Tuesday, June 3, 2014

Bacaan Ringan "MUSIK DAN MUSISI 70-AN DALAM LINTASAN SEJARAH - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Go International 
Anehnya walaupun dengan perangkat sound system dan kapasitas studio yang masih serba  minim namun di era 1970-an banyak lagu-lagu dari group band cadas Indonesia saat itu yang dapat melampaui lintas batas negara atau istilah kerennya Go International  padahal saat itu teknologi dunia rekaman kita masih pas-pasan “cuma 4 track doang” kata anak- anak band saat itu tetapi berbekal semangat dan bakat alam yang kuat mereka dapat mencipta dan menyanyikan lagu-lagu versi Inggris dengan sangat baik, dan salutnya lagi, lagu-lagu versi Inggris mereka banyak disukai di luar negeri bahkan hingga masuk Top Ten baik di BBC ataupun ABC  seperti AKA,SAS, dan Rollies ataupun Silver Train dimana  lagu-lagu mereka sempat bertengger pada Top Ten Radio Australia.

SAS,Lagu Mereka Pernah Go Intenational
Pertunjukan musik cadas pada era awal 1970-an hingga tahun 1976 sangat mendatangkan keuntungan dan para musisi beraliran hangar binger itu, mereka mengalami masa keemasan saat itu .Banyak gadis yang tergila-gila pada mereka dan menjadi groupist kemana mereka show selalu diikuti.Sejak kehadiran musik cadas di percaturan musik negeri ini, pertunjukan mereka selalu dibanjiri oleh penonton dan mengundang sambutan gegap-gempita di setiap kota bahkan di pelosok pelosok di seantero Indonesia.

Media Yang Menopang Kejayaan Musik Cadas
Memang saat itu tidak dapat dipungkiri bahwa musik panggunglah yang merupakan arena yang paling berhasil memasyarakatkan musik  cadas di Tanah Air ini di samping radio-radio dan majalah seperti Aktuil., Junior, Plamboyan, Varia Nada dan TOP serta beberapa majalah musik musiman yang tidak begitu dikenal ikut pula meramaikan masa kejayaan musik cadas di Tanah Air namun yang menjadi rujukan bagi anak anak muda saat itu hanya majalah Aktuil dan TOP karena kedua majalah musik ini memiliki banyak wartawan yang berkaliber raksasa yang mana setiap tulisan maupun reportase-nya selalu menarik dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda penggila musik cadas saat itu.

Aktuil memiliki Denny Sabrie, Remy Silado, Bens Leo, Iphik Tanoyo, Zan Zappa, Buyung dll sedangkan TOP memiliki Theodore KS, Daniel Alexy, Martha Boerhan, Zainuddin Tamir Koto (Zatako), Robbani Bawi dll. Persaingan antara kedua majalah musik inipun sangat luar biasa dimana mereka banyak memberikan bonus sticker maupun poster yang wah dan sudah jelas membuat remaja penggila musik cadas saat itu tidak sayang mengeluarkan uang dari kocek mereka kedua majalah itu wajib dimiliki oleh para remaja penggila musik cadas saat itu.
    
Tempat Tempat Pertunjukan Musik Cadas Di Era Tahun 1970-an
Untuk tempat pertunjukan di Jakarta,Theater Terbuka TIM, Taman Ria Monas dan Istora serta Stadiun Utama Senayan (untuk pertunjukan Deep Purple tanggal 4&5 Desember 1975) menjadi tempat favourite anak-anak muda yang paling sering didatangi untuk pertunjukan musik cadas karena harga tiketnya murah meriah yang mana dapat terjangkau oleh kocek mereka yang rata rata masih duduk dibangku SMA dan Perguruan Tinggi sedangkan Convention Hall (Balai Sidang) menurut mereka itu merupakan tempat kaum borju  yang tidak sesuai dengan semangat  dan jiwa cadas serta kocek mereka!.

Sedangkan di Bandung ada  Gelora Saparua, Lapangan Tegal Lega dan Gedung Merdeka menjadi tempat paling sering untuk pertunjukan musik cadas saat itu sedangkan untuk group band musik mungkin Bandunglah tempatnya karena disana ada seabreg  group band antara lain Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Rhapsodia, Batu Karang, The Peels, Shark Move, Red&White, Topics & Company, The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Giant Step, Paramour, Finishing Touch, Freedom ,Lizard, Big Brothers dan masih banyak lagi.Banyak dari mereka yang sukses bahkan bertahan namun tidak sedikit yang bertumbangan ditengah jalan dan ada pula para vokalisnya yang dapat bertahan tetapi berganti genre musiknya bahkan ke Dangdhut seperti Jajat Paramour

Sementara Medan memiliki Stadion Teladan, Wisma Ria ataupun Taman Ria dengan seabgeg group band cadas-nya seperti Rhythm Kings, Minstreals,The Great Session, The Foxus, Amateur, The Rag Time, Six Men, Grave Men, Copa Tone, Bhineka Nada, Black Spades dan Destroyer, disamping itu tentu saja masih ada banyak group band cadas lainnya yang dahsyat seperti Freemen .

Sedangkan kota Solo dijuluki sebagai kota ketiga di Indonesia memiliki stadion Manahan untuk tempat perhelatan musik cadas saat itu. Untuk group band musik dijumpai sederet nama yang patut dikedepankan, misalnya Yap Brothers, Tercnhem, Ayodhia, Scorless, dan Fair Stone. Dari sekian nama tersebut ada beberapa yang berhasil  beken, namun ada pula yang terlanjur “tewas”. Setelah Yap Brothers hijrah ke Jakarta, Tercnhem dan Ayodhia pun sekarat, dan Scorless tidak lama kemudian bubar !.

Sedangkan Semarang pada dekade 1970-an merupakan sentral hingar bingarnya musik cadas di Jawa Tengah. Musik di Semarang dilanda trend musik cadas ala Deep Purple, Led Zeppelin, dan sebagainya. Ada tiga nama group band musik yang cukup disegani keberadaannya yaitu, Mama Clan’s, Dragon, dan Fanny’s. Mama Clan’s, group band semarang yang satu ini tidak hanya berkiprah di kota asalnya, tetapi juga mampu menaklukkan penonton di kota Kembang Bandung yang dikenal sebagai gudangnya group band cadas pada dekade 1970-an. Mama Clan’s bahkan juga mampu menawan hati publik Jakarta dengan manggung di Taman Ria Monas tanggal 20 Oktober 1973. group band dari Semarang lainnya bernama Spider, tetapi entah kenapa berubah bernama menjadi Voodoo Child ketika ikut perhelatan musik “Pesta Kemarau 75” di Bandung.

Surabaya memiliki segudang group band cadas diera 70-an.  musik AKA merupakan group band cadas yang lahir dari kota ini dan dianggap sebagai pelopor musik underground di Indonesia.AKA juga mengusung aksi-aksi panggung yang tidak lazim dipertunjukan ketika itu, karena menampilkan aksi peti mati dan tiang gantungan. group band dan pemusik lainnya yang terbentuk di kota yang sama, meliputi AKA, Oorzaak, Yeah Yeah Boys, Lemon Tree’s, D’Hand, Gembels, dan Rock Trikel serta SAS dll.

Sedangkan kota Malang hanya memiliki sedikit group band musik yang eksis pada waktu itu, antara lain: Irama Abadi, Bentoel,Opet, Zodiak, dan Swita Irama. Hampir semua group band itu adalah group band musik perusahaan atau  yang dibentuk dan didanai oleh instansi atau lembaga tertentu. Sama seperti di Semarang terbentuknya group band  musik di Malang pada zaman Orde Lama biasanya bermula dari band sekolah. Tidak seperti di Jakarta, atau Surabaya banyak anak-anak muda Malang ingin bermain musik namun tidak mempunyai alat-alat yang cukup karena harganya mahal. Akhirnya band bisa terbentuk dan manggung setelah didanai oleh suatu perusahaan besar. 

Nama-nama band yang muncul pun mengikuti nama perusahaan sponsor, seperti band Bentoel. Double Zero dari nama perusahaan rokok Orong Orong dll. Kota Malang pernah dianggap sebagai barometer musik cadas di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Mayoritas warga Malang pada dekade 1970 menggemari musik cadas seperti Deep Purple dan Rolling Stone. Pernah ada suatu angket yang dibuat radio-radio amatir waktu itu dan memang kebanyakan kawula muda di kota Malang menggemari musik cadas sampai keakar akarnya dan hebatnya lagi hal itu masih berlanjut dari generasi ke generasi hingga saat ini.