Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 5"

http://massandry.blogspot.com
Rasulullah amat mencintai Abbas, sampai beliau tidak dapat tidur sewaktu berakhirnya perang Badar, karena pamannya pada malam itu tidur bersama tawanan yang lain …. Nabi tidak menyembunyikan rasa sedihnya ini, sewaktu ditanyakan kepadanya, sebabnya beliau tidak dapat tidur padahal Allah telah memberikan pertolongan sebesar-besarnya, beliau men­jawab:

“Serasa terdengar olehku rintihan Abbas dalam beleng­gunya . . . !”

Salah seorang di antara Muslimin mendengar kata-kata Rasul tersebut, lalu segera pergi ke tempat para tawanan dan melepaskan belenggu Abbas. Orang ini kembali dan mengabarkan kepada Rasulullah, katanya:

“Ya Rasulallah aku telah me­longgarkan ikatan belenggu Abbas sedikit!”

Tetapi kenapa hanya Abbas saja . . . ? Ketika itu Rasul memerintahkan kepada shahabatnya itu: “Ayuh pergilah, laku­kanlah seperti itu terhadap semua tahanan . . . !”

Benar, kecintaan Nabi kepada pamannya tidak dimaksud­kannya untuk memperbedakannya dari manusia lain yang mengalami keadaan yang sama!.

Dan tatkala musyawarah menetapkan membebaskan tawanan dengan jalan menerima tebusan, berkatalah Rasul kepada paman­nya:

“Wahai Abbas . . . , tebuslah dirimu, dan anak saudaramu Uqeil bin Abi Thalib, Naufal bin Harits, dan teman karibmu ‘Utbah bin Amar saudara Bani Harits bin Fihir, sebab kamu banyak harta!”

Mulanya Abbas bermaksud hendak membebaskan dirinya tanpa membayar uang tebusan, katanya:

“Hai Rasulullah, sebenarnya aku’kan sudah masuk Islam, hanya orang-orang itu memaksaku . . . !”

Tetapi Rasul saw. terus mendesaknya agar membayarnya, dan berkenaan dengan peristiwa ini turunlah ayat al-Quranul Karim memberikan penjelasan sebagai ber­ikut: —

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada tawanan yang ada dalam tanganmu: Jika Allah mengetahui dalam hati kalian kebaikan, pasti Ia akan mengganti apa yang telah diambil daripada kalian dengan yang lebih baik dan Ia mengampuni kalian, dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang “‘ (Q.S. 8 al-Anfal: 70)

Demikianlah Abbas menebus dirinya dan orang-orang ber­samanya dan pulang kembali ke Mekah . . . dan setelah itu jalan fikiran dan keimanan Abbas tidak dapat disembunyikan lagi pada orang Quraisy. Tak lama kemudian dikumpulkannya hartanya dan dibawanya barang-barangnya lalu terus menyusul Rasul ke Khaibar, untuk ikut mengambil bagian dalam rombong­an angkatan Islam dan kafilah orang-orang beriman …. Ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh Kaum Muslimin, terutama karena melihat Rasul sendiri memuliakan serta mencintainya, begitupun mendengar ucapan Rasul terhadapnya:

“Abbas adalah saudara kandung ayahku …. Maka siapa yang menyakiti Abbas tak ubahnya menyakiti­ku!”
Abbas meninggalkan keturunannya yang diberkati; Abdullah bin Abbas mutiara ummat dengan pengertian alim, ‘abid dan shaleh, adalah salah seorang anak yang diberkati Nabi.

Pada hari Jum’at tanggal 14 bulan Rajab tahun 32 Hijrah, penduduk kampung dataran tinggi Madinah mendengar peng­umuman:

“Rahmat Allah bagi orang yang menyaksikan Abbas bin Abdul Mutthalib!”

Mereka mendapati Abbas telah meninggal …. Amat banyak sekali orang mengiringkan jenazahnya, belum pernah terjadi selama ini sebanyak itu. Jenazahnya dishalatkan oleh khalifah Muslimin pada waktu itu, yakni Utsman bin Affan r.a. Di bawah tanah Baqi’ beristirahatlah dengan tenang tubuh Abui Fadlal …. Ia tidur nyenyak dengan hati puas, di lingkungan orang baik- baik yang telah sama-sama memenuhi janji mereka kepada Allah ……. !.