Sunday, May 1, 2016

Bacaan Ringan "MENIKMATI SEJARAH LEBARAN PADA MASA LALU - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Tiga setengah tahun lewat, Jepang bertekuk lutut di kaki sekutu. Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan pada 17 Agustus 1945 jatuh pada bulan Ramadhan. Panitia Proklamasi Kemerdekaan pun memiliki rencana untuk menggelar shalat Id di halaman gedung Proklamasi di Pegangsaan Timur No 17, Jakarta. Shalat tetap bisa dilaksanakan tetapi di sekitar gedung dijaga ketat oleh tentara Dai Nippon.

Akhir tahun 1945 ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta. Belanda dengan membonceng pasukan sekutu masih ingin kembali berkuasa di Indonesia. Masa yang dalam historiografi Indonesia dikenal dengan masa revolusi membuat sejarah sendiri. Pertentangan antara tokoh-tokoh penting yang ingin berjuang dengan cara dan pendapatnya masing-masing merebak. Tokoh-tokoh nasionalis, agama dan komunis berargumen dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang belum genap berusia setahun.

Pada bulan Ramadhan 1946, beberapa tokoh melobi Bung Karno. Mereka meminta supaya Bung Karno pada hari raya Idulfitri yang bertepatan jatuh pada bulan Agustus bersedia merayakan lebaran dengan mengundang semua tokoh revolusi yang berbeda pendapat. Diharapkan pada suasana lebaran itu, semua pihak yang berbeda pendapat akan saling memaafkan dan menerima keragaman mereka untuk sama-sama berjuang melawan Belanda yang kembali ingin berkuasa. Bung Karno pun setuju. Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, itulah saat lahirnya istilah halal bi halal. Istilah dari bahasa Arab yang dirancang oleh para pendiri RI sebagai ajang menghalalkan perbedaan, tetapi bersatu dalam kebersamaan. Ketika Lebaran tiba, di Istana Yogyakarta diselenggarakan halal bi halal.


Pada Lebaran 1963, Soekarno tidak hadir dalam shalat Idulfitri di halaman istana. Alasannya adalah khawatir ratusan kartu undangan disalahgunakan sehingga akan banyak yang tak berhak ikut hadir. Demi keamanan dan keselamatan Presiden, Komandan Pasukan Pengawal Presiden, Resimen Cakrabirawa, Kolonel Sabur menyarankan supaya Presiden tidak menghadiri shalat tersebut. Akhirnya orang yang menghadiri shalat itu pun hanya sedikit.

Seusai shalat Idulfitri 1964 dalam pidato sambutannya di Masjid Baitul Rachim, Presiden Soekarno kembali menegaskan: “Malaysia memang buatan kolonialis Inggris!”. Ketika itu memang Indonesia sedang hangat-hangatnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Kita tentu masih ingat slogan populer: “Ganjang Malaysia!”

Demikianlah suasana lebaran masa lalu yang penuh dinamika apalagi jika dikaitkan dengan hal-hal politis.