Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - TSABIT BIN QEIS - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dan Tsabit bin Qeis yang mencapai kedudukan puncak sebagai jubir dan sebagai pahlawan perang, juga memiliki jiwa yang selalu ingin kembali menghadap Allah Maha Pencipta, hatinya khusyu’ dan tenang tenteram. Ia adalah pula salah seorang Muslimin yang paling takut dan pemalu kepada Allah ….
Sewaktu turun ayat mulia:
“Sesungguhnya Allah tidak suka pada setiap orang yang congkak dan sombong”. (q.S. 31 Luqman:18)

Tsabit menutup pintu rumahnya dan duduk menangis …. Lama dia terperanjak begitu saja, sehingga sampai beritanya kepada Rasulullah saw. yang segera memanggilnya dan menanyainya.

Maka kata Tsabit: “Ya Rasulallah, aku senang kepada pakaian yang indah, dan kasut yang bagus, dan sungguh aku takut dengan ini akan menjadi orang yang congkak dan sombong . . . !”

Bicaranya itu dijawab oleh Nabi saw. sambil tertawa senang: “Engkau tidaklah termasuk dalam golongan mereka itu, bahkan engkau hidup dengan kebaikan …. dan mati dengan kebaikan dan engkau akan masuk surga “

Dan sewaktu turun firman Allah Ta’ala :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian angkat suara melebihi suara Nabi . . . dan jangan kalian berkata kepada Nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebahagian kalian terhadap sebahagian yang lainnya, karena dengan demikian amalan kalian akan gugur, sedang kalian tidak menyadarinya . . . !” (Q.S. 49 al-Hujurat- 2)

Tsabit menutup pintu rumahnya lagi, lalu menangis …. Rasul mencarinya dan menanyakan tentang dirinya, kemudian me­ngirimkan seseorang untuk memanggilnya …. Dan Tsabit pun datanglah ….

Rasulullah menanyainya mengapa tidak kelihatan muncul, yang dijawabnya: “Sesungguhnya aku ini seorang manusia yang keras suara . . . dan sesungguhnya aku pernah meninggikan suaraku dari suaramu wahai Rasulullah . . . ! Karena itu tentu­lah amalanku menjadi gugur dan aku termasuk penduduk neraka . . . !”

Rasulullah pun menjawabnya: — “Engkau tidaklah termasuk salah seorang di antara mereka bahkan engkau hidup terpuji . . . dan nanti akan berperang sampai syahid, hingga Allah bakal memasukkanmu ke dalam surga . . . !”

Masih tinggal dalam kisah Tsabit ini satu peristiwa lagi, yang kadang-kadang tak dapat diterima dengan puas oleh hati orang-orang yang memusatkan pikiran, perasaan dan mimpi-mimpi mereka kepada alam kebendaan yang sempit semata, yakni alam yang selalu mereka raba, mereka lihat atau mereka cium . . . !

Namun bagaimanapun, peristiwa itu benar-benar terjadi, dan tafsirnya nyata dan mudah bagi setiap orang yang di samping mempergunakan mata lahir, mau pula menggunakan mata bathin- nya ….

Setelah Tsabit menemui syahidnya di medan pertempuran, melintaslah di dekatnya salah seorang Muslimin yang baru saja masuk Islam dan ia melihat pada tubuh Tsabit masih ada baju besinya yang berharga maka menurut dugaannya ia berhak mengambilnya untuk dirinya, lalu diambilnya . . . Dan marilah kita serahkan kepada empunya riwayat itu menceritakannya sendiri:

“Selagi seorang laki-laki Muslimin sedang nyenyak tidur, ia didatangi Tsabit dalam tidurnya itu, yang berkata padanya: “Aku hendak mewasiatkan kepadamu satu wasiat; tapi jangan sampai kau katakan bahwa ini hanya mimpi lalu kamu sia-siakan! Sewaktu aku gugur sebagai syahid, lewat ke dekatku se­seorang Muslim lalu diambilnya baju besiku …. Rumahnya sangat jauh, orang tersebut memiliki kuda kepalanya men­dongak ke atas seakan-akan tertarik tali kekangnya …. Baju besi itu disimpan ditutupi sebuah periuk besar, dan periuk itu ditutupi pelana unta (sakeduk) …. Pergilah kepada Khalid minta ia untuk mengirimkan orang mengambilnya! Kemudian apabila kamu sampai ke kota Madinah menghadap khalifah Abu Bakar, katakan kepadanya bahwa aku mempunyai utang sekian banyaknya, aku mohon agar ia bersedia mem­bayarnya ….”

Maka sewaktu laki-laki itu terbangun dari tidurnya, ia terus menghadap kepada Khalid bin Walid, lalu diceritakannyalah mimpi itu … . Khalid pun mengirimkan untuk mencari dan mengambil baju besi itu, lalu menemukannya sebagai digambar­kan dengan sempurna oleh Tsabit….

Setelah Kaum Muslimin pulang kembali ke Madinah, orang tadi menceritakan mimpinya kepada khalifah, beliau pun me­laksanakan wasiat Tsabit …. Satu-satunya wasiat dari seorang yang telah meninggal ialah wasiatnya Tsabit bin Qeis yang terlaksana dengan sempurna.

Dan jangan sekali-kali kalian sangka orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati , karena sebenarnya mereka masih hidup, dan diberi rizqi di sisi Tuhan mereka . . . !” (Q.S. 3 Ali Imran: 169)