Friday, May 30, 2014

Bacaan Ringan "SEJARAH FESTIVAL FILM INDONESIA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
FESTIVAL film bukan kegiatan baru bagi orang-orang film Indonesia. Ini bisa dibuktikan oleh bahan-bahan tertulis tentang festival pertama sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka. Tapi yang menarik adalah ini: catatan sejarah yang lengkap tentang festival keenam tidak kurang, namun untung festival yang kedua sampai lima tidak ditemukan. "Ya memang tidak pernah ada", kata seorang tokoh perfilman. 

Konon setelah festival pertama tahun 1955 di Jakarta itu, ada juga rencana untuk menyelenggarakan kegiatan yang sama tahun berikutnya di Medan. Tapi karena dunia perfilman mengalami kemerosotan, orang-orang sibuk menyelamatkan diri dan modalnya sendiri. Lima tahun tanpa festival berlalu. Memasuki tahun 1960, Indonesia yang harus mengirimkan delegasi ke Festival Film Asia ketujuh di Tokio terdesak untuk menyelenggarakan seleksi. 

Mula-mula festival yang di selenggarakan oleh PPFI kendati pun konon pembiayaannya ditang gung almarhum Djamaluddin Malik (Persari) -- akan disebut festival yang kedua saja, tapi karena dianggap kurang enak bahwa sesudah lama baru muncul festival kedua, maka di tentu kan saja bahwa secara imajiner tiap tahun ada festival dan dihitung dari tahun 1955, tahun 1960 ini merupa kan yang keenam. 

Sudah itu tidak pernah ada kabar lagi tentang nasib pesta-pesta film Indonesia yang biasanya selalu di ramaikan dengan pawai keliling, kembang api serta segala macam pesta. Ketika orang-orang film mulai bernafas kembali -- setelah lama tertndas oleh keadaan ekonomi, tekanan Lekra dan Papfias - tahun 1967 menyaksikan munculnya suatu festival yang ikut numpang dalam Pekan Apresiasi Film yang diorganisir bersama dengan fihak Departemen Penerangan. 

Baru setelah enam tahun berlalu, festival yang dari dulu diinginkan berlangsung secara teratur, dapat di selenggarakan lagi. Untuk kontinuitas dan keteraturannya itulah kabarnya maka fihak perfilman mendirikan yayasan khusus untuk mengurusi festival-festival tersebut. Ini konon merupakan hasil dari pengalaman pahit dengan dua festival pertama yang diselenggarakan oleh PPFI. Karena yang menyelenggarakan fihak produser, sudah tentu kepentingan komersiil mereka tidak bisa tersisihkan. 

Akibatnya juri mengalami tekanan, sampai-sampai di antara mereka sendiri terjadi polemik berlcepanjangan dan saling melempar tanggurag jawab, bahkan jauh setelah festival itu sendiri usai. Tidak, jeleknya untuk sekedar mengingat beberapa hasil tiga festival terdahulu. Kegiatan tahun 1955 memilih film Lewat Jam Malam dan Tarmi7)a sebagai film-film terbaik, sedang A.N. Alcaff dan Dahlia masing-masing beruntung terpilih sebagai aktor dan aktris terbaik. 

Tahun 1960 melahirkan Farida Ariani dan Soekarno M. Noor sebagai aktris dan aktor terbaik sedang film yang disepakati juri sebagai paling baik waktu itu adalah Turang, karya Bachtiar Siagian. Mungkin karena tahun 1967 dunia perfilman masih berada dalam ekor krisis masa Nasakom maka tidak banyak film yang sempat ikut. Para-juri akhirnya tidak memilih film terbaik, tapi Soekarno M.Noor sekali lagi mendapat kehormatan dipilih sebagai aktor terbaik sedang Mike Widjaja berhasil merebut gelar aktris terbaik. 

Pada festival ini lah pula Idris Sardi untuk pertama kalinya merebut gelar ilustrator musik terbaik, dan sejak itu larisnya sungguh bagaikan pisang goreng beraroma vanili.