Tuesday, October 29, 2013

Bacaan Perang "PERANG KOD - PERANG PERAIRAN IKAN INGGRIS VS ISLANDIA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Kod atau lebih spesifiknya kod Atlantik adalah nama dari sejenis ikan yang banyak ditemukan di Samudra Atlantik bagian utara. Sebagai akibat dari populasinya yang melimpah, dagingnya yang lezat, & minyak hatinya yang bergizi, ikan ini pun banyak ditangkap oleh nelayan setempat. Begitu pentingnya ikan ini sebagai sumber pendapatan nelayan setempat sehingga sempat timbul konflik antar negara akibat memperebutkan daerah penangkapan ikan ini.

Konflik memperebutkan daerah penangkapan ikan yang dimaksud di sini adalah Perang Kod (Cod War), sebutan untuk rangkaian konflik antara Inggris & Islandia menyusul munculnya persengketaan atas pemakaian area perikanan laut yang ada di sekitar Pulau Islandia. Berdasarkan periode kejadiannya, konflik ini bisa dibagi ke dalam 3 fase : fase I (1958 - 1961), fase II (1972 - 1973), & fase III (1975 - 1976). Walaupun mendapat sebutan "perang", konflik antara kedua negara sendiri tidak pernah memuncak menjadi perang terbuka & lebih didominasi oleh aksi saling cegat serta saling tabrak antar kapal.

Latar Belakang
Peta dari Islandia & Inggris Raya.
Islandia (Iceland) adalah nama dari sebuah negara pulau yang terletak di Samudra Atlantik bagian utara. Selama berabad-abad, negara tersebut sangat bergantung pada sektor perikanan laut sebagai akibat dari kondisi iklimnya yang sangat dingin & minimnya persediaan sumber daya alam lain di wilayahnya. Sebagai gambaran singkat, antara tahun 1881 - 1976, lebih dari 89 % komoditas ekspor Islandia adalah produk-produk perikanan. Seiring dengan semakin majunya teknologi perkapalan & menurunnya jumlah ikan hasil tangkapan di wilayah tangkap selama ini, tuntutan untuk memperluas daerah penangkapan ikan di Islandia pun terlontar.

Bulan September 1958, sebagai solusi untuk meningkatkan luas daerah penangkapan ikan & mengamankan ikan-ikan yang ada di area tersebut dari pihak asing, pemerintah Islandia memperluas batasan perairan teritorialnya secara sepihak dari yang awalnya 4 mil menjadi 12 mil dari garis pantai. Dengan adanya perubahan tersebut, maka kapal-kapal asing pun dilarang melakukan aktivitas perikanan di perairan yang ada dalam radius 12 mil tersebut. Hal tersebut lantas memicu konflik dengan Inggris selaku negara yang nelayannya sering melakukan aktivitas perikanan di sekitar Islandia karena Inggris menolak mengakui perubahan teritorial tersebut.

Konflik Fase I (1958 - 1961)
Untuk mengantisipasi kemungkinan serangan yang dilakukan kapal-kapal patroli Islandia, pemerintah Inggris pun mengerahkan kapal-kapal perangnya untuk mengawal kapal-kapal nelayan dari negaranya. Insiden antara kapal-kapal Islandia dengan kapal-kapal Inggris pun sebagai akibatnya jadi tak terhindarkan. Sebagai contoh, pada tanggal 2 September beberapa anggota polisi patroli laut Islandia ditangkap oleh militer Inggris. Merespon peristiwa tersebut, aksi demonstrasi di depan gedung kedutaan besar Inggris di Islandia langsung pecah tak lama berselang.

Atlantik utara. (Sumber)
Inggris akhirnya membebaskan polisi-polisi patroli laut Islandia yang ditangkapnya pada tanggal 13 September, namun konflik antara kapal-kapal Islandia & Inggris masih tetap berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Bulan Februari 1959, kapal patroli Islandia memaksa kapal pukat Inggris berlabuh ke pelabuhan Islandia, namun kapal perang Inggris keburu ikut campur sehingga kapal pukat itupun dibebaskan setelah membayar denda & membiarkan peralatan serta hasil tangkapannya disita.

Bulan Maret 1960, perwakilan Inggris & Islandia melakukan pembicaraan di Jenewa, Swiss untuk mencari solusi atas sengketa daerah penangkapan ikan di perairan sekitar Islandia. Sebulan kemudian, pemerintah Islandia setuju untuk memberikan pengampunan kepada kapten-kapten kapal Inggris atas pelanggaran yang mereka lakukan di perairan Islandia. Setahun kemudian atau tepatnya pada bulan April 1961, Inggris akhirnya setuju untuk mengakui batasan 12 mil sebagai perairan milik Islandia sehingga sengketa perikanan antara Islandia & Inggris pun berakhir - untuk beberapa lama.

Konflik Fase II (1972 - 1973)
Bulan September 1972, Islandia kembali memperluas batas teritorialnya menjadi 50 mil dari garis pantai. Konflik antara kapal-kapal Islandia & Inggris pun kembali pecah mengingat Inggris tidak mengakui perubahan batas teritorial tersebut. Pada konflik fase II ini, kapal-kapal patroli Islandia memakai tali yang dipasangi kait tajam di ujungnya untuk memutus tali yang menghubungkan kapal nelayan dengan pukat. Metode baru tersebut berjalan efektif & baru pada tanggal 5 September saja, kapal patroli Islandia sudah berhasil memutus 82 pukat milik nelayan Inggris.

Bulan Mei 1973 Inggris akhirnya mengirimkan kapal perangnya untuk mengawal kapal-kapal nelayan dari negaranya. Islandia lantas merespon tindakan Inggris tersebut dengan melarang pesawat-pesawat militer Inggris untuk memakai pangkalan udara di Islandia. Bulan September, Islandia bahkan bertindak lebih keras lagi dengan mengancam akan memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Inggris. Dewan Pimpinan NATO pun terpaksa turun tangan untuk menengahi pihak-pihak yang bertikai mengingat baik Inggris maupun Islandia sama-sama merupakan anggota pakta pertahanan NATO.

Bulan November 1973, sengketa antara Inggris & Islandia akhirnya berhenti setelah kedua negara berhasil merumuskan kesepakatan bersama. Dalam kesepakatan tersebut, kapal-kapal nelayan Inggris tetap diperbolehkan beroperasi di perairan yang ada dalam batas teritorial 50 mil dari garis pantai, namun jumlah tangkapannya dibatasi menjadi hanya 130.000 ton. Walaupun berhasil mengakhiri sengketa, kesepakatan itu sifatnya hanya sementara & hanya berlaku selama 2 tahun. Ketika kesepakatan tersebut tidak lagi berlaku, konflik fase berikutnya pun dimulai...

Newer Post Older Post Home

Tokoh Islami "HABIB ABDURRAHMAN BIN ZEIN BIN ALI BIN AHMAD AL JUFRY"

http://massandry.blogspot.com Sayyidy al-Habib Abdurrohman bin Zein bin Ali bin Ahmad al-Jufri dilahirkan tahun 1938 di Semarang. Ayahand...

Blogger Template by Blogcrowds