Monday, April 13, 2015

Tokoh Islami "SAUDAH RADHIALLAHU 'AN BINTI ZAM'AH BIN QAIS BIN 'ABDI SYAMS BIN' ABDI WADD BIN NASHR BIN MALIK BIN HASL BIN 'AMIR BIN LU'AI BIN GHALIB AL-QURASYIYYAH AL-'AMIRIYYAH (596 – 674 M) - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Maka pada tahun kesepuluh setelah beliau diangkat sebagai nabi, Rasulullah saw pun menikah dengannya. Di masa itu pula beliau melaksanakan akad nikahnya dengan 'Aisyah binti Abu Bakar As-Siddiq. Saudah meminta kepada Hathib bin 'Amr Al-'Amiry, salah seorang sahabat dari kaumnya yang pernah turut dalam perang Badar dan juga ikut hijrah ke Habasyah untuk menikahkannya. Seorang diri Saudah mendampingi Rasulullah selama tiga tahun lebih sampai tiba saat Aisyah menyusulnya hadir dalam rumah tangga Rasulullah saw di Madinah.

Ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Saudah binti Zam'ah bersama keluarga Rasulullah yang lain masih tinggal di Mekah. Setelah usai pembangunan masjid dan tempat tinggal beliau di Madinah, barulah Rasulullah saw mengutus  Zaid bin Haritsah  dan Abu Rafi' untuk menjemput Saudah dan putri-putri beliau. Berangkatlah mereka berdua berbekal lima ratus dirham dan dua ekor unta. Dengan lima ratus dirham itu mereka membeli tiga ekor unta. 

Kemudian mereka berdua masuk ke kota Mekkah untuk membawa Saudah binti Zam'ah beserta putri-putri Rasulullah, Fathimah dan Ummu Kultsum. Pada saat itu juga Zaid menjemput istrinya, Ummu Aiman, dan putranya Usamah bin Zaid ke bumi hijrah, Madinah.

Hari terus bergulir, usia pun bertambah. Saudah mengerti bahwa Rasulullah saw menikahinya semata-mata karena rasa iba beliau dengan keadaannya setelah suaminya tiada. Semakin jelaslah semua itu ketika ia bermaksud menceraikannya dengan cara yang sebaik-baiknya agar tidak melukai hatinya. Rasulullah saw menyampaikan keinginannya ini kepadanya. Maka di hadapan beliau, dengan dada yang sesak, Saudah binti Zam'ah berbisik lirih, "Tahanlah aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, aku tidak lagi memiliki keinginan terhadap pernikahan. Namun aku sangat berharap kelak di hari kiamat Allah akan membangkitkan diriku sebagai istrimu ." 

Wanita mulia yang mengharapkan kemuliaan. Dia utamakan keridhaan suaminya yang mulia, hingga dia berikan pula hari gilirannya untuk Aisyah, istri yang sangat dicintai oleh Rasulullah saw dan beliau pun menerimanya.

Peristiwa ini menyisakan sesuatu yang teramat berarti. Allah SWT menurunkan ayat 128 dari Surat An Nisaa, "Maka tidak mengapa atas kedua suami istri itu mengadakan perdamaian dengan sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik."

Tinggallah Saudah di dalam rumah yang dipenuhi cahaya kenabian dengan keadaan tenang, ridha dan penuh rasa syukur kepada Tuhan yang telah membimbingnya sehingga di dunia ini dia tetap berada di samping hamba Allah yang paling mulia, sebagai ibu bagi kaum mukminin, dan sebagai istri beliau kelak di dalam surga.

Tetaplah kemuliaan itu dia dapatkan, sampai tiba saatnya dia menghadap Tuhannya 'azza wa jalla pada akhir masa pemerintahan Umar bin Khattab  di Madinah pada tahun 54 Hijriyah. Sebelum dia meninggal dia mewariskan rumahnya kepada Aisyah. Jejaknya masih terasa, sejarahnya masih terbaca. Saudah binti Zam'ah, semoga Allah meridhainya.