Tuesday, June 3, 2014

Bacaan Ringan "MUSIK DAN MUSISI 70-AN DALAM LINTASAN SEJARAH - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Tidak Ada Satupun Lagu Indonesia Di Atas Pentas
Bila group band cadas sedang manggung mereka sekan-akan Inggris-lah bahasa mereka sehari-hari karena semua lagu yang mereka nyanyikan berbahasa Inggris dimana mereka dapat dengan fasihnya  menyanyikan lagu-lagu seperti dari ;Deep Purple, Jefferson Airplane, Ten Years After, Moody Blues,Camel, Rainbow,Nazareth, Rush, Gentle Giant, Black Sabbath,King Ping Meh, Genesis, Led Zeppelin, Kansas,Yes ,King Crimson,Iron Butterfly,Rainbow,Judas Priest,Uriah Heep, Man Fred Man Earth Band, Rick Wakeman, Johny Winter,Edger Winter,BS&T(Blood Sweat & Tears),Chicago, ELP,Santana,Tower of Power,Jetro Thull, Rolling Stones, STYX,Jimmy Hendrix,Frank Zappa, Rick Wakeman  dll .

Mengapa Mereka Dijuluki Superstar?
Aksi panggung memegang peranan yang penting bagi kesuksesan pementasan musik cadas di era taun 1970-an. Gaya panggung musik cadas di Indonesia sudah meniru group band musik dari Barat sejak kemunculannya pada akhir dekade 1960-an. Meskipun secara musikal suatu group band musik cadas tergolong berhasil dalam pementasan, tetapi apabila tidak didukung dengan aksi panggung yang memadai maka group band tersebut akan terlihat atau terkesan “culun” alias kampungan .Aksi panggung bagi suatu group band cadas saat itu sangat perlu diperhatikan agar permainannya tidak kelihatan “katro”.

Selain itu ekspresi wajah juga harus dapat menggambarkan keadaan tema serta karakteristik lagu. Melalui aksi panggung yang ”uedyan” juga akan dapat menutupi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang terjadi dalam penyajian musiknya. Aksi sensasi di panggung merupakan salah satu hal yang penting dalam pertunjukan musik cadas  dan sensasinya  terkadang dapat mendongkrak popularitas dari pemusik itu sendiri.

Sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, pertunjukan musik cadas memiliki gaya aksi tersendiri. Kebebasan dalam bermain musik yang bercorak keras terlihat ”menabrak” batasan-batasan umum, baik musik, lagu maupun gaya pertunjukannya.

Aksi panggung para group band cadas dekade 1970-an umumnya cenderung bersifat teatrikal dll atau dengan aksi panggung bakar-bakaran gitar model Blackmore atau Jimmy Hendrix dll. Jadi dalam suatu pertunjukan musik, pemusik tidak hanya menyuguhkan kepiawaian dalam bermusik saja, tetapi juga menampilkan aksi panggung yang sejalan dengan aliran musiknya. Aksi  pertunjukan para wadia balad musik cadas Indonesia banyak terinspirasi oleh gaya panggung para musisi Barat. Sebagian group band musik cadas pada dekade 1970-an berlomba-lomba untuk tampil “gokil” abiizz di atas panggung.

Musik Cadas era 1970-an di dunia termasuk di Indonesia adalah musik panggung, karena hal itu merupakan tuntutan penonton untuk mendapatkan hidangan aksi panggung yang gawatnya harus nyaris sama seperti pemain atau penyanyi aslinya.Gokilnya, para musisi kita saat itu dapat berinkarnasi bak para pemain musik Barat layaknya walaupun hanya ditopang oleh alat-alat musik yang masih dikatagorikan sederhana seperti Arthur Kaunang gaya main keyboardnya sangar dan banyak pengamat saat itu yang mengatakan kegarangannya diatas panggung nyaris seperti Keith Emerson, sedangkan Adhi keyboardist Equator Child dan Deddy Dores mereka sering berakrobat dengan kadangkala dance diatas keyboardnya sambil menggunakan kaki mereka dalam memainkan tuts keyboardnya.

Deddy Dores yang juga disebut-sebut sebagai ”Wonder Guy” karena selalu memakai kacamata hitam baik siang maupun malam, Deddy saat itu disebut sebut sebagai Ritchie Blackmore-nya  Indonesia karena gaya dan permainanya nyaris sama dengan Blackmore seperti yang diuraikan oleh Riza Sihbudi dalam sebuah tulisannya disamping hobby-nya  menghantamkan gitarnya ke sound system atau membanting-bantingkan guitarnya hingga berantakan hal inipun sama dilakukan oleh Atauw guitarist andalan group band Equator Child, group band cadas yang berasal dari Pontianak yang kemudian berhijrah ke Jakarta itu diawal tahun 70-an sangat dielu-elukan oleh banyak remaja Ibukota maupun tanah air karena disamping kehebatan para pemainnya mereka juga ditopang oleh Imran sang vokalis yang nyentrik, Raden Bonnie Nurdaya atau lebih dikenal sebagai Bonnie Rollies guitarist kebanggaan Rollies itu  gaya permainan gitarnya sering diasosiasikan pada Steve Howe sedangkan Harry Minggus banyak kalangan mengatakan gaya petikan bass-nya seperti Chris Squire.

Group band cadas AKA/SAS memiliki Sunatha Tandjung yang kedahsyatan permainannya selalu diasosiasikan dengan Jimmy Page dimana dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga dalam melengkapi kedahsyatan permainan guitarnya. Pada suatu kesempatan dia pernah berkomentar seusai menonton konser Deep Purple pada 4 & 5 Desember 1975 bahwa permainan Tommy Bolin itu biasa biasa saja  belum lagi Syeh Jeffry Abidin yang dapat julukan John Bonham-nya Indonesia dan jujur penulis akui bahwa permainan Tuan Syeh ini dahsyat dan super mantab sebagaimana beberapa kali penulis saksikan aksi panggungnya baik sewaktu di AKA maupun setelah di SAS pada era awal hingga pertengahan tahun 1970-an.

Sementara Yongkie yang kemudian dikenal sebagai Yockie Suryoprayogo  mulanya dikenal sebagai keyboardist handal dari group band Zonk dan Fancy pada awal tahun 70-an sangat dikagumi penonton karena “kelihaian”nya memainkan keyboard dan dia bertambah terkenal sewaktu diajak Donny Fatah kawananya di group band Fancy untuk bergabung ke God Bless dimana Yongkie saat itu sering disebut sebut sebagai inkarnasinya Patrick Moraz atau John Lord-nya Indonesia karena memang permainannya yang sangat apik (pada beberapa album Chrisye dan solo albumnya dimana gaya permainannya nyaris seperti Patrick Moraz) sehingga membuat John Lord terkagum kagum manakala Yongkie memainkan keyboardnya pada lagu Celebration (PFM) dengan wadia balad God Bless ketika kelompok cadas itu dipercayakan Denny Sabrie sebagai band pendamping Deep Purple pada tanggal 5 Desember 1975 di Stadiun Utama Senayan,

Sementara Albert Warnerin lead guitarist kelompok progressive rock Giant Step dari Bandung itu disebut-sebut sebagai Jeff Back-nya Indonesia dimana pemainannya gitarnya nyaris sempurna (pada album Giant On The Move) belum lagi Benny Soebardja yang vokalis merangkap giutarist II Giant Step itu kerap dijuluki sebagai Alvin Lee-nya Indonesia, sedangkan Atauw gitaris andalan Equator Child diawal tahun70-an dia disebut sebut sebagai bayangannya Ritchie Blackmore dan Jimmy Hendrix

Odink Nasution sang pemetik  guitar dari  group band Young Gipsy dan beberapa lainnya di era 1970-an itu oleh banyak penggemar musik cadas dijuluki sebagai kembarannya Steve Hackett (pada album-album LCLR, Keenan Nasution dan Harry Sabar serta Guruh Gipsy), sedangkan Debby Nasution yang di era 1970-an dikenal sebagai keyboardist andalan Young Gipsy,Barong band serta Genk Pegangsaan oleh banyak penggemar musik prog permainan keyboardnya seperti permainan Matthew Fisher (Procol Harum) dan Tony Bank (pada album 1&2 Gank Pegangsaan)

Debby Nasution & His Genk Pegangsaan Friends
Sedangkan abangnya Keenan Nasution sudah terlanjur diberi predikat Bill Bruford-nya Indonesia( pada album Dibatas Angan Angan dan album album berikutnya ) Fuad Hassan dan Teddy Sudjaya banyak disebut sebut sebagai Ian Paice-nya Indonesia dengan gebukan gebukan drumnya yang sangat mantab.

Sedangkan untuk vokalisnya, Bangun Sugito atau yang lebih dikenal sebagai Gito Rollies sering dijuluki sebagai James Brown-nya Indonesia bila dia bernyanyi dan bergaya di atas pentas. Sementara Delly Djoko Alipin banyak disebut-sebut memiliki suara yang nyaris sama dengan Jim Rutledge vokalis group band Bloodrock group band super yang berbasis di Texas Amerika itu sedangkan Ucok Harahap mascotnya AKA, Bernard Parnadi, Guntur Simatupang dan Jose Tobing  disebut sebut pula sebagai Alice Cooper lokal.

Sebagai sumber rujukan untuk gaya pertunjukan mereka peroleh melalui berbagai majalah musik terbitan Amerika atau Eropa, seperti majalah Music Express, Melody Maker,Cream,Billboard atau Pop Foto dan foto sampul PH. PH tidak sekadar menjadi acuan musikal tetapi juga menjadi inspirasi penampilan visual.