Monday, April 13, 2015

Tokoh Islami "AISYAH RADHIALLAHU 'AN BINTI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ BIN ABU QUHAFAH BIN ‘AMIR BIN ‘AMR BIN KA’AB BIN SA’AD BIN TAIM BIN MURRAH BIN KA’AB BIN LU’AY (614-678 M) - PART 5"

http://massandry.blogspot.com
Bantahan Terhadap Beberapa Syubhat (Tuduhan) yang Dialamatkan Kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah

A. Pernikahan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dengan ‘Aisyah رضي الله عنها
Sejak dahulu, musuh-musuh Islam tidak pernah menyia-nyiakan satu kesempatan pun untuk berbuat jahat. Tidaklah pula mereka membiarkan satu celah pun terbuka untuk mencela Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم melainkan akan segera memanfaatkannya.

Di antara tuduhan mereka adalah mengenai pernikahan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dengan seorang perawan kecil (‘Aisyah), yang sebenarnya hanya pantas menjadi salah satu puterinya.

Anehnya, tuduhan tersebut baru dilontarkan oleh musuh-musuh Islam pada zaman sekarang, padahal tuduhan semacam ini tidak ditemukan pada zaman nenek moyang mereka dari kalangan bangsa Yahudi, orang-orang munafik, dan kaum lainnya. Hal demikian dikarenakan mereka hidup pada zaman yang menganggap kejadian ini bukanlah suatu keanehan dan bukan pula sebuah aib menurut pandangan dan kondisi masyarakat saat itu. Jika tidak demikian, apakah mungkin orang-orang kafir dan orang-orang yang suka mencela Rasulullah pada zaman itu membiarkan kesempatan emas ini?

Tidak adanya tuduhan tersebut karena mereka telah mengetahui bahwa ‘Aisyah رضي الله عنها bukanlah gadis kecil pertama yang dinikahkan pada usia dini dengan seorang laki-laki yang lebih tua daripadanya, dan bukan pula yang terakhir. Di samping itu, mengapa hal ini mesti dipungkiri, bukankah sebelumnya ‘Aisyah رضي الله عنها sudah dipinang oleh Jubair bin Muth’im bin ‘Adi? Lihat pula ‘Umar bin al-Khaththab, beliau di akhir usianya dengan Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abi Tholib, padahal ‘Umar lebih tua disbanding umur bapaknya (‘Ali). ‘Umar juga pernah menawarkan puterinya, Hafshah, setelah menjanda kepada Abu Bakar dan ‘Utsman, padahal keduanya saat itu seumur dengan ‘Umar.

Meskipun demikian, syubhat ini ternyata melekat dalam pikiran sebagian umat Islam, baik secara sengaja ataupun tidak, sehingga sebagian orang menganggap bahwa menikah pada umur sebagaimana Rasulullah membangun rumah tangga dengan ‘Aisyah رضي الله عنها merupakan sesuatu yang mustahil. Namun, al-hamdulillah, para ulama Muslim telah membantah pendapat musuh-musuh Islam itu dengan berbagai dalil naqli (nash) dan ‘aqli (akal).

Mereka juga menetapkan hakikat pernikahan ‘Aisyah رضي الله عنها pada usia dini dan menerangkan bahwa hal ini sudah menjadi kebiasaan mesyarakat pada waktu itu. Di sisi lain, hal tersebut termasuk syari’at dari Rasulullah, berupa anjuran agar seseorang menikah pada usia dini, karena yang demikian itu lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Tambahan pula, bahwasanya kesanggupan seorang wanita untuk memasuki bahtera rumah tangga tidak bergantung pada usianya, muda atau tua. Sungguh, tidaklah Rasulullah memasuki tahapan hidup berumah tangga, melainkan karena memang ‘Aisyah رضي الله عنها sudah siap untuk itu.

B. Tuduhan Berzina
Tatkala bendera Islam telah berkibar tinggi dan kejayaan Islam sudah tampak, serta kekuatan kekufuran hancur, muncullah fenomena di tengah-tengah barisan umat Islam musuh-musuh bebuyutan yang licik, yang menampakkan Islam di luarnya hanya demi menjaga darah dan harta, namun mereka menyembunyikan kekufuran dan gejolak kedengkian, serta tipu daya terhadap Islam dan kaum Muslimin. Mereka adalah orang-orang munafik yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia beranggapan bahwasanya Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم telah merebut kekuasaan dan kedudukannya, tidak lain karena kaumnya sebenarnya sudah siap untuk memberikan kekuasaan dan kerajaan di Madinah padanya (Ubay), sebelum sampainya ajaran Islam dan masuknya kaum Muslimin di kota tersebut.

Kaum munafik pun membulatkan tekad untuk merongrong kaum Muslimin, dengan menjalankan aksinya, baik sendiri-sendiri maupun bergabung bersama kelompok lainnya. Bahkan, kebusukan dan kejahatan mereka sampai pada titik ikut serta keluar dan berperang bersama (membantu) Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم terutama pada peperangan yang diperkirakan akan mendatangkan kemenangan dan mendapatkan harta rampasan perang, sehingga mereka bisa pulang dengan membawa harta kesenangan dunia yang fana.

Kaum ini juga meyakinkan kaum Muslimin bahwasanya mereka berada di satu barisan bersama umat Islam, padahal pada saat yang sama, mereka mencari-cari kesempatan untuk menyebarkan racun keraguan dalam hati dan menanam bibit perpecahan di antara kaum Muslimin. Meskipun semua itu harus ditempuh dengan jalan menghina dan melecehkan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم pasti mereka akan tetap melakukannya tanpa ragu-ragu.

Akhirnya, kaum munafik mendapatkan kesempatan itu tatkala mereka keluar bersama Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم untuk memerangi Bani Mushthaliq. Kaum ini pun memperoleh peluang emas untuk mengabulkan keinginan nafsu keji mereka.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “tuduhan dusta” (haaditsul ifki), sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab tafsir, hadits, sejarah peperangan, dan sirah. Peristiwa ini sangat masyhur disebabkan turunnya beberapa ayat terkait dengan masalah tersebut.

Secara ringkas, kronologis kejadian di atas adalah sebagaimana berikut. Suatu ketika, rombongan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم meninggalkan Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها (tanpa sengaja) karena beliau sedang sibuk mencari kalungnya yang hilang saat sedang buang hajat. Setelah itu, ‘Aisyah رضي الله عنها kembali dan menunggu di tempat sebelumnya rombongannya berada, hingga datanglah Shafwan bin Mu’athil sebab dia memang berada di barisan belakang rombongan. Ia pun melihat dan mengenali wajah ‘Aisyah رضي الله عنها karena pernah melihat beliau sebelum turunnya ayat hijab. Shafwan lalu menundukkan unta untuk ‘Aisyah رضي الله عنها dan menuntun keduanya dengan cepat agar dapat menyusul rombongan. Di sisi lain, rombongan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم panik karena kehilangan ‘Aisyah رضي الله عنها hingga pagi berikutnya.