Saturday, December 20, 2014

Bacaan Ringan "LEGENDA PARA SAMURAI - KUSUNOKI MASASHIGE - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Akhir hayat
Pada tahun 1335, Takauji berangkat untuk memadamkan Pemberontakan Nakasendai yang dilakukan sisa-sisa pengikut klan Hōjō. Setelah menguasai Kamakura, Takauji terus mendudukinya dan tidak mau pulang ke Kyoto. Peristiwa ini membuat Takauji berada di pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Kaisar Go-Daigo mengutus Nitta Yoshisada dan pasukan untuk menghabisi Takauji, namun Yoshisada dikalahkan Takauji dalam Pertempuran Hakone-Takenoshita. Kyoto bahkan sempat diduduki Takauji, namun berhasil diusir oleh pasukan gabungan Kitabatake Akiie dan kawan-kawan (termasuk di dalamnya Masashige dan Nitta Yoshisada).

Takauji mengundurkan diri untuk menggalang kekuatan militer di Kyushu. Pada tahun 1336, Takauji kembali menyerang Kyoto. Masashige mengusulkan agar Kaisar Go-Daigo memutuskan hubungan dengan Nitta Yoshisada, dan berdamai dengan Takauji. Kaisar Go-Daigo tidak setuju. Di bawah pimpinan Yoshisada sebagai panglima, Masashige diperintahkan menghabisi Takauji. Namun, Ashikaga Tadayoshi dan pasukannya jauh lebih kuat. Pasukan gabungan Nitta Yoshisada dan Masashige takluk dalam Pertempuran Minatogawa di Provinsi Harima. Masashige dan adiknya, Masasue bunuh diri dengan cara saling menikam.

Mengikuti jejak sang ayah, ketiga putra Masashige semuanya bertempur untuk pihak Istana Selatan, mulai dari putra sulung yang bernama Masatsura (Shōnankō), Masatoki, hingga putra bungsu Masanori. Setelah suami dan putra sulungnya tewas, istri Masashige meninggalkan Kawachi untuk menjadi biksuni di sebuah biara di Kamagatani, Provinsi Mino.

Peninggalan Masashige
Literatur klasik Taiheiki yang ditulis pihak Istana Selatan sangat menyanjung kepahlawanan Masashige. Sebaliknya, buku sejarah klan Ashikaga yang berjudul Baishō Ron juga memuat kisah Masashige yang ditulis dengan nada bersimpati. Ashikaga Takauji juga mengembalikan secara terhormat potongan kepala Masashige kepada keluarga agar dapat dimakamkan secara layak. Pada zaman Edo, akademi militer aliran Kusunoki mengajarkan taktik berperang Masashige yang sekarang dikenal sebagai gerilya. Ahli strategi militer Yui Shōsetsu yang mengajar di akademi militer aliran Kusunoki adalah murid dari keturunan Masashige yang bernama Kusunoki Masatatsu.

Menurut cerita turun temurun, pedang (tachi) yang disebut Koryūkagemitsu (sekarang disimpan di Museum Nasional Tokyo) adalah bekas milik Masashige. Berkat jasa baik Yamada Asaemon, Koryūkagemitsu dijadikan pedang yang dikenakan di pinggang Kaisar Meiji. Pedang ini kabarnya ikut dibawa Kaisar Meiji sewaktu negara dalam keadaan perang, dan Markas Besar Kekaisaran (Daihon'ei) berada di Hiroshima.

Pada tahun 1559, keturunan Masashige yang bernama Kusunoki Masatora meminta pihak kekaisaran untuk membatalkan status musuh kaisar yang waktu itu disandang Masashige. Pengampunan diberikan Kaisar Ōgimachi sehingga status Masashige bukan lagi musuh kaisar. Sepanjang zaman Edo, kalangan sejarawan mitogaku pendukung kekuasaan kaisar menjadikan kisah hidup Masashige sebagai lambang kesetiaan terhadap kaisar. Pada akhir zaman Edo, kalangan royalis (pendukung kekuasaan kaisar) sering mengadakan ritual untuk menghormati Masashige. Pada tahun 1872, Kuil Minatogawa dibangun untuk memuliakan Kusunoki Masashige.

Pada zaman Meiji, Kaisar Meiji menyatakan Istana Selatan sebagai pewaris kekaisaran yang sah, dan nama Masashige kembali terangkat. Masashige diberi nama kehormatan Dainankō. Dalam seni bercerita Kōdan, Masashige digambarkan sebagai panglima perang dengan kejeniusan yang menandingi ahli strategi Zhuge Liang dari Kisah Tiga Negara. Menurut pandangan sejarah kekaisaran, walaupun kalah perang, kisah kepahlawanan Masashige di medan perang dijadikan "teladan kesetiaan" dan "teladan bagi orang Jepang". Dari zaman Meiji hingga zaman Showa sebelum perang, kisah kepahlawanan Masashige bahkan diajarkan dalam pendidikan moral dan etika di sekolah.

Akibat perubahan sudut pandang seusai Perang Dunia II dan penelitian historiografi sejarah abad pertengahan, Masashige kembali digambarkan ke sosok sebelumnya sebagai seorang pemberontak. Penggambaran Masashige oleh Eiji Yoshikawa dalam roman sejarah Shihon Taiheiki sangat berbeda dengan kisah-kisah yang ditulis hingga sebelum Perang Dunia II.

Makam dan Kuil
Makam Kusunoki Masashige (Dainankō Kubizuka)
Lokasi makam berada di dalam kompleks Kanshin-ji, kuil milik Kōyasan Shingonshū di Kawachinagano. Ashikaga Takauji memerintahkan potongan kepala Masashige untuk dimakamkan di kampung halaman. Menurut cerita, pembangunan kembali bangunan tatchū Kanshin-ji dilakukan kakek buyut Masashige yang bernama Kusunoki Shigeuji. Secara turun temurun, Kanshin-ji adalah kuil keluarga milik klan Kusunoki.

Kuil Nagi (Nagi jinja)
Kusunoki Masashige dimuliakan sebagai kami di Kuil Nagi yang berdekatan dengan Kuil Takemikumari di Chihayaasaka, Distrik Minamikawachi, Prefektur Osaka. Masashige juga dijadikan ujigami bagi keluarga Kusunoki. Pada tahun 1337, Kaisar Go-Daigo memerintahkan pembuatan patung Masashige untuk dijadikan obyek pemujaan. Di kemudian hari, Kaisar Go-Murakami mendewakan Masashige sebagai Nagi Myōjin.

Kuil Minatogawa di Kobe
Kuil ini memuliakan Kusunoki Masashige (Dainankō) dan Kusunoki Masatsura (Shōnankō). Selain itu, kuil ini merupakan tempat persemayaman Kikuchi Takeyoshi, serta 16 arwah pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Minatogawa. Setelah Perang Dunia II, arwah istri Masashige (Hisako) juga ikut disemayamkan di kuil ini. Sebagai kuil Shinto, Kuil Minatogawa tergolong baru karena selesai dibangun tahun 1872. Sebelum dibangun sebagai kuil, lokasi kuil merupakan sebuah pemakaman. Tokugawa Mitsukuni mendirikan batu nisan untuk Masashige. Lokasi bunuh diri dan makam pasukan pengikut Masashige juga berada di dalam kompleks kuil.