Monday, April 13, 2015

Tokoh Islami "AISYAH RADHIALLAHU 'AN BINTI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ BIN ABU QUHAFAH BIN ‘AMIR BIN ‘AMR BIN KA’AB BIN SA’AD BIN TAIM BIN MURRAH BIN KA’AB BIN LU’AY (614-678 M) - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pernikahan bagi seorang wanita adalah sesuatu yang utama dan penting. Setelah menikah seorang wanita akan menjadi istri dan selanjutnya akan menjadi seorang ibu. Kekayaan dunia sebanyak apa pun, kemuliaan setinggi awan, kepandaian yang tak tertandingi, dan jabatan yang begitu tinggi, sekali-kali tidak akan ada artinya bagi seorang wanita jika tidak menikah dan menyanyangi suami, sebab tidaklah mungkin bahagia seseorang yang berpaling dari fitrahnya.

Dalam kehidupan berumah tangga, Aisyah merupakan guru bagi setiap wanita di dunia sepanjang masa. Ia adalah sebaik-baik istri dalam bersikap ramah kepada suami, menghibur hatinya, dan menghilangkan derita suami yang berasal dari luar rumah, baik yang disebabkan karena pahitnya kehidupan maupun karena rintangan dan hambatan yang ditemui ketika menjalankan tugas agama.

Aisyah adalah seorang istri yang paling berjiwa mulia, dermawan, dan sabar dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah yang serba kekurangan, hingga pernah dalam jangka waktu yang lama di dapurnya tidak terlihat adanya api untuk pemanggangan roti atau keperluan masak lainnya. Selama itu mereka hanya makan kurma dan minum air putih.

Ketika kaum muslim telah menguasai berbagai pelosok negeri dan kekayaan datang berlimpah, Aisyah pernah diberi uang seratus ribu dirham. Uang itu langsung ia bagikan kepada orang-orang hingga tak tersisa sekeping pun di tangannya, padahal pada waktu itu di rumahnya tidak ada apa-apa dan saat itu ia sedang berpuasa. Salah seorang pelayannya berkata, “Alangkah baiknya kalau engkau membeli sekerat daging meski satu dirham saja untuk berbuka puasa!” Ia menjawab, “Seandainya engkau katakan hal itu dari tadi, niscaya aku melakukannya.”

Dia adalah wanita yang tidak disengsarakan oleh kemiskinan dan tidak dilalaikan oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan dirinya, sehingga dunia dalam pandangannya adalah rendah nilainya. Datang dan perginya dunia tidaklah dihiraukannya.

Dia adalah sebaik-baik istri yang amat memperhatikan dan memanfaatkan pertemuan langsung dengan Rasulullah, sehingga dia menguasai berbagai ilmu dan memiliki kefasihan berbicara yang menjadikan dirinya sebagai guru para sahabat dan sebagai rujukan untuk memahami hadits, sunnah, dan fiqih.

Az-Zuhri berkata, “Seandainya ilmu semua wanita disatukan, lalu dibandingkan dengan ilmu Aisyah, tentulah ilmu Aisyah lebih utama daripada ilmu mereka.”

Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, “Sesungguhnya aku telah belajar banyak dari Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada Aisyah tentang ayat-ayat Alquran yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah arab, nasab, hukum, serta pengobatan. Aku berkata kepadanya, “Wahai bibi dari manakah engkau mengetahui ilmu pengobatan?” Aisyah menjawab, “Aku sakit, lalu aku diobati dengan sesuatu, ada orang lain juga diobati dengan sesuatu, dan aku juga mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain, sehingga aku mengetahui dan menghapalnya.”