Saturday, December 20, 2014

Bacaan Ringan "LEGENDA PARA SAMURAI - SAIGO TAKAMORI"

http://massandry.blogspot.com
Saigō Takamori (lahir di Kagoshima, 7 Februari 1827 – meninggal di Prefektur Kagoshima, 24 September 1877 pada umur 50 tahun) adalah samurai Domain Satsuma sekaligus perwira militer dan politikus Jepang. Bersama teman setia dari Satsuma bernama Ōkubo Toshimichi, dan Kido Takayoshi dari Domain Chōshū, Saigō adalah salah seorang tiga pahlawan Restorasi Meiji yang menumbangkan Keshogunan Tokugawa. Alur cerita film The Last Samurai didasarkan pada Pemberontakan Satsuma yang dipimpin Saigō Takamori.

Karier
Ia lahir sebagai putra sulung Saigō Kichibei Takamori. Nama kehormatan (imina) yang diterimanya sewaktu genbuku adalah Takanaga, dan kemudian sebagai Takeo dan Takamori. Nama kecilnya adalah Kokichi alias Zenbei atau Kichinosuke. Nama Saigō Takamori mulai dipakainya setelah namanya salah tulis sewaktu didaftarkan oleh salah seorang temannya yang bernama Yoshii Tomozane. Nama Saigō Takamori sebenarnya adalah nama ayahnya.

Leluhur keluarga Saigō pindah dari Kumamoto ke Kagoshima. Ayahnya adalah generasi ke-7 setelah leluhurnya menetap di Kagoshima. Adik Saigō Takamori bernama Saigō Kichijirō tewas dalam Perang Boshin (Pertempuran Hokuetsu). Adik Kichijirō adalah politikus zaman Meiji bernama Saigō Jūdō. Adik Jūdō bernama Saigō Kohei, tewas dalam Pemberontakan Satsuma. Ōyama Iwao adalah kemenakannya, sementara Kawamura Sumiyoshi adalah kerabat dekatnya.

Karier Takamori dimulai dari samurai kelas rendah di Domain Satsuma. Prestasinya membuat Shimazu Nariakira memberi kenaikan pangkat. Setelah tuannya, Nariakira meninggal dunia, Takamori ikut diasingkan ke Kepulauan Amami Ōshima. Ia pulang ke Kagoshima untuk sekali diasingkan ke pulau terpencil Okinoerabujima. Ia diasingkan karena tidak cocok dengan Shimazu Hisamitsu (ayah penguasa Satsuma yang baru). Namun, Takamori bisa pulang ke Satsuma setelah mendapat rekomendasi dari karō bernama Komatsu Kiyokado dan Ōkubo Toshimichi. Kariernya menanjak sejak membela pihak istana dalam Pemberontakan Hamaguri 1864. Ia membantu terbentuknya aliansi Satchō dan kembalinya kekuasan ke tangan kaisar. Takamori menjadi salah seorang pemimpin dalam Perang Boshin. Berkat hasil negosiasi Takamori dengan Katsu Kaishū, Istana Edo bisa diserahkan dengan damai. Pihak Inggris berada di pihak Takamori yang mendukung pemerintah baru dan tidak menginginkan terjadi perang.

Setelah kembali ke kampung halamannya di Satsuma, Takamori ke Edo sebagai anggota sangi pada tahun 1871. Kariernya terus menanjak hingga menjadi jenderal angkatan darat kepala penjaga istana (konoe totoku). Sewaktu Ōkubo Toshimichi dan Kido Takayoshi sedang ke luar negeri bersama Misi Iwakura, Takamori bertindak penjabat pemerintah. Ia mengusulkan agar dirinya diangkat sebagai duta besar untuk Korea. Usulannya tidak disetujui Kido Takayoshi. Ketika terjadi perselisihan tentang rencana invasi ke Korea 1873, Takamori termasuk salah satu dari separuh anggota sangi yang mengundurkan diri. Ia lalu pulang ke Satsuma untuk menjadi guru sekolah. Mantan samurai yang kehilangan pekerjaan memberontak di sana-sini, dimulai dari Pemberontakan Saga, Pemberontakan Shimpūren, Pemberontakan Akizuki, hingga Pemberontakan Hagi. Pada tahun 1877, murid asuhannya membuat kekacauan. Takamori memimpin Pemberontakan Satsuma, dan akhirnya melakukan seppuku di tempat bernama Shiroyama.

Pemberontakan Satsuma
Pemberontakan Satsuma (Seinan Sensō, Perang Barat Daya) adalah pemberontakan klan samurai Satsuma yang dipimpin Saigō Takamori terhadap Tentara Kekaisaran Jepang, yang berlangsung 11 bulan di awal era Meiji, dimulai pada tahun 1877. Perang saudara ini merupakan perang saudara terakhir dan terbesar di Jepang. Perang terjadi di Kyushu, tepatnya di tempat yang sekarang bernama Prefektur Kumamoto, Prefektur Miyazaki, Prefektur Oita, Prefektur Kagoshima.

Latar belakang
Pemberontakan Satsuma disebabkan oleh adanya perubahan sistem pada pemerintahan, yang menyebabkan kekecewaan para samurai. Modernisasi Jepang telah menyebabkan hilangnya kekuasaan samurai dan penghancuran sistem tradisional. Peraturan Penghapusan Pedang (Haitō-rei) yang melarang samurai membawa katana juga merupakan salah satu penyebab terjadinya pemberontakan ini.

Pemberontakan ini dipimpin oleh Saigō Takamori, yang pada sepuluh tahun lalu memimpin pasukan Jepang untuk mengalahkan samurai klan Tokugawa. Mulanya, Saigō setuju dengan konsep Restorasi Meiji. Tapi, perlahan-lahan, ia jadi ikut membangkang, karena Restorasi Meiji menghapus segala bentuk samurai dan atributnya. Slogan para pemberontak adalah "Pemerintah Baru, Moralitas Tinggi" (Shinsei Kōtoku). Mereka tidak meninggalkan atribut Barat, seperti memakai meriam dan senjata api. Saigō sebagai panglima perang juga memakai baju militer ala barat. Barulah di saat stok senjata mereka habis, mereka memakai katana dan panah.

Peperangan
Pada Januari 1877, pasukan Angkatan Laut Jepang bergerak untuk menguasai kota Kagoshima, sebuah kota utama milik klan samurai dari Satsuma. Tentara ini disambut serangan oleh Saigō dan anak buahnya. Pasukan Saigō memakai senjata api untuk melawan pasukan AL Jepang, tapi mereka masih memakai taktik militer lama.

Banyak pasukan Jepang yang dikirim merupakan bekas samurai dulunya yang pada waktu itu sudah mengadopsi sistem Barat dan sudah bersumpah kepada kaisar Meiji.

Pada bulan Februari 1877, pasukan Saigō Takamori yang terdiri dari 25 ribu hingga 40 ribu prajurit bersiap-siap menantikan penyerangan pasukan pemerintah di garis depan kota Kagoshima. Hal ini dicatat oleh para sejarawan sebagai kesalahan dalam strategi berperang Saigō Takamori karena pasukan pemerintah di bawah komando Sumiyoshi Kawamura memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan penyerbuan dengan 300 ribu prajurit. Seorang samurai berhasil membunuh dua pasukan pemerintah seperti direncanakan sebelumnya. Namun, para samurai kalah dalam jumlah dibandingkan prajurit pemerintah. Pertempuran berlangsung selama enam minggu, dan Saigō Takamori hanya memiliki 300-400 prajurit yang tersisa. Pada pertempuran terakhir, yaitu pertempuran Shirōyama, Saigō luka berat. Dalam keadaan hampir tertangkap pasukan pemerintah, Saigō melakukan seppuku pada 24 September 1877. Peperangan ini menghabiskan dana besar di pemerintah Jepang, sekaligus merupakan akhir dari kelas samurai di Jepang. Sepuluh tahun kemudian, Kekaisaran Jepang meminta maaf dan memberikan gelar kemuliaan kepada Saigō Takamori sebagai samurai yang terakhir.