Sunday, October 12, 2014

Bacaan Ringan "KISAH NYATA : REINKARNASI SANG PUTRI TIANXING - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Cerita ini dimulai pada jaman Dinasti Song Utara (960-1127 Sesudah Masehi). Karena seringnya kalah dalam perang dengan Kerajaan Liao, Dinasti Song Utara akhirnya menandatangani perjanjian damai Tanyuan dengan Liao. Di dalam perjanjian ini, Song Utara setuju untuk membayar upeti dalam jumlah besar kepada Liao setiap tahunnya. Akibatnya, Song Utara harus menarik pajak yang tinggi kepada rakyatnya, menyebabkan rakyat menjadi semakin miskin. Rakyat Song, terutama yang tinggal di perbatasan antara Song dan Liao, mengalami kesengsaraan yang amat sangat sepanjang tahunnya. Kerajaan Liao justru mencapai puncak kejayaannya pada periode ini.

Pada masa itu, saya bereinkarnasi menjadi seorang putri di Kerajaan Liao yang bernama Tianxing Putri Tianxing ini memiliki kepribadian yang galak dan mudah tersinggung. Seorang guru tua bela diri mengajari Putri Tianxing sejak ia masih kecil. Sebelum gurunya berpisah dengannya, ia memberikan sebuah pedang pusaka yang dapat membelah besi menjadi dua. Gurunya memberi tahu putri bahwa ia tidak pernah boleh membunuh seseorang yang tidak bersalah. Ketika gurunya meninggalkannya, ia baru berumur 20 tahun. Untuk mencarikannya seorang suami, ayahnya telah melewati banyak kesusahan. Ia mencari banyak kandidat supaya putrinya dapat memilih, tetapi putri Tianxing tidak mau menikahi salah satunya. Sang putri juga merasa murung jika membahas tentang rencana perkawinannya.

Suatu hari putri Tianxing mendapat sebuah mimpi di mana seorang terpelajar yang tampan berkulit langsat menyanyikan sebuah puisi kepadanya, ”Kapan musim semi merekah dan bulan musim gugur berakhir? Berapa banyak kemewahan yang seseorang dapat nikmati sepanjang hidupnya? Ribuan tahun lewat dengan cepat. Ketika seseorang baru mencapai karirnya dan ketenaran, ia telah menjadi tua dan sekarat. Di mana seseorang dapat mencari keabadian? Hanya melalui kultivasi seseorang baru dapat menjadi dewa!” Segera putri merasa dekat dengan orang ini. Ketika putri baru akan mendekati dan menyapanya, pelajar itu segera lenyap. Putri merasa kaget dan terbangun dari mimpinya.

Setelah terbangun dari mimpinya, ia melihat dayang-dayangnya semua sedang tertidur. Putri menyalakan lampu dan memeriksa wajahnya yang cantik di kaca tembaga. Meskipun ia tidak diperkenankan keluar dari kamarnya sepanjang hari, ia bukan seorang yang berpenampilan lesu dan kurus, ia kelihatan sangat sehat dan cantik. Tetapi karena sesuatu hal, ia merasakan tidak ada yang nyata. 

Waktu mengalir bagaikan sungai. Bagaimana mungkin ia mempertahankan kemudaan dan kecantikan untuk selamanya? Sang putri memikirkan tentang mimpinya dan mulai merasa murung. Disamping itu, ia merasa kesulitan mencari sesorang yang dicintainya. Tiba-tiba ia merasakan niat yang kuat untuk meninggalkan istana. ”Saya mau pergi dari sini dan mencari takdirku sendiri.” Ia memutuskan untuk segera pergi karena ia tahu ayahnya tidak akan menyetujuinya. Ia menulis surat kepada ayahnya. Dikatakannya, ”Tianxing akan meninggalkan rumah malam ini. Ayah, maafkan saya karena tidak pamit lebih dahulu. Saya harus pergi sendiri mencari Fa Buddha. Saya akan membebaskan diri saya dari reinkarnasi yang tidak terhitung dan selamanya menjauhi dunia manusia yang kotor. Ketika saya mencapai kesempurnaan, saya akan kembali dan menyelamatkan orang tuaku!”

Setelah ia selesai menulis surat, putri Tianxing menghapus air mata dari wajahnya. Ia menaiki kuda dan meninggalkan ibukota dengan pedang pusakanya. Pagi harinya, dayang-dayang putri tidak menemukan sang putri dan segera melapor kepada raja. Setelah membaca suratnya, raja menangis tersedu-sedu. Butuh waktu cukup lama bagi ratu untuk menghibur raja. Akhirnya raja berkata dengan yakin, ”Bahkan jika Tianxing tetap bersama saya, kita harus juga berpisah setelah beberapa waktu. Jika ia sungguh dapat mencari Fa Buddha yang dapat membebaskannya dari siklus reinkarnasi, bukankah itu lebih baik? Sejak ia masih kecil, ia tidak pernah tertarik pada konflik dunia untuk mendapatkan kekuasaan. Sungguh hal yang tepat ia meninggalkan istana. Ia akan menjalani kehidupan yang tenang. Saya merasa tenang selama ia gembira. Ia mahir dalam seni bela diri. Kemana pun ia pergi, tidak akan ada seseorang yang dapat mengambil keuntungan darinya.” Setelah hampir sepuluh tahun putri meninggalkan istana, kedua orang tua Tianxing meninggal dunia.

Setelah Tianxing meninggalkan ibukota, ia melanglang buana selama hampir dua minggu hingga suatu hari ia pergi ke suatu gunung yang tinggi yang disebut Gunung Daqing. Ia ingat bahwa ayahnya pernah mengatakannya ketika mereka berbincang-bincang bahwa ada sekumpulan penjahat di atas Gunung Daqing. Menurut ayahnya, ketua dari kelompok penjahat ini bernama Kong Xin. Ia sangat mahir dengan pedang, tetapi ia orang yang bodoh. Karena itu ia gagal mengenali mata-mata dari Dinasti Song yang menyamar menjadi penjahat dan masuk ke dalam gengnya. Mata-mata itu memancingnya ke suatu tempat dekat Dunhuang dan membuatnya terbunuh. Sekarang geng penjahat itu tanpa pemimpin.

Sementara putri memikirkan tentang percakapan dengan ayahnya, segerombolan penjahat turun dari gunung. Ketuanya adalah seorang laki-laki yang besar,tegap dengan wajah merah. Dengan palu raksasa di tangannya, ia menghadangnya dan berkata. ”Nona, berikan semua uang anda dan saya akan mengampunimu. Jika tidak, saya akan menghantammu sampai berkeping-keping dengan paluku.”
“Sesukamu! Saya akan menghajarmu jika engkau berani!” Tianxing mencabut pedang pusakanya dan menunjukkan sikap tidak takut. Setelah beberapa jurus, Tianxing membelah palu raksasa orang tersebut menjadi dua.

Tianxing menaiki kudanya dan baru akan meninggalkannya ketika orang tersebut memberi hormat kepada Tianxing dan berkata, ”Tunggu sebentar. Bisakah saya membicarakan sesuatu denganmu?”
“Kamu dapat langsung bicara.”

“Saya kira anda pasti pernah mendengar bahwa kita tidak mempunyai pemimpin sekarang. Sekarang saya telah melihat kemampuanmu dalam seni bela diri, saya yakin anda adalah seorang ksatria wanita dengan berjiwa keadilan. Maukah anda menjadi pemimpin kami? Kami bersumpah mematuhi perintahmu.” Karena ia tidak mempunyai tujuan, Tianxing setuju menjadi pemimpin mereka. Sejak saat itu, Tianxing menjadi ketua dari penjahat-penjahat tersebut.