Monday, April 13, 2015

Tokoh Islami "AISYAH RADHIALLAHU 'AN BINTI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ BIN ABU QUHAFAH BIN ‘AMIR BIN ‘AMR BIN KA’AB BIN SA’AD BIN TAIM BIN MURRAH BIN KA’AB BIN LU’AY (614-678 M) - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
A. Nama dan Nasab
Beliau adalah ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq bin Abu Quhafah bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay. Ibunda beliau bernama Ummu Rumman binti ‘Umair bin ‘Amir bin Dahman bin Harist bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.

‘Aisyah رضي الله عنها terlahir empat atau lima tahun setelah diutusnya Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها, bahwasanya dia pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya semua maduku mempunyai kun-yah (julukan), maka sudikah engkau memberikan juga kun-yah untukku?” Beliau صلّى الله عليه و سلّم menjawab: “Julukilah dirimu dengan putera (angkat)mu ‘Abdullah bin az-Zubair.” Sejak saat itu, ‘Aisyah رضي الله عنها diberi kun-yah Ummu ‘Abdillah hingga meninggal dunia.

B. Malaikat Jibril Membawa Gambar ‘Aisyah untuk Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم serta Peminangan dan Pernikahan Beliau dengannya

Dari ‘Aisyah  رضي الله عنها, ia berkata: “Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم bercerita kepadaku: ‘Aku melihatmu dalam mimpi sebelum menikah denganmu sebanyak dua kali, (dalam lafazh lain: tiga kali). Malaikat datang kepadaku, ia membawakan jasadmu dalam sehelai kain sutera, seraya berkata: ‘Inilah isterimu!’ Akupun membuka (kain tadi untuk melihat) wajah wanita itu, dan ternyata dia adalah kamu.’” Kemudian, aku bertanya: “Kalau memang ini ketentuan dari Alloh, pasti akan terlaksana.”

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: “Malaikat Jibril datang membawaku kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dalam sehelai kain sutera, seraya berkata: ‘Ini adalah isterimu di dunia dan di akhirat.’”

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: “Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم menikahiku saat aku berumur enam tahun. Setelah itu, kami mendatangi kota Madinah dan tinggal di rumah Bani al-Harits bin Khazraj. Akupun jatuh sakit karena kelelahan, bahkan rambutku rontok hingga berjatuhan di kedua pundakku. Ibuku, Ummu Rumma, bersama beberapa temanku datang menjengukku, tepat saat diriku berada di ayunan anak-anak. Tiba-tiba ibuku berteriak memanggilku hingga aku bergegas menghampirinya.

Aku tidak tahu apa yang ibuku inginkan dariku, sampai-sampai aku diberdirikan di pintu rumah dengan napas terengah-engah, hingga akhirnya jiwaku sedikit tenang. Setelah itu, aku mengambil sedikit air lalu mengusap wajah dan kepalaku. Lantas, ibuku memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya terdapat beberapa wanita Anshar. Mereka mengatakan: ‘Semoga engkau tetap berada dalam kebaikan dan keberkahan.’ Ibuku menyerahkanku dan merekapun merias diriku. Tidak ada yang membuatku takut ketika itu, kecuali Rasulullah (yang akan kutemuai) pada waktu dhuha. Selanjutnya, ibuku menyerahkanku kepada beliau dan aku saat itu baru berumur sembilan tahun.”

C. Sekelumit tentang Keutamaan ‘Aisyah رضي الله عنها
Ummul Mukminin ‘Aisyah memperoleh kedudukan dan cinta Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم yang tidak didapatkan oleh seorang wanitapun pada zamannya. Cinta Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم kepada ‘Aisyah رضي الله عنها sangat luar biasa. Bahkan, para sahabat selalu menunggu saat yang tepat untuk memberikan hadiah kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم, yaitu pada hari giliran ‘Aisyah رضي الله عنها guna mencari keridhaan beliau, karena mereka mengetahui dalamnya cinta Nabi terhadap ‘Aisyah رضي الله عنها.

Hari giliran ‘Aisyah رضي الله عنها adalah dua hari, sedangkan isteri Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم lainnya hanya mendapat giliran satu hari.

Cinta dan khawatirnya Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم terhadap ‘Aisyah رضي الله عنها, beliau pernah menyuruhnya untuk minta diruqyah dari penyakit ‘ain.

Tidak cukup sampai di situ, Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم juga menganjurkan orang lain agar mencintainya, terkadang beliau tidak marah kalau ‘Aisyah رضي الله عنها membela dirinya, terkadang juga ada sebagian madunya yang mempermasalahkan suatu hal kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم namun beliau malah menjadi tidak senang karena ‘Aisyah رضي الله عنها disakiti; bahkan Nabi r memujinya bahwa tidak pernah wahyu turun ketika beliau berada dalam selimut salah seorang isterinya, kecuali bersama ‘Aisyah رضي الله عنها.

Karena amat cintanya, Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم pernah mencium ‘Aisyah رضي الله عنها saat sedang puasa. Beliau pun membujuknya apabila ‘Aisyah رضي الله عنها sedang kesal. Beliau dapat pula menunjukkan tanda-tanda ‘Aisyah رضي الله عنها ketika sedang senang dan ketika sedang marah.

Diantara kelembutan Nabi صلّى الله عليه و سلّم kepada ‘Aisyah رضي الله عنها terlihat pada waktu beliau pernah lomba lari dengannya. Selain itu, beliau sering mengajaknya secara khusus untuk menyertainya dalam perjalanan. Perkara yang juga menunjukkan kedudukan mulia ‘Aisyah رضي الله عنها dalam diri Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم adalah beliau memulai bertanya kepada isterinya ini tatkala turun ayat takhyiir (tentang pilihan dunia dan akhirat bagi Ummahatul Mukminin) dan memang tepat jawabannya dalam hal itu.

Cukuplah sebagai bukti ketinggian derajat ‘Aisyah رضي الله عنها dengan warisan teragung kenabian yang disampaikannya kepada umat Islam. Alhasil, periwayatannya terhadap hadits Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم tersebut memenuhi sebagian besar kitab-kitab sunnah jika tidak boleh dikatakan semuanya. Di samping itu, orang-orang yang belajar (menimba ilmu) dari beliau adalah para pembesar sahabat dan tabi’in. para ulama sejak dahulu sampai sekarang berlomba-lomba menulis ilmu dari beliau. Sebagian mereka menulisnya secara tersendiri, baik dalam bidang fiqih, periwayatan hadits, tafsir al-Qur’an, untuaian sya’ir, maupun hari-hari bersejarah bangsa Arab.

Labih dari itu, ‘Aisyah رضي الله عنها mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki ummul mukminin lainnya hingga mencapai impat puluh criteria. Cukuplah sebagai sebuah kebanggaan bagi ‘Aisyah رضي الله عنها bahwa Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم lebih memilih dirinya untuk tinggal di rumahnya pada waktu sakit (menjelang wafat), serta bersatunya air liurnya dengan air liur beliau. ‘Aisyahlah yang langsung melayani Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم ketika itu, bahkan Nabi صلّى الله عليه و سلّم wafat saat bersandar di dada ‘Aisyah رضي الله عنها. Semoga Alloh meridhoi Ummul Mukminin ‘Aisyah beserta seluruh Ummul Mukminin lainnya.

D.    Wafatnya ‘Aisyah
‘Aisyah رضي الله عنها meninggal pada malam selasa, tanggal 17 Ramadhan setelah shalat witir, pada tahun 58 Hijriyah. Yang demikian itu menurut pendapat mayoritas ulama. Ada juga yang berpendapat bahwa beliau wafat pada tahun 57 H, dalam usia 63 tahun dan sekian bulan. Para sahabat Anshar berdatangan pada saat itu, bahkan tidak pernah ditemukan satu hari pun yang lebih banyak orang-orang berkumpul padanya daripada hari itu, sampai-sampai penduduk sekitar Madinah turut berdatangan.

‘Aisyah رضي الله عنها dikuburkan di Pekuburan Baqi’. Shalat jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah dan Marwan bin Hakam yang saat itu adalah Gubernur Madinah. Semoga Alloh meridhoi Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها beserta seluruh Ummul Mukminin lainnya.