Thursday, April 16, 2015

Tokoh Islami "RAMLAH RADHIALLAHU 'AN BINTI ABU SUFYAN BIN HARB BIN UMAYYAH BIN ABDU SYAMS BIN ABDU MANAF BIN QUSHAY BIN KILAB BIN MURRAH BIN KA'AB BIN LU`AY BIN GHALIB BIN FIHR BIN MALIK BIN AN-NADHAR (QURAISY) BIN KINANAH BIN KHUZAIMAH BIN MUDRIKAH BIN ILYAS BIN MUDHAR BIN NIZAR BIN MA'AD BIN ADNAN (591-665 M) - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Status ketika menikah: Janda dari Ubaidillah bin Jahsy yang hijrah bersamanya ke Habsyah.
Periode menikah: bulan Muharrom tahun ke-7 Hijriyah lewat khitbah melalui raja Najasy.
Anak: tidak ada.

Fakta penting: suami Ummu Habibah pertama (Ubaidillah) tersebut murtad dan menjadi nasrani dan meninggal di Habsyah. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Alasan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Selain itu sebagai penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.

Nama lengkapnya Ramlah binti Abu Sufyan Shakhar bin Harb bin Umayyah, pemimpin Makkah. Ibunya adalah Shafiyah bin Abu Al-‘Ash Al-Umawiyah, saudari kandung Utsman bin Abu Al-Ash, orangtua dari Utsman bin Affan. Sedangkan suaminya adalah Ubaidillah bin Jahsy Al-Asadi, anak laki-laki bibi Nabi Muhammad Saw, dan saudara dari Ummul Mukminin Zainab bin Jahsy.

Ramlah dilahirkan tujuh belas tahun sebelum diutusnya Rasulullah. Ketika usia Ramlah sudah cukup untuk menikah, Ubaidillah bin Jahsy mempersunting-nya, dan Abu Sufyan pun menikahkan mereka. Ubaidillah terkenal sebagai pemuda yang teguh memegang agama Ibrahim as. Dia berusaha menjauhi minuman keras dan judi, serta berjanji untuk memerangi agama berhala. Ramlah sadar bahwa dirinya telah menikah dengan seseorang yang bukan penyembah berhala, tidak seperti kaumnya yang membuat dan menyembah patung-patung. Di dala hatinya terbersit keinginan untuk mengikuti suaminya memeluk agama Ibrahim as

Dikisahkan bahwa setelah Ramlah binti Abu Sufyan mendengar tentang Islam, dia langsung menyatakan diri memeluk Islam, terutama setelah mengetahui bahwa agama baru itu menyuruh manusia untuk menyembah Allah semata, meninggalkan peribadatan berhala, menganjurkan untuk berakhlak baik dan terpuji, serta menjauhi berbagai bentuk kemungkaran. Ramlah meyakini bahwa hanya Islamlah agama yang baik.

Karena itu, dia bergegas masuk Islam, dan tidak takut kepada ayahnya, Abu Sufyan, yang pada saat itu menjadi pemimpin Makkah dan juga pemimpin Bani Umayyah. Terbukti, setelah berita masuk Islamnya sampai kepada sang ayah yang merupakan pemimpin kaum musyrik, dia tetap tegar dan kokoh pada pendiriannya.

Mendengar berita keislamannya putrinya, Abu Sufyan marah besar. Ini mengingat, tidak pernah terlintas di benaknya akan ada seseorang dari suku Quraisy yang keluar dari kekuasaannya dan menentang perintahnya. Jelas, keislaman putrinya, Ramlah, sangat mengusik kekuasaan Abu Sufyan. Ramlah benar-benar memiliki sikap patriotik luar biasa yang dicatat oleh sejarah. Betapa tidak, dia begitu teguh menghadapi tirani kekafiran yang direfleksikan dalam diri sang ayah. Ramlah dengan terang-terangan ingkar kepada tuhan-tuhan ayahnya, tuhan-tuhan yang selamanya tidak akan pernah mendatangkan manfaat dan tidak pula bisa menolak bahaya. Ramlah dengan kokohnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tak ayal, Abu Sufyan berusaha dengan segala cara untuk bisa mengembalikan putrinya itu kepada agama nenek moyangnya. Namun usahanya itu sia-sia, karena sang putri tetap kokoh pada akidah tauhid. Abu Sufyan pun merasa malu dan bersembunyi dari kaumnya. Dia tidak tahu lagi bagaimana menghadapi cemoohan orang-orang Quraisy yang disebabkan keislaman Ramlah.

Maka orang-orang musyrik melakukan konspirasi untuk menghadapi Ramlah dan suaminya, setelah mendapatkan restu dari Abu Sufyan. Mereka mempersempit ruang gerak Ramlah dan suaminya, hingga keduanya lari dari bumi Makkah, dan berangkat menuju Habasyah. Keduanya pun menetap di Habasyah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan takdirnya. Allah berketetapan untuk memberikan ujian berat kepada Ramlah, dan untuk menguji kekuatan iman dan ketetapan hatinya. Ketika itu Ramlah tengah mengandung bayinya yang pertama. Setibanya di Habasyah, bayi Ramlah lahir yang kemudian diberi nama Habibah. Dari nama bayi inilah kemudian nama Ramlah berubah menjadi Ummu Habibah.