Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABDURAHMAN BIN AUF - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempat ketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal- gumpal hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Angin yang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran- butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.

Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.

Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan meng­himbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu ….

Ummul Mu’minin Aisyah r.a. demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: “Apakah yang telah terjadi di kota Ma­dinah . . . ?”

Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagang­annya …. Kata Ummul Mu’minin lagi: — “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal Mu’- minin . . . karena ada 700 kendaraan . . . !”

Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandang­nya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadi­an yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya. Kemudian katanya: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!”

Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan . . . ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul . . . ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah ke­padanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yang berbeda-beda.

Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya, ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lalu berkata kepadanya: “Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya . . . .”

Kemudian ulasnya lagi: “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla . . . !”

Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai per­buatan baik yang maha besar ….

Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurrahman bin ‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya.

Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah . . . ! Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh karena keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r. a. yang mem­baktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pem­berian yang tidak terkira, dengan hati yang puas dan rela . . . !

Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing …. Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da’wah, yakni sebelum Rasulullah saw. memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang- orang Mu’min ….

Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam …. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka tak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu- raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui Rasulullah saw. menyata­kan bai’at dan memikul bendera Islam ….

Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuhpuluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang Mu’min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi saw. memasukkannya dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.

Dan Umar r.a. mengangkatnya pula sebagai anggota kelom­pok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: — “Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!”

Segeralah Abdurrahman masuk Islam menyebabkannya menderitakan nasib malang berupa penganiayaan dan penindasan dari Quraisy …. Dan sewaktu Nabi saw., memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Habsyi, Ibnu ‘Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habsyi dan kemudian hijrah ke Madinah …. ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya . . . .

Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga katanya:

“Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak . . . !”

Perniagaan bagi Abdurrahman bin ‘Auf r.a. bukan berarti rakus dan loba …. Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya ….

Dan Abdurrahman bin ‘Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia di mana juga adanya …. Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang ber­jihad dalam mempertahankan Agama tentulah ia sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab
berupa pakaian dan makanan ……