Sunday, May 1, 2016

Bacaan Ringan "MENIKMATI SEJARAH LEBARAN PADA MASA LALU - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Terlepas dari hiruk pikuk lebaran pada masa sekarang yang tak jauh dari melonjaknya harga-harga, suasana arus mudik dengan istilah H minus (H -) atau plus (H+), ada baiknya sejenak kita menengok ke suasana lebaran masa lalu dalam konteks politik dan ekonomi. Suasana yang tak jauh berbeda dengan situasi sekarang.

Pada 1929, dunia dilanda krisis. Ditandai dengan jatuhnya harga saham di Wall Street, New York yang dikenal dengan nama Black Thursday (Kamis Hitam). Peristiwa itu diikuti dengan ditutupnya sejumlah pabrik, bangkrutnya bank-bank, merosotnya harga komoditi dunia. Di Hindia Belanda, masa krisis itu atau Malaise dikenal dengan sebutan “zaman meleset”.

Suasana politik di Hindia Belanda pun kacau. Dalam sebuah artikel di Daulat Ra’jat, Syahrir mengungkapkan perlunya keterpaduan Indonesia-Belanda untuk menghadapi bahaya fasisme (Jerman dan sekutunya) yang mulai merangsek. Konsep IndiĆ« Weerbar (pertahanan Hindia) yang populer dianggap tidak menguntungkan oleh Soekarno. Soekarno lebih condong untuk memanfaatkan situasi pecahnya perang di Pasifik. Hasrat “kemerdekaan” rakyat Hindia yang akan diberikan bila mendukung konsep IndiĆ« Weerbar ditanggapi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Limburg van Stirum dengan mengatakan: “Jika diperlukan, Hindia akan dijajah Belanda hingga seratus tahun lagi!”.

Berkaitan dengan hal tersebut, Idul Fitri tahun 1929 pun dijadikan momentum politis. Pada halaman muka Java Bode disebutkan umat Islam di Jakarta untuk pertama kali mengadakan sembahyang Idul Fitri di lapangan terbuka Koningsplein (Gambir). Entahlah apakah pemerintah Hindia Belanda mengetahui hal tersebut.

Sementara itu dalam sebuah foto hitam-putih dari tahun 1930-an digambarkan suasana Lebaran di sebuat sudut kota, yang tampaknya sebuah pasar. Orang-orang tampak bersuka cita. Banyak di antara mereka, baik tua maupun muda mengenakan pakaian berwarna terang dan bercelana pendek. Ada pula yang mengenakan sarung dan destar atau kopiah. Beberapa penjual makanan dan minuman tampak dipadati pembeli.

Dimanfaatkannya Koningsplein sebagai pusat shalat Id di Jakarta berlangsung hingga pendudukan Jepang. Ketika itu namanya berganti menjadi lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Belanda memang takluk tapi kini kekuasaan berada di tangan Jepang yang mengaku “saudara tua” yang akan membawa kejayaan bagi bangsa Asia. Polah pemerintah militer Jepang pun membuat geram. Harry J Benda dalam The Crescents and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation menulis kebijakan agama penguasa Jepang yang membuat sakit hati. Pada saat akan digelar shalat Id, Jepang mengimbau agar shalat Id diadakan di pagi buta persis selesai subuh. Alasannya, sebelum matahari terbit Jepang harus upacara sekerei (sembah matahari) di lapangan yang sama. Mungkin saja para tentara Jepang itu takut merasa tersaingi.