Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU HURAIRAH - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Al-Quran adalah Kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya, dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah saw. teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya saw., saat sedang dihimpunnya al-Quran, dapat menyebabkan kesimpang siuran dan campur-baur yang tak berguna dan tak perlu terjadi … !

Oleh karena ini Umar berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan al-Quran karena dia adalah kalam Allah . . . “.
Dan katanya lagi: “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!”

Dan sewaktu beliau mengutus Abu Musa al-Asy’ari ke Irak ia berpesan kepadanya: – “Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al Quran seperti suara lebah, maka biarkanlah seperti itu, dan jangan anda bimbangkan mereka dengan Hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini …. !”

Al-Quran sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dapat dirembesi oleh hal-hal lainnya …. Adapun Hadits, maka Umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah saw. dan merugikan Agama Islam ….

Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan. “

Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pernah didengar dan ditangkap­nya tetap saja disampaikan dan dikatakannya ….

Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang me­nimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan hadits-hadits dari Rasul saw. dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka’ab al-Ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.

Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan Hadits-hadits dari Rasulullah saw.
Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding.

Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali, dan dimintanya mem­bacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis oleh sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau agak sepatah kata pun … !

la berkata tentang dirinya: – “Tak ada seorang pun dari shahabat-shahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits daripadaku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak .’ . . “.

Dan Imam Syafi’i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: – “la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits semasanya”.

Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: – Ada kira-kira delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah”.

Demikianlah Abu Hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya …. Abu Hurairah termasuk seorang ahli ibadat yang mendekat­kan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran , mula ­mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian di­lanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya . . . . “.

Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat !

Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk me­nyertai Rasul saw. ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Dan pernah ia menceritakan kepada kita bagaimana rasa lapar telah menggigit-gigit perutnya, maka diikatkannya batu dengan surbannya ke perutnya itu dan di­tekannya ulu hatinya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia di mesjid sambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian shahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan … !

Semenjak ia menganut Islam tak ada yang memberatkan dan menekan perasaan Abu Hurairah dari berbagai persoalan hidupnya ini, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah npengenai ibunya, karena waktu itu ia menolak untuk masuk Islam . . . . Bukan hanya sampai di sana saja, bahkan ia menyakitkan perasaannya dengan menjelek-jelekkan Rasulullah di depannya ….

Pada suatu hari ibunya itu kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati Abu Hurairah tentang Rasulullali saw., hingga ia tak dapat menahan tangisnya dikarenakan sedihnya, lalu ia pergi ke mesjid Rasul . . . .

Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan berita kejadian itu sebagai berikut: – “Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah, lalu kata­ku: – “Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk Islam. Ajakanku itu ditolaknya, dan hari ini aku pun baru saja me­mintanya masuk Islam. Sebagai jawaban ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri anda. Karenanya mohon anda du’akan kepada Allah kiranya ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam ….

Maka Rasulullah saw. berdu’a: “Ya Allah tunjukilah ibu Abu Hurairah!”

Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang du’a Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran bunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: “Hai Abu Hurairah, tunggulah di tempatmu itu …

Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan mem­balutkan selendangnya sambil mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasu­luh….

Aku pun segera berlari menemui Rasulullah saw. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka, dan kataku padanya: “Kusampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabulkan du’a’ anda . . . , Allah telah menunjuki ibuku ke dalam Islam . . . “. Kemu­dian kataku pula: “Ya Rasulallah, mohon anda du’akan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mu’min, baik laki-laki maupun perempuan!” Maka Rasul berdu’a:
“Ya ,Allah,mohon engkau jadikan hamba-Mu ini beserta ibunya dikasihi oleh sekalian orang-orang Mu’min, lahi-laki dan pe­rempuan . . . !”