Saturday, December 20, 2014

Bacaan Ringan "JALAN HIDUP SEORANG NINJA...SERATUS PERANG,SERATUS KEMENANGAN !! "

http://massandry.blogspot.com
"Lahir di tengah puncak nyala, dan mati di tengah puncak kegelapan". Itulah jalan ninja. Ajaran lisan yang diturunkan dari mulut ke mulut itu memperkenalkan dasar filsafat ninja. Kurang jelas kapan pandangan hidup yang menyeramkan itu dibuat. Diperkirakan pada masa yang amat tragis seperti zaman sengoku -- perang saudara misalnya pada tahun 1467 ketika terjadi Perang Onin. Di abad ke-15 itu, muncul banyak pimpinan kelompok samurai di pelbagai daerah di Jepang, untuk meneruskan perang saudara selama 100 tahun lebih hingga terbentuk pemerintah keshogunan pada 1605 di Edo (kini Tokyo) oleh Tokugawa Iyeyasu.

Ninjutsu -- seni ninja -- menurut ahli sejarah Jepang, telah sempurna sebagai seni bela diri dan menyerang sekitar abad ke-6 ketika agama Budha masuk ke Jepang melalui Cina dan Korea. Bahkan menurut Hichichiro Okuse, 79 tahun -- bekas wali kota Iga-Ueno yang menyelidiki ninja dan ninjutsu selama 43 tahun -- ninja tidak orisinal Jepang. 

Itu barang impor dari negeri Cina yang datang pada pertengahan abad ke-6, bersamaan dengan masuknya agama Budha, di zaman Asuka. "Seorang ahli kemiliteran bernama Zhongwu -- 403-221 SM -- menulis buku ilmu strategi berjudul Zhongzi. Dalam buku itu, Zhongwu memperkenalkan teori "Seratus Perang Seratus Kemenangan'. Teorinya sangat sederhana: "Berperanglah jika yakin mengalahkan musuh, dan jangan berperang dengan musuh yang lebih kuat". Orang yang memenangkan "Perang Perdamaian" adalah pemenang sebenarnya. Perang Perdamaian, menurut Zhongzi, adalah usaha membedakan musuh yang lemah dan yang kuat tanpa berperang. Di situlah sebenarnya terdapat falsafah dasar seni ninja. "Pendek kata, Zhongwu menunjuk penggunaan mata-mata untuk membedakan kekuatan militer milik musuh," kata Okuse, yang pernah menulis puluhan buku mengenai ninja. Ia boleh disebut sebagai "ninja" terakhir di Jepang pada zaman ini.

Dalam jilid ke-13 (terakhir), Zhongzi menyimpulkan betapa pentingnya peranan mata-mata untuk mengorek kekuatan lawan. "Perlu diketahui kekuatan negara dan kekuatan militer musuh secara obyektif. Perlu senantiasa memperbandingkan daya gempurnya. Untuk itu harus menggunakan jiandie -- spion. Kalau musuh lebih kuat secara keseluruhan, lebih baik berdamai atau lebih baik menunggu diam-diam hingga siap menantang." Teori yang disusun sekitar 2.400 tahun lalu itu masih tetap berfungsi di zaman sekarang ini. Tak bisa disangkal, betapa pentingnya usaha mengumpulkan pelbagai data dan informasi tentang lawan. Buktinya, militer dari negara mana saja pasti punya badan intelijen. Bahkan raksasa seperti AS dan Uni Soviet punya ninja yang bernama CIA dan KGB, seperti ajaran Zhongwu. Ninja harus mengumpulan informasi dan membuat komplotan. Mereka harus menghancurkan. Tak berbeda dengan praktek CIA dan KGB sekarang. "Sayangnya, teori Zhongwu tak menunjukkan cara intelijen dan komplotan itu mencapai tujuan. Tapi nenek moyang Jepang berhasil mengembangkan, menciptakan cara praktek yang kongkret untuk merealisasikan usaha intelijen itu," ujar Okuse.

Yang ikut mengembangkan praktek ninja, menurut Okuse, adalah para pemeluk agama Shinto dan Budha. "Perang saudara yang pertama dalam sejarah Jepang adalah serangkaian perang antara pemeluk agama Shinto dan pemeluk agama Budha yang terjadi pada abad ke-7, kira-kira 100 tahun setelah agama Budha masuk ke Jepang. Melalui perang itu, teori Zhongwu mulai diuji coba hingga kemudian hari membuahkan taktik gerilya, yakni mengalahkan pasukan besar dengan tenaga kecil," kata Okuse. Dari perang antar-agama itu, muncul seorang pertapa ternama yang mengimbau perlunya kombinasi agama Shinto dan Budha. Dialah En-No-Ozuno atawa En-No-Gyosha. Dia dianggap sebagai pendiri Shugendo --perkawinan Shinto-Budha -- yang membangun pertapaan di gunung. Sering konflik atau tabrakan dengan pihak pemerintah. Pemeluk agama Shugendo berangsur-angsur berhasil mengembangkan seni bela diri dan taktik ketentaraan. "Oleh sebab itu, boleh dikatakan pula bahwa ninjutsu bermula dari gerakan perlawanan oleh rakyat kecil terhadap pihak otorita," ujar Okuse.

Agama Shugendo berkembang di sekitar Nara dan Kyoto -- keduanya ibu kota kuno Jepang pada Era Nara, antara tahun 710 dan 734. Daerah sekitar Iga dan Koka kemudian hari menjadi pusat ninja. Pada abad ke-8, ketika ibu kota ditempatkan di Kota Nara, kombinasi agama Shinto dan Budha ditentukan sebagai dasar negara. Pemeluk Shugendo pun ikut membantu membangun kedua kuil "Mikkyo" -- kuil Enryakuji yang dibangun oleh aliran Mikkyo yang bemama "Tendai-Shu" di bawah pimpinan biarawan besar Kukai pada tahun 816. 

Mereka lama-lama menjadi pengawal yang profesional di kedua kuil yang terletak di sekitar Kyoto dan Nara itu. Iga dan Koka terletak di lokasi strategis -- sekitar 50 km di arah timur Kyoto maupun Nara. Dipangku lembah yang dikelilingi bukit-bukit ideal sebagai tempat latihan, tak heran bila kedua daerah itu melahirkan banyak pemeluk agama Shugendo yang otomatis menjadi pabrik ninja, yang kelak melahirkan ninjutsu aliran Iga dan Koka. Kedua aliran yang menggetarkan Negeri Sakura.

Pada era perang saudara, Ninja dari Koka maupun Iga diklasifikasi dengan tiga pangkat, yakni Jonin (Ninja atas), Chunin (Ninja menengah), dan Genin (Ninja bawah). Jonin merupakan orang nomor satu yang memimpin organisasi. Misalnya Hattori Hanzo alias Chigaji Hanzo, dan Momoji Tanbanokami, dan Fujibayashi Nagato semuanya yang berasal daerah Iga. 

Sementara itu, ke-53 keluarga yang mewakili ninja aliran Koka diklasifikasi sebagai Chunin. Sedang Genin adalah anak buah Jonin dan Chunin. Tapi di antara Genin ada tokoh ninja yang amat terkenal di dalam sejarah Jepang. Namanya Ishikawa Goemon, salah seorang anak buah Momoji Tanbanokami. Ishikawa Goemon diperintah Momoji agar membunuh Oda Nobunaga, seorang penguasa ternama dari zaman perang saudara, di samping mencuri uang dari pengusaha-pengusaha demi kepentingan organisasi Momoji. Ishikawa gagal membunuh Oda, tapi pencuriannya amat sukses, sehingga kemudian hari disebut dengan julukan "maling terbesar".