Saturday, April 18, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABBAS BIN ABDUL MUTTHALIB - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Kedua golongan itu pun bertemulah di medan perang Badar …. Pedang-pedang pun gemerincing beradu dalam kecamuk perang yang menakutkan, yang akan menentukan hidup mati dan akhir kesudahan kedua belah pihak ….

Rasulullah berseru di tengah-tengah para shahabatnya, katanya:

“Sesungguhnya ada beberapa orang dari keluarga Bani Hasyim dan yang bukan Bani Hasyim yang keluar dipaksa pergi berperang, padahal sebenarnya mereka tidak hendak memerangi kita . . . oleh sebab itu siapa di antara kamu yang menemukannya, maka janganlah ia dibunuhnya . . . ! Siapa yang bertemu dengan Abui Bakhtari bin Hisyam bin Harits bin Asad, janganlah membunuhnya . . . ! Dan siapa yang bertemu dengan Abbas bin Abdul Mutthalib, jangan membunuhnya karena orang- orang itu dipaksa untuk ikut berperang … !”

Dengan perintahnya ini tidak berarti Rasul hendak mem­berikan keistimewaan kepada pamannya Abbas, karena tidak pada tempatnya dan bukan pula pada waktunya! Dan bukanlah Muhammad saw. orangnya yang akan rela melihat kepala para shahabatnya berjatuhan dalam pertempuran menegakkan yang haq, lalu membela pamannya dengan memberinya hak-hak isti­mewa, di saat pertempuran sedang berlangsung, seandainya diketahuinya bahwa pamannya itu orang musyrik ….

Benar . . . ! Rasul yang pernah dilarang Allah memintakan ampun untuk pamannya Abu Thalib — hanya semata-mata memintakan ampun —, sekalipun Abu Thalib banyak jasa dan pemberiannya terhadap Nabi Muhammad saw. dan Islam berupa pembelaan dan pengurbanan ….

Tidaklah logis dan masuk akal jika ia akan mengatakan ke­pada orang-orang yang bertempur di perang Badar memerangi bapak-bapak dan sanak-sanak saudara mereka dari golongan musyrik:

“Kecualikan oleh kalian dan jangan bunuh pamanku “

Lain halnya kalau Rasul mengetahui pendirian pamannya yang sebenarnya, dan ia tahu bahwa pamannya itu menyembu­nyikan keislamannya dalam dadanya, sebagaimana diketahuinya pula jasa-jasanya yang tidak sedikit serta pengabdian-pengabdian- nya yang tak terlihat terhadap Islam . . . serta diketahuinya pula belakangan, bahwa ia dipaksa ikut berperang dan mengalami tekanan, maka waktu itu adalah kewajiban Nabi untuk me­lepaskan orang yang mengalami nasib seperti ini dari marabahaya, dan melindungi darahnya selama kemungkinan masih ter­buka ….

Seandainya Abu Bakhtari bin Harits (bukan sanak keluarga Nabi) yang tidak dikenal menyembunyikan keislamannya, dan tidak pernah pula membela Islam walaupun secara diam-diam sebagaimana dilakukan Abbas, paling-paling kelebihannya hanya karena ia tak pernah ikut-ikutan dengan pemimpin-pemimpin Quraisy menyakiti dan menganiaya Kaum Muslimin, dan tidak menyukai tindakan mereka yang demikian, dan ia ikut dalam peperangan karena dipaksa dan ditekan ….

Seandainya Abu Bakhtari hanya disebabkan hal-hal itu telah berhasil mendapatkan syafa’at Rasulullah untuk dilindungi darahnya serta nyawanya . . . maka apakah seorang Muslim yang terpaksa menyembunyikan keislamannya …. dan laki-laki ini pembelaannya terhadap Islam dapat dibuktikan secara nyata, sedang yang lainnya secara diam-diam dan tersembunyi . . . apakah tidak lebih berhak dan lebih pantas untuk mendapatkan syafaat tersebut . . . ? Benarlah demikian dan tidak salah! Se­benarnya Abbas adalah orang Muslim dan pembela itu! Dan marilah kita kembali ke belakang sejenak untuk meninjaunya!.

Pada Bai’atul Aqabah Kedua, di mana sebanyak tujuhpuluh tiga pria dan dua wanita perutusan Anshar datang ke Mekah di musim haji guna mengangkat sumpah setia kepada Allah dan Rasul-Nya, dan untuk merundingkan hijrah Nabi saw. ke Madinah, waktu itulah Rasul menyampaikan berita perutusan dan bai’at ini kepada pamannya karena Rasul sangat memper­cayainya dan memerlukan buah fikiran pamannya itu ….

Tatkala tiba waktu berkumpul yang dilakukan secara sem­bunyi-sembunyi dan rahasia, keluarlah Rasul bersama pamannya Abbas ke tempat orang-orang Anshar menunggu.

Abbas ingin menyelidiki dan menguji golongan ini sampai di mana kesetiaan mereka terhadap Nabi …. Marilah kita persilakan salah seorang anggota perutusan itu untuk men­ceritakan kepada kita peristiwa yang didengar dan dilihatnya sendiri. Orang itu ialah Ka’ab bin Malik r.a. demikian ceritanya:

“…. Kami telah duduk menanti kedatangan Rasul di tengah jalan menuju bukit, hingga akhirnya beliau datang dan ber­samanya Abbas bin Abdul Mutthalib. Abbas pun angkat bicara katanya: “Wahai golongan Khazraj, anda sekalian telah mengetahui kedudukan Muhammad saw. di sisi kami, kami telah membelanya dari kejahatan kaum kami, sedang ia mem­punyai kemuliaan dalam kaumnya dan kekuatan di negerinya. Tetapi ia enggan bergabung dengan mereka, bahkan ia bermaksud ikut kalian dan hidup bersama kalian …. Seandainya kalian benar-benar hendak menunaikan apa yang telah kalian janjikan kepadanya dan kalian membelanya terhadap orang yang me­musuhinya, silakan kalian memikul tanggung jawab tersebut! Tetapi seandainya kalian bermaksud akan menyerahkan dan mengecewakannya sesudah ia bergabung dengan kalian, lebih baik dari sekarang kalian meninggalkannya . . . !”

Abbas mengucapkan kata-katanya yang tajam lagi keras ini dengan sorotan matanya seperti mata elang ke wajah orang- orang Anshar . . . untuk mengikuti kesan kata-kata itu dan jawabannya yang segera ….

Dan ia tidak hanya sampai di situ saja. Kecerdasannya yang tinggi adalah kecerdasan praktis yang dapat menjangkau jauh akan hakikat sesuatu bidang kenyataan, dan menghadapi setiap perspektifnya sebagaimana layaknya seorang yang mempunyai perhitungan dan pengalaman. Ketika itu dimulainya pula per­cakapannya dengan mengemukakan pertanyaan cerdik, demi­kian:

“Coba anda lukiskan kepadaku peperangan, bagaimana caranya anda memerangi musuh-musuh anda . . . ?”