Skip to main content

Bacaan Ringan "LEGENDA PARA SAMURAI - YAMAMOTO KENSUKE"

http://massandry.blogspot.com
Yamamoto Kensuke (1501-1561) adalah samurai pada zaman Sengoku/perang sipil Jepang yang mengabdi pada daimyo Takeda Shingen dari Provinsi Kai. Dia adalah ahli strategi brilian dan salah satu dari 24 jenderal Takeda. Nama aslinya adalah Haruyuki, Kansuke adalah nama kehormatan yang dianugerahkan Shingen padanya. Yamamoto berasal dari Provinsi Mikawa dan awalnya mengabdi pada klan Imagawa yang menganggapnya tidak berpotensi karena kakinya yang pincang dan matanya yang cuma sebelah sehingga memperlakukannya dengan dingin. Hingga pada suatu ketika dia bertemu dengan salah seorang jenderal Takeda, Itagaki Nobutaka, yang memberinya kesempatan audisi dengan Takeda Shingen. Shingen sangat terkesan padanya dan menganugerahkannya daerah 1.000 koku. Shingen juga sering meminta nasihat darinya.

Dalam berbagai peperangan Shingen dalam perebutan wilayah Shinano, Yamamoto banyak memberi kontribusi besar. Tercatat dalam sejarah bahwa dialah yang mendesain menara penyerang untuk merobohkan benteng-benteng Shinano. Atas jasanya ini, Shingen menganugerahinya nama kehormatan, Kensuke, dan pendapatannya naik menjadi 4.000 koku. Yamamoto juga berperan dalam penaklukkan klan Murakami di Toishi (1551).

Perannya yang paling menonjol adalah dalam Pertempuran Kawanakajima melawan klan Uesugi yang berlangsung hingga lima kali. Tahun 1561, Shingen dan Uesugi Kenshin bertempur untuk yang keempat kalinya dalam pertempuran ini. Saat itu, Uesugi mengambil posisi di puncak Gunung Saijo, sementara Shingen berkemah di sekitar Kastil Kaizu hingga ke bagian timur. Yamamoto menyarankan agar Shingen membagi dua pasukannya yang berjumlah 20.000 orang dengan setengah pertama melakukan serangan fajar terhadap Gunung Saijo, sementara setengah lainnya menuju ke Hachimanbara untuk memblokir jalur mundur Uesugi. Siasat ini diterima Shingen, dia mengirim Kosaka Masanobu dan Baba Nobuharu ke Gunung Saijo dan dia sendiri secara pribadi memimpin sisa pasukannya menyebrangi Sungai Chikuma.

Sayangnya siasat ini terbaca oleh Uesugi yang malam itu juga memimpin 11.000 pasukannya menuruni Gunung Saijo dan menyeberangi sungai. Begitu fajar menyingsing, Uesugi menyerang kemah Shingen secara besar-besaran. Kosaka dan Baba sadar bahwa Gunung Saijo telah ditinggalkan, namun terlambat. Dalam serangan itu adik Shingen, Takeda Nobushige dan pamannya, Morozumi Masakiyo, terbunuh, calon pewaris Shingen, Takeda Yoshinobu juga terluka. Merasa siasatnya adalah penyebab kekalahan tuannya, Yamamoto meraih tombaknya dan terjun dalam pertempuran. Dengan mata satu dan kaki pincang, Yamamoto bertempur dengan gagah berani dan tubuhnya terluka parah. Dia mundur ke daerah terpencil dan bunuh diri. Shingen sendiri lolos dari pertempuran. Dia sangat menyayangkan kematian ahli strateginya yang paling dipercaya itu dan memerintahkan jasadnya dikubur di daerah pertempuran.

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…