Sunday, October 12, 2014

Bacaan Dewasa "POTRET LOKALISASI SUNAN KOENING - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Kasus di atas merupakan salah satu contoh kasus yang terjadi, namun apabila kita menyimak apa yang terjadi membuat kita berpikir apakah ini merupakan suatu kontradiksi yang berjalan. Istri seorang tentara yang juga mungkin bermain gila dengan wanita, menjadi seorang PSK akibat perbuatan buruk yang dialaminya. Kekerasaan yang dialaminya dibiarkan terjadi sambil lalu, bahkan tangan komisi perlindungan KDRT tidak dapat meraih terhadap apa yang terjadi oleh Tiwi dan jelas hal ini merupakan salah satu bentuk kekerasan yang mengakibatkan kegoncangan emosional yang akhirnya menjerumuskan dia ke dalam lingkungan hitam dunia prostitisi.

Pernahkah anda melihat seorang aparat, entah itu aparat berwenang dengan seragam coklat lengkap dengan pangkatnya, atau pun seorang berambut cepak hilir mudik di sebuah lokalisasi pada siang hari ataupun malam hari . Pernahkan anda melihat dalam acara berita di tv yang khusus menayangkan acara kriminal, seoarang aparat tertangkap basah sedang asik bermain gila di suatu lokalisasi, atau pernahkah juga anda mendengar salah satu lagu kritik social yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi asal kota paris van java yang bernama Doel Sumbang yang berjudul Kopral Gareng. Apabila keduanya pernah anda lihat dan dengarkan, maka pertanyaan apa yang ada di benak anda, sebegitu rusakkah moralitas dan martabat dari aparat berwenang sehingga sampai menlakukan hal yang sedemikian rupa atau mereka hanya manusia biasa yang lengkap dengan sisi biologisnya yang di rumahnya mungkin mereka kurang mendapatkan rasa kasih sayang dari sang istri lantas mencoba untuk menghibur diri dengan kehangatan wanita lain di samping kamar tidurnya.

Terlepas dari itu bagaimana dengan pandangan seorang pekerja seks komersial terhadap aparat, berdasarkan atas wawancara singkat penulis maka didapatkan sedikit informasi, sebut saja namanya Lila ia merupakan seorang pekerja seks komersial di sebuah lokalisasi sunan kuning, tempat prostitisi terbesar se-Jawa Tengah seperti yang penulis utarakan di atas, ia berujar dengan lantang ketika ditanyakan apakah ada aparat berseragam singgah untuk memperoleh kenikmatan sesaat dengannya “ada, dan tentara ataupun aparat sama saja maunya tidak membayar, bukan berarti dia aparat bisa melakukan apa saja termasuk tidak membayar saya, mana ada yang bekerja tanpa mau dibayar.” kata dia. “Saya tidak takut terhadap aparat, toh disini saya juga bekerja untuk uang”, ada juga yang membayar setengah saya berusaha menolaknya, memang bekerja seperti mau ada yang dibayar setengah”. sambung Lila.

http://katakelana.wordpress.com/category/sejarah-musik-indonesia/