Monday, June 30, 2014

Bacaan Ringan "KIPRAH HIDUP SEORANG "UCOK HARAHAP" - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Dalam satu pertunjukan yang dihadiri tidak kurang 5000 penonton di Gedung Gelora Olahraga 10 November Surabaya, band AKA dengan maskotnya Ucok membuka acara dengan bertingkah seakan-akan kemasukan setan, ia naik tangga, naik ke tiang gantungan dengan kaki terikat ke atas kepala menjulur ke bawah sambil terus menyanyi lalu ditusuk-tusuk hingga keluar darah seperti di dalam film-film. Pada akhir pertunjukan Ucok digotong dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Kejutan lain yang diperlihatkan oleh Ucok adalah ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora 10 Nopember pada tanggal 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba seorang muncul dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu bukan lain adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies.

Dalam salah satu pentas AKA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1972, pada akhir acara, Ucok dirajam oleh para algojo dan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti mati yang lalu dipaku. Seperti yang dituturkannya sebagai berikut : “Saat saya mau masuk peti, tiba-tiba di dalam peti seperti sudah ada orang lain. Saya masuk juga. Tubuh perempuan itu dingin sekali. Saya tendang-tendang tutup peti sampai pecah,” Ketika berhasil keluar, Ucok berlari karena dikejar “perempuan” tadi. Ia berlari tanpa takut ke atas genteng. Atraksi itu membuat penonton histeris. Bahkan, ketika Ucok jatuh setelah tersetrum listrik, para penonton masih histeris. Banyak orang menilai keeksentrikan gaya Ucok AKA yang diperlihatkan panggung sering dikaitkan dengan unsur magik, tetapi menurut Ucok AKA gaya yang dipertunjukannya itu hanya sebatas atraksi panggung.

AKA dan Freeman tampil dalam pertunjukan di Stadion Teladan Medan tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. dalam pertunjukan ini sebenarnya tidak ada yang berbeda dari yang pernah mereka berikan kepada penonton-penontonnya di kota lain yang pernah mereka kunjungi, akan tetapi dalam pertunjukannya kali ini Ucok sama sekali tidak memperlihatkan gerakan-gerakan bersenggamanya, mungkin karena ia segan karema menganggap Medan adalah kampung halamannya.Ucok di atas pentas masih menampilkan cambukan dan tikaman pisau oleh seorang pembantu AKA. Setelah digantung, tubuh Ucok dimaksukkan dalam peti mati. Peti mati itu kemudian diusung ke dalam mobil ambulance yang sudah menunggu di belakang panggung.

Tidak semua aksi panggung yang ditampilkan musisi rock mendapatkan respon positif dari penonton. Hal ini seperti yang terlihat dalam pertunjukannya di Malang, Ucok Harahap lagi-lagi mendemonstrasikan aksi adegan bersenggama. Do you know sex tanya Ucok beberapa kali kepada penonton, kemudian ia langsung mengeliatkan-geliatkan tubuhnya di lantai dan di atas orgen, seperti orang yang sedang melakukan perbuatan senggama.

Pertunjukkan yang dinilai jorok itu tidak mendatangkan heboh di kalangan penonton. Begitu juga ketika mereka tampil di kota Tasikmalaya pada Juni 1972, di kota ini gaya panggung Ucok dan kawan-kawan tidak terlalu disukai oleh pecinta musik rock. Meskipun para penonton sempat meneriaki mereka, untungnya pertunjukan tidak berakhir dengan kerusuhan karena Band Rhapsodia, yang tampil sesudah mereka, berhasil menjinakkan penonton dengan lagu-lagu ala Santana serta lagu-lagu lokal.

Peristiwa serupa kembali berulang ketika AKA tampil di Gedung Kridosono Yogyakarta pada Juni 1974 bersama grup Giant Step asal Bandung. Para penonton yang tidak suka melihat atraksi Ucok tidak dapat dibendung lagi. alhasil mereka berteriak-teriak dan merusak gitar Arthur Kaunang, Ucok pun terkena lemparan kursi, dan kening Sunatha terluka parah akibat potongan kayu dan besi yang dilempar penonton. Ketiganya dirawat di RS Panti Rapih, Yogyakarta.

Terkadang AKA tampil biasa saja dalam pertunjukan musiknya. Seperti saat tampil bareng dengan grup musik rock Ternchem, asal Solo di Gelora Pancasila, Surabaya pada Maret 1973. AKA membuat kejutan di hadapan penggemar fanatiknya dengan tidak menonjolkan aksi-aksi yang eksentrik dan gila-gilaan seperti sebelumnya. Bahkan pembawaan Ucok ketika itu terlihat kaku, berbeda dengan Arthur Kaunang (bass, vokal) dan Sunatha Tanjung (leadguitar/vokal) yang justru lincah bergaya dalam aksi panggungnya.

Namun, aksi kalem Ucok ini ada latar belakangnya. Rupanya, Ucok seringkali mendapat surat teguran dari pihak berwenang. Lama kelamaan penonton kecewa dengan sikap Ucok. Untungnya, ia tidak kehilangan akal. Dalam satu pertunjukan, Ucok mengenakan dandanan ala priyayi Jawa, sorban, dan baju blangkon. Acara tersebut dihadiri juga pejabat kepolisian setempat. AKA yang tampil biasa-biasa saja tanpa peti mati dan tiang gantungan diperlihatkan juga ketika mereka pentas di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tahun 1975.