Tuesday, June 3, 2014

Bacaan Ringan "AKSI AKSI PANGGUNG PARA VOKALIS GROUP CADAS ERA 70-AN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
7. Aksi  Guntur Simatupang &  Group band  Destroyer
Destroyer, group band cadas satu ini memang nyaris sama dengan Freemen group bandnya Jose Tobing yang mengandalkan aksi-aksi panggung yang menegangkan merupakan group yang didanai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara dan merupakan salah satu group band yang disegani di Medan karena kehebatan sang vokalisnya Guntur Simatupang yang memang mempunyai kelebihan dalam stage act maupun olah vokal  yang pantas diacungi jempol dimana semua remaja di seantero Medan tidak akan  tidak kenal dengan nama Guntur Simatupang yang kerap berjungkir balik diatas panggung itu. 

Saat itu Guntur dijuluki Alice Cooper dari Medan. Banyak aksi panggung Guntur Simatupang yang membikin penonton gelagapan. Suatu sa’at dia pernah menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif.

Guntur Simatupang beranggapan justru dengan melakukan atraksi-atraksi yang aneh itu, groupnya dapat menanjak dengan pesat dan dikagumi oleh anak-anak muda  Medan yang memang terkenal sangat kritis dan nyaris radikal. Dalam soal kreasi Guntur Simatupang merupakan orang yang tidak pernah puas, oleh karena itu dalam setiap pertunjukan musiknya, ia selalu berusaha membuat segala keanehan-keanehan dan melakukan aksi adegan teatrikal.

Destroyers malang melintang tanpa sedikitpun ciut nyali menghadapi  pesaingnya seperti;Great Session, Freemen, The Rhythm Kings, Minstrel’s dll bahkan dengan God Bless .Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitive. Sehingga pernah terjadi pelarangan terhadap Guntur  pada aksi panggungnya di Medan dia dilarang tampil oleh pihak keamanan. Pelarangan ini dilakukan karena pihak keamanan takut gaya panggungnya akan dicontoh oleh kalangan kaum muda di Medan.

 Guntur pernah bernyanyi dengan cara digantung; dia memanjat ke atap panggung, kemudian kakinya digantung di atas atap panggung sementara kepalanya menjulur ke bawah. Selain itu ia juga pernah membawa ke atas panggung empat puluh ekor ular yang ditangkapnya sendiri dari parit-parit sekitar pinggiran kota Medan dan hal itu telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Guntur selalu melakukan atraksi pertunjukan dengan melibatkan ular-ular tangkapannya di atas panggung. dan ular-ular yang sering dipakai oleh Guntur Simatupang dalam atraksinya dianggap membahayakan keamanan para penonton yang dikhawarirkan salah satu binatang berisa itu memangsa penonton khususnya penonton di bagian depan.

Selain itu ada pula satu hal yang telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Karena ulahnya yang aneh-aneh saat itu Guntur lantas oleh para remaja Medan  dijuluki Alice Cooper dari Medan. Pada waktu memeriahkan Festival underground di Yogyakarta Guntur menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif. Memang saat itu Guntur lain dari  yang lain!.

8. Aksi Panggung Bernard Parnadi & Group Ternchem
Bernard vokalis dari group band cadas ini berekpresi seperti orang kesurupan di atas pentas musiknya. group band Ternchem dari Solo ini  terkenal juga karena aksi panggung pertunjukannya yang mempertunjukkan ular, api, dan peti mati. Dalam satu pertunjukannya di Malang Ternchem membawakan suguhan lagu berjudul Into The Fire dari Deep Purple yang dibawakan dengan versi Bernard sang vokalis. Dia muncul dengan keadaan kepala terbakar. Nyala api ini terus berlangsung hingga ke akhir babak pertama yang puncak dari babak ini adalah adegan bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati dengan diiringan lagu dari Rolling Stone yang berjudul Coming Down Again. Namun demikian Terncem masih menyisakan atraksi yang lebih istimewa lagi.

Dalam pemunculan babak kedua yang dilalui tanpa setegang babak pertama, vokalis Bernard yang didampingi seekor ular dalam lagunya yang terakhir, sempat merogoh uang saku, dan dihamburkan lembaran-lembaran uang ratusan dan lima puluhan yang merupakan uang sisa honor mereka. Gaya pertunjukan panggung grup Ternchem dikenal mengambil gaya panggung Alice Cooper, yang melengkapi penampilannya dengan atraksi bermain ular serta masuk peti mati ditutupi bendera Amerika Serikat. Aksi teatrikal group band musik ini juga dilakukan ketika mereka pentas di Palembang dan Malang tahun 1974.

Pertunjukan dengan memakai ular, api, dan peti mati masih diperlihatkan Ternchem pada pertunjukan Musical Show Penutup Tahun 1972. Dalam satu pertunjukannya di gedung Gelora Pancasila Surabaya Juni 1974, Ternchem yang biasanya menyuguhkan atraksi pertunjukan panggung dengan peti mati untuk kali ini tidak bisa menampilkan atraksi tersebut karena ada gangguan teknik dari alat-alat.

9. Aksi Panggung Joe Santos & Fanny’s Group
The Fanny’s Group ini memang mempunyai PDOD di atas panggung mereka sering menyanyikan musik-musik keras, group band yang digawangi oleh Joe Santos alias Joko Santoso,Tugi Wiyono (organ),Alex Soeharso(lead guitar),Yunarto (drum),Andhi Siksanto (bass), Yoyok B Hartono (rhythm I), Juwoto Sunanto (rhythm II), The Fanny’s band adalah  group band cadas yang paling terkenal dari kota Semarang. group band ini didirikan pada akhir tahun 1968. 

Pada awal pemunculannya The Fanny’s Group nyaris banyak mendulang kritik dari masyarakat bahkan yang berwajib sering pula memberi peringatan.group band cadas satu ini walaupun sering pula membawakan lagu-lagu cengeng bahkan dangdut namun mereka mempunyai aksi panggung yang “gokil” pula hal ini dibuktikan sewktu mereka ikut memeriahkan  Jambore Band Se-Jateng di Semarang.Aksi pertunjukan teatrikal Fanny’s Group juga ditampilkan lagi ketika mereka pentas di Yogyakarta bersama group Ambisi awal Oktober 1975.

Dalam aksinya Joe Santos dan The Fanny’s Group-nya sering menyuguhkan kepada penonton adegan adegan usungan mayat menyerupai wujud drakula yang begitu sampai di hadapan penonton, mayat tersebut bangun dan bernyanyi. Menjelang akhir lagu, satu adegan lagi sang drakula ditusuk secara mendadak dengan sebilah pisau panjang oleh Yanto. Gaya yang lain yang disuguhkan oleh Fanny’s Group  untuk lebih menarik para penonton,Joe Santos  sang vokalis begitu “uedyan”nya dalam membawakan sebuah lagu sampai-sampai baju putih yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa itu dirobekkan sampai lumat perilakunya di pentas bak orang yang sedang kerasukan “jin iprit” disamping itu diapun gemar pula  mencorang moreng  badan dan mukanya  ala hippies.

Mereka bak hippies yang saat itu masih tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia tapi gaya anehnya mereka itu justru digemari oleh anak anak muda Semarang saat itu.Band ini pada tahun 1977 pernah sempat juga tampil sepanggung dengan Giant Step dan Jam Session bersama diatas panggung yang mana mendapatkan sambutan hangat dari penonton.