Saturday, December 20, 2014

Bacaan Ringan "LEGENDA PARA SAMURAI - HASEKURA TSUNENAGA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Hasekura Tsunenaga (lahir 1571 – meninggal 7 Agustus 1622) adalah samurai pengikut Date Masamune dari Domain Sendai pada awal zaman Edo di Jepang. Ia memimpin misi diplomatik ke Vatikan, dan melakukan perjalanan hingga Spanyol Baru (tiba di Acapulco dan berangkat dari Veracruz), serta singgah di berbagai pelabuhan di Eropa antara tahun 1613 dan 1620.

Nama lainnya adalah Rokuemon Nagatsune. Dalam buku sejarah Eropa, namanya ditulis sebagai Faxecura Rocuyemon.

Misi diplomatik ke Vatikan yang dipimpinnya disebut Misi Zaman Keichō yang dikirim sesudah Misi Zaman Tenshō. Sewaktu kembali ke Jepang, Hasekura dan delegasinya mengambil rute pelayaran yang sama seperti sewaktu berangkat menuju Meksiko pada tahun 1613. Kapalnya berlayar dari Acapulco ke Manila, lalu terus ke utara menuju Jepang pada tahun 1620. Ia dianggap sebagai duta besar Jepang pertama untuk Amerika dan Eropa.

Meskipun misi diplomatik Hasekura diterima dengan ramah di Eropa, misi berlangsung ketika Jepang sedang menuju ke zaman penindasan Kekristenan. Monarki Eropa seperti Raja Spanyol menolak perjanjian perdagangan seperti diusulkan Hasekura. Pada tahun 1620, Hasekura tiba kembali di Jepang, dan meninggal dunia karena sakit setahun kemudian. Misi diplomatiknya hanya sedikit membawa hasil karena pemerintah Jepang makin menerapkan kebijakan negara tertutup.

Misi diplomatik Jepang berikutnya ke Eropa dikirim 200 tahun kemudian setelah membuka diri dari isolasi selama dua abad. Jepang mengirim Misi Diplomatik Jepang Pertama ke Eropa pada tahun 1862.

Karier
Ia dilahirkan pada tahun 1571 dari ayah bernama Yamaguchi Tsunenari. Pamannya yang bernama Hasekura Tokimasa belum memiliki anak laki-laki, dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah lahir putra Tokimasa (Hasekura Hisanari), Date Masamune memerintahkan harta keluarga sebesar 1.200 koku dibagi rata antara Tsunenaga dan Hisanari, masing-masing mendapat 600 koku.

Sewaktu Toyotomi Hideyoshi melakukan invasi ke Korea, ia ikut sebagai komandan senapan dan ashigaru. Namanya juga dicatat buku sejarah ketika diturunkan untuk menumpas Pemberontakan klan Kasai-klan Ōsaki.

Pada tahun 1612, ayahnya, Yamaguchi Tsunenari ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1613. Tsunenari terbukti melakukan korupsi, tanah kekuasaannya disita, dan anak laki-lakinya harus dihukum mati. Namun Date Masamune memberi kesempatan Tsunenaga untuk menebus kesalahan. Ia diberinya tugas memimpin misi diplomatik ke Eropa, dan tanah milik keluarganya dikembalikan.

Kontak pertama Jepang dan Spanyol

Spanyol memulai perjalanan trans-Pasifik antara Spanyol Baru (Meksiko) dan Filipina pada tahun 1565. Galiung Manila mengangkut perak dari tambang-tambang di Meksiko ke entrepot Manila di Filipina koloni Spanyol. Di Manila, perak digunakan untuk membeli rempah dan barang dagangan yang dikumpulkan dari seluruh Asia, termasuk barang-barang dari Jepang (hingga tahun 1638). Rute perjalanan pulang galiung Manila yang dipetakan navigator Basque, Andrés de Urdaneta membawa kapal ke timur laut mengikuti Arus Kuroshio di lepas pantai Jepang, dan kemudian menyeberangi Pasifik melalui pantai barat Amerika Utara sebelum sampai di Acapulco.

Kapal-kapal Spanyol secara berkala terdampar di pantai-pantai Jepang akibat cuaca buruk, dan awak kapalnya memulai kontak dengan orang Jepang. Spanyol berkeinginan untuk menyebarluaskan Kekristenan di Jepang. Usaha memperluas pengaruh Spanyol di Jepang menemui perlawanan keras dari Serikat Yesuit yang sudah memulai pengabaran injil di Jepang sejak tahun 1549, serta Portugis dan Belanda yang tidak ingin persaingan dagang dengan Spanyol. Namun, beberapa orang Jepang, seperti Christopher dan Cosmas, diketahui lebih dulu menyeberangi Pasifik sebagai penumpang kapal galiung Spanyol paling tidak pada tahun 1587. Kabar tersebut diketahui dari pertukaran hadiah antara gubernur Filipina dan Toyotomi Hideyoshi. Dalam surat yang ditulisnya pada tahun 1597, Hideyoshi mengucapkan terima kasih untuk, "gajah hitam itu, terutama, menurut aku paling tidak biasa."

Pada tahun 1609, galiung Manila milik Spanyol, San Francisco dilanda cuaca buruk dalam pelayaran dari Manila ke Acapulco, dan kandas di pantai Jepang, di Chiba. Para pelaut diselamatkan dan disambut. Kapten kapal Rodrigo de Vivero, mantan gubernur interim Filipina bertemu dengan pensiunan Shogun Tokugawa Ieyasu. Rodrigo de Vivero menyusun perjanjian yang ditandatangani 29 November 1609. Isi perjanjian antara lain Spanyol diizinkan membangun sebuah pabrik di bagian timur Jepang, ahli pertambangan akan didatangkan dari Spanyol Baru, kapal-kapal Spanyol akan diizinkan singgah di Jepang dalam keadaan darurat, dan misi diplomatik Jepang akan dikirim ke istana di Spanyol.

Ekspedisi Jepang pertama ke benua Amerika

San Buena Ventura (1610)
Dalam rangka memenuhi perjanjian dengan Spanyol, biarawan Fransiskan, Luis Sotelo yang mengabarkan injil di Edo, mengusulkan kepada Tokugawa Ieyasu dan putranya, Tokugawa Hidetada, agar dirinya dikirim sebagai wakil ke Spanyol Baru (Meksiko) dengan menumpang kapal Spanyol. Namun Rodrigo de Vivero bersikeras agar keshogunan mengirim biarawan Fransiskan yang lain, Alonso Muños. Ia juga mengusulkan agar pelayaran ke Spanyol Baru memakai kapal Jepang supaya mereka diterima dengan ramah. Pada tahun 1610, Rodrigo de Vivero kembali ke Jepang. Ia mengajak beberapa pelaut Spanyol, pastor Fransiskan, dan 22 wakil Jepang yang dipimpin pedagang Tanaka Shosuke untuk berlayar memakai San Buena Ventura menuju Spanyol Baru. Kapal tersebut dibangun untuk keshogunan oleh petualang Inggris William Adams. Setiba mereka di Spanyol Baru, Alonso Muños bertemu dengan Viceroy Luis de Velasco yang setuju untuk mengutus penjelajah terkenal, Sebastian Vizcaino sebagai duta besar untuk Jepang. Misi tambahan ditugaskan kepada Vizcaino untuk menjelajahi "pulau perak dan emas" (Isla de Plata) yang waktu itu diperkirakan terletak di timur kepulauan Jepang.

Vizcaino tiba di Jepang pada 1611, dan melakukan berbagai pertemuan dengan shogun dan para daimyo. Pertemuan tersebut dinodai tingkah laku Vizcaino yang kurang menghargai adat istiadat Jepang, serta meningkatnya perlawanan terhadap penyebaran agama Katolik dan intrik-intrik orang Belanda untuk menghalangi ambisi Spanyol. Vizcaino akhirnya berangkat meninggalkan Jepang untuk mencari "Pulau Perak". Di tengah perjalanan, kapalnya dilanda badai, dan ia terpaksa kembali ke Jepang dengan kapal rusak berat.

San Sebastian (1612)
Sebuah kapal lainnya dibangun di Izu oleh Keshogunan Tokugawa di bawah pimpinan Menteri Angkatan Laut Mukai Shogen. Setelah selesai, kapal diberi nama San Sebastian, dan berangkat menuju Meksiko pada 9 September 1612. Ekspedisi bertujuan memajukan perjanjian dagang dengan Spanyol Baru, membawa Luis Sotelo serta dua orang wakil dari Date Masamune. Kapal karam beberapa mil dari Uraga, dan ekspedisi dibatalkan.