Tuesday, June 3, 2014

Bacaan Ringan "AKSI AKSI PANGGUNG PARA VOKALIS GROUP CADAS ERA 70-AN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
1.Aksi Panggung Achmad Albar &God Bless
Nampaknya penggunaan peti mati  merupakan bagian aksi panggung yang dapat menopang keberhasilan aksi sebuah group band di era 1970-an seperti ungkap Yockie Suryo Prayogo dalam sebuah wawancara kami disebuah stasiun radio swasta beberapa tahun yang lalu. Saat itu menggunakan peti mati dalam pertunjukan musiknya seperti pertunjukan mereka pada tanggal 5-6 Mei 1973, dimana untuk pertama kalinya God Bless tampil di depan  Theater Terbuka Taman Ismail Marzuki dengan berekperimen berbagai macam kemunculan termasuk dengan menggunakan peti mati dan mayat hidup. Selain itu Albar menggunakan mayat hidup yang membawakan lagu Nurlela adalah sebagai semacam peringatan bagi pemusik-pemusik yang bisanya hanya “membeo” dan menerima apa adanya. Scahmmy Tampangoema yang menjadi setan laki-laki dalam  pementasan God bless bertanya kepada Ahmad Albar, mengapa memakai peti mati dan mayat segala. 

Schammy mendapat jawaban bahwa hal itu dilakukan hanya sekedar meramaikan pertunjukan saja dalam pementasannya di TIM pada tanggal 24 dan 25 Mei 1973, pada puncak acara God Bless menyuguhkan aksi teatrikal dengan dua buah peti mati. Diawali dengan bunyi lonceng besar, kemudian peti itu dibuka dan dua orang pria dan wanita yang didandani seperti layaknya sepasang mayat keluar serta bernyanyi dengan lagu yang berjudul nurlela dari penyanyi Bing Slamet dengan yang suara fals untuk menimbulkan kesan horor.Waktu itu Ahmad Albar berkibar di atas panggung dengan membawakan lagu-lagu dari group band musik Deep Purple, Led Zeppelin, Kansas, dan Yes. Dalam pertunjukan panggungnya.

Namun bukan itu saja sensasi yang tercipta dari suatu aksi panggung yang akhirnya menjadi kerusuhan yang terjadi waktu God Bless manggung , ketika pertunjukan God Bless di lapangan basket kota Malang pada tanggal 4 Agustus 1974 dalam rangka tour pertunjukannya ke Jawa Timur pertunjukan mereka memakan banyak korban luka-luka karena mereka penasaran ingin melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. God Bless on the stage!.

Banyak dari penontonnya yang rata-rata adalah kaum muda saling dorong dan berdesak-desakkan ingin masuk lebih dahulu ke dalam lapangan, walhasil penonton yang berada pada bagian depan yang sudah berada di pintu bagian depan berjatuhan tidak kuat menahan desakan dari belakang. Pihak panitia dan keamanan tidak kuasa membendung arus penonton yang datang begitu banyak ke tempat tersebut. Walaupun pertunjukan musik God Bless belum dimulai, tetapi korban yang jatuh sekitar 20 orang lebih dan banyak di antara mereka tidak sadarkan diri.

Selain mempelopori penggunaan efek asap dari dry ice  di atas panggung, group band musik ini juga banyak melahirkan ide-ide baru yang baru  di atas panggung, misalnya penggunaan lonceng besar yang diletakkan di belakang perangkat drum, pohon-pohon tiruan yang dibalut dengan timah yang memberikan suatu efek halusinasi yang berbau mistik.

Pada pertunjukan Deep Purple tanggal 5 Desember 1975 Achmad Albar dan God Bless yang menjadi band pendamping Deep Purple dimana malam itu Iyek merasa mendapat sambutan yang sangat meriah akan penampilannya setelah melemparkan lagu Celebration milik group band prog dari Italia PFM maka diapun menyulut kembang api dimana sontak saja Stadiun Utama Senayan berubah menjadi arena huru hara yang begitu massive dan belum pernah terjadi sebelumnya dimana saat itu bukan hanya kembang api yang beterbangan akan tetapi juga bangku bangku dan pokok kayu kayu penyangga bangku menjadi bola api beserta kepulan asap yang membuat sesak napas dan pemandangan ini menurut salah seorang teman penulis tak ubahnya seperti sebuah pertunjukan “Hanoman Obong” dalam cerita epic Ramayana.

2. Aksi Panggung Ucok Harahap & AKA
Para vokalis group band cadas era 70-an nya banyak dijuluki secara beragam oleh para penggemarnya dengan ulah panggung yang aneh-aneh seperti yang sering dibuat oleh Ucok Harahap dengan predikat Alice Cooper yang sudah melekat padanya dimana dalam salah satu penampilanyang paling ”Gokil”nya  sewaktu dia beserta group bandnya AKA manggung di TIM pada tanggal 9-10 Novermber 1973 dimana Ucok cs tampil bersama kelompok cewek Gigi Girls dari Taiwan.Ucok tampil mengagetkan penonton dalam suatu atraksinya, sambil menyanyikan lagu Crazy Joe tiba-tiba dia menaiki pagar tembok theater terbuka TIM lalu berlari-lari diatas genting yang kemudian tahu-tahu  dia sudah muncul di panggung kembali bak orang kesurupan lalu dia dicambuk,diikat kakinya dan digantung  kemudian  ditikam oleh  seorang algojo serta dimasukan ke peti mati, atraksi ini sontak mendapat sambutan yang sangat gegap gempita karena baru kali itu masyarakat Jakarta disuguhkan penampilan yang “Gokil” seperti itu tapi anehnya dibalik panggung Ucok nampaknya benar benar seperti orang kemasukan jin iprit penunggu pohon pohon besar yang masih merindangi TIM saat itu. 

Ucok mengelepar-gelepar bak ikan yang kepanasan didarat, untung saja saat itu ada Remy Silado (yang saat itu masih muda dan ganteng dengan rambutnya yang panjang terurai bak punggawa musik cadas pula) yang memang dengan pengalamannya yang luas Remy sudah faham akan segala hal yang berkaitan dalam dunia show biz dengan beragam trick dan ensofor-ensofor panggung lainnya yang mana dengan segera dia menyirami Ucok dengan seember air yang mana membuat Ucok gelagapan seperti orang kebingungan. Dalam salah satu aksi pertunjukan “euidyan” yang lainnya, Ucok beraksi sambil membawa lagu yang berjudul Sex Machine, dia seakan-akan kesurupan dan memperagakan adegan bersenggama dengan keyboardnya yang diasosiasikan sebagai pasangannya . 

Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung membuka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, dia dimasukkan ke dalam peti mati.  Di era 70-an Ucok Harahap tercatat sebagai vokalis musik cadas  yang paling “Gokil” atraksi panggungnya dan selalu mengundang sensasi serta kegaduhan namun para penontonya sungguh sangat menikmati akan aksi-nya. Maka tidaklah salah bila Ucok diberi predikat Alice Cooper Van Surabaya.

3. Aksi Panggung Arthur Kaunang & SAS
Diwaktu sedang jaya-jayanya SAS , dunia panggung nyaris dikuasai oleh mereka semua, volume pementasannya nyaris  sama  banyaknya  dengan  pementasan  Superkid, dari  mulai  Surabaya,  Malang, Yogyakarta, Solo, Jakarta hingga pelosok-pelosok yang terpencil di Indonesia menjadi demam SAS . 

Malang yang dikenal sebagai kota yang sangat kritis dan sangar  terhadap setiap pertunjukan musik cadas namun ternyata tidak selamanya pertunjukan musik cadas  disana akan berakhir dengan aksi pelemparan batu kayu maupun sendal dari penonton disana, mereka sangat obyektif dalam menilai kualitas musik dan penampilan group band cadas yang datang kesana. Sewaktu SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut ternyata sambutan kaula muda disana berbeda tidak ada satu butir pun kerikil atau sandal dan batu yang terbang melayang ke atas panggung.

Mungkin para penonton merasa kagum dan segan dengan wibawa dan permainan SAS yang hebat itu disamping penguasaan mereka akan lagu-lagu ELP yang nyaris sempurna oleh karenanya tidak ada alasan bagi arek-arek malang itu untuk membuat kegaduhan bahkan setiap lagu yang dimainkan selalu mendapat sambutan yang membahana. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada Kockpit di era 80-an yang mana mereka sangat dielu-elukan disana.

Gaya gebukan Syeh Abidin yang mantab, petikan gitar Sunatha Tandjung yang melengking mulus sempurna dan betotan bass yang garang serta permainan keyboard yang brutal dari Arthur Kaunang membuat SAS menjadi salah satu group band cadas yang paling disanjung dan dihormati di kota Malang dan mereka pantas disejajarkan dengan God Bless, Rollies,Superkid dan Giant Step.

Salah satu kelebihan SAS adalah mereka sangat menguasai  blocking  panggung  walaupun hanya dengan tiga personel, Arthur dengan postur tubuh seperti wong londo dengan rambut panjang yang nyaris sepinggang itu biasa membuat para penonton menjadi histeris dengan permainan solo keyboardnya dimana dia begitu  garang  di   panggung sampai terkadang dia bergelintingan dilantai sambil memainkan  bass guitar atau menjungkirbalikan keyboardnya dan dimainkannya dilantai panggung serta kadang -kadang  keyboard-nya  itu dibuat seperti kuda yang dia jepit dengan kedua belah pahanya.Organ Farfiza, Hammond dan Yamaha yang dimainkan oleh Arthur nyaris selalu dijungkirbalikan dilantai panggung  olehnya!, namun karena itu merupakan bagian daripada sensasi SAS yang paling digemari penonton maka Arthur terus memainkan atraksinya itu!.

Belum lagi Tuan Syeh yang satu ini dia begitu mantab  dalam menggebuk deretan drum set dan cymbal serta hentakan kedua kakinya pada double bass drumnya. Atraksi yang paling membuat surprise penonton manakala Syeh beranjak dari deretan drum set yang mengelilinginya dan langsung menggantikan Arthur bermain bass terutama dalam lagi From The Beginning .Sunatha juga tidak kalah hebatnya dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga melengkapi kedahsyatan permainan Trio Rock handal itu. Pertengahan tahun70an hingga penghujungnya benar-benar merupakan ‘Golden Era’ untuk Super Trio Progressive dari kota Buaya itu.

Hujan Batu
Namun diantara kesuksesannya, SAS pun pernah juga mengalami nasib na’as yang sebenarnya bersifat non musikal seperti ketika pertunjukan musik perdana mereka di Taman Ria Monas pada pertengahan Februari 1976, dimana mereka mengalami sedikit kekacauan karena gangguan listrik yang kurang diantisipasi oleh fihak Taman Ria Monas sebagai penyelenggara karna sejak kedatangan Deep Purple di Senayan, SAS memang telah membuat  revolusi baik dalam sound system maupun lighting mini ala Deep Purle walapun kapasitasnya baru pada tingkat belasan ribu watts yang mana jelas membutuhkan daya listrik yang extra saat itu.

Ketika kelompok ini memainkan lagunya yang kedelapan, yaitu lagu milik group band musik Deep Purple, tiba-tiba listrik mati. Akibat dari adanya gangguan listrik tersebut maka pertunjukan musik SAS tidak bisa dilanjutkan dan penonton merasa kecewa dan marah pada penyelenggara yang kemudian melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu dan sandal serta apa saja yang bisa dilempar ke arah panggung, sehingga membuat beberapa peralatan musik SAS rusak.

Kerusuhan penonton juga terjadi di Surabaya, tepatnya ketika SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut. Kerusuhan itu bermula saat mereka baru memulai pertunjukannya selama satu jam dan tiba-tiba listrik mati. Gangguan listik ini mengakibatkan group band tersebut tidak bisa melanjutnya pertunjukkan musiknya. Penonton tidak bisa menerima keadaan yang terjadi dan melampiaskannya dengan melemparkan sandal, sepatu, batu-batu serta kayu ke arah panggung dan mengakibatkan kerusakan pada peralatan musik dan akibat pelemparan batu itu menimbulkan yang sangat besar saat itu.