Thursday, April 16, 2015

Tokoh Islami "HINDUN RADHIALLAHU 'AN BINTI ABU UMAYYAH BIN MUGHIRAH BIN ABDULLAH BIN UMAR BIN MAKHZUM BIN YAQADZH BIN MURRAH BIN KA’B BIN LUAYYI BIN GHALIB (599–683 M) - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi dengan kesabaran beliau pasrah dengan ketetapan Allah dan qadar-Nya. Sepeninggal Abu Salamah yang telah diakui memiliki kesalehan dan posisi khusus di tengah kaum Muslim. Ummu Salamah sering menolak pinangan dari para sahabat Rasul yang datang dengan maksud untuk menikahinya, bahkan,  Abu Bakar assiddiq  dan Umar bin Khatthab  sekalipun.

Setelah itu Rasulullah Saw mengutus seseorang untuk melamarnya, dan dia berkata, "Selamat datang, katakan kepada Rasulullah aku adalah seorang yang pencemburu dan aku memiliki anak kecil. Aku juga tidak memiliki wali yang menyaksikan."

Setelah itu Rasulullah Saw mengirim seorang utusan kepadanya untuk menyampaikan jawaban tentang perkataannya, "Tentang perkataanmu bahwa kamu memiliki anak kecil, maka Allah akan mencukupi anakmu. Tentang perkataanmu bahwa kamu seorang pencemburu, maka aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkan kecemburuanmu. Sedangkan para wali, tidak ada seorang pun diantara mereka kecuali akan ridha kepadaku." 

Ummu Salamah kemudian berkata kepada anaknya, "Wahai Umar, berdirilah dan nikahkanlah Rasulullah denganku."  Rasulullah Saw bersabda, "Sedangkan aku tidak akan mengurangi apa yang aku berikan kepada si fulanah." Beliau menikahinya tepat pada bulan Syawwal tahun 4 Hijriyah.

Maka jadilah Hindun binti Abu Umayyah sebagai Ummul mukminin. Ia hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu posisi yang ia harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama istri-istri Nabi lainnya. Rasulullah Saw pun memuliakannya dengan biasa mengunjunginya pertama kali sehabis beliau menunaikan Shalat Ashar, sebelum mengunjungi istri-istrinya yang lain.

Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal itu ditampilkan pada peristiwa Hudaibiyah sedangkan Rasulullah Saw memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih qurban setelah terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu, para sahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorangpun mau mengerjakannya.

Maka Rasulullah Saw masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepadanya perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata, "Wahai Rasulullah apakah anda menginginkan hal itu? Jika demikian, maka silahkan anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga Anda menyembelih unta anda, kemudian panggillah tukang cukur anda untuk mencukur rambut anda (tahallul). "

Rasulullah Saw menerima usulan Ummu Salamah. Maka beliau berdiri dan keluar tidak berkata sepatah katapun sampai beliau menyembelih untanya. Kemudian beliau panggil tukang cukur beliau dan dicukurlah rambut beliau. Sedangkan para sahabat melihat apa yang dikerjakan oleh Rasulullah, maka mereka bangkit dan menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian.

Setelah Rasulullah Saw menghadap Allah Swt, maka Ummul Mukminin, Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para Khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, beliau terangkan kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah.

Hindun binti Abu Umayyah, istri Nabi yang terakhir kali meninggal dunia. Diberi umur panjang dan mengetahui pembunuhan Husain bin Ali (Cucu Nabi), sehingga membuatnya pingsan karena sangat bersedih. Tidak berselang lama setelah peristiwa itu, tatkala tiba bulan Dzulqa'dah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.