Sunday, May 8, 2016

Bacaan Ringan "TRADISI NYEKEP - LAMBANG KEJANTANAN PRIA MADURA - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Pada umumnya, sekep diperoleh dari turun temurun nenek moyang mereka merupakan benda (harta) sangkol (waris) yang tidak dapat dipindah tangankan kepada orang lain. Baik sebagai wujud pemberian maupun penjualan. Bila hal ini dilangkahi, sebagaimana keyakinan mereka maka akan berakibat buruk bagi pemiliknya.

Fungsi lain, sekep dapat memberikan kekebalan bagi si pemakai. Sekep semacam ini biasanya banyak digunakan orang-orang Madura ketika berhadapan dengan musuh pada jaman pra kemerdekaan. Sekep semcam ini, biasanya banyak diperoleh dari seorang kyai sebagai senjata terselubung antara lain disebut ” jasa’ “. Pada jaman Hisbullah dan terakhir saat terjadi pemberontakan G 30 S PKI, banyak orang Madura menggunakan ” jasa’ “. Jadi apabila seseorang telah di-jasa’, maka mereka akan bebas menyerang musuh meski dengan menggunakan senjata apapun.

Pada tahun terakhir ini, sekep banyak dicari orang karena sekep yang ampuh tentu memiliki nilai tinggi, dan mereka berani membeli dengan harga jutaan rupiah, khususnya bagi orang-orang yang gemar menyimpan senjata tajam. Puluhan tahun yang silam, memang tidak begitu sulit untuk mendapatkannya, karena sementara orang masih ada yang “nglakoni” untuk mendapat wangsit dalam bentuk sekep yang benar-benar mapan dan ampuh. Namun, mungkin kesadaran masyarakat semakin tinggi, atau sesepuh-sesepuh pengolah sekep semakin berkurang, maka sekarang jarang ditemui di Pulau Madura.

Cara memperoleh sekep ada beberapa cara. Ada yang secara langsung memesan kepada empu (pande) bila dalam bentuk senjata, ada pula yang secara langsung “nyepi” dan bersemedi ditempat (kuburan) leluhur yang dianggap keramat. Cara pertama, memang lebih gampang, yaitu setelah benda yang dipesan jadi, maka untuk selanjutnya diisi (jasa’) yaitu diisi kekuatan magis yang hanya orang-orang tertentu bisa melakukannya. Untuk yang satu ini, saratnya harus memiliki kekuatan yang sama. Artinya disamping sekep sebagai pendamping hidupnya kelak, sang pemilik harus membekali “ilmu” yang melebihi dari sekep itu sendiri. Sebab apabila lebih kuat sekepnya, maka tak heran akan berakibat fatal bagi pemiliknya bahkan mungkin berpengaruh besar terhadap ketenangan dan ketentraman kehidupan rumah tangganya. Yaitu besar kemungkinan akan selalu ditimpa musibah, penyakit yang tidak mungkin disembuhkan melalui medis atau mungkin selama memiliki sekep itu selalu dililiti kekurangan dalam penghidupan sehari-hari, bahkan harta bendanya bisa ludes karena sekep itu. Hal yang demikian, orang Madura menyebut “karas” atau “taras”.

Mungkin begitulah mengapa hingga kini kalangan orang Madura tradisional tidak lepas dari sekep, yang menjadi lambang kejantanan