Thursday, April 17, 2014

Bacaan Ringan "KISAH SA'AD ABI WAQQAS - MUSLIM YANG DOANYA DIKABULKAN ALLAH S.W.T - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Pada awal Islam, kaum muslimin seringkali harus mengungsi ke bukit untuk melaksanakan ibadah karena untuk menghindari orang-orang kafir Quraisy yang selalu mengganggu. Suatu hari Saat tengah shalat, sekelompok kaum Quraisy mengganggu dengan saling melemparkan lelucon kasar. Karena kesal dan tidak tahan, Sa’ad bin Abi Waqqas yang memukul salah satu orang Quraisy dengan tulang unta dan panah sehingga melukainya. Ini merupakan konflik berdarah pertama antara orang muslim dan kafir, sehingga Sa’ad disebut juga sebagai muslim pertama yang melemparkan panahnya demi berjuang di jalan Allah.

Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para sahabat agar lebih tenang dan bersabar menghadapi orang Quraisy seperti yang difirmankan Allah SWT dalam al-Qur’an Surah Al-Muzzammil ayat 10. Cukup lama kaum Muslim menahan diri. Baru beberapa dekade kemudian, umat Islam diperkenankan melakukan perlawanan fisik kepada para orang kafir.

Pada saat penyiksaan dan tantangan dari orang kafir terhadap kaum muslimin semakin berat, Rosulullah kemudian memerintahkan kepada para sahabat untuk ikut berhijrah ke Habasyah selama beberapa waktu. Sa’ad bin Abi Waqqas tidak ikut berhijrah tetapi ia tetap bersama Rosulullah. Dia mengalami pemaksaan dari orang-orang kafir, bahkan ia pernah merasa kelaparan dan kehausan karena dikepung di daerah pegunungan Mekah oleh Quraisy.

Sa’ad termasuk salah satu dari 10 orang sahabat yang dijamin oleh Rosulullah akan masuk surga. Dia aalah sahabat yang dekat dengan Rosulullah yang selalu meniru segala perilaku beliau hingga akhir hayatnya, sehingga Sa’ad menjadi sabahat yang sangat taat kepada Rosulullah. Pernah pada suatu hari para sahabat sedang duduk-duduk bersama Rosulullah Saw. Kemudian tiba-tiba Rosulullah Saw berkata: “Sekarang ini, telah datang seorang dari penghuni syurga”, kemudian Sa’ad bin Abi Waqqas muncul di hadapan mereka.

Ketaatan Sa’ad terhadap Rosul dan agamanya membuatnya menjadi seorang yang alim dan sholeh. Do’a-doanya selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa suatu ketika penduduk Mekah mengadukan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Umar bin Khattab, mereka mengatakan bahwa shalatnya tidak baik. Sa’ad kemudian membantah, ‘Aku mengerjakan shalat sesuai dengan shalatnya Rasulullah saw. Shalatku pada waktu isya, aku lakukan dengan lama pada dua rakaat pertama sedangkan pada dua rakaat terakhir aku lakukan dengan ringkas.’ Mendengar itu Umar bin Khattab berkata, “Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq.’ Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kuffah, mereka mendapat informasi yang baik, hingga ketika mereka datang ke masjid Bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa’dah berkata, ‘Demi Allah, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) di waktu malam. Setelah itu Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, ‘Ya Allah, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya dan timpakanlah fitnah kepadanya.” Tidak lama kemudian Abu Sa’dah menderita penyakit tuli dan jika ditanya bagaimana keadaanmu, dia menjawab, ‘Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh doa Sa’ad.”

Dalam kisah lain disebutkan juga bahwa suatu ketika seorang pria mencela Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Sa’ad R.A. pada saat itu menjabat sebagai gubernur Kufa, dia melihat kerumunan orang. Jadi dia keluar dari masjid dan bertanya “Ada apa?” Mereka berkata “Di antara kami ada orang yang mengutuk Ali R.A. Kemudian Sa’ad R.A. berkata “Wahai saudaraku, janganlah mengutuk Ali karena aku mendengar Rasulullah S.A.W. berkata kepada Ali ‘Wahai Ali, tidakkah kau bahagia mendengar kabar bahwa kau bagiku, bagaikan Harun A.S. bagi Musa, dan kenyataannya tidak akan ada nabi lagi setelahku.’ Aku mendengar Rasulullah S.A.W. mengatakan demikian.

Tapi orang itu berkata “Aku masih ingin mengutuk Ali.” Sa’ad R.A. berkata “Jika kau mengutuknya, maka aku akan mengutukmu.” Orang itu berkata “Kau pikir siapa dirimu? Apakah kau seorang nabi sehingga Allah akan mengabulkan kutukanmu?”

Kemudian Sa’ad R.A. kembali ke masjid. Dia berwudhu dan mengerjakan shalat sunnah 2 raka’at. Lalu, dia memohon kepada Allah dan mengutuk orang ini. Tidak lama setelah itu, mereka melihat seekor unta liar datang ke Kufa. Unta ini seperti sedang mencari orang tertentu, kemudian dia berlari menuju orang yang mengutuk Ali tersebut. Unta itu menggigit dan menginjak-injaknya hingga dia mati.

Orang-orang begitu terpesona karena Allah S.W.T. tidak hanya mengabulkan do’anya, tapi juga betapa cepat do’a Sa’ad dikabulkan.

Kenyataannya, tidak ada yang berani memusuhi Sa’ad R.A., karena mereka tahu jika Sa’ad berdo’a, maka Allah akan mengabulkannya. Bahkan orang sekuat Umar ibn Khatab R.A. sangat berhati-hati terhadap Sa’ad.

Ketika Umar bin Khatab menjadi Amirul Mukminin, salah satu budak Sa’ad sedang berjalan, dan dia mengenakan pakaian dari sutra yang ringan. Kemudian angin bertiup dan membuat pakaian budak itu terbuka, sehingga terlihatlah auratnya. Dan Umar R.A. membawa sebuah cambuk, Umar R.A. mengeluarkan cambuknya dan dia mencambuk budak itu. Kemudian Sa’ad R.A. maju ke depan, dan Umar mencambuk Sa’ad sehingga dia terjatuh. Ketika Sa’ad bangkit, dia mengangkat tangannya mendo'akan sesuatu yang tidak baik kepada Umar R.A. Kemudian Umar R.A. berlari ke arahnya dan dia memberikan cambuknya kepada Sa’ad sambil berkata “Cambuk aku kembali.” Karena dia tahu jika Sa’ad R.A. mengangkat tangannya, maka Allah S.W.T. akan mengabulkan do’anya.

Sa’ad juga dikenal sebagai seorang pejuang yang hebat dan berani. Dia selalu aktif mengikuti berbagai peperangan pada masa Nabi Saw. Pada saat perang badar, Sa’ad ikut berperang bersama-sama adiknya ‘Umair. Ketika itu ‘Umair masih muda remaja, belum lama mencapai usia baligh. Tatkala Rasulullah saw. memerintahkan tentara muslimin berkumpul dan bersiap sebelum berangkat perang, ‘Umair bersembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau dia tidak diperbolehkan Rasulullah turut berperang, karena usianya yang masih kecil. Tetapi Rasulullah tetap melihatnya, lalu tidak membolehkannya ikut. ‘Umair menangis, sehingga Rasulullah merasa kasihan, dan akhirnya membolehkan ‘Umair ikut berperang. Sa’ad mendatangi adiknya dengan gembira, lalu mengikatkan pedang di bahu ‘Umair, karena tubuhnya yang kecil. Kedua bersaudara itu pergi berperang, berjuang bersama fi sabilillah. Seusai peperangan Sa’ad kembali ke Madinah seorang diri. Sedangkan adiknya, ‘Umair, tinggal di bumi Badar sebagai syuhada. Sa’ad merelakan adiknya ke pangkuan Allah SWT dengan mengharap pahala dari-Nya.

Selain itu, Sa'ad juga dikenal sebagai anggota pasukan berkuda yang lihai dan gagah berani. Soal memanah, dia adalah nomor satu.
http://www.lampuislam.blogspot.com/

Newer Post Older Post Home

Tokoh Islami "HABIB ABDURRAHMAN BIN ZEIN BIN ALI BIN AHMAD AL JUFRY"

http://massandry.blogspot.com Sayyidy al-Habib Abdurrohman bin Zein bin Ali bin Ahmad al-Jufri dilahirkan tahun 1938 di Semarang. Ayahand...

Blogger Template by Blogcrowds