun, Titik Puspa, Ping Astono, dan sebagainya adalah ikon-ikon musik radio yang membentuk generasi pertama budaya musik popular Indonesia. Bintang Radio dekade 1950-an merupakan periode asal mula lahirnya lagu-lagu, teknik, dan gaya bernyanyi musik popular Indonesia. Kecuali musik keroncong, lagu-lagu Bintang Radio banyak mengambil hikmah dari musik-musik popular dari Amerika dan Eropa. Akan tetapi adaptasi pengaruh itu berhasil diolah menjadi gaya khas sendiri yang berbeda dengan sumber aslinya.