Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - AL-BARRA’ BIN MALIK - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Memang tubuh pahlawan itu mendapat lebih dari delapan puluh tusukan dari pedang-pedang musyrikin menyebabkannya menderita luka lebih dari delapan puluh lubang, sehingga sebulan sesudah perang berlalu masih juga dideritanya, dan Khalid sendiri ikut merawatnya di waktu itu. tetapi semua yang menimpa dirinya ini belum lagi dapat mengantarkannya-kepada apa yang dicita-citakannya ….

Namun yang demikian itu tidak menyebabkan Barra’ ber­putus asa ….

Kafir dan musyrik masih menyerang …. Melintang menghalangi Agama Allah berkembang Seruan jihad tetap berkumandang ….

Jalan ke surga masih terbentang.

Dahulu Rasulullah meramalkan bahwa permintaan dan du’anya akan dikabulkan Allah. tinggal baginya tetap ber­du’a . . . memohon dikaruniai mati syahid, dan ia tak perlu buru-buru, karena setiap ajal sudah ada ketentuannya . !

Sekarang Barra’ telah sembuh dari luka-luka perang Yama­mah . . . . Dan kini ia maju lagi bersama pasukan tentara Islam yang pergi hendak menghalau semua kekuatan kedhaliman ke jurang kehancurannya, yakni nun di sana … di mana masih berdiri dua kerajaan raksasa dan aniaya, yaitu Romawi dan Persi, yang dengan tentaranya yang ganas menduduki negeri­ negeri Allah, memperbudak hamba-hamba-Nya dan mengintip kelengahan ummat Islam . . . . Barra’ memukulkan pedangnya dan di setiap tempat bekas pukulan itu berdiri dinding yang kukuh dalam membina alam baru yang akan tumbuh di bawah bendera Islam dengan cepat tak ubahnya bagai timbulnya mata­hari menjelang siang. . . .

Dalam salah satu peperangan di Irak, orang-orang Persi mempergunakan setiap cara yang rendah dan biadab,yang dapat mereka lakukan sebagai perlindungan. Mereka menggunakan penggaet-penggaet yang diikatkan ke ujung rantai yang dipanas­kan dengan api, mereka lempar dari dalam benteng mereka, hingga dapat menyambar Kaum Muslimin dan menggaetnya secara tiba-tiba sedang korban tidak dapat melepaskan dirinya.

Adapun Barra’ dan abangnya Anas bin Malik mendapat tugas bersama sekelompok Muslimin untuk merebut salah satu benteng-benteng itu. Tetapi tiba-tiba salah satu penggaet ini jatuh dan menyangkut ke tubuh Anas, sedang ia tidak sanggup memegang rantai untuk melepaskan dirinya, karena masih panas dan bernyala . . . . Barra’ menyaksikan peristiwa yang seram ini …. Dengan cepat ia menuju saudaranya yang sedang ditarik ke atas oleh penggaet dengan talinya yang panas menuju lantai dinding benteng …. Dengan keberanian yang luar biasa dipegangnya rantai itu dengan kedua tangannya, lalu direnggut dan disentakkannya sekuat-kuatnya, hingga akhirnya ia dapat melepaskan diri dari rantai itu, dan selamatlah Anas dari bahaya.

Bersama orang-orang sekelilingnya dilihatnya kedua telapak itu tidak ada lagi di tempatnya . . . ! Dagingnya rupa-rupanya telah meleleh karena terbakar dan yang tinggal hanyalah ke­rangkanya yang memerah coklat dan terbakar hangus ..

Sang pahlawan kembali menghabiskan waktu yang cukup lama pula untuk memulihkan luka bakarnya sampai sembuh betul .. !

Apakah belum juga datang masanya bagi si pencinta maut itu untuk mencapai maksudnya? Sudah, sekarang sudah datang masanya . . . ! Inilah dia pertempuran Tutsur akan datang, dan di sinilah balatentara Islam akan berhadapan dengan balatentara Persi, dan di sinilah pula Barra’ dapat merayakan pestanya yang terbesar ….

Penduduk Ahwaz dan Persi telah berhimpun dalam suatu pasukan tentara yang, amat besar hendak menyerang Kaum Muslimin . . . . Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab menulis surat kepada Sa’ad bin Waqqash di Kufah agar mengirimkan pasukan tentara ke Ahwaz . . . dan menulis surat pula kepada Abu Musa al Asy’ari di Basrah agar mengirimkan juga pasukan ke Ahwaz, sambil berpesan dalam surat itu: “Angkatlah sebagai komandan pasukan Suhail bin ‘Adi dan hendaklah ia dampingi oleh Barra’ bin Malik … !”