Skip to main content

Bacaan Dewasa "POTRET LOKALISASI SUNAN KOENING - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Berderat panjang wanita yang berdiri di kompleks lokalisasi Sunan Kuning bagaikan etalase barang pajangan di sebuah mall atau pertokoan yang dapat diperjualbelikan, tetapi ada satu yang berbeda, barang pajangan di lokalisasi itu bukanlah benda mati karena itu merupakan suatu benda hidup yang bernafas sekaligus menyimpan sejuta cerita.

Sebut saja namanya Tiwi, memang bukan nama sebenarnya, tetapi itulah nama yang terucap dari bibirnya ketika penulis menanyai soal siapa namanya. Di depan sebuah televisi yang sedang menayangkan siaran ulang pelantikan presiden AS terpilih Barack Obama, penghuni lokalisasi terbesar di Jawa Tengah ini menceritakan kisah hidupnya dengan penuh suka cita seraya matanya menerawang ke atas langit-langit sebuah kamar yang berukuran kurang lebih 4X4 M, bagaimana mungkin ia bisa terjurumus dalam lubang hitam ini.

Profesi yang dinilai sebagian besar masyarakat bukanlah sebagai sebuah profesi yang terpuji dan layak dijalani oleh gadis berumur 20 tahunan, ia jalani dengan setulus hati tanpa ada tendensi konsekuensi yang akan dia terima kelak. Bagaimana tidak, berdasarkan atas keterangannya ia menjalani kehidupan ini karena memang tidak ada pilihan lain yang harus dipilih.

Menikah muda dengan labilitas emosi yang gampang goncang, umur 20 tahun ia memutuskan untuk menjalin cinta sehidup semati Till Death do as A Part dengan seorang tentara Angkatan Darat yang hanya ketemu dua minggu sekali. Pilihan hidupnya ini menjadikannya sebagai seorang yang menciptakan neraka bagi dirinya sendiri.

Aku benci karena mencintainya mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perbuatan suaminya yang ringan tangan terhadapnya dan kepalan tangan yang selalu mendarat di wajahnya. Kehadiran seorang buah hati tidak meredamkan kekisruhan yang terjadi dalam rumah tangga yang dia bina kurang lebih 5 tahun. “saya bekerja dia pun bekerja tetapi dia tidak pernah menyetorkan sebagian uang penghasillannya kepada saya tapi kenapa saya selalu menjadi tempat pelampiasan kekesalannya dan saya nggak tahu uangnya di kemanakan, mungkin untuk main dengan wanita lain.”

Ia menemukan pertarungan hidup yang dia hadapi sendiri, tidak ada yang menangis untuknya dan tidak ada tempat yang dapat dipanggil sebagai sebuah rumah I fight this battle all alone, no one to cry to, no place to call home. Dihadapkan pada pilihan yang sulit, ia pun mengambil keputusan untuk lari dari rumah. Saat ditanyakan mengenai anaknya, bukankah hal ini merupakan sesuatu yang berat karena harus menginggalkan anaknya untuk waktu yang cukup lama, ia berkata, “ anak saya diasuh oleh kakak saya, mas. Saya juga pasti akan menyempatkan diri untuk menengoknya.”

Rencana tinggal di atas kertas karena tidak sesuai dengan harapan, usahanya untuk keluar dari rumah membuatnya terdampar di ibukota Jakarta dengan menjadi seorang pembantu rumah tangga dan langkah nekad yang diambilnya ini tercium oleh sang suami “kamu jauh-jauh pergi dari rumah hanya untuk menjadi PRT”, begitulah sang suami berkata ketika ia menemukannya di sebuah rumah di bilangan perumahan di Jakarta.

Diam seribu bahasa ia pun kembali ke kampung halamannya di Solo dengan masih menyimpan rencana selanjutnya yang masih tetap sama. Sampai kapankah derita yang kaya akan darah dan air mata terus terjadi, begitulah kesan penulis ketika mendengar ceritanya untuk lari dari rumah lagi. Lantas bagaimana dia sampai berada di tempat ini “saya sampai ketempat ini baru enam bulan mas, saya benar-benar tidak tahan dengan kelakuan suami saya dan saya ada disini itu pun karena ada seorang supir truk yang membawa saya waktu saya sampai ke terminal Terboyo” ujar dia.

Suasana ruangan menjadi hening sejenak dan keheningan itu pun berubah menjadi berisik karena terusik oleh alunan lagu dangdut rancak yang terdengar dari ruangan sebelah. Bersembunyi di tempat di mana suaminya tidak akan mengira bahwa istrinya berada di tempat yang suami juga mungkin pernah ke tempat seperti ini adalah suatu langkah yang tepat sekaligus ironis.

Tepat karena dia merasa tidak akan ditemukan oleh suaminya, Saat ditanya apakah sang suami pernah mencarinya, ia menjawab” saya dengar kabar, suami saya masih mencari saya”, ironis karena ia sendiri butuh perkerjaan untuk membiayai kehidupaannya dan harga yang harus dibayar adalah harga dirinya. Berada di tempat seperti ini ibarat tambang yang dapat mendulang emas dengan segera. “penghasilan saya tidak menentu disini, ada tamu yang memberikan saya tip lebih ada juga yang nggak memberikan tip, saya juga ikut arisan Rp.200.000/bulan, lumayan kan, mas”. “Tapi ya mas, penghasilan saya ini pasti akan sisihkan untuk ditabung buat masa depan.” kata dia

Sudah hal yang umum mungkin, terkadang hidup dalam tempat itu seperti hidup dalam lingkaran setan yang susah untuk keluar. Sebut saja mereka sebagai pangeran kesiangan, entah itu pejabat yang mempunyai kedudukan atau pun orang biasa yang memang ingin berpoligami terkadang datang untuk menyelamatkannya, dia berkata ” pernah mas saya ditawari akan diberikan rumah, atau vila tetapi dengan satu syarat kamu harus mau menjadi istri saya, saya nggak tahu mau dijadikan istrinya yang keberapa”.

Namun Tiwi menyangkal akan menerima tawaran apabila ada orang akan memperistrinya. “walaupun saya bekerja seperti ini bukan berarti saya mau jadi peliharaan atau selingkuhan orang lain dan janji sekedar janji dan saya nggak percaya, kalau atas nama saya baru saya terima percaya, mas”, ujarnya kemudian. Ketika ditanya mengenai apakah ia akan menikah lagi, ia menjawab” untuk sekarang ini saya tidak mempunyai pikiran untuk menikah lagi, dan saya pikirkan hanyalah bagaimana saya bisa menabung dan segera keluar dari tempat ini, bekerja di tempat yang lebih baik lagi”. Waktu sudah 1/2 jam berlalu, penulis pun menyudahi perbincangan ini dan bergegas untuk keluar.

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…