Skip to main content

Bacaan Ringan "MENIKMATI SEJARAH LEBARAN PADA MASA LALU - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Terlepas dari hiruk pikuk lebaran pada masa sekarang yang tak jauh dari melonjaknya harga-harga, suasana arus mudik dengan istilah H minus (H -) atau plus (H+), ada baiknya sejenak kita menengok ke suasana lebaran masa lalu dalam konteks politik dan ekonomi. Suasana yang tak jauh berbeda dengan situasi sekarang.

Pada 1929, dunia dilanda krisis. Ditandai dengan jatuhnya harga saham di Wall Street, New York yang dikenal dengan nama Black Thursday (Kamis Hitam). Peristiwa itu diikuti dengan ditutupnya sejumlah pabrik, bangkrutnya bank-bank, merosotnya harga komoditi dunia. Di Hindia Belanda, masa krisis itu atau Malaise dikenal dengan sebutan “zaman meleset”.

Suasana politik di Hindia Belanda pun kacau. Dalam sebuah artikel di Daulat Ra’jat, Syahrir mengungkapkan perlunya keterpaduan Indonesia-Belanda untuk menghadapi bahaya fasisme (Jerman dan sekutunya) yang mulai merangsek. Konsep IndiĆ« Weerbar (pertahanan Hindia) yang populer dianggap tidak menguntungkan oleh Soekarno. Soekarno lebih condong untuk memanfaatkan situasi pecahnya perang di Pasifik. Hasrat “kemerdekaan” rakyat Hindia yang akan diberikan bila mendukung konsep IndiĆ« Weerbar ditanggapi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Limburg van Stirum dengan mengatakan: “Jika diperlukan, Hindia akan dijajah Belanda hingga seratus tahun lagi!”.

Berkaitan dengan hal tersebut, Idul Fitri tahun 1929 pun dijadikan momentum politis. Pada halaman muka Java Bode disebutkan umat Islam di Jakarta untuk pertama kali mengadakan sembahyang Idul Fitri di lapangan terbuka Koningsplein (Gambir). Entahlah apakah pemerintah Hindia Belanda mengetahui hal tersebut.

Sementara itu dalam sebuah foto hitam-putih dari tahun 1930-an digambarkan suasana Lebaran di sebuat sudut kota, yang tampaknya sebuah pasar. Orang-orang tampak bersuka cita. Banyak di antara mereka, baik tua maupun muda mengenakan pakaian berwarna terang dan bercelana pendek. Ada pula yang mengenakan sarung dan destar atau kopiah. Beberapa penjual makanan dan minuman tampak dipadati pembeli.

Dimanfaatkannya Koningsplein sebagai pusat shalat Id di Jakarta berlangsung hingga pendudukan Jepang. Ketika itu namanya berganti menjadi lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Belanda memang takluk tapi kini kekuasaan berada di tangan Jepang yang mengaku “saudara tua” yang akan membawa kejayaan bagi bangsa Asia. Polah pemerintah militer Jepang pun membuat geram. Harry J Benda dalam The Crescents and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation menulis kebijakan agama penguasa Jepang yang membuat sakit hati. Pada saat akan digelar shalat Id, Jepang mengimbau agar shalat Id diadakan di pagi buta persis selesai subuh. Alasannya, sebelum matahari terbit Jepang harus upacara sekerei (sembah matahari) di lapangan yang sama. Mungkin saja para tentara Jepang itu takut merasa tersaingi.

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…